
Sorry For Something
Bab 3
Mahika segera menuju kamar dan berdiam diri di sana, ia merenung cukup panjang sebelum akhirnya berteriak senang karena sudah berhasil mengatasi dirinya. Noli yang mendengar teriakan Mahika pun khawatir dan segera mengetuk pintu kamar.
“Mahika! Kamu kenapa?” Tanya Noli cemas dari balik pintu.
“Aku baik-baik aja Noli, Cuma lagi senang aja.”
“Syukurlah, besok ceritakan detailnya ya.” Teriaknya lagi.
“Oke!” balas Mahika ikut berteriak.
“Lihat sayang, Bunda hebatkan, kalau kamu sudah lahir, kamu nggak boleh melihatnya, nanti sifat jeleknya menurun padamu.”
Mahika pun bersiap untuk membersihkan wajah dan segera setelah itu, ia tidur ditemani sebuah boneka besar yang sengaja dibeli Noli untuknya. Kata Noli, jika ia merindukan sosok pria, anggap saja bonekanya pria. Mahika sampai dibuat terkekeh geli karena tingkah Noli. Lain Mahika, lain pula Gentala. Pria tersebut sedang galau memikirkan reaksi aneh yang baru pertama kali ia temui dalam hidupnya. Bahkan dalam drama yang pernah ia mainkan, seharusnya Mahika memaki atau mengumpatnya, bisa jadi bonus tamparan. Tapi dengan reaksinya tadi benar-benar membuat Gentala tidak habis pikir.
“Ada apa dengannya? Apakah reaksi semacam itu wajar?” tanyanya masih dengan wajah bertanya-tanya.
Ia menelepon Bara dan meminta pendapatnya. Ia tidak akan pernah benar-benar tidur dengan tenang sebelum mendapat jawaban. Meski jawaban ngawur sekali pun baginya tidak masalah. Ia hanya butuh sebuah pendapat, mengenai benar tidaknya urusan belakangan.
“Tumben kau menelponku malam-malam, apa kau sedang kesepian?” goda Bara membuat dengkusan kasar keluar begitu saja dari mulut Gentala.
“Aku butuh pendapatmu sebagai teman, orang tua, orang lain dan manusia.”
“Memang selama ini aku ini apaan.”
“Apa saja selama kau mampu menjelma,” ucap Gentala asal dan ia meminta Bara agar fokus mendengarnya.
“Kau mau membicarakan soal apa, kalau mengenai pekerjaan besok saja. Aku bahkan mual memikirkannya.”
“Dengarkan saja!” peringkat Gentala kesal. Di seberang telpon Bara menganguk saja karena malas meladeni kecerewetan Gentala yang kadang-kadang terlalu merepotkan untuk didengar. Mungkin semut pun malas jika berada di dekatnya.
Dengan menghela napas singkat, Gentala memulainya dengan jantung penuh debar. Ia tidak tahu mengapa, hanya membicarakan hal ini sampai membuatnya jantungan. Rasanya seperti ribuan monyet melompat meneriakkan pisang di dadanya.
“Halo, masih hidupkah?” Tanya Bara sambil menguap.
“Apa menurutmu wajar jika wanita bersikap datar pada pria, padahal jelas-jelas keduanya pernah tidur bersama.”
Bara yang baru saja akan meminum pil KB, bukan keluarga berencana, melainkan Kebutuhan Badan alias vitamin, sontak terdiam untuk sesaat. Ia mencoba meresapi pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh sahabatnya.
“Bara!” teriak Gentala.
“Sebentar, aku sedang menyimak setiap kata yang kau ucapkan barusan.”
“Bagaimana menurutmu?” Tanya Gentala tidak sabaran. Wajar saja, toh dia memang bukan manusia penyabar.
“Maksudmu, coba kau buat contoh yang lebih konkrit.”
“Haruskah?”
“Menurutmu?” Tanya Bara balik.
Gentala menarik napas kesal dan memegang dadanya yang masih berdetak, tanda ia masih hidup. “Kau meniduri seorang gadis, lalu saat kalian kembali bertemu setelah sekian lama, reaksi gadis tersebut tidak seperti gadis kebanyakan. Dia cuek dan hanya menatapmu datar.”
“Oh, soal itu, kurasa responnya bagus. Memangnya kalau kamu diposisiku, apa yang akan kamu lakukan, kamu mau berteriak kalau sudah menidurinya?” Tanya Bara.
“Bukan begitu, aku hanya bertanya mengenai responnya, apa itu semua wajar bagi seorang gadis?” Tanya Gentala penasaran.
“Mungkin bukan masalah wajar atau tidak, tapi tidak ingin kembali terlibat.”
Mendengar jawaban dari Bara, Gentala kembali mengingat kenangan terakhir yang ia berikan pada Mahika. ia ingat, terakhir kali mereka bertemu, kalimat yang ia lontarkan pada Mahika sangatlah menyakitkan. Kini ia tahu apa yang sedang dilakukan Mahika padanya. Benar kata Bara, Mahika hanya tidak mau lagi terlibat dengannya. Mengetahui fakta tersebut membuat sudut hatinya mendadak sakit tak berdarah. Karena keegoisannya dulu, ia mengorbankan perasaan wanita yang sangat ia cintai.
“Apa sudah selesai sesi bertanyanya?”
“sudah.”
Bara segera mematikan panggilan tanpa repot-repot melakukan penutupan. Gentala melempar asal ponselnya ke ranjang dan ia ikut merebahkan diri di sana.
“Mahika,” ucapnya sambil memegang dadanya. “Sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu. Apa benar kamu tidak ingin lagi terlibat denganku.” Desahnya.
Malam itu Gentala tidur dalam kondisi gundah gulana tidak karuan dan tidak tahu diri karena hanya memikirkan Mahika. Jelas-jelas ia sudah tidak pantas untuk memikirkan, bahkan mengucapkan namanya saja ia tidak pantas.
----
Paginya, Mahika menyiapkan sarapan untuk Noli. Memaksa sudah menjadi rutinitasnya di sini. Meski ia sering kali diomeli oleh Noli karena menyiapkan sarapan untuknya. Bagi Noli ia menolongnya bukan untuk menjadikannya sebagai pembantu di rumah ini. Tapi setelah diberi pengertian oleh Mahika, ia pun pada akhirnya membiarkannya asal Mahika tidak terlalu memaksakan diri.
“Cepet banget kamu bangunnya.”
“Hari ini aku mau periksa,” jawab Mahika senang.
“Aku ingin menemanimu,” ucap Noli dengan wajah sedih.
“Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri ke sana. Lagi pula kamu harus bekerja keras buat memberi kado untuk calon keponakanmu.” Kekeh Mahika sambil tersenyum.
“Baiklah,” ucapnya dan mengelus perut Mahika sekilas lalu pergi dari sana.
“Hati-hati!” teriak Mahika.
“Hatiku baik-baik aja, hanya dompet yang stadium tiga!” teriak Noli dan benar-benar menghilang dari sana.
Keduanya menjalankan rutinitas secara berbeda. Mahika membuka ponsel dan mulai berselancar di media sosial miliknya yang sengaja ia private. Bukan untuk menguntit Gentala melainkan sedang mengikuti perkembangan idol lain yang sudah ia gemar sejak lama. Seseorang yang selalu membuatnya menjadi sosok yang kuat seperti sekarang. Saat ia terpuruk dalam kesedihan, ia selalu memutar lagunya dan menonton beberapa cuplikan video tentangnya. Semua itu berhasil membuatnya tenang dan kembali kuat.
“Good Baby, nanti kalau kamu sudah lahir, Bunda mau kamu tumbuh menjadi orang yang baik, bertanggung jawab, sayang sama Bunda, hanya itu yang Bunda inginkan, karena hanya kamu yang Bunda miliki selain Tante Noli. Kamu harus janji akan tumbuh seperti yang Bunda harapkan ya.” Bisiknya sembari mengusap lembut perutnya.
“Jangan seperti ayahmu, Bunda tidak akan pernah rela kalau kamu sampai mirip apalagi kalau mewarisi sifatnya. Bunda akan berdoa siang malam supaya tidak ada satu bagian pun darinya yang akan kamu warisi.” Batinnya.
Mahika beranjak dan segera siap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Ia sudah tidak sabar ingin melihat perkembangan bayinya. Mengenai jenis kelamin, ia sudah mengetahuinya, hanya saja malas membagi tahu pada pembaca. Bukankah sesuatu akan lebih menarik jika menjadi sebuah rahasia.
Gentala yang sedang minum, mendadak tersedak. Ia meletakkan gelasnya dan segera mengambil beberapa lembar tisu. “Siapa yang lagi ngomongin aku.”
Ia mengambil ponselnya dan berselancar di media sosialnya. Ia mencari kata akun Mahika dengan mengetikkan beberapa kata kunci, tapi yang dia cari tidak kunjung ditemukan. Ia bingung karena setahunya Mahika memiliki media sosial.
“Apa dia sudah tidak aktif lagi?” tanyanya dan kembali mencari.
Di sela keasyikannya, panggilan telpon masuk dari ibunya. Ia segera menjawabnya karena telat sedikit saja, kupingnya akan penuh dengan bunyi ceramah dan beberapa penggalan quotes mematikan ala ibunya.
“Temani Mama ke rumah sakit hari ini. Mama tahu jadwal kamu lagi kosong satu jam.”
Gentala sebenarnya malas pergi kemana-mana karena ia ingin istirahat. Namun, karena ini
permintaan dari ibunya, ia pun menyetujui. Di seberang telpon ibunya sangat senang dan
menyuruhnya memakai pakaian yang tidak menarik perhatian siapa pun.
“Genta siap-siap dulu, Ma.”
“Ingat, jangan memancing perhatian siapa pun ya, Mama nggak mau waktu berharga Mama
diganggu sama siapa pun termasuk para fans-mu.”
“Iya, Gentala pakai baju pengemis.”
“Lalu kamu akan membuat rumah sakit gempa karena datang bersama Mama.” Dengkusnya di
seberang.
“Becanda Ma, Gentala otw ke rumah.” Beritahunya.
“Oke, Mama tunggu di depan.”
Panggilan pun dimatikan, Gentala segera keluar dari apartemennya menuju parkiran. Ia membelah jalan sambil memutar musik yang dulu pernah menjadi lagu favorit dari Mahika. Entah kenapa sekarang ini hanya Mahika yang melintas dalam benaknya semenjak pertemuan mereka kemarin.
“Mahika, Mahika, kenapa kamu bersikap seperti kemarin, kamu membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak.”
Anda Mungkin Juga Suka





