
Sopirku Mantan Kekasihku
Bab 2
Masakan baru saja selesai.
Aku menatanya di meja makan.
Hingga akhirnya terdengar bel pintu berbunyi.
Siapakah gerangan yang datang malam-malam begini?
Aku dan Bik Surti akhirnya saling pandang.
"Mungkin...." kata Bik Surti.
Sampai akhirnya aku menuju pintu depan dan membukanya. Terlihat kekasihku tengah berdiri di ambang pintu dengan senyum yang khas.
"Hai sayang,"
"Mas Danar." Tentu saja bagiku ini mengejutkan. Tumben, di sela pekerjaannya, Mas Danar menyempatkan diri kemari. Mas Danar memang sibuk. Namun, menyempatkan diri untuk kemari sepertinya hal lain.
"Tumben, nggak nelpon dulu," selorohku.
"Kok pacarnya malah dibiarin berdiri di depan pintu sih." Ia lantas berkata.
"Oh iya, silakan masuk mas," ajakku. Danar akhirnya masuk rumah.
Ini bukan pertama kalinya ia datang ke rumah ini, jadi baginya rumah ini sudah tidak asing lagi untuknya.
"Aku baru saja selesai masak. Kita makan sama-sama ya. Mas Danar mau kan?"
"Boleh," ucapnya. "Tawaran yang menggiurkan," katanya lagi seraya melipat jaketnya, lalu meletakkan tasnya di sofa. Mas Danar lalu mengikuti langkah kakiku menuju ruang makan.
Bi Surti dan aku akhirnya kembali menyiapkan semuanya. Namun, saat Bi Surti hendak meninggalkanku, aku teringat akan Revan.
"Bik, panggilkan Revan ya. Bilang, kita makan sama-sama," tukasku.
Bik Surti lalu melihat ke arahku, dan dia menatap Danar yang baru saja hadir di ruang makan.
"Ya Non, bibik akan panggilkan mas Revan," jawab Bi Surti.
"Lho, Revan juga ikut makan bersama?" tanya Mas Danar.
"Iya mas, kenapa?" Aku bertanya. Heran.
"Bukannya...sopir..."
Bik Surti masih berdiri di dekatku. Belum melangkah ke kamar Revan.
"Nggak papa Bik. Panggilkan saja. Kita makan bareng. Bik Surti juga nanti makan bareng sama aku ya disini."
Mengindahkan protes dari Danar, Bik Surti lantas ke kamar belakang, lalu sekejap kemudian perempuan tua itu sudah kembali lagi ke ruang makan.
"Kata Mas Revan, dia akan kemari nanti Non," kata Bik Surti.
Aku sudah bersiap makan malam. Lalu memberikan piring makan pada Danar. Aku sudah duduk di meja makan.
"Lagi apa dia, Bik?" tanyaku pada Bik Surti seraya memberikan piring pada Bik Surti.
"Lagi nyuci pakaian sebentar katanya Non."
"Apa harus ada dia dulu sih kita baru mulai makan," kata Danar tiba-tiba. Aku melihat raut wajah kekasihku yang tidak senang dan terlihat senewen. Mas Danar sudah duduk manis di meja makan.
"Mungkin sebentar lagi Revan datang," tukasku. "Hayo, bibik duduk di sebelahku sini... "
"Bibi makannya nanti saja, Non. Biar Mas Danar sama Non Andini duluan saja."
"Ayolah, Bik." Aku memaksanya, hingga akhirnya Revan pun muncul ke ruang makan.
Revan hanya mendelik melihat siapa yang datang. Lama dia memandang Danar, hingga akhirnya Revan duduk di meja makan tanpa bicara apapun.
"Yuk Van, Mas Danar, kita makan. Dan ini piringnya, Bik."
Semuanya diam. Namun aku tidak peduli. Bukankah kalau tidak ada Danar kami biasa makan bertiga?
Memangnya kalau ada tunanganku yang ikut makan bersama semuanya menjadi berbeda. Aku tidak menganggap semuanya jadi berbeda. Sama saja.
Kami makan malam. Meski dalam suasana diam. Revan bahkan hampir tidak banyak bicara. Dan Danar yang memang biasanya banyak bercerita kini diam mengikuti semuanya. Lalu makan malam pun usai.
Revan dengan cepat permisi ke kamarnya. Bik Surti kemudian membereskan piring bekas makan ke belakang dan aku membantunya mencucinya sebentar.
"Non Andini sebaiknya temani mas Danar. Biar bibik sendiri saja beresin semuanya," kata Bik Surti merasa tak enak padaku.
Aku lantas mengikuti perkataannya dan akupun menuju beranda samping rumah, karena Danar sedang duduk-duduk disana.
***
Danar langsung berdiri ketika melihatku hadir di beranda samping rumah.
"Aku langsung pulang ya, sayang." katanya.
"Lho, kok buru-buru sekali?" Aku memandang wajahnya. Sepertinya wajah kekasihku nampak kecewa. "Ada pasien darurat...atau..."
"Nggak ada." Danar cepat menukas. Ia mengambil jaket dan tasnya dan bersiap pulang. "Tadinya aku pengin kita ngobrol berdua. Pas kamu ngajakin makan malam, aku pikir kita bakalan makan malam berdua saja, tapi..."
"Mas," ucapku. "Disini kan aku nggak tinggal sendiri."
"Lalu?" Danar memandangku.
"Ya, paling nggak aku ngajak mereka makan bareng sama kamu apa salahnya kan?"
Danar lantas mengedikkan bahunya.
"Aku mau pulang ya sayang. Aku nggak ingin berdebat," ucapnya. Mas Danar pun lantas berjalan menuju ke pintu depan. "Lagipula kamu rasanya sekarang lebih memerhatikan sopirmu ya daripada aku..."
"Lho?" Aku mulai protes. Memandang wajah mas Danar dalam-dalam. "Mas, kamu..."
"Sepenglihatanku sih ya."
"Mas...Revan itu hanya sopirku. Bagaimanapun-"
"Jadi aku ini apa?" Danar sudah duduk di sofa. Ia bersiap mengenakan pantofelnya.
"Mas Danar childish," kataku setengah berbisik.
"Kamu ngomong apa?" tanyanya.
"Nggak," ucapku.
"Ya sudah, aku pulang. Aku lelah. Besok mungkin aku telpon kamu saja, atau nanti akunya yang datang ke toko kuemu."
"Tapi jangan nelpon di jam-jam sibuk ya mas," sanggahku.
"Akunya juga belum bilang kapan bakalan datang mengunjungi toko kue lagi, mengingat akupun kadang sama sibuknya denganmu."
Aku terdiam.
Danar sudah mengenakan sepatunya dan bersiap keluar rumah.
Danar lantas keluar rumah. Mungkin ia masih kesal dan kecewa. Satu hal yang mendadak ia lupakan jika ia bertandang mengunjungiku. Kali ini ia tidak mencium keningku. Hal yang sebenarnya rutin ia lakukan. Namun aku paham, mood kekasihku itu sedang tidak bagus sehingga ia tidak melakukannya.
"Ya sudah, mas mau pulang. Sampai besok lagi ya?"
Aku mengangguk. Mas Danar berjalan menuju pelataran rumah, dan menuju mobilnya yang sudah terparkir rapi di halaman.
Tanpa melambaikan tangan, mobil pun sudah keluar dari rumah besarku.
Aku menutup pintu rumah dengan napas tertahan. Dan aku menghela napasku.
Begitu aku mau ke kamarku, aku lantas melihat Bik Surti yang masih berjibaku di dapur.
"Bik, beresinnya udah dulu. kerjanya besok lagi. Udah...sekarang istirahat, gih, " kataku.
"Ya, Non."
Bik Surti lantas mencuci tangannya. Mematikan lampu dapur, lalu meninggalkan dapur.
Dengan helaan napas lelah akupun menuju ke kamarku.
***
Anda Mungkin Juga Suka





