Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sopirku Mantan Kekasihku

Sopirku Mantan Kekasihku

Andini Larasati hidup bahagia bersama Danar, dokter bedah yang mencintainya. Namun, masa lalu pahit kembali membayang saat ia bertemu Revan, mantan kekasih yang dulu mencampakkannya demi restu orang tua karena status sosial. Kini keadaan berbalik; Revan jatuh miskin dan bekerja sebagai sopir pribadi Andini tanpa sepengetahuan Danar. Di tengah kesuksesannya, Andini terjebak dilema antara dendam masa lalu dan benih cinta yang muncul kembali untuk sang sopir.
Bab
Bagikan

Bab 2

Masakan baru saja selesai.

Aku menatanya di meja makan.

Hingga akhirnya terdengar bel pintu berbunyi.

Siapakah gerangan yang datang malam-malam begini?

Aku dan Bik Surti akhirnya saling pandang.

"Mungkin...." kata Bik Surti.

Sampai akhirnya aku menuju pintu depan dan membukanya. Terlihat kekasihku tengah berdiri di ambang pintu dengan senyum yang khas.

"Hai sayang,"

"Mas Danar." Tentu saja bagiku ini mengejutkan. Tumben, di sela pekerjaannya, Mas Danar menyempatkan diri kemari. Mas Danar memang sibuk. Namun, menyempatkan diri untuk kemari sepertinya hal lain.

"Tumben, nggak nelpon dulu," selorohku.

"Kok pacarnya malah dibiarin berdiri di depan pintu sih." Ia lantas berkata.

"Oh iya, silakan masuk mas," ajakku. Danar akhirnya masuk rumah.

Ini bukan pertama kalinya ia datang ke rumah ini, jadi baginya rumah ini sudah tidak asing lagi untuknya.

"Aku baru saja selesai masak. Kita makan sama-sama ya. Mas Danar mau kan?"

"Boleh," ucapnya. "Tawaran yang menggiurkan," katanya lagi seraya melipat jaketnya, lalu meletakkan tasnya di sofa. Mas Danar lalu mengikuti langkah kakiku menuju ruang makan.

Bi Surti dan aku akhirnya kembali menyiapkan semuanya. Namun, saat Bi Surti hendak meninggalkanku, aku teringat akan Revan.

"Bik, panggilkan Revan ya. Bilang, kita makan sama-sama," tukasku.

Bik Surti lalu melihat ke arahku, dan dia menatap Danar yang baru saja hadir di ruang makan.

"Ya Non, bibik akan panggilkan mas Revan," jawab Bi Surti.

"Lho, Revan juga ikut makan bersama?" tanya Mas Danar.

"Iya mas, kenapa?" Aku bertanya. Heran.

"Bukannya...sopir..."

Bik Surti masih berdiri di dekatku. Belum melangkah ke kamar Revan.

"Nggak papa Bik. Panggilkan saja. Kita makan bareng. Bik Surti juga nanti makan bareng sama aku ya disini."

Mengindahkan protes dari Danar, Bik Surti lantas ke kamar belakang, lalu sekejap kemudian perempuan tua itu sudah kembali lagi ke ruang makan.

"Kata Mas Revan, dia akan kemari nanti Non," kata Bik Surti.

Aku sudah bersiap makan malam. Lalu memberikan piring makan pada Danar. Aku sudah duduk di meja makan.

"Lagi apa dia, Bik?" tanyaku pada Bik Surti seraya memberikan piring pada Bik Surti.

"Lagi nyuci pakaian sebentar katanya Non."

"Apa harus ada dia dulu sih kita baru mulai makan," kata Danar tiba-tiba. Aku melihat raut wajah kekasihku yang tidak senang dan terlihat senewen. Mas Danar sudah duduk manis di meja makan.

"Mungkin sebentar lagi Revan datang," tukasku. "Hayo, bibik duduk di sebelahku sini... "

"Bibi makannya nanti saja, Non. Biar Mas Danar sama Non Andini duluan saja."

"Ayolah, Bik." Aku memaksanya, hingga akhirnya Revan pun muncul ke ruang makan.

Revan hanya mendelik melihat siapa yang datang. Lama dia memandang Danar, hingga akhirnya Revan duduk di meja makan tanpa bicara apapun.

"Yuk Van, Mas Danar, kita makan. Dan ini piringnya, Bik."

Semuanya diam. Namun aku tidak peduli. Bukankah kalau tidak ada Danar kami biasa makan bertiga?

Memangnya kalau ada tunanganku yang ikut makan bersama semuanya menjadi berbeda. Aku tidak menganggap semuanya jadi berbeda. Sama saja.

Kami makan malam. Meski dalam suasana diam. Revan bahkan hampir tidak banyak bicara. Dan Danar yang memang biasanya banyak bercerita kini diam mengikuti semuanya. Lalu makan malam pun usai.

Revan dengan cepat permisi ke kamarnya. Bik Surti kemudian membereskan piring bekas makan ke belakang dan aku membantunya mencucinya sebentar.

"Non Andini sebaiknya temani mas Danar. Biar bibik sendiri saja beresin semuanya," kata Bik Surti merasa tak enak padaku.

Aku lantas mengikuti perkataannya dan akupun menuju beranda samping rumah, karena Danar sedang duduk-duduk disana.

***

Danar langsung berdiri ketika melihatku hadir di beranda samping rumah.

"Aku langsung pulang ya, sayang." katanya.

"Lho, kok buru-buru sekali?" Aku memandang wajahnya. Sepertinya wajah kekasihku nampak kecewa. "Ada pasien darurat...atau..."

"Nggak ada." Danar cepat menukas. Ia mengambil jaket dan tasnya dan bersiap pulang. "Tadinya aku pengin kita ngobrol berdua. Pas kamu ngajakin makan malam, aku pikir kita bakalan makan malam berdua saja, tapi..."

"Mas," ucapku. "Disini kan aku nggak tinggal sendiri."

"Lalu?" Danar memandangku.

"Ya, paling nggak aku ngajak mereka makan bareng sama kamu apa salahnya kan?"

Danar lantas mengedikkan bahunya.

"Aku mau pulang ya sayang. Aku nggak ingin berdebat," ucapnya. Mas Danar pun lantas berjalan menuju ke pintu depan. "Lagipula kamu rasanya sekarang lebih memerhatikan sopirmu ya daripada aku..."

"Lho?" Aku mulai protes. Memandang wajah mas Danar dalam-dalam. "Mas, kamu..."

"Sepenglihatanku sih ya."

"Mas...Revan itu hanya sopirku. Bagaimanapun-"

"Jadi aku ini apa?" Danar sudah duduk di sofa. Ia  bersiap mengenakan pantofelnya.

"Mas Danar childish," kataku setengah berbisik.

"Kamu ngomong apa?" tanyanya.

"Nggak," ucapku.

"Ya sudah, aku pulang. Aku lelah. Besok mungkin aku telpon kamu saja, atau nanti akunya yang datang ke toko kuemu."

"Tapi jangan nelpon di jam-jam sibuk ya mas," sanggahku.

"Akunya juga belum bilang kapan bakalan datang mengunjungi toko kue lagi, mengingat akupun kadang sama sibuknya denganmu."

Aku terdiam.

Danar sudah mengenakan sepatunya dan bersiap keluar rumah.

Danar lantas keluar rumah. Mungkin ia masih kesal dan kecewa. Satu hal yang mendadak ia lupakan jika ia bertandang mengunjungiku. Kali ini ia tidak mencium keningku. Hal yang sebenarnya rutin ia lakukan. Namun aku paham, mood kekasihku itu sedang tidak bagus sehingga ia tidak melakukannya.

"Ya sudah, mas mau pulang. Sampai besok lagi ya?"

Aku mengangguk. Mas Danar berjalan menuju pelataran rumah, dan menuju mobilnya yang sudah terparkir rapi di halaman.

Tanpa melambaikan tangan, mobil pun sudah keluar dari rumah besarku.

Aku menutup pintu rumah dengan napas tertahan. Dan aku menghela napasku.

Begitu aku mau ke kamarku, aku lantas melihat Bik Surti yang masih berjibaku di dapur.

"Bik, beresinnya udah dulu. kerjanya besok lagi. Udah...sekarang istirahat, gih, " kataku.

"Ya, Non."

Bik Surti lantas mencuci tangannya. Mematikan lampu dapur, lalu meninggalkan dapur.

Dengan  helaan napas lelah akupun menuju ke kamarku.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam dari Ayahnya Sahabat
9.7
Balas Dendam dari Ayahnya Sahabat menyajikan kisah kelam pembalasan dendam. Akibat ulah ayahnya yang menyakiti putri Om Charlie, protagonis kini harus menanggung hukuman pahit. Ia dipaksa tunduk dalam posisi memalukan oleh sosok berkuasa tersebut. Sembari mendengar suara kemesraan sang ayah dengan sahabatnya dari dalam kamar, ia hanya bisa pasrah dan menyerah sepenuhnya pada setiap perlakuan intim serta kendali mutlak dari Om Charlie.
Sampul Novel Hati yang Kau Hancurkan Tak Bisa Kembali
8.6
Pasca penembakan kekasihnya, Rafael Von Ardent berambisi menghancurkan dinasti Elmore. Pemimpin organisasi gelap ini mengincar Lyra Elmore sebagai alat balas dendam. Dijadikan tawanan di The Black Fortress, Lyra ternyata tidak sombong seperti dugaannya. Ketegangan berubah menjadi ketertarikan berbahaya saat benih cinta mulai tumbuh di tengah dendam. Rafael kini terjebak antara amarah dan obsesi mematikan terhadap putri musuhnya yang seharusnya ia musnahkan.
Sampul Novel Kebohongan Manis Sang Tunangan Setia
9.7
Menjelang pernikahan, Habib meminta Lea merelakannya menghamili Hanan, adik angkatnya yang sakit, demi balas budi. Namun, Lea menemukan bukti bahwa Hanan sudah hamil dua bulan. Saat dikonfrontasi, Hanan memfitnah Lea hingga Habib memaki Lea dengan kasar. Kecewa karena cintanya dikhianati demi menutupi skandal, Lea membatalkan pernikahan mereka. Ia memilih pergi ke Singapura untuk memulai hidup baru dan meninggalkan tunangannya yang penuh dusta.
Sampul Novel KONTRAK CINTA DENGAN SAHABATKU
9.8
Qeiza Noura terkejut saat Arlando, sahabat masa kecilnya, mendadak mengajukan tawaran pernikahan tepat setelah ia putus cinta. Lewat sebuah perjanjian, mereka sepakat menikah selama satu tahun saja sambil tetap bebas mencari pasangan sejati. Namun, mampukah ikatan kontrak tersebut berakhir sesuai rencana awal, atau justru benih cinta yang tulus mulai tumbuh di antara mereka seiring berjalannya waktu? Sebuah kisah romansa tentang batas antara persahabatan dan cinta.
Sampul Novel Melahirkan Anak Mantan
9.3
Rania terpaksa meninggalkan kota kelahiran dan cintanya, Devano, karena tekanan situasi yang tak terelakkan. Tanpa penjelasan, ia menghilang dan meninggalkan luka mendalam bagi Devano. Enam tahun berlalu, takdir mempertemukan Devano dengan bocah laki-laki yang memiliki kemiripan fisik antara dirinya dan Rania. Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Rania selama ini? Mengapa ia tega pergi hingga memicu kebencian di hati Devano? Ikuti kisah penuh emosi ini.
Sampul Novel Menceraikan Suamiku yang Menghamili Wanita Lain
8.5
Memasuki bulan keempat perjuangan menjalani program bayi tabung, seorang istri justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Tetangga sebelah rumah yang merupakan teman masa kecil suaminya mengunggah foto kehamilan dengan takarir menyakitkan tentang keluarga bahagia mereka. Di dalam foto tersebut, tampak jelas tangan sang suami yang membentuk simbol hati bersama wanita itu, lengkap dengan cincin pernikahan yang masih melingkar di jarinya, mengonfirmasi pengkhianatan yang tak termaafkan.