
Sopirku Mantan Kekasihku
Bab 3
Tiba-tiba saja aku terjaga.
Mataku bertumpu pada jam dinding di kamarku. Pukul satu dini hari.
Aku mengucek mataku sebentar dan ingin sekali minum. Kerongkonganku terasa kering.
Aku keluar kamar.
Aku berjalan mengitari rumah. Sunyi...sepi...dan aku memang suka akan keheningan.
Hingga akhirnya aku sampai di dapur. Tanganku membuka kulkas, lalu mengambil segelas air minum. Kuteguk air itu secara perlahan. Namun ketika aku menutup pintu kulkas....
Aish!!!
Betapa terkejutnya aku! Kukira aku melihat hantu. Revan sudah berdiri tegak di sampingku!
"Revan??" Aku hampir memekik kaget. "Kamu ini mengagetkan saja!"
Dan dia tersenyum. Senyumannya
sungguh mengombang-ambingkan perasaanku.
"Kamu ngapain malam-malam begini?" tanyanya.
"Seharusnya aku yang bertanya, kamu ngapain malam-malam begini!" tukasku.
Terus terang aku memang penakut. Kompleks disini aman. Beruntung sih ada Revan. Cuma Revan datang seperti hantu. Muncul pada saat yang tidak tepat.
"Aku tidak bisa tidur," katanya.
"Kenapa?" tanyaku.
Dia menggeleng. "Nggak tahu kenapa. Aku tiba-tiba teringat kedua orang tuaku. Sampai detik ini aku bahkan belum menemukan ayahku."
Aku terdiam. Aku berhasil menutup pintu kulkas lalu berdiri.
Sedikit cerita. Hidup Revan ini kacau balau.
Ayahnya terjerat hutang dan lari entah kemana. Sementara ibunya meninggal karena penyakit jantung. Ibunya memang tidak bisa menerima keadaan mereka yang berbalik 180 derajat, yaitu menjadi miskin, dan dikejar-kejar oleh beberapa penagih hutang.
Revan datang padaku setelah aku berhasil seperti sekarang.
Masih kuingat betapa susahnya dulu aku memulai hidup. Kemiskinan memaksaku mengesampingkan semuanya.
Aku bahkan merelakan hubungan kami. Aku bahkan menangis tiap malam. Menangisi nasibku yang terlahir miskin.
Kini, bahkan wajah Danar bermain-main di benakku. Kalau bukan karena bantuan dan dukungan Danar, mana mungkin aku bisa membangun usaha dan bangkit dari keterpurukanku.
Sedikit banyak apa yang menimpaku ini karena ulah Revan, namun aku tidak pernah ingin menyalahkan siapa-siapa.
"Kamu terlalu mikirin ayahmu. Aku saja yang masih punya ayah bahkan tidak pernah menengoknya."
Aku bukan tidak ingin menengok ayahku. Asal tahu saja kalian pemirsa, aku diusir ayahku lantaran aku telah membuat kesalahan fatal.
Aku diusir dari rumahku dan pergi. Dan Revan sungguh tidak tahu betapa terpuruknya aku saat itu.
"Sudah, Van. Yang sudah sebaiknya tidak usah kamu pikirkan lagi. Kita hidup itu untuk ke depan. Bagaimanapun kamu harus bangkit."
"Seperti kamu," ujarnya. "Kamu memang gadis yang super power, Andini."
"Itu karena tekadku yang sangat kuat untuk merubah hidup," kataku. "Sudah yuk, daripada membahas masa lalu bagaimana kalau kita ke depan saja. Atau ke beranda samping rumah. Kita ngobrol di sana."
"Andini...ini bahkan sudah pukul satu dini hari...bahkan sudah lewat dari tengah malam."
"Lho, tadi katamu sendiri yang bilang kalo kamu tidak bisa tidur," ujarku senewen.
"Baiklah." Revan akhirnya menyerah. Menyetujui keinginanku.
Tanpa sadar, ia menggamit lenganku. Aku seperti merasakan sengatan listrik yang seakan menimpaku. Mataku sudah tertuju pada sepasang matanya.
Astaga!
Harusnya aku ini sadar. Hubunganku dengan Revan sudah lama berakhir.
Hubungan kami berdua sudah lama amblas. Tapi mengapa puing-puing cinta yang berserakan itu kini seperti hadir lagi dan meruntuhkan apa yang susah payah kubangun.
Aku...telah membangun mahligai indah bersama Danar Hadiputra.
Ingat Danar Andini....ingat Danar...bukan Revan...
Ingat...Danar Hadiputra itu adalah tunanganmu!
Tanganku masih digamit Revan. Aku bahkan tidak mampu melakukan perlawanan. Revan telah menatap cincin yang melingkar di jari manisku, yang semalam ia berikan.
"Kamu tampak cantik dengan cincin itu."
"Revan..!!" pekikku. "Jangan menggombal cinta ya?"
Revan tersenyum, lalu kami melipir ke beranda samping rumah.
***
Sepasang mataku sudah menatap rembulan diatas sana yang bersinar dengan megahnya.
Langit malam bertaburkan bintang.
Revan duduk di sofa beranda samping rumah ini. Tengah memerhatikanku yang sedang asyik menikmati langit malam.
Sampai akhirnya aku berjalan mendekatinya lalu duduk di sebelahnya.
"Din..." ucapnya pelan.
"Hmmm...."
"Kok cuma berdeham, Din."
"Lalu mau ngomong apa?" timpalku. "Van, hidup itu harus semangat. Jangan loyo. Sudah aku bilang kan, kamu itu harus bangkit!"
"Kayak kamu..."
"Tapi bukan bangkit dari kubur lho ya." Aku lantas terkekeh.
"Aku bahkan tidak bisa mengira hidupku bakalan berubah seperti ini."
"Hidup kan ada pasang surutnya, Van. Kan kita tidak selamanya berada diatas. Begitupula yang di bawah. Mereka yang di bawah tidak selamanya ada di bawah terus. Selagi kita masih terus berjuang."
"Aku salut banget sama kamu Din.Aku...merasa amat bersalah...sama kamu."
"Revan, sudah beberapa kali kan aku bilang. Lupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu kita."
"Tapi menurutku itu sangat menyakitkan untukmu, Din. Aku tahu kamu menderita karena ulahku."
Kamu bukan saja bikin aku menderita Van. Ada rahasia lain yang sebisa mungkin aku sembunyikan darimu hingga sekarang.
Pemirsa...aku tidak bisa menceritakan semuanya sekarang. Namun, kalian pasti akan menebak-nebak. Telah terjadi hal apa di masa laluku sebetulnya. Perlahan kalian akan menyibak rahasia kelam yang selama ini masih kusembunyikan.
Pemirsa...
Aku hanya ingin kalian tahu, bahwa aku menangis tiap malam karena hal ini.
Aku menderita karena cinta.
Aku menderita karena Revan.
Seperti apa kata banyak orang. Tidak usah mencintai jika takut disakiti. Aku sama sekali tidak pernah takut mencintai Revan. Aku sama sekali tidak pernah takut untuk sakit atau terluka karena cinta.
Dan kini Revan sudah menggamit lenganku. Membuat mataku menatap tajam ke arahnya.
"Din..."
"Ya...apalagi."
"Kalau aku..."
"Kalau aku kenapa?" mulutku memang bisa berkata seperti itu. Namun sebenarnya hatiku ketar-ketir. Aku takut Revan mengatakan hal itu lagi. Aku takut Revan mengucapkan sesuatu yang tak kuharapkan.
Tuhan.... tolong...aku tidak pernah takut tersakiti lagi. Namun, tahukah kalian kalau rasa sakit yang dulu masih membekas di hatiku lantaran ulah Revan ini.
"Van, udah malam...mau lanjut tidur ah." Aku mengelak.
"Yah..."
Dan gantian aku yang akhirnya tersenyum padanya. "Kan besok lagi bisa dilanjutkan ngobrolnya. Lagian kalau Bik Surti bangun dari tidurnya dan melihat kita berdua..."
"Biar saja. Biar kita ajak bik Surti ngobrol sama kita disini."
"Gila kamu!!"
Revan sudah terkekeh renyah.
Secepat kilat Revan akhirnya mencuri cium pipiku dan aku merasa pipiku memanas.
"Revan....!!!!" Revan sudah terkikik dan dia langsung cabut pergi dari hadapanku.
***
Anda Mungkin Juga Suka





