Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Snow White Without a Prince

Snow White Without a Prince

Kyorin menjalin kasih dengan Jeno tanpa landasan rasa cinta. Bagi kelompok Eternal Snow, hubungan mereka hanyalah dinamika antar sahabat. Keenam pria lainnya menolak menganggap Jeno sebagai pangeran, melainkan hanya kurcaci biasa seperti mereka semua. Di tengah prioritas persahabatan yang kental, Kyorin dengan angkuh mengakui bahwa perasaan bukanlah syarat mutlak untuk berpacaran. Kisah ini menyoroti lika-liku hubungan unik satu wanita dengan tujuh pria.
Bab
Bagikan

Bab 2

Cafetaria Fakultas Ekonomi dan Bisnis selalu jadi tempat favorit mereka. Enam pria yang ada di sana, meja paling sudut yang di sampingnya tergantung foto Ebit G. Ade, penyanyi lawas Indonesia kelahiran tahun 1955. Kabarnya, pemilik kedai ini sangat mengidolakannya.

Enam pria itu sedang menunggu karena seharusnya mereka berdelapan. Tujuh orang pria dan satu orang wanita.

"Je, Kyo bertanya apakah kita sudah kumpul. Dia juga menyuruhmu memeriksa pesannya." Pria tampan perpaduan manis dan imut sebab gigi kelincinya itu menunjukkan ponselnya pada Jeno.

Jeno mengambil ponselnya dari saku celana. Membuka pesan berderet dari Kyorin, kekasihnya. Jempolnya tanpa ragu menggulirkan sampai bawah. Hanya dua pesan yang dibacanya. Ada 20 pesan lebih, Jeno malas membuang waktu untuk membacanya.

'Kau di mana?'

'Balas Jeno! Kau sengaja tidak membalasnya? Tunggu dan lihatlah!'

Ya, dia sengaja mengabaikan pesan dari kekasihnya itu.

Dia membersihkan notifikasi enam panggilan tak terjawab dari Kyorin. Ponselnya dalam mode hening untuk beberapa jam ini.

Jeno mematikan layar ponselnya dan memasukkan ke kantongnya kembali. Tanpa membalas pesan Kyorin.

***

"Sial! Dia selalu saja mengabaikan pesan dan panggilanku."

Baru selesai memasukkan ponselnya ke slingbag, seseorang menendang betisnya dari belakang. Kyorin meringis dan menatap tajam punggung wanita yang memakai rok jeans di depannya itu. Berjalan santai tanpa melihat Kyorin, setelah perlakuan buruknya.

Sora, wanita itu selalu mencari masalah dengan Kyorin.

Kyorin berjalan sambil sesekali menepuk-nepuk betisnya. Wanita itu menggunakan high heels saat menendang, tentu saja sakitnya lebih parah dari sepatu biasa.

"Kau kenapa?" Pria yang berdiri di parkiran itu menanyakan keadaan Kyorin yang tampak sedikit kesakitan.

Pria itu memang sedang menunggu Kyorin, dari jurusan Fotografi dan Film, Michel namanya.

"Tidak apa-apa, Mic," jawab Kyorin.

Mereka pergi naik mobil Michel ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis, FEB singkatannya.

Michel meminta tanggapan Kyorin tentang buku yang ingin dibelinya. Mereka berjalan berdampingan, wajah Kyorin tampak berpikir serius.

"Aku pikir buku itu sangat bagus. Cobalah beli. Buku Loneliness milik Alvi Syahrin-kan?"

Michel mengangguk, bertanya, "Kau sudah membacanya?"

"Belum. Beli dan bacalah. Aku akan meminjam milikmu. Saat ini aku sedang mempertimbangkan untuk membeli novel Penaka."

Michel mencibir, "Kau banyak uang, tapi tidak bisa membeli dua buku itu sekaligus?"

Bibir Kyorin mengembang, "Jika bisa meminjam milikmu untuk apa beli."

"Akan kubelikan untukmu."

"Hanya Loneliness?" tanya Kyorin memancing.

"Keduanya."

Kyorin tersenyum puas, " Aku akan menerimanya dengan senang hati. Tidak akan ada yang menolak barang gratis."

Kyorin menepuk-nepuk Michel. "Aduh, baik sekali anak ini."

Michel mendengus di sela gelak tawa Kyorin.

"Kalian lama banget!"

Belum juga duduk. Pria tampan tapi menyebalkan itu sudah ngedumel karena keterlambatan mereka. Theo, rasanya Kyorin ingin menempelkan lakban ke mulutnya.

"Maafkan kami wahai Tuan Muda Theo." Kyorin sedikit menunduk dengan telapak tangan kanan menempel di dada kiri.

Lihatlah wajah puas penuh kemenangan itu. Ingin sekali rasanya menginjak untuk memberi sedikit kesan jelek pada wajahnya yang tampan itu.

"Baiklah, permintaan maaf diterima," ujarnya.

Mereka mulai memesan dan memakannya saat sudah tiba. Di tengah-tengah kegiatan makan, Kyorin menyadari tato kecil di sisi kiri bagian dalam jari manis tangan kiri milik Juan.

"Kau membuat tato, Ju?"

Juan tersenyum kikuk, menunjukkan tatonya.

"Bukankah papamu akan marah?" tanya Kyorin.

Semua aktivitas makan berhenti. Fokus mereka beralih pasa Juan.

"Tentu dia akan marah saat mengetahuinya nanti." Kini nada bicara Juan merendah. Tersirat getar ketakutan di sana.

"Kenapa kau lakukan? Kapan kau membuatnya?" Kini Jeno yang bertanya.

"Benar. Kapan kau membuatnya, Ju?" Theo menimpali.

"Kemarin sore," jawabnya.

Semua orang kaget. Mereka tau akan semarah apa papanya Juan.

"Kau tau kan akan semarah apa papamu?" tanya Jeno.

"Aku masih sangat ingat kejadian dua tahun lalu pada tato bunga di dadamu."

Semua mengangguk, setuju. Pernyataan Alan mengingatkan mereka pada kejadian dua tahun lalu. Juan dikurung tiga hari di kamar, bahkan akan dipindahkan ke kampus Turki mengambil jurusan perfilman. Padahal tatonya sangat kecil.

Mereka beruntung karena nenek Juan menghalangi rencana itu. Wanita berumur itu sangat menyayangi Juan dan selalu ingin berada di dekat Juan di tengah kondisi sakitnya. Namun, kini beliau sudah meninggal. Bagaimana nasib Juan?

"Kenapa kau buat, Ju?" tanya Theo.

"Aku sangat ingin mengukirnya di sini."

"Lalu papamu?" tanyanya lagi.

"Aku tau konsekuensinya. Tenanglah, aku bisa mengatasinya. Tidak akan terjadi apa-apa. Jangan terlalu khawatir. Dan terima kasih sudah khawatir."

Jika sudah terjadi mau dibuat apa lagi. Hanya mengikuti alur selanjutnya dan berusaha mengatasinya dengan baik.

"Huruf T? Kenapa huruf T?" tanya Kyorin.

Juan tampak gugup. " Aku cuma merasa huruf T sangat bagus."

"J sepertinya juga bagus. Apa T nama orang yang kau suka? Kau sudah punya kekasih? Siapa?"

Kyorin sadar, seseorang sedang menatap tajam dirinya. Dia tidak peduli. Juan tampak kikuk mencoba menjelaskan. Sedangkan Theo, wajah penuh khawatirnya berubah menjadi senyum menyebalkan. Yang lainnya? Hanya menjadi penikmat dan mengikuti alur saja.

"Bukan. Bukan karena itu. Sungguh, karena aku merasa huruf T ini bagus."

Kyorin masih ingin melanjutkan. Namun mengurungkan niat, memilih berhenti saja. Tatapan kekasihnya itu seolah akan membunuhnya detik itu juga.

"Baiklah. Aku coba percaya." Kyorin tertawa pelan.

Mereka sudah selesai makan, yang lainnya pergi satu persatu meninggalkan Nando, Jeno, dan Kyorin.

"Aku ada kelas. Pulanglah duluan," ujar Jeno.

"It's oke. Aku akan menunggu."

Jeno berdiri diikuti Nando. Meninggalkan Kyorin tanpa mengatakan apa-apa. Kyorin bergidik dan meminum es jeruknya.

"Bahkan dia lebih dingin dari es yang ada di jeruk ini. Sepertinya, orang tuanya pernah membawanya ke kutub utara dan membesarkannya selama beberapa waktu di sana."

"Jika benar, efeknya sangat kuat sampai belum mencair." Kyorin mulai berpikir nyeleneh.

***

Jalanan macet. Semua orang mencoba bersabar meskipun mengesalkan terjebak macet. Mereka yang baru pulang kerja, pulang sekolah atau kuliah butuh istirahat.

"Bagaimana menurutmu tato Juan?" Kyorin bertanya, memecah kebisuan di dalam mobil.

"Bagaimana apanya? Tentang papanya?" Kyorin mengangguk.

"Kau dengar sendiri dia bilang bisa mengatasinya."

Kyorin tersenyum, "Ah, aku ingin membuat tato juga. Bagaimana menurutmu?"

Jeno menarik gas, memajukan mobil.

"Terserah."

Kyorin tertawa, "Kau tidak terlihat khawatir sama sekali."

Alis Jeno naik sebelah. Berusaha memahami perkataan Kyorin.

"Aku tidak melihat kekhawatiran di wajahmu itu. Seperti bagaimana raut wajah khawatirmu tentang tato Juan tadi."

Kyorin mencoba menjelaskan karena sepertinya Jeno kurang menangkap maksud perkataannya tadi.

"Mungkin karena tidak ada yang akan memarahiku membuat tato seperti papa Juan. Ah, bukan. Aku lupa sesuatu. Alasan tepatnya, mungkin karena kau tidak mencintaiku," ujar Kyorin menunjuk Jeno juga dirinya.

Wajah Jeno tegang. Kyorin tertawa, "I'm just kidding, Bro."

Suasana hening kembali saat mereka berhenti di lampu merah. Ada orang di luar jendela membawa gitar dan kantong bekas plastik. Mulutnya komat-kamit menyanyikan sesuatu yang Kyorin tidak dengar dari dalam mobil.

Jeno menurunkan kaca dan memberikan uang. Pengamen itu pergi dengan wajah gembira.

"Ayo kita nonton bioskop tanggal 12."

"Aku tidak bisa," tolak Jeno.

"Owh, ayolah. Aku tau kau tidak sibuk."

Jeno diam. Fokus ke depan dan mengabaikan perkataan Kyorin.

"Kau sedang menguji kesabaranku. Baiklah, aku akan mengirim foto ini ke- "

"Oke." Datar, Jeno menjawab cepat setelah memotong ucapan Kyorin.

Kyorin tersenyum, " Anak baik."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Another Maze
9.6
Keberhasilan mesin waktu memicu kemunculan bola misterius yang meledak saat disentuh Robert Hans. Laboratorium hancur total, menyisakan Zora sebagai satu-satunya ilmuwan yang selamat. Demi menyelamatkan Hans yang pingsan, Zora nekat masuk ke mesin waktu tanpa koordinat pasti. Di sana, Dewi Penjaga Waktu mengungkap rahasia pulang: mereka harus mengumpulkan kepingan Air Mata Aldebran yang tersebar di berbagai dimensi asing guna menciptakan kunci kembali.
Sampul Novel Berpura-pura Amnesia Membuatnya Kehilangan Segalanya
8.1
Pasangan betaku, Kyan, mendadak amnesia setelah diserang serigala liar. Dia melupakan kehamilanku dan justru memilih Gamma Evelyn sebagai pendamping barunya. Kyan menghinaku sebagai kasta rendah yang tak layak bersamanya, hingga aku memutuskan ikatan kami. Namun, saat aku hendak bersatu dengan Raja Alpha, Kyan muncul penuh penyesalan dan menanyakan janinnya. Dengan dingin, aku menegaskan bahwa anak itu sudah tiada sebelum memulai hidup baru.
Sampul Novel Dark in Antares City
9.3
Dunia mencekam akibat teror Eaters, predator berwujud manusia yang berubah menjadi monster haus darah saat malam tiba. Dengan taring dan cakar tajam, mereka memangsa daging manusia hingga memaksa warga bersembunyi dalam ketakutan. Rio Rosswel menjadi saksi bisu saat ibunya tewas mengenaskan di tangan makhluk tersebut. Sambil bersembunyi di lemari, Rio menahan tangis dan amarahnya. Di tengah duka mendalam, ia bersumpah untuk membasmi seluruh Eaters dari muka bumi.
Sampul Novel Hilang Di Bunian
9.2
Lima sahabat terjebak dalam situasi mengerikan saat terdampar di pulau tak berpenghuni. Niat awal untuk berpetualang seketika berubah menjadi mimpi buruk penuh misteri. Berbagai ancaman mematikan mulai mengintai dari kegelapan, memaksa mereka menghadapi serangkaian teror yang datang silih berganti tanpa henti. Di tengah keputusasaan, mampukah mereka bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk ini sebelum bahaya benar-benar melenyapkan mereka?
Sampul Novel Kafan Hitam
9.6
Desa Ciboeh mencekam usai Mbah Atim, sang penjaga makam, ditemukan tewas tanpa kepala. Tragedi ini memicu serangkaian teror mistis yang mengusik ketenangan warga. Rojali, seorang pemuda lulusan pesantren, bertekad membongkar misteri kematian tersebut. Penyelidikannya justru menyeretnya ke rahasia kelam masa lalu tentang warga yang hilang, kelompok misterius Kalong Hideung, dan takdir hidupnya sendiri. Di tengah kegelapan, sebuah tawaran bantuan gaib datang menghampiri.
Sampul Novel Omega yang Ditolak: Kesempatan Kedua Bersama Sang Raja
9.2
Tujuh tahun lamanya aku bertahan sebagai pasangan yang ditolak Alpha Kaelan Adhitama demi cintanya pada Livia. Saat aku difitnah mencuri, Kaelan justru menghinaku dan menjebloskanku ke sel perak tanpa ragu. Pengkhianatan itu memutus ikatan kami dan mematikan harapanku. Kini, setelah bebas, seorang Alpha rival menawariku posisi strategis untuk membalas dendam. Aku pun bersiap menghancurkan kerajaan Kaelan demi menebus luka masa laluku.