
Skandal Ranjang Ternoda
Bab 2
Kurang lebih dua setengah jam kemudian, aku telah menantinya di pintu yang menghubungkan garasi dan rumah kami.
Begitu Diana turun dari mobil ditemani Kakek Anwar, kuraih tubuh istriku, kubawa ke dalam dekapanku, kuusap-usap punggungnya mencoba menyalurkan kehangatan tubuhku.
"Sayang, di pelukankulah tempatmu berada, bukan di luar yang dingin, atau di kampung Kakek Anwar yang sepi dan mencekam," bisikku lirih.
Aku bahkan sama sekali tak mempedulikan Kakek Anwar yang langsung masuk ke rumah lewat dapur sambil membawa barang-barang bawaan Diana. Entah apa isinya, mungkin pakaian dan oleh-oleh dari kampung si kakek.
Setelah puas memeluk dan menciuminya, baru aku lihat wajah istriku yang sayu, matanya sembab dan membengkak akibat kebanyakan menangis. Hampir dua minggu dia menghilang dari pandanganku.
Kuajak dia ke kamar Rafael dan kubiarkan melepas rindu dengan buah hati kami. Diana kembali menangis sambil menciumi Rafael yang sepertinya tak merasa terganggu tidurnya. Diana menangis memang tak mengeluarkan suara, hanya air mata.
Lalu kubimbing dia ke kamar kami.
Aku begitu ingin membawa istriku ke atas ranjang. Aku sangat ingin menikmati kebersamaan kami lagi dalam surga dunia milik kami yang selama ini nyaris terlupakan. Aku bahkan sama sekali tidak menghiraukan Kakek Anwar yang entah sedang apa di belakang sana.
"Sayang, pipimu masih sakit?" tanyaku sambil meraba pipinya dengan perasaan berdosa.
Seperti yang kusangka, air matanya kembali meleleh, lalu aku rengkuh tubuhnya dengan rasa cinta yang kurasakan begitu besar dan tinggi. Jauh melebihi rasa yang pernah ada sebelumnya.
"Sayang, udah dong nangisnya, entar kering matamu," rayuku sambil menciumi pipinya perlahan, terasa sedikit asin karena air matanya.
Mata Diana terpejam dan tak dibukanya lagi, seolah-olah pasrah menantikan sesuatu yang akan kuperbuat atas dirinya. Tanganku melingkar di pinggangnya yang ramping, sementara bibirku merambat naik ke matanya, mencium kelopak matanya satu per satu dan mengeringkan air matanya lewat sapuan bibirku, lalu pindah ke daun telinganya.
"Kalau kamu gak keberatan aku ingin sekali memberimu hadiah teristimewa, boleh kan sayang," bisikku.
Diana mengangguk pelan.
Aku kecup bagian belakang daun telinganya, sambil mengontrol kelembaban lidahku. Kepalanya miring ke kiri membiarkan diriku bebas menikmati lehernya yang jenjang. Kudengar rintihan lirih mulai keluar dari bibirnya. Kaos yang menutupi bahunya kusingkapkan sedikit. Kuciumi daerah itu dan pekikan kecil terlepas dari mulutnya, lalu aku bawa dia ke atas singgasana surga dunia kami.
Lima belas menit kemudian, aku jatuh terkulai lemas di samping Diana yang memejamkan matanya; sekilas aku lihat ekspresi wajahnya teramat datar, padahal sebelumnya dia tampak semringah. Aku telentang menatap langit-langit, jiwaku terasa kosong, walau menikmati sisa-sisa gejolak yang baru saja aku tumpahkan, namun aku juga merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri istriku.
"Mas, boleh aku bicara jujur," ucap Diana tiba-tiba dan sangat lirih.
Aku menoleh menatapnya yang juga sedang memandangku. Aku mencoba menangkap sesuatu yang ganjil di matanya. Bola matanya polos seolah tidak ada apa-apa di sana.
"Katakanlah," ucapku pelan seraya mengelus-elus wajahnya yang terasa mulai dingin. Cepat sekali suhu tubuhnya menurun.
"Maafkan aku yang sebenarnya tidak bermaksud untuk menipumu," ucap Diana makin lirih.
"Menipu bagaimana, Sayang? Aku tidak merasa tertipu kok," tanyaku pelan seraya mendekatkan wajahku ke wajahnya agar suaranya yang lirih bisa kutangkap dengan jelas.
"Sejujurnya, aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi dalam percintaan dan rumha tangga kita ini, karena...."
Diana tidak melanjutkan ucapannya aku pun tetap diam menunggu lanjutannya.
Namun lama sekali dia tidak menjawab sampai akhirnya aku yang bertanya. "Jadi kamu tadi berpura-pura menikmatinya?" tanyaku dengan suara bergetar.
Tak salah dugaanku jika sesungguhnya istriku memang bersandiwara seolah sedang sangat puas menerima kenikmatan dariku. Seolah dia juga mencapai orgasme, walau aku juga tidak merasakan ada cairan birahi yang keluar dari dalam dirinya.
"Entahlah Mas, sepertinya aku tidak dapat lagi merasakan momen apapun yang datang darimu, walau aku tahu kamu sudah berusaha keras. Mungkin karena sudah terlalu lama aku diabaikan, jadinya sudah kebal, butuh adaptasi lagi untuk bisa seperti dulu," ucapnya lirih dan aku kehilangan kata-kata.
"Dan aku sepertinya menyerah untuk beradaptasi," lanjutnya lirih.
Aku memang tidak memahaminya, seharusnya tadi aku melakukan pemanasan yang jauh lebih lama sebelum mengajaknya ke punck, karena Diana sudah lama tak kusentuh, bisa jadi sensitifitasnya berkurang.
"Maafkan semua kebodohanku, Sayang. Aku janji setelah ini aku akan memberikan yang terbaik buatmu, aku akan me..."
"Gak usah Mas," pungkas istriku yang membuat ucapanku melayang di udara.
Untuk beberapa saat kami saling berpandangan, sibuk dengan jalan pikiran masing-masing yang berkecamuk.
"Mas, percayalah aku sangat mencintaimu. Aku maunya hanya dirimu yang aku cintai, sama seperti saat pertama kita bertemu."
"Aku tahu itu, Sayang," balasku penuh harapan.
"Tapi ternyata tidak bisa, kini dalam hatiku telah tumbuh cinta yang lain," ucap Diana tanpa ragu.
"Diana, siapa lelaki yang telah mengganggu hatimu!?" tanyaku setengah tak sadar dan agak kencang.
"Jangan berteriak Mas, kasihan nanti Rafa terbangun."
"Diana, apa kehebatan lelaki itu dibanding aku?" tanyaku penasaran suara sedikit ditekan. Aku yakin istriku sedang mengujiku.
"Kalian sama hebatnya, namun kehebatanmu ternyata bukan buatku, Mas. Sejujurnya sebagai seorang istri aku bukan hanya butuh nafkah lahir saja. Aku wanita biasa yang sangat membutuhkan cinta, kasih sayang, perhatian, penghargaan dan nafkah batin yang sewajarnya."
"Aku paham, Sayang, tapi...."
"Mas, tidak akan pernah paham. Sebagai seorang istri, aku butuh nafkah lahir dan batin yang seimbang sesuai kemampuan suami, karena itu sudah kewajibannya," ucapnya dengan suara yang lembut tanpa mempedulikan ucapanku.
Kembali aku terdiam, percuma berdebat tentang siapa yang paling mapan dan kaya raya. Berulang kali Diana telah mengatakan jika dia ingin hidup sederhana asalkan bahagia. Bagi Diana, harta duniawi mungkin ada diurutan kelima. Yang kesatu sampai keempat adalah bahagia, bahagia, bahagia dan bahagia.
Walau hatiku terasa disayat sembilu, namun aku pasrah untuk mendengar curahan hatinya selanjutnya.
"Mungkin menurut Mas, aku terlalu berlebihan menuntut kebahagiaan darimu. Makanya aku mencari itu dari yang lain. Aku ingin hanya denganmu saja bisa mencapai puncak kebahagian kita, namun ternyata itu tidak bisa kita lakukan, karena bukan aku yang ada dalam hatimu."
Ucapan Diana makin jelas arahnya dan kulit wajahku seketika terasa panas, kerongkongan kering dan sulit sekali aku menemukan kata-kata untuk meresponnya atau sekedar membela diri.
"Mak... maksudnya gimana, Diana?" tanyaku pura-pura tak paham, berharap arah pembicaraannya tidak sesuai dengan yang sangat aku takutkan.
"Mas masih ingat Bu Nita?" tanya Diana lirih.
"Bu Nita mana?" Aku balik bertanya masih berpura-pura tenang.
"Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar. Tapi bulan lalu aku bertemu dengan mantan kepala sekolah SMP-mu itu. Dan aku tahu kalau dialah yang selama ini ada dalam benakmu saat sedang menyetubuhiku."
"Kam... kam... kamu kenapa menuduhku begitu, Diana?" tanyaku dengan kerongkongan yang benar-benar terasa pahit, kering dan tercekat.
"Aku tidak menuduh. Dan aku juga tidak ingin memulai kembali pertengkaran denganmu. Aku sudah tahu hubungan gelapmu dengan wanita berusia 58 tahun itu."
Kerongkonganku semakin tercekat.
"Awalnya aku masih tidak percaya, namun semua bukti-bukti yang aku kumpulkan selama setahun ini, tak bisa diragukan lagi. Dan Nenek itu pun sudah mengakuinya. Mungkin dia butuh kakek yang lebih muda untuk cucu-cucunya."
Bagai petir yang menyambar mulutku, aku benar-benar terdiam kaku tak berkutik. Berjuta perasaan bergemuruh dalam dada. Malu semalu-malunya karena perselingkuhanku dengan wanita yang usianya lima tahun lebih tua dari ibuku, benar-benar telah diketahui bahkan diintai lama oleh Diana.
"Mas, aku tidak akan menyalahkanmu, karena memang para wanita setengah baya itu jauh lebih baik. Aku pun bahkan bisa menemukan segela apa yang aku cari selama ini justru dari lelaki setengah baya. Kakek Anwar," lanjut Diana yang sontak membuatku tersentak serasa disambar petir.
"Maksudnya?"
"Semua terserah padamu, Mas. Aku sudah buka semuanya. Aku hanya minta cerai darimu agar bisa hidup bahagia menemani Kakek Anwar di kampung yang menurutmu sepi dan mencekam. Tapi di sanalah aku menemukan kebahagiaan dan kesempurnaan sebagai seorang wanita."
"Kam... kamu sudah berapa lama berhubungan dengan Kakek Anwar, Diana?"
"Baru setahun. Aku rasa jauh lebih lama jika dibandingkan hubunganmu dengan Nenek Nita. Aku tahu, sudah hampir sepuluh tahun kamu menjadikan wanita itu sebagai pemuasmu, bahkan ketika kita belum bertemu."
"Aku mau minta cerai, Mas. Aku harap kamu pun penuhi janjimu pada nenek itu. Kasihan dia sudah tua dan teramat menginginkan dirimu."
"Diana, kam...kam...kam..." Aku benar-benar tergagap.
"Mas, keputusanku sudah bulat dan sangat serius. Seserius Nenek Nita yang selalu menanti janjimu untuk menikahinya. Apakah perlu aku panggil Nenek Nita dan Kakek Anwar ke sini?" tantang Diana sambil bangkit dari tidurannya, lantas mengenakan kembali seluruh pakaiannya.
"Diana, de... denger dulu sayang!" Aku berusaha mencegahnya, saat dia akan keluar dari kamar.
"Apalagi Mas?"
"Ba... bagaimana dengan Rafa?"
"Kamu tadi kan udah bilang, tak bisa mengurusnya, biar aku dan Kakek Anwar yang mengurusnya, toh Rafa memang jauh lebih dekat dengan Kakek Perkasa itu kan?"
'Kakek Perkasa?' tanyaku dalam hati dan sabetan pedang yang sangat tajam seketika menghujam jantungku.
'Benarkah aku kalah perkasa oleh lelaki bau tanah itu?'
"Diana, tidak adakah kesempatan yang ke dua belas buatku?" tanyaku bingung, karena lupa, sudah berapa kali Diana memberikan kesempatan padaku.
"Kesempatanmu hanya tinggal dua, Mas. Pertama ceraikan aku, agar bisa bahagia dengan Kakek Anwar. Yang kedua, nikahi Bu Nita agar kalian juga bisa lebih bahagia."
"Kamu...kamu..." Kerongkonganku benar-benar mengering.
"Maaf Mas, aku tidak akan meminta sedikit pun harta gono gini darimu. Aku dan Kakek Anwar sudah mempersiapkan segalanya, bahkan untuk masa depan Rafa sekalipun. Jalan menuju bahagia yang kita tempuh memang berbeda. Dan aku rasa alasan kita pun beda."
"Kamu serius Diana?"
"Seserius kamu meniduri Nenek Nita selama berthaun-tahun itu, Mas."
"Kamu gak butuh harta?"
"Harta bagiku hanya sekedar alat saja, karena ternyata kebahagiaan itu adalah pilihan. Dan aku memilih bahagia bersama lelaki tua yang dulu pernah menjadi sopirmu. Seperti kamu memilih bahagia dengan wanita yang dulu pernah menjadi kepala sekolahmu."
Diana memungkas ucapannya seraya keluar dan menutup kembali pintu kamar.
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





