
Skandal Ranjang Ternoda
Bab 3
Siang itu, di ruang kerjanya yang sejuk ber-AC sentral, Pak Martin duduk diam di balik meja besar yang biasa dipakai memutuskan banyak hal penting. Kursi kulit hitam berukuran jumbo menopang tubuhnya yang tegap, walau pundaknya tampak sedikit merunduk siang ini.
Wajahnya serius, tetapi bukan karena laporan strategis perdagangan, atau tumpukan surat masuk. Melainkan karena satu hal kecil yang tak terduga. Sebuah cerita tanpa judul, terbuka di layar laptopnya.
Pak Martin, lelaki paruh baya yang kini berdiri di puncak karier, sedang diam membatu membaca kisah yang entah bagaimana muncul di folder tak bernama. Ia semula membuka laptop hanya untuk membunuh waktu di sela rapat yang ditunda. Tapi ketika matanya menangkap kalimat pembuka dalam cerita itu, ia tak bisa berhenti membaca.
"Lima belas menit kemudian, aku jatuh terkulai lemas di samping Diana..."
Diana? Nama yang sederhana tapi menggigit. Cerita itu, tentang percakapan intim suami-istri setelah hubungan yang tak lagi menyatu secara batin-menyeretnya masuk seperti pusaran.
Dan makin dalam ia membaca, jantungnya berdetak lebih cepat. Sang istri dalam cerita itu menolak sentuhan, dingin, datar. Bahkan mengaku sudah tidak merasakan apa-apa.
Dan itu sama persis seperti Bu Tita, istrinya Pak Martin.
Bu Tita yang usianya lima tahun lebih muda, yang sejak beberapa tahun lalu selalu menolak ajakannya untuk bersama. Alasannya jelas-sudah menopause, sudah tidak nyaman. Sejak itu, hubungan mereka seperti dua aktor sepanggung tanpa dialog. Hidup berdampingan tanpa keterhubungan.
Pak Martin tak pernah memaksa. Tapi juga tak pernah benar-benar mencoba menghangatkan kembali hubungan itu. Ia sibuk. Sangat sibuk. Mengejar gelar, mengejar jabatan, membangun nama besar. Dan di tengah semua itu... istrinya menjadi latar yang teramat datar.
Namun yang membuat Pak Martin tercekat, adalah bagian cerita tentang tokoh laki-laki yang terlambat menyadari bahwa cinta itu rapuh jika dibiarkan sendiri terlalu lama. Bahwa kehangatan bisa tumbuh dari orang yang tak diduga. Bahkan dari lelaki bau tanah bernama Kakek Anwar itu.
Pak Martin menghela napas panjang. Tangannya menggenggam mouse, mencoba scroll ke bawah. Tapi cerita itu berhenti di situ.
Tak ada nama tokoh laki-lakinya. Tak ada kelanjutannya. Tak ada siapa penulisnya. Bahkan folder tempat cerita itu berada... kini menghilang dari desktop.
Pak Martin menegakkan punggungnya, wajahnya tegang. Bukan karena takut, tapi karena cerita itu laksana cermin yang sengaja diperlihatkan kepadanya.
"Apa itu hanya cerita fiksi? Atau... pengakuan terselubung dari seseorang yang aku kenal?"
Pertanyaan itu menggantung di benaknya. Terlalu banyak kemiripan. Terlalu menyakitkan untuk disebut kebetulan.
Godaan memang datang padanya berkali-kali, tapi ia selalu bisa menahan diri. Ia merasa kuat, merasa terhormat. Tapi hari itu, entah kenapa... ia merasa kalah.
Kalah karena pernah mengabaikan seseorang yang paling setia di rumah. Kalah karena tak menyadari bahwa kesepian bisa membuat siapa pun mencari pelukan baru. Termasuk istrinya.
Pak Martin duduk diam. Satu tangannya kini menutup mulut, jari-jarinya gemetar. Di luar sana, bawahannya menunggu tanda tangan. Tapi ia belum sanggup berdiri.
Cerita misterius itu mungkin hanya fiksi. Tapi luka yang ditinggalkannya, nyata.
Beberapa menit Pak Martin termenung. Lalu dengan nada serak, ia menekan tombol interkom.
"Mesya, tolong ke ruang saya sebentar."
Beberapa saat kemudian, Mesya masuk, membawa iPad dan notes kecil seperti biasa. Ia masih muda, cekatan, dan punya reputasi sebagai pembaca fanatik novel online, terutama genre real life romance di paltform Bakisah. Pak Martin ingat betul: Mesya pernah menangis diam-diam gara-gara salah satu tokoh kesayangannya mati di akhir cerita.
"Iya, Pak?" Mesya angkat suara.
"Kamu suka baca cerita di Bakisah, kan?"
"Suka banget, Pak. Cerita-ceritanya jujur, banyak yang based on true story"
"Saya butuh bantuanmu. Ada satu cerita yang sempat saya baca... Tapi saya gak sengaja menutupnya. Isinya agak... personal."
"Judulnya apa, Pak?"
"Itu dia masalahnya. Saya gak tahu. Tapi tokohnya... ada nama Diana. Dan Kakek Anwar."
"Ceritanya tentang apa, Pak? Saya coba cari."
Pak Martin menatap layar yang kosong.
"Tentang... seorang istri yang merasa tidak dicintai lagi. Lalu ia jujur soal perasaannya. Ada pengakuan. Ada perselingkuhan... bukan hanya dari dia, tapi juga dari suaminya. Tapi yang paling saya ingat... ada satu kalimat soal 'harta duniawi di urutan kelima, sedangkan bahagia ada di urutan satu sampai empat.'"
Mesya terdiam. Ia mencatat cepat.
"Baik, Pak. Saya akan mencarinya."
Hari demi hari berlalu.
Setiap sore, Mesya masuk ke ruangan Pak Martin dengan catatan. Namun ekspresinya selalu sama: bingung dan kosong.
"Saya sudah cari dengan kata kunci 'Diana', 'Kakek Anwar', bahkan 'bahagia urutan satu sampai empat', tapi nihil, Pak. Banyak cerita pakai nama itu, tapi... alurnya bukan yang Bapak maksud."
"Platform Bakisah?"
"Saya sudah cari di 13 paltform novel online yang lagi hit dalam sebulan terakhir. Tidak ada, Pak. Bahkan saya cross-check di forum pembaca, grup-group efbi, teleg dan semua medsos pembaca novel real life... tetap gak ada."
Pak Martin makin gelisah. Ia bahkan diam-diam membuka akun medsos lama, menyusuri hashtag tentang pernikahan, pengakuan, rumah tangga. Tapi tetap nihil.
"Cerita itu seperti muncul hanya untuk saya... dan hilang begitu saja, Mes," gumamnya.
"Apakah Bapak ingin saya rekomendasikan cerita senada, atau dibuatkan yang baru? Banyak sekali di Bakisah, Pak," tawar Mesya dengan hati-hati, suaranya pelan namun penuh niat baik.
Pak Martin tak menjawab. Pandangannya tertuju lurus ke layar laptop yang kini gelap, seperti lubang hitam yang baru saja menelan sebuah kisah yang terlalu dekat-terlalu nyata.
Bukan cerita lain yang ia butuhkan. Bukan rekomendasi atau karangan baru. Ia hanya ingin satu hal: Kelanjutan kisah Diana itu.
Bagaimana akhir cerita Diana?
Bagaimana nasib suaminya?
Siapa sebenarnya Kakek Anwar?
Dan... apakah Rafael bahagia?
Pak Martin menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Untuk sesaat, ia menutup mata. Di balik kelopak yang tertutup, bayangan demi bayangan menyeruak-wajah istrinya, saat masih muda dan hangat. Suara batin yang dulu sering ia abaikan. Serta sesosok bayangan perempuan yang berdiri di ambang pintu dengan mata penuh luka.
Tiba-tiba, suara interkom terdengar.
"Pak Martin, mohon maaf, waktunya pulang. Agenda Bapak untuk hari ini sudah selesai," ucap sopir pribadinya dari luar.
Pak Martin membuka mata perlahan, lalu menatap laptop sekali lagi sebelum menutupnya dengan pelan. Seperti menutup pintu yang tak pernah ingin ia buka, tapi tak sanggup ia tinggalkan.
Ia berdiri, merapikan jas dengan tenang. Namun dalam diam, hatinya berkecamuk.
"Ini bukan cerita fiksi. Aku tahu... ini nyata. Terlalu jujur untuk sekadar rekaan. Dan kalau ini kisah nyata... maka mereka pasti benar-benar ada."
Ia melangkah menuju pintu. Sebelum memutarnya, ia kembali bergumam dalam hati-nada dalam suaranya bukan lagi penasaran, tapi tekad yang mengeras:
"Aku harus menemukan mereka. Diana. Kakek Anwar. Bahkan Rafael... Aku harus tahu kelanjutannya. Bagaimanapun caranya."
Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang yang biasanya ia habiskan dengan mengecek dokumen-dokumen atau memejamkan mata sejenak, Pak Martin hanya diam. Pandangannya menembus jendela, namun pikirannya tidak tertinggal di balik kaca mobil. Ia seolah masih di kantor. Masih duduk di hadapan laptop itu. Masih membaca kisah unik itu.
Masih terpaku pada nama: Diana dan Kakek Anwar.
Dan entah mengapa, nama Diana kini mengait kuat pada satu sosok yang selama ini begitu dekat dengannya-Mesya.
"Jangan-jangan... Diana adalah Mesya?"
Gumaman itu hanya bergaung dalam kepalanya. Sebuah dugaan yang muncul begitu saja, lalu mulai menuntut penguatan.
Toh, Mesya memang selalu terlihat menyimpan sesuatu. Tatapannya kadang sayu, suaranya sering terlalu datar untuk perempuan seusianya. Dan... Pak Martin tak bisa memungkiri, dia pernah mendengar kabar jika pernikahan Mesya tak pernah benar-benar bahagia.
Suaminya memang tampan. Tapi terlalu tampan untuk satu perempuan saja. Semua orang tahu, lelaki itu hobi 'bermain'. Mesya sendiri pernah dengan santai berkata,
"Saya sudah tidak terlalu peduli, Pak. Selama saya masih bisa kerja dan nafkah jalan, saya tutup mata."
Dan kini, semua potongan itu... seolah menyatu. Seperti menyusun puzzle gelap dalam ruangan tanpa cahaya.
Tapi satu hal yang membuat Pak Martin ragu, Kakek Anwar?
Tidak mungkin. Mesya, dengan segala pesonanya yang cerdas, elegan, dan masih sangat cantik, bisa jatuh cinta pada lelaki tua?
"Tak masuk akal. Tidak mungkin Mesya tergila-gila pada pria seusia ayahnya."
Pak Martin menatap jalan yang sedang sangat ramai. Dalam hatinya, sebuah misi baru mulai menyala: ia harus menyelidiki ini. Jika benar Mesya adalah Diana yang ada dalam cerita itu, maka kisah itu belum selesai. Dan mungkin... ia sendiri bagian dari kelanjutannya.
Sesampainya di rumah, Pak Martin disambut seperti biasa. Tak ada pelukan, tak ada senyum manja, tapi juga tak ada amarah atau dingin yang menusuk. Istrinya, Bu Tita, hanya menyapa dengan suara tenang dan wajah datar. Mereka lalu duduk di meja makan. Dua piring hangat telah tertata rapi. Seperti rutinitas yang kosong.
Suara sendok dan garpu menjadi latar hening, hingga akhirnya Bu Tita membuka percakapan.
"Pak Firman akhirnya cerai juga, Pah," ucap Bu Tita pelan sambil memotong tempe goreng.
Pak Martin mengangkat wajah. "Cerai? Sama istrinya?"
"Iya. Bu Firman yang minta cerai. Ternyata diam-diam dia udah lama merasa diabaikan. Dan ternyata... dia jatuh cinta sama teman anaknya sendiri. Seseorang yang katanya lebih perhatian."
Pak Martin meletakkan sendoknya.
"Bu Firman kan sudah tua, Mah?" tanyanya cepat, nyaris terbata. Nada suaranya menyimpan gugup.
Bu Tita mengunyah sejenak sebelum menjawab.
"Tua untuk urusan ranjang, mungkin. Tapi kenyamanan itu gak kenal usia, Pah. Justru karena dia sudah terlalu lama merasa sendiri dalam pernikahan. Terlalu sering dibiarkan sepi, terlalu sering hanya jadi pendengar keluh kesah, tanpa pernah didengar."
Pak Martin mencoba tertawa kecil, tapi tawanya hambar. "Tapi sekarang Pak Firman udah pensiun. Harusnya lebih banyak waktu buat istrinya, kan?"
Bu Tita meletakkan garpu. Wajahnya masih tenang, tapi tatapannya menghujam langsung ke hati Pak Martin.
"Luka itu kadang bisa sembuh, tapi tetap meninggalkan retak. Dan kalau dibiarkan terlalu lama, retaknya bisa jadi jurang."
Pak Martin terdiam. Seolah kalimat itu bukan tentang Pak Firman dan istrinya, melainkan tentang dirinya dan istrinya. Tentang seseorang yang dulu dia nikahi dengan harapan besar, tapi terlalu lama dia abaikan saat sibuk mengejar gelar, promosi, dan kehormatan di luar rumah.
Oleng. Itulah kata yang tepat.
Pikiran Pak Martin melayang kembali ke kisah Diana, Kakek Anwar, dan suami yang ditinggalkan. Entah mengapa... semua garis ceritanya terasa makin dekat. Bahkan terlalu dekat.
Apa mungkin... Diana itu istriku?
Tiba-tiba dugaan itu muncul begitu saja, menabrak nalar sehatnya. Tapi ia segera menepis.
"Tidak, itu terlalu mengada-ada. Tapi... mungkin... mungkin luka-lukanya tak jauh beda."
Pak Martin menatap istrinya yang kini tampak begitu asing dalam balutan daster dan rambut dicepol sederhana.
Dan sore itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Pak Martin tidak ingin menonton berita, membuka laptop, atau membaca berkas apa pun.
Ia hanya ingin diam. Karena dalam diam itu, batinnya sedang riuh.
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





