Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Skandal Dengan Mertua

Skandal Dengan Mertua

Kehidupan Ika sebagai ibu rumah tangga berubah drastis saat suaminya jatuh sakit dan tak lagi mampu bekerja. Di tengah himpitan ekonomi dan perjuangan mencari nafkah sendirian, sebuah tawaran mengejutkan datang dari sosok yang tak terduga. Ayah mertuanya tiba-tiba muncul memberikan pilihan sulit untuk menggantikan peran putranya. Sang mertua bersedia menjamin nafkah lahir sekaligus batin bagi Ika, memicu skandal rumit yang mengguncang nilai-nilai kesetiaan.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Eh, Ika. Tumben ke sini sore-sore begini. Kok sendirian?" tanya ibu mertua ketika melihat Ika datang sendiri tanpa suami dan anak-anaknya.

Sore itu akhirnya Ika memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya. Rumah itu tak jauh dari rumahnya. Di rumah yang besar itu tinggal ibu mertua, bapak mertua, dan adik-adik dari suami Ika, Diana dan Miranda dan ada juga Nur yang sudah menikah.

"Iya, Bu. Aku ada perlu sebentar. Anak-anak sedang main di rumah tetangga, kalau Mas Karyo sedang mancing," jawab Ika.

"Ada perlu apa, Ika?" Tanya Bapak Mertua yang muncul dari kamarnya. Pak Tio hanya menggunakan celana boxer dan kaos dalam.

"Eh, Pak. Tumben ada di rumah? Apa sedang libur bekerja?"

Ika menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Bapak Mertuanya.

"Iya, ini. Bapak libur lama. Proyek sedang libur."

Tiba-tiba Ika ragu untuk ngomong tentang suaminya, ia takut kalau Bapak dan Ibu mertuanya akan membela anak mereka. Tapi kalau masalah ini nggak diomongkan, ia sudah tak sanggup harus berusaha sendiri.

"Ehm. Begini, Pak Bu, Ika mau ngomong sama Bapak sama Ibu. Sudah lama Mas Karyo tidak bekerja. Dia sakit kepalanya. Katanya tidak boleh bekerja terlalu berat. Jadi selama ini Mas Karyo tidak pernah bekerja. Meskipun begitu dia juga jarang di rumah, hanya pergi memancing setiap hari, kadang malah beberapa hari tidak pulang. Sedangkan kebutuhan rumah sangat banyak. Anak-anak kami butuh biaya sekolah, Bu. Aku sudah hutang di mana-mana. Jualan Ika setiap hari hanya cukup untuk makan saja. Sekarang hutang kami sudah terlalu banyak. Ika minta tolong sama ibu dan bapak."

Ika menjabarkan keadaan keluarga mereka dengan hati-hati. Ibu Hasna, ibu mertua Ika langsung merasa tersulut hatinya mendengar penuturan menantunya itu.

"Ika- Ika, kamu jadi istri tuh yang nerima. Kalau rumah tangga ada masalah, suamimu lagi sakit gak bisa kerja ya kamu lah yang kerja. Masa kamu mau minta sama Ibu sama Bapak. Kami juga punya kebutuhan sendiri. Bukannya bantu kami yang sudah tua malah mau merepotkan lagi," jawab Ibu mertuanya ketus bahkan sebelum Ika selesai menjelaskan.

Dada Ika langsung sesak mendengar penolakan mertuanya. Betapa sakitnya jadi orang miskin. Minta tolong ke orang tua saja langsung dianggap merepotkan.

"Kamu lihat tuh adik ipar kamu. Nur sama Ridho. Mereka berdua sama-sama bekerja. Jadi gak ngerepotin orang tua. Meskipun anak-anaknya dititipin sama Ibu, tapi uang bulanan Ibu tuh selalu lancar. Ibu jadi gak perlu repot-repot bekerja," imbuhnya lagi dengan wajah bengis.

Mata Ika langsung mengembun, sesak di dadanya semakin bertambah dibarengi dengan air mata yang terasa susah untuk ditahan.

"Jadi wanita itu harus prihatin. Anakku itu kan lagi sakit. Ya memang tidak bisa bekerja. Kamu coba lah cari uang sendiri dulu. Kamu jadi tulang punggung dulu. Jaman sekarang kan wanita juga banyak yang bekerja. Kalau pagi kamu jualan kue, kalau siang sampai malam kan nggak ngapa-ngapain. Cari lah kerjaan dulu. Biar tidak menumpuk hutangnya, tidak merepotkan orang lain," tak puas sepertinya Ibu Hasna sampai ia menumpahkan semua emosinya pada menantunya.

Melihat keadaan Ika yang menahan tangis, Ibu mertuanya bukannya merasa iba malah terus saja mengoceh membela anak kesayangannya. Pak Tio jadi merasa kasihan dengan keadaan Ika.

"Bu, cukup!" seru Pak Tio dengan nada keras.

"Anak kita memang salah, Bu. Ketika sudah menikah, memang kewajibannya untuk memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya. Dia memang yang seharusnya memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Saya minta maaf untuk anak saya ya, Ika."

Karena sedikit merasa dibela oleh ayah mertuanya, Ika sebisa mungkin membela dirinya di depan ibu mertuanya, meskipun setiap kata terasa tercekat di tenggorokan.

"I-iya, Pak. Ika juga sudah mencoba mencari uang sendiri, Bu. Ika jualan kue di pasar. Tapi hasilnya memang belum bisa memenuhi kebutuhan kami. Sekarang Mas Karyo setiap hari hanya mancing di tanggul sungai. Aku juga tidak mau merepotkan Ibu dan Bapak. Tapi Ika sudah tidak tahu lagi harus meminta tolong sama siapa."

Sesenggukan Ika mencoba sebisa mungkin meluapkan apa yang ada di dalam hatinya. Sayangnya ibu mertuanya hanya memalingkan muka saja. Suasana jadi terasa hening.

Pak Tio, bapak mertua Ika ingin membantu Ika, memberikan sedikit uang, tapi dengan melihat istrinya saja dia enggan membuat masalah. Uang sedikit akan jadi petaka nantinya.

Ika memilih untuk melangkahkan kakinya dengan gontai keluar dari rumah itu.

"Yasudah. Ika pulang dulu, Pak Bu." Benar-benar tidak ada niat dari Ibu dan Bapak mertuanya untuk membantunya. Sepanjang jalan menuju rumahnya, Ika menangis sesenggukan di atas motor. Angin yang bertiup membuat Ika semakin sendu. Pada siapa lagi ia meminta pertolongan.

***

Sesampainya di rumah, ternyata anak-anaknya sedang makan. Melihat anak-anaknya hanya makan dengan gorengan tempe, hati Ika terasa tercabik-cabik. Bahkan ketika matahari sudah bergulir ke peraduannya, suaminya belum juga ada keinginan untuk pulang. Ika menduga kalau suaminya mungkin tidak akan pulang seperti malam-malam sebelumnya.

Di tanggul sungai dekat laut memang ada gubug-gubug yang sering dipakai untuk menginap oleh orang-orang yang mancing. Ada beberapa warung juga yang buka 24 jam memenuhi kebutuhan pemancing.

Suaminya memang sakit kepalanya. Sudah sekitar satu tahunan ini dia mengeluh kepala bagian belakangnya sakit. Sudah banyak dokter yang mereka kunjungi, tapi hasilnya nihil. Tidak terdeteksi penyakit apapun. Bahkan mereka sudah ke beberapa orang pintar dan kyai dengan berbagai wejangan nyatanya memang tidak ada hasil yang signifikan. Rasa sakit di kepalanya tetap terasa.

Sudah satu tahun juga suaminya tidak bekerja. Entah nafkah lahir atau batin, Ika tak pernah merasakannya. Suaminya bahkan sering meminta uang padanya untuk bekal memancing. Pun dengan nafkah batin, suaminya sudah lama tidak pernah menyentuhnya lagi.

Keberadaan suaminya benar-benar sudah seperti benalu. Kadang terbersit keinginan untuk berpisah, tapi apa kata orang nanti kalau dirinya meninggalkan suami ketika suami sedang sakit.

Ika membaringkan tubuhnya di kasur. Lelah badannya kalah dengan lelah hati yang harus dia terima hari ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Anak-anak sudah tertidur. Ketika matanya mulai menutup, ketukan pintu benar-benar membuatnya kaget. Siapa yang bertamu malam-malam begini? kalau suaminya tidak mungkin mengetuk pintu. Rasa takut mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Ia mencoba mengintip lewat jendela.

"Ini Bapak, Ka."

Ika terheran. Hah Bapak?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU MUNDUR, MAS!
9.1
Pernikahan Syafitri dan Guntur terus dihantam badai konflik sejak tahun pertama. Campur tangan serta provokasi dari keluarga Guntur membuat sikap sang suami kian memburuk terhadap istrinya. Meski telah berupaya bertahan dengan segala kesabaran, Fitri akhirnya mencapai titik jenuh. Ia memutuskan menyerah dan mundur dari rumah tangga yang penuh tekanan tersebut. Kini, keduanya menempuh jalan hidup masing-masing demi mencari kebahagiaan yang baru secara terpisah.
Sampul Novel Hubungan Sebatas Ranjang
8.1
Jonathan Prawira Maulana adalah CEO Maulana Grup yang jenius dalam bisnis namun buta soal asmara. Kesibukannya membuat orang tua Jo khawatir hingga mereka berencana menjodohkannya dengan anak rekan bisnis. Jo menolak keras rencana tersebut, namun ia justru terjebak syarat berat. Ia hanya punya waktu satu bulan untuk memperkenalkan calon istri pilihannya sendiri. Jika gagal, ia harus menerima perjodohan itu tanpa syarat. Mampukah Jo menemukan cinta dalam waktu singkat?
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah arsitek brilian dengan Adrian Wijaya hancur seketika saat kecelakaan menghapus ingatan sang taipan. Adrian berubah menjadi monster kejam di bawah kendali Helena yang licik. Ia membunuh adikku, melumpuhkan kakiku, hingga merampas pita suaraku untuk diberikan pada Helena. Pengkhianatan ini mengubah cinta menjadi dendam membara. Aku memalsukan kematian dan siap menghancurkan kerajaannya. Saatnya sang monster membayar segalanya.
Sampul Novel Kehangatan selimut cinta
8.7
Sophia adalah wanita dengan daya tarik fisik yang unik dan gairah asmara yang meluap-luap. Suatu ketika, saat ia hendak melangkah keluar kamar, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram bahunya dengan kasar. Tubuh Sophia terdorong hingga menempel pada dinding di samping pintu. Ia nyaris berteriak karena terkejut, namun mulutnya segera dibungkam secara paksa. Ketegangan pun memuncak dalam pertemuan yang tidak terduga dan penuh desakan tersebut.
Sampul Novel Mon Amour
8.4
Farrin terjebak dalam dilema rumit antara dua pria kembar. Meski sempat menjalin kasih dengan Avan, takdir justru membawanya menikah dengan Vian, sang adik. Tak rela melepaskan, Avan bertekad merebut kembali Farrin dari tangan adiknya sendiri melalui berbagai cara licik. Walau Farrin dan Vian berusaha bertahan, Avan terus menyusun rencana jahat demi memisahkan mereka. Akankah Avan berhasil memenangkan cinta lamanya, ataukah Farrin tetap setia pada sang suami?
Sampul Novel My Absurd Ning
9.4
Zora Alifia dikenal sebagai santriwati pembuat onar yang kerap memicu kekacauan di pesantren. Kelakuannya sering kali membuat Emir, sepupunya yang juga seorang Gus, merasa sangat kewalahan. Meski sering ditegur, Zora tetap membangkang hingga hubungan keduanya diwarnai ketegangan. Emir pun melontarkan ancaman pernikahan untuk menertibkan Zora. Ajaibnya, gertakan itu mulai mengubah sikap Zora menjadi lebih rajin dan taat menjalani kehidupan di pondok.