
Skandal Dengan Mertua
Bab 3
SDM 20
"Kamu kayak nggak tahu Bapak aja, Yo," ujar Yono seraya duduk tegak di depan Karyo. "Sebentar ya, aku ambil kopi dulu biar melek." Yono bangkit dan berjalan menuju dapur sedangkan Karyo sejak tadi menatapnya dengan mata melotot.
"Sialan! Ditungguin dari tadi malah ada saja halangannya," batin Karyo.
Suara jangkrik terdengar sangat nyaring. Rumah Yono berada di dekat sawah jadi udara terasa sangat dingin. Tadinya ini tanah orang tua Jannah, beberapa bulan setelah menikah Yono dan Jannah memutuskan untuk membangun rumah di atasnya. Meskipun tadinya pernikahan mereka ditentang, tapi aku salut dengan Yono yang membangun rumah tangganya dari nol, dan tentunya berhasil membuat Jannah yang liar jadi wanita rumahan.
"Nih ngopi dulu!" Ia meletakkan secangkir kopi hitam pekat di depanku. Wanginya membuat mata langsung melek, adrenalin sedikit mengendur.
"Kamu minum sana, Mas! Biar melek matanya, dari tadi ditanya ngelantur mulu," kataku pada Mas Yono yang sedang diam terpekur seperti menimbang-nimbang sesuatu.
Kulihat dia menarik nafas panjang seperti terasa berat untuk membuka mulutnya,"Kamu tahu kan bapak kayak gimana, Yo. Ibu aja sudah muak sama kelakuannya. Sudah berkali-kali bapak ketahuan selingkuh sama cewek. Nggak di bedeng, nggak di sini. Banyak tetangga sini yang lapor ke Jannah kalau bapak dulu suka ke pemancingan. Mau ngapain lagi kalau nggak nyari cewek di sana."
Seketika tenggorokanku tercekat mendengar kalimatnya. Mas Yono pun sengaja memberi jeda pada penjelasannya, kemudian ia melirik padaku dengan tajam. "Kamu juga, kan?" tebaknya. Segera ku palingkan wajah ke arah lampu ruang tamu yang temaram. Aku tak bisa mengelak kalau sama Mas Yono.
Penjelasan Mas Yono tak berlanjut, ia masih betah melirikku sejak tadi. Jengah juga rasanya. "Ehem, tapi apa hubungannya sama istriku, Mas?"
"Ya nggak cuma di pemancingan, kata tetangga bapak juga punya simpenan di desa sebelah. Emang ganjen aja bapak. Istriku aja pernah digodain," tuturnya.
"Hah? Mas lagi bohong apa gimana? Aku nggak pernah dengar apapun soal itu," tanyaku kaget.
"Ibu cuma cerita sama aku. Kalau nggak percaya tanya Ibu saja. Jannah juga nggak mungkin bohong sama aku. Kamu tahu kenapa aku langsung pindah rumah meskipun rumah ini dulu belum selesai?" tanya Mas Yono padaku sambil mengambil gelas kopi di depannya, lalu ia menyeruput pelan minuman yang hitam pekat itu. "Karena Bapak benar-benar godain Jannah, menantunya sendiri!"
Aku cuma bengong. Fakta yang menghantam ku bertubi-tubi terasa tak muat di kepalaku. Aku bohong kalau aku berkata aku tak tahu apa-apa soal bapak, pasalnya berita berseliweran itu pun ramai di area pemancingan.
Kelakuan bapakku yang bejad itu bukannya aku tak peduli, hanya saja orang tua itu memang nggak akan berubah meskipun sudah ketahuan berkali-kali. Ibuku bahkan entah sudah berapa kali harus mengurus Bapakku yang ketahuan selingkuh dengan wanita lain. Yang aku tak bisa paham dan menerima adalah Ibu tetap menerima bapak kembali meskipun kesalahan Bapak sudah tak terhitung.
Tapi aku sudah pasti tak akan terima kalau Bapak berani menggoda istriku. Masih banyak wanita lain di luar sana, kenapa harus istriku? Setelah ku pikir lagi, mungkin bapak menggoda Jannah karena Jannah dulu memang wanita yang tidak baik, tapi apa Bapak tega menggoda Ika. Wanita itu adalah wanita yang polos dan baik. Atau justru itu yang bahaya, wanita polos itu akan mudah percaya setiap perkataan Bapakku?
"Aaargh," aku berteriak. Kepalaku terasa berdenyut. Mas Yono hanya melirikku sekilas. Ia kembali sibuk dengan gelas kopinya.
"Ya sudah. Tolong telpon Bapak, Mas. Aku mau kerja di sana, nyusul Ika," kataku tanpa ragu. Akan ku bongkar apa yang sebenernya bapak mau dengan menawari Ika kerjaan di sana.
***
Paginya aku dan anak-anak bangun agak siang karena hari ini libur sekolah. Aku sengaja ingin menelpon Ika pagi-pagi tanpa memberitahunya. Namun sayang, berkali-kali ku pencet tanda memanggil di layar ponsel, tetap saja wajahnya tak juga muncul. Aku mencoba menenangkan diriku dengan berpikir mungkin Ika sedang sibuk masak, tapi pikiran jahat ku berkata lain. Entah kenapa setiap kali aku ingin menghubungi Ika, nama Ayu selalu muncul di kepalaku. Apa benar kata Jannah kalau ia bukan perempuan yang baik?
Matahari kian tinggi, anak-anak sudah mulai bosan bermain di rumah. Tadinya mereka mengajakku ke pemancingan, tapi aku ingin bertemu Ayu, kalau anak-anak ku ajak nanti aku nggak bisa ngapa-ngapain sama Ayu. Akhirnya ku bujuk saja mereka untuk ke rumah neneknya saja.
"Tapi di rumah Nini kan nggak ada temennya, Pak," tolak Iwan mulai merajuk. Aku menarik nafas panjang, sepertinya aku benar-benar butuh oksigen yang banyak kalau mengahadapi mereka berdua.
"Azka nggak mau kalau ke rumah nenek. Nenek itu galak banget. Nanti aku dimarahin. Nenek cuma sayang sama Sheila!" Azka pun tak mau kalau ke rumah Ibuku. Tak heran kalau ia ngomong begitu, karena perlakuan Ibuku pada anakku dan anak Nur memang beda sekali.
"Sudah Bapak putuskan kita ke rumah Nini saja."
"Horeee!" Azka bersorak kegirangan karena menang dari perebutan kali ini. Ia berteriak ke arah Iwan yang sedang menahan embun di matanya berubah menjadi cair.
Ibu Mertuaku menyambut kedatangan cucunya dengan bahagia, ia lantas mengajak kedua cucunya untuk membeli beraneka macam jajanan agar Iwan dan Azka betah di rumahnya. Sedangkan aku berpamitan untuk pergi ke rumah teman meskipun hubungan kami masih agak kikuk karena masalah terakhir.
"Sudah sana. Cari kerjaan aja, Yo. Nggak apa-apa biar anak-anak di sini saja. Ibu senang mengurus mereka, rumah ini jadi ramai. Dari pada di rumah Ibumu, sudah repot sama anaknya Nur," ah bahkan Ibu Mertuaku yang tak pernah tahu keadaan rumah Ibuku bisa menebak begitu.
"Iya, Bu. Karyo mau kerja di proyek Bapak. Nyusul Ika," jawabku agak sedikit ragu karena aku sendiri belum mendapat kepastian dari Bapak.
Mata Ibu mertuaku seketika berbinar ketika mendengar berita itu, "Betulan, Yo? Wah kalau beneran Ibu seneng banget. Ika nggak sendirian di sana. Ibu sebenarnya sangat khawatir Ika nggak ada yang jagain," matanya sedikit berkaca-kaca mengingat putrinya yang jauh di kota.
"Iya, Bu. Mudah-mudahan."
Suara anak-anak yang riuh bermain masih terdengar ketika aku melajukan motorku. Nanti kalau sudah di rumah aku akan menelpon Bapak dulu.
Anda Mungkin Juga Suka





