
SKANDAL CEO MESUM
Bab 3
Hari ini adalah hari pengumuman hasil wawancara kemarin. Aulia harap-harap cemas menunggu telepon dari perusahaan yang ia lamar.
"Bagaimana hasil wawancaramu, Nak? Apa sudah ada kabar?" tanya ibu sambil menyendokkan nasi goreng ke piring Aulia.
"Belum ada kabar, Bu. Kepastiannya hari ini Bu, kalau Aulia dapat telepon berarti di terima. Kalau tidak ada kabar apa-apa berarti belum rezeki Aulia, Bu." kata Aulia menjelaskan kepada ibunya.
"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Makan yang banyak sayang."
"Terima kasih, Bu."
Aulia berharap bisa mendapatkan kabar baik. Besar harapannya dapat diterima di perusahaan itu. Sudah mimpinya dari dulu dapat bekerja di perusahaan terbesar di Indonesia itu. Apalagi saat ini Aulia memang sangat membutuhkan pekerjaan itu. Agar bisa memenuhi kebutuhan ia dan ibunya.
Sudah dua minggu sejak Aulia berhenti bekerja dari perusahaannya yang lama. Aulia memilih berhenti karena merasa akan sulit mengembangkan kariernya di sana. Dua tahun bekerja di sana membuat Aulia mengerti. Naik jabatan di sana berdasarkan link orang dalam tidak berdasarkan kinerja pegawai. Hal itu terbukti ketika teman kerja Aulia di promosikan, sedangkan penjualannya jauh lebih besar Aulia. Hanya karena temannya itu keponakan dari pemilik perusahaan jadilah dia dapat promosi naik jabatan.
Setelah berhenti bekerja, Aulia langsung mencari lowongan kerja untuk melamar. Dan bersyukurnya Aulia masih punya tabungan untuk kehidupan dia dan ibunya. Tetapi sekarang tabungan itu sudah mulai menipis.
Drrttt… drrttt… dddrrrtt…
Handphone Aulia berbunyi.
Ada nomor tak dikenal menelepon. Langsung saja Aulia angkat.
"Halo, dengan ibu Aulia Putri?"
"Iya, Bu. Saya Aulia Putri. Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, Bu. Kami ingin menyampaikan bahwa ibu di terima di perusahaan kami. Dan besok, ibu sudah bisa mulai bekerja."
"Alhamdulillah. Baik, Bu. Terima kasih atas informasinya."
Mendengar kabar bahagia itu membuat Aulia sangat senang. Dia berlari memeluk ibunya dan memberi tahu kabar gembira itu. Kabar itu disambut dengan penuh rasa syukur oleh ibu Aulia.
"Aku harus memberi tahu Filda kabar baik ini," ucapku seraya segera menelepon Filda.
"Hallo, Lia… Ada apa?"
"Aku ada kabar bahagia."
"Kabar bahagia apa, Aulia? Coba aku tebak, pasti kau diterima di PT. Wijaya, kan?"
"Kenapa kau bisa tahu, Fil?"
"Tentu saja aku bisa menebak. Mana ada yang mau menolak orang berbakat sepertimu. Hahaha…"
"Kau terlalu memujiku, Fil."
"Itu memang kenyataannya Aulia. Nanti malam aku jemput ya. Kita rayakan keberhasilanmu menjadi manajer di perusahaan besar."
"Kamu mau mengajakku ke mana, Fil?"
"Pokoknya kamu ikut saja. Kita akan bersenang-senang."
"Baiklah. Kali ini aku percaya padamu, Fil."
Setelah berbincang, Aulia mengakhiri teleponnya. Filda adalah sahabat satu-satunya yang di punya Aulia. Mereka berteman dari SMA sampai sekarang. Filda anak yang baik, walaupun orang berada tetapi tidak pilih-pilih teman. Dia mau berteman dengan orang seperti Aulia.
Filda Quela Pradipta (24 th), gadis cantik dan stylish. Berkat kecantikan dan bakatnya mengantarkan Filda meraih ketenaran dari pekerjaannya sekarang. Ya, Filda merupakan seorang model papan atas yang sering menjadi ambassador brand-brand terkenal. Kemampuan modelingnya pun patut di acungi jempol. Dia sudah biasa berlenggang di atas panggung memamerkan baju-baju dari desainer terkenal.
Persahabatan mereka tidak diragukan lagi. Sudah seperti saudara kandung. Di saat suka duka selalu bersama. Filda selalu ada di saat Aulia membutuhkannya, begitupun sebaliknya.
Bagi Filda, Aulia adalah sahabatnya yang berharga. Dia sangat peduli kepada Aulia. Ketika Aulia ada masalah, dia adalah orang terdepan yang akan membelah Aulia.
***
Axel melangkahkan kakinya ke club malam yang sering ia kunjungi. Teman-temannya sudah menunggu di dalam. Baru masuk saja Axel sudah di sambut oleh wanita seksi yang ada di club itu.
"Xel, aku merindukanmu. Lama sekali kau tak ke sini." Seorang wanita seksi menyapa Axel dengan senyuman menggodanya.
"Benarkah kamu merindukanku?" Ucap Axel sembari mengelus pipi sang wanita.
"Tentu saja, mau ku temani malam ini?" Bisiknya dengan nada sensual di telinga Axel.
"Tidak perlu, aku hanya ingin bertemu teman-temanku. Di mana mereka?"
"Aku sedikit kecewa.ereka ada di tempat biasa." Wanita itu berlalu meninggalkan Axel.
Axel memasuki ruangan yang biasa dia dan teman-temannya tempati. Ruangan khusus untuk pelanggan VIP. Ruangan yang cukup besar dengan dinding kaca. Di ruangan itu mereka bisa melihat aktivitas di luar ruangan, tetapi orang di luar tidak bisa melihat mereka.
"Hay…!!" Axel menyapa teman-temannya.
"Lama banget lo, Xel." Samuel melirik ke arah Axel sambil menghisap rokoknya.
"Biasalah. Gue ngelarin kerjaan dulu."
"Sok sibuk lo, Xel! Coba nikmati sedikit hidup lo. Hidup juga ini butuh senang-senang, Xel." Dani ikut menimpali.
"Karena butuh refreshing lah gue datang ke sini. Mana Aldo?" tanya Axel sambil mencari sosok Aldo.
"Biasalah di kamar. Udah nggak tahan dia hahaha." Samuel tertawa lepas ketika membicarakan Aldo.
Pembicaraan ketiga sahabat itu terhenti karena suara ketukan pintu. Masuklah tiga orang wanita seksi yang membawakan minuman. Setelah para wanita itu meletakkan minuman yang dibawa, mereka langsung memposisikan duduk di samping Axel dan teman-temannya.
"Aku yang memanggil mereka untuk menemani kita minum." Dani langsung berkata ketika Axel memasang wajah penuh tanya ke arahnya.
Wanita yang berada di samping Axel langsung bersandar manja pada Axel, dengan tangan nakalnya mencoba merayu Axel.
Ulah si wanita membuat Axel junior bereaksi. Axel langsung melumat habis bibir si wanita sambil mengarahkan si wanita itu duduk di atas pangkuannya.
"Beraninya wanita jalang sepertimu menggodaku." Axel menatap tajam ke arah wanita yang duduk di pangkuannya.
"Tapi Tuan suka, kan?" ujarnya berbisik dengan suara sensual ke telinga Axel.
"Kali kau beruntung karena aku butuh hiburan."
Axel pun kembali bibir wanita itu. Dengan kedua tangan yang tak tinggal diam. Satu tangan memegang tengkuk di wanita dan satu tangan lagi menyusup ke dalam dress mini yang dikenakan si wanita. Mencoba mencari dua benda kenyal yang tidak dibungkus itu.
Ciuman mereka semakin panas, tangan Axel yang tidak berhenti meremas gundukan kembar si wanita yang ukurannya lumayan besar. Aksi Axel membuat si wanita mendesah juga.
Di tengah aksinya Axel tiba-tiba berhenti. Dia melihat ke arah luar dinding kaca. Di sana tampak seorang wanita cantik yang baginya tidak terlihat asing.
"Kenapa Tuan berhenti?" Wanita yang menemani Axel bertanya.
Axel langsung mendorong si wanita untuk berdiri dari pangkuannya.
"Aku tidak berselera padamu. Pergilah…!" Axel mengusir wanita itu dengan memberikan beberapa lembar uang.
Wanita itu mengambil uang yang diberikan Axel dan langsung pergi menghilang dari hadapan Axel.
Axel terus saja memperhatikan wanita yang duduk di meja bartender. Wanita itu menarik perhatiannya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Panisaja wanita itu tidak asing, ternyata dia wanita yang berani itu." Axel bergumam sambil tersenyum dengan pemikiran yang sulit di tebak.
"Apa wanita tadi tidak menarik, Xel?" Samuel bertanya keheranan ketika melihat Axel mengusir wanita yang menemaninya.
"Aku ada urusan yang lebih penting." Axel melangkah meninggalkan teman-temannya.
Anda Mungkin Juga Suka





