Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sister-in-law Charm

Sister-in-law Charm

Pertemuan di bandara saat menjemput adik iparnya menjadi awal mula perasaan tak terduga bagi Kaliendra Walker. Ketertarikan yang muncul seketika itu berkembang menjadi obsesi yang sulit dibendung. Meski terhalang oleh status kekeluargaan yang rumit, Kaliendra tidak berniat mundur sedikit pun. Ia bertekad melakukan segala cara untuk menaklukkan hati gadis itu dan memilikinya seutuhnya, tanpa peduli pada norma yang ada di hadapannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

[ Rara Aprillya ]

"Tapi--"

"Apa?!"

"Maaf, Nona tidak boleh keluar rumah sendirian ... Nyonya bilang harus ada yang menemani Anda agar Nona nanti tidak kesasar." jawab Satpam itu dengan sopan.

Aku mendengus sebal. "Aku tidak akan kesasar karena aku bukan anak kecil."

"Tapi Nona ... Nyonya bilang bahwa Anda tidak tahu daerah sini---"

"Ck! Jangan khawatir Pak, karena aku ini tidak akan pernah kesasar ... Jika kakakku sudah pulang katakan saja aku sedang berjalan - jalan dan aku akan berusaha pulang sebelum kakakku pulang."

"Tapi--"

"Cepat buka pagarnya," pintaku tidak sabaran.

Satpam itu mengalah dan membukakan aku pagar.

Aku berjalan ke arah barat dan menemukan taman yang sangat luas.

Banyak anak sekolahan yang sedang berduaan di taman ini, aku yakin bahwa mereka membolos sekolah karena tidak mungkin jika mereka sudah pulang pada pukul 9 pagi.

Buat apa orang tuanya membayar uang sekolah mereka mahal mahal jika mereka malah sekolah (pacaran) di taman yang gratis ini.

Dasar anak anak pemalas!

Hmm ada apa ya kok di sana sangat ramai, banyak sekali anak sekolahan maupun orang dewasa.

"Dek, itu ada acara apa kok rame rame?" tanyaku pada dua anak sekolah berbeda jenis yang sedang duduk di kursi taman.

"Oh memang kakak tidak tahu ya?" si anak lelaki malah balik tanya.

Aku mendengus kesal. "Jika aku tahu aku tidak akan bertanya padamu." balasku.

"Maafkan dia kak ... Itu sedang ada syuting acara Inbox." jawab si anak perempuan tersenyum manis.

"Apa itu Inbox?"

"Dasar norak, kampungan sekali sih acara Inbox saja tidak tahu." ejek si anak lelaki itu songong dan tersenyum tengil.

Oke aku memang tidak tahu apa itu 'Inbox' karena aku saja baru mendengarnya. Katakan aku norak, bodo amat dah!

"Bian!" seru anak perempuan itu lalu menatapku.

"Ituloh kak acara yang ada di stasiun televisi jika kakak penasaran lihat saja dari dekat." jelas anak perempuan.

Aku menganggukkan kepalaku. "Terima kasih ya."

"Ya sama sama kak." balas anak perempuan itu.

Aku melangkah menjauhi dua anak itu dan berjalan mendekati kerumunan orang-orang itu.

Aku berusaha menerobos dan berhasil sampai di depan panggung walaupun dengan susah payah.

'Sik asik sik asik kenal dirimu

Sik asik sik asik dekat dekat denganmu

Ah aku berharap semoga kamulah

Yang akan menjadi, jadi pacarku'

Itu lagu apaan sih kok aku baru dengar ya, apa aku yang terlalu kudet?

Lebih baik aku keluar dari sini dan pulang karena aku yakin pasti kakakku sudah pulang, aku sudah tidak sabar ingin mencubit pipi Rio yang tembam itu.

Sepertinya aku mempunyai masalah sekarang, aku lupa jalan pulang pemirsa.

Ayolah Rara coba kau ingat tadi saat ke sini kau berjalan lewat jalan mana, ada tiga jalur di sini.

Ahh bagaimana ini aku benar benar tidak ingat ke mana arah jalan pulang.

Satpam tadi benar bahwa Aprillya itu memang pelupa, ahh kenapa di saat seperti ini Aprillya malah muncul bukan Rara saja.

Apa ada yang salah dengan ucapanku?

Kurasa tidak! Karena Rara itu adalah anak pandai dan tidak pelupa berbeda dengan Aprillya yang pelupa dan juga bodoh.

Aku gila ya mengatakan diriku sendiri bodoh?

Oke Rara Aprillya tidak bodoh dan dia pasti akan bisa menemukan jalan pulang.

Aku pun memutuskan untuk berjalan ke salah satu jalur jalan itu dan sampai kini sudah hampir satu jam aku berjalan kenapa aku tidak menemukan rumah kakakku.

Sepertinya aku benar benar kesasar karena aku tadi tidak lewat sini. Di sini sepi sekali sih, hanya ada satu dua kendaraan yang lewat itu saja jarang.

"Hei manis,"

"Mau ke mana? Kenapa sendirian saja?"

"Mau kita temani."

Aku menatap ke tiga orang lelaki di depanku ingin dengan sebal, aku sedang kesal karena kesasar di sini dan mereka malah membuat aku bertambah kesal.

"Kenapa diam saja?" tanya salah satunya sambil memegang bahuku.

Aku melihat tangan itu lalu menepisnya. "Jangan cari masalah denganku karena aku sedang kesal sekarang. Aku bisa melakukan apapun saat aku sedang kesal jadi pergilah sebelum aku benar benar melukai kalian."

"Wahh ... Aku suka yang seperti ini." kata yang lainnya sambil berjalan mendekatiku.

Aku menghentikan langkah kakiku saat dia memegang lenganku dan langsung memelintir tangannya kebelakang badannya.

"Sudah kubilang pergilah sebelum aku melukai kalian."

"Berani sekali kau." ucap yang lainnya.

***

Aku menepuk nepuk tanganku dan menatap mereka bertiga dengan tersenyum miring.

"Apa lihat lihat? Masih mau lagi?" tanyaku.

Mereka bertiga pun menggelengkan kepalanya dan berlari dari hadapanku.

Sudah kubilangkah bahwa aku bisa melakukan apa saja saat aku sedang kesal, aku lulusan terbaik di eskul silat saat SMA dulu.

"Keren."

Puji seseorang di belakangku sambil bertepuk tangan membuatku menoleh.

"Kau ..."

"Sangat keren, belajar dari mana itu?" tanyanya.

"Kau memuji atau menyindir?" tanyaku sinis.

"Menurutmu bagaimana?"

Aku tidak mengerti kenapa dia suka sekali tersenyum miring seperti itu padaku.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya berjalan mendekatiku.

"Jalan jalan di taman." balasku acuh.

"Tapi ini bukan taman." ucapnya memperhatikan sekeliling.

"Aku belum selesai berbicara." ucapku kesal.

"Lanjutkan."

"Tadi aku sedang berjalan jalan ke taman, tapi saat pulang aku---"

"Lupa jalan pulang." ucapnya memotong ucapanku.

Rasanya aku ingi sekali menampar wajahnya agar senyum miring itu hilang.

"Tidak juga."

"Oh ya." ucapnya melipat ke dua tangannya di dada.

"Aku hanya sedang ingin keliling kota." ucapku asal. Bodoh memang.

"Keliling kota dengan berjalan kaki?"

Aku tidak menghiraukannya dan berjalan menjauhinya.

"Mau ke mana kau?" tanyanya memegang pergelangan tanganku.

"Pulang." balasku acuh.

"Kau yakin itu arah jalan pulang?" tanyanya.

"Ya."

"Setauku rumahku berada di arah sana bukan situ." ucapnya menyebalkan dan dengan seenaknya menarik tanganku.

"Masuk." ucapnya saat sampai di mobil dan ia membukakan pintu mobil untukku.

"Mau ke mana?" tanyaku tak mengerti.

"Tentu saja pulang, kau ini sangat merepotkan. Karena kau, aku harus menunda metiingku." ucapnya mendorongku masuk lalu menutup pintu.

Dia sangat menyebalkan, aku jadi malas meminta maaf padanya soal kemarin.

Dia pun ikut masuk dan duduk di belakang kemudi dan mulai menstater mobilnya namun dia tidak langsung menjalankan mobilnya dan malah mencondongkan badannya kearahku.

"Mau apa kau?" tanyaku.

Dia tidak menjawab dan malah terus mendekatkan dirinya padaku dengan senyum miringnya.

Duh sebenarnya dia mau apa dan kenapa aku jadi deg degan begini.

Aku memperhatikan wajahnya yang sedekat ini, dia sangat tampan dengan alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, bola mata abu-abu, pipi sedikit berisi dan terakhir bibirnya yang seksi merah merekah. Eh kok deskripsiku seperti perempuan ya?

"Mengapa kau memejamkan matamu?" tanyanya.

"Berharap aku akan menciummu eh?" lanjutnya sambil terkekeh.

Pipiku terasa sangat panas saat tahu ternyata ia hanya ingin memakaikan aku sabuk pengaman dan aku malah berpikir yang aneh aneh tadi.

Astaga! Apa yang sudah kupikirkan?

Ingat dia adalah kakak iparmu.

"Kau terlihat lebih seksi dengan pakain itu." ucapnya tiba tiba membuka suara setelah lama mobil berjalan.

Memang saat ini aku hanya menggunakan celana span di atas lutut dan kaos oblong saja.

Aku hanya diam dan tidak membalas ucapannya yang menurutku ambigu, bagaimana di bisa berkata seperti itu padaku, maksudku aku adalah adik iparnya.

Bersambung.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FDY" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FDY
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bantu  Mertuaku Ngerjai Pelakor
8.7
Terkenal sebagai wanita blak-blakan yang pantang mengalah saat berdebat, sang protagonis selalu diperingatkan ibunya bahwa tabiat kerasnya akan membawa petaka setelah menikah. Kenyataannya, ia justru mendapatkan suami yang penurut dan ibu mertua yang sangat lembut. Kehidupan rumah tangganya yang damai malah terasa menjemukan karena ia kehilangan panggung untuk beraksi. Namun, segalanya berubah saat masa lalu ayah mertuanya kembali datang mengusik, membuat ibu mertuanya menderita. Kini, menantu yang siap tempur ini tidak akan tinggal diam dan bersiap menghadapi sang pelakor.
Sampul Novel Gadis Pemuas Tuan Grey
8.9
Demi membiayai pengobatan sang ayah yang sakit keras, Laura berusaha mencari pekerjaan tambahan sebagai pengasuh. Namun, niat tulus itu justru berujung petaka saat ia bertemu Greyson. Pria itu merampas kesuciannya dan memaksanya masuk ke dalam ikatan gelap sebagai pemuas hasrat. Kini, Laura terjebak dalam dilema moral yang menyiksa: apakah ia sanggup bertahan menjadi budak nafsu Grey demi mendapatkan uang yang sangat ia butuhkan untuk ayahnya?
Sampul Novel GADIS PENARI TUAN MUDA
8.2
Benni Handoko, pria dari keluarga terpandang, rela menyamar jadi pelayan toko demi mencari cinta sejati. Hidupnya berubah saat ia menemukan seorang gadis penari di ranjangnya usai jamuan keluarga. Tak disangka, gadis bernama Mulan itu adalah cucu sahabat neneknya yang hilang. Meski ditakdirkan menjadi istri Benni, perjalanan asmara mereka penuh rintangan berat. Mampukah Mulan dan Benni mempertahankan perasaan mereka di tengah segala konflik yang menghadang?
Sampul Novel Guruku Suamiku
8.4
Arjuna terikat wasiat mendiang ayahnya untuk menikahi Asmara, siswi SMK berusia tujuh belas tahun. Jika menolak, Arjuna akan kehilangan seluruh harta warisan keluarga Darmawan. Selain itu, ayah Asmara yang bernama Pak Banu terancam masuk penjara akibat kecurangan bisnis di masa lalu. Kini, Arjuna harus berjuang meyakinkan gadis belia tersebut agar bersedia membangun rumah tangga demi menyelamatkan masa depan mereka berdua. Akankah pernikahan paksa ini berhasil?
Sampul Novel Kehidupan Baru di Usia 60 Tahun
8.1
Setelah ditabrak mobil di hari ulang tahun cucunya, seorang wanita lansia justru harus pulang menghadapi tumpukan pekerjaan rumah tanpa ada yang memedulikan lukanya. Alih-alih mendapat simpati, ia malah dicap malas oleh anak dan menantunya saat kondisi fisiknya menurun. Puncaknya, sang suami justru meminta cerai demi seorang pengasuh baru. Muak dengan pengorbanan yang sia-sia dan tuntutan tanpa henti, ia memutuskan untuk menyetujui perceraian tersebut demi memulai hidup baru yang mandiri.
Sampul Novel Selamat Jalan Kekasihku
9.8
Sembilan tahun Kylee Brooks mengabdi pada Kenney Walsh yang dingin, meski pria itu kerap menolaknya. Suatu hari, Kylee tak sengaja mendengar pengakuan mengejutkan dari balik pintu kamar. Kenney, yang selama ini berpura-pura lumpuh demi menjauhinya, menyatakan cinta mendalam kepada Ruth, kakak iparnya sendiri. Segala pengorbanan Kylee hancur saat menyadari kursi roda itu hanyalah sandiwara Kenney untuk menjaga kesetiaan pada wanita pilihannya.