
Simfoni Pembalasan
Bab 2
"Bagaimana? Kau sudah pastikan semuanya aman sebelum pihak polisi dan rumah sakit melakukan evakuasi?"
Sayup-sayup suara terdengar membuat Athena tersadar dari pingsan lamanya. Ia meringis kesakitan kala menyadari beberapa bagian tubuhnya yang tak bisa digerakkan dengan bebas. Athena mencoba mengenali suara yang baru saja didengarnya. Namun ia tak mendengarkan apa pun lagi, hingga tiba-tiba terdengar suara derit pintu terbuka yang membuat kedua netranya kembali terpejam.
"Dia masih pingsan?" Athena berupaya sebisa mungkin menahan debar jantungnya kala mengenali suara Leon. Napasnya sedikit terengah, diam-diam ia mencengkram selimut tipis yang masih menutupi sebagian tubuhnya.
"Kata dokter sebentar lagi Nyonya Athena akan sadar, Tuan. Beliau tidak mengalami luka yang sangat serius karena langsung ditolong oleh orang-orang, hanya saja-"
"Tangan kanannya saja yang patah? Cih, tanggung sekali! Aku berharap dia mati!"
Kembali terhentak, Athena semakin kesulitan membasahi tenggorokannya. Nada bengis suaminya terdengar jelas sekali di kedua telinganya. Pelupuk matanya mulai basah, apalagi setelahnya ia merasakan sebuah usapan Leon yang cukup kasar di bagian wajahnya yang masih terluka.
Sungguh, Athena tak menyangka suaminya akan sekejam ini padanya. Ia pikir Leon hanya berani sebatas bermain api dengan sahabatnya di belakangnya, tetapi nyatanya pria tersebut bergerak lebih untuk mempersiapkan neraka kehidupan untuknya.
"Seharusnya kau mati, darling! Tapi tidak apa, dengan begini kau bisa menyerahkan sendiri semua harta kekayaanmu padaku!"
Athena berusaha menahan air matanya agar tak terjatuh, saat Leon berbisik tepat di depan telinganya. Tangan kirinya semakin terkepal meski tetap lemah. Hatinya sangat hancur dan sesak ketika ia mengetahui semua niat busuk sang suami padanya.
Apa salahnya? Kenapa Leon bisa melakukan hal yang sangat kejam ini? Tidak cukupkah pria itu membalas cinta tulus darinya dengan berselingkuh?
Athena sebisa mungkin menahan ledakan emosinya yang sangat campur aduk. Ia masih ingin tetap berpura-pura pingsan, hingga beberapa detik kemudian telinganya mulai mendengar suara langkah yang menjauh.
"Pastikan dia meminum itu ketika sudah sadar nanti, Ed. Meski tangannya sudah tidak lagi normal, tetapi itu belum cukup. Aku mau dia bungkam selamanya agar dia tidak menghalangi semua rencanaku!"
"Baik, Tuan!"
Kembali terhentak, rasanya Athena tak bisa lagi mengambil oksigen yang ada di sekitarnya dengan normal. Semua kekuatan yang ada di dalam dirinya semakin hancur tak tersisa. Hatinya terasa pilu karena ternyata selama ini ia dikelilingi oleh orang-orang jahat yang tak menginginkan kebahagiaannya.
"Tidak! Aku tidak boleh diam saja dan membiarkan semua ini terjadi! Aku tidak mau terjebak selamanya dalam permainan licik Leon dan menjadi boneka yang bisa dikendalikannya dengan mudah!" gumamnya di dalam hati.
Setelah mendengar suara pintu yang kembali tertutup, Athena perlahan mencoba membuka kedua matanya. Ia langsung menyenggol segelas air di sampingnya, dan beralih menatap tangan kanannya yang dibalut perban tebal.
"Suatu saat nanti tanganku pasti akan bisa digerakkan kembali! Aku tidak akan mungkin lumpuh selamanya hanya karena rencana licik suamiku sendiri!" Athena kembali bergumam dengan berusaha bangkit dari tempat tidur.
Walau seluruh tubuhnya masih terasa sakit dengan beberapa luka yang masih menganga, tetapi semua itu tak menyurutkan tekadnya. Athena ingin segera pergi dari rumah sakit ini sebelum Leon dan Edward kembali, apalagi tadi mereka sempat berencana untuk membungkam mulutnya selamanya.
Tidak! Sampai kapanpun Athena tak akan membiarkan hal itu terjadi! Athena tak mau kehilangan suaranya setelah salah satu tangannya tak bisa digerakkan, sebelum ia berhasil mengungkap semua rencana licik suaminya ke publik.
"Maaf, Dokter. Pihak kepolisian baru saja tiba. Katanya mereka akan mewawancarai Anda mengenai kondisi Nyonya Athena setelah kecelakaan," ucap seorang suster yang langsung membuat Athena bersembunyi di balik ruangan lain.
Athena segera menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan polisi yang tengah dimaksud oleh suster tersebut, tetapi sayang pandangannya malah tak sengaja bertemu dengan Edward yang sedang berjalan dari arah lain.
"Nyonya Athena!"
Dengan tertatih-tatih, Athena berusaha menghindari asistennya yang telah berkhianat. Ia terus bergerak maju tanpa bisa melihat dengan jelas yang dilaluinya. Napasnya semakin tersengal seiring dengan rasa sakit dan perih di seluruh tubuhnya, hingga tiba-tiba ia hampir terjatuh ketika tak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf, Nyonya. Saya-"
"Cepat singkirkan tangan kotormu dari istriku!"
Tanpa disangka-sangka Leon muncul dari arah lain. Tatapannya terasa menikam tajam, hingga membuat wajah Athena semakin pucat dengan telapak tangan yang terasa sangat dingin.
"Tolong aku!" bisik Athena terengah, saat berupaya menahan lengan kekar yang tengah memeluknya. Ia memandang netra cokelat di hadapannya dengan penuh harap, tetapi sayang pria itu malah hanya balik menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maaf, Tuan. Saya hanya tidak sengaja menabrak istri Anda."
"Ck! Apa matamu itu tidak berfungsi?!"
Tak mau menanggapi lebih jauh, pria itu langsung melangkah pergi begitu saja. Athena mengaduh kesakitan saat merasakan tarikan kasar di tubuhnya, dan kembali membulatkan netranya saat menyadari tatapan peringatan Leon yang terasa semakin menghunusnya.
"Katakan padaku, Athena. Apa yang sudah kau ketahui sehingga kau nekat kabur seperti tadi? Apa kau sudah mengetahui semua rencanaku?!"
Menggelengkan kepalanya cepat, Athena seolah tengah menjawab pertanyaan pria di hadapannya. Tak pernah ia sangka sebelumnya akan berhadapan langsung dengan sisi kejam Leon yang sangat menakutkan ini. Harapannya untuk kabur sudah hampir tidak mungkin, apalagi semakin lama cengkraman pria itu kian terasa kencang untuknya.
"Kau ini bagaimana, Ed?! Kenapa dia bisa kabur? Kau sudah memberikannya minuman itu?" Leon langsung bertanya pada Edward yang tengah menatap menyelidik ke arah Athena.
"Saya belum memberikannya apa pun, Tuan. Tadi saya hanya keluar sebentar untuk memastikan penyelidikan polisi di rumah sakit ini."
Kembali berusaha menahan isak tangis, Athena sebisa mungkin untuk tak bersuara. Biar saja mereka menganggapnya telah tidak bisa berbicara, Athena tak ingin keselamatannya semakin terancam sebelum ia bisa melakukan suatu hal yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
"Hey! Berbicaralah! Apa suaramu benar-benar tidak bisa keluar lagi?" Leon kembali bertanya seraya mencengkram kasar wajah pucat istrinya.
Dengan menahan rintih kesakitan, Athena kembali menggelengkan kepala. Air matanya sampai tak bisa ditahannya lagi ketika Leon semakin menancapkan kuku tajamnya di wajahnya, hingga akhirnya ia terpaksa membuka mulut dengan sedikit bergetar meski tetap berusaha menahan suaranya.
"Bagus! Obatnya ternyata bekerja dengan cukup cepat!"
Tanpa disadari oleh Leon, Athena, dan juga Edward, ada seorang pria yang tengah mengawasi mereka dari kejauhan. Tatapan kedua pria itu terlihat sangat sulit untuk diartikan, sebelum akhirnya ia bergerak menjauh untuk menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Siapkan tempat tinggal untukku di kota ini! Aku ingin menyelesaikan sesuatu yang sangat penting yang telah lama aku tunda!"
Anda Mungkin Juga Suka





