Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Silent (Love, loyalty and hurt)

Silent (Love, loyalty and hurt)

Nadin hancur saat mengetahui Nathan berselingkuh akibat penyimpangan seksual yang tak bisa ia salurkan padanya. Meski dikhianati, Nadin berupaya bertahan sebelum akhirnya bertemu Devon. Walau Devon tertarik, ia enggan merusak rumah tangga Nadin. Saat karma mulai menghantam Nathan, Nadin memilih bungkam. Namun, diamnya Nadin adalah awal dari keputusan besar yang mengejutkan semua orang. Meski sangat mencintai suaminya, Nadin memastikan tak ada manisnya pengkhianatan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Memiliki suami yang selalu berada di garda terdepan saat istrinya menjadi bahan gunjingan banyak orang, karena tak kunjung hamil, merupakan kekuatan tersendiri bagi kesehatan hati dan batin Nadin. Ia berkali-kali harus memasang senyum palsu di wajahnya saat banyak yang menanyakan dirinya, KAPAN HAMIL? Andai Nadin bisa tahu jawabannya dengan bertanya kepada pencipta, ia pasti akan membuat pengumuman sekalian, kalau perlu pasang di reklame berbayar jalan raya besar supaya orang-orang tau kapan ia hamil. 

"Mas, kalau bayi tabung gimana?" pertanyaan Nadin membuat Nathan tertawa sinis lalu menatap istrinya lekat-lekat. 

"Kamu raguin serangan senjataku dan peluru-pelurunya, Din? Aku harus bilang berapa kali, kita sama-sama sehat, dan semua aman, bulan lalu kita udah periksa juga, kan?" Nathan melirik istrinya sejenak lalu kembali mengoleskan selai nuttela ke atas roti tawarnya. 

"Iya, tapi... jenuh dan kesel juga lama-lama, Mas, mereka kayak nggak percaya sama hasil pemeriksaan dokter, aku harus bela diri kayak gimana lagi?" Nadin duduk di atas pangkuan suaminya yang merasa terkejut dengan tingkah Nadin itu. Nathan meletakkan roti di atas piring lalu memeluk pinggang istrinya. 

"Terus, mau kamu apa? Kita periksa ke mana lagi? Mau ke luar negeri sekalian?" tatap Nathan. 

"Ya enggak, mahal tau, kalau treatment ke sana," jawab Nadin dengan helaan napas lagi. Nathan mencium bahu istrinya yang memeluknya manja. Ia usap punggung Nadin, mencoba menghilangkan kegusaran hati istrinya. Ia paham, keluarganya yang banyak membahas tentang hal itu, apa lagi saat Naka dan Istrinya sedang menunggu waktu tak lama lagi dengan menghadirkan seorang putra di keluarga besar mereka. 

"Apa kita ke rumah Ibu? Kamu kangen nggak, mau jalan-jalan di kebun sayur?" ajakan Nathan membuat Nadin bingung. Ia tau, suaminya susah untuk cuti dari pekerjaannya, banyaknya hal yang harus ia kerjakan, seolah menjadi hal langka untuk Nathan cuti. Jarak dari Ibu kota ke daerah tempat tinggal ibunya juga jauh, di Solo. 

"Yakin bisa cuti?" Kedua mata Nadin memicing, tak yakin dengan hal itu. 

"Yakin, aku belum ambil cuti tahunanku, kan, mau berangkat kapan? Aku juga kangen makan sate buntal, di sana. Mau naik mobil, kereta, atau pesawat. Ah... sekalian bulan madu ke dua, keceh nggak tuh rencana aku, babe?"  

Nadin tergelak, ia geli dan merasa lucu jika suaminya sudah memanggilnya babe, atau darling, atau apalah panggilan ke barat-baratan. Ia memeluk leher kekar Nathan. "Mau sayang, tiga malam juga cukup, berangkat kamis ini, pulang minggu, gimana?" Nadin mengulurkan pelukan lalu menatap suaminya lagi. 

"Setuju, aku urus cuti siang ini di kantor. Bangun dong, kamunya, jangan duduk begini, nggak tau emangnya kalau ada yang berontak." Dumal Nathan. Nadin tertawa, ia beranjak lalu duduk di kursi meja makan dekat Nathan. Keduanya sudah berpakaian rapi hendak bekerja, tak lucu kan, kalau datang siang ke kantor dengan aura yang cerah ceria lalu senyum-senyum sendiri membayangkan permainan panas mereka di pagi hari. 

*** 

Di kantor Nathan. 

"Kamis sama Jumat cutinya, kan, Pak?" tanya staff bagian personalia. Nathan mengangguk, ia baru saja mengisi lembar pengajuan cuti. 

"Istri saya mau ke rumah Ibunya, sekalian, bulan madu kedua, siapa tau hasil bercocok tanam di sana tokcer," kekeh Nathan. Staff wanita itu tertawa geli sendiri. 

"Pak, ada yang bilang, makan kurma muda, terus sari kurma, banyakin makan kecambah, sama jaga kesehatan, Pak, maksudnya, Bapak kan perokok, coba berhenti deh, Pak." 

Nathan diam, ia ingat anjuran dokter untuk dirinya supaya berhenti merokok, ia mengangguk paham. "Kurma muda belinya di mana? Apa saya harus umroh dulu?" 

"Ya enggak, Pak, ada yang jual kok, nanti saya info ke Bapak. Ini saya masukin ke data absen ya, Pak, sama info ke kepala HRDnya, suka cariin Pak Nathan kalau menjelang weekend." 

"Tahu, tuh, bos kamu ribet banget kalau menjelang weekend, nagih ke saya weekly report-nya. Makasih  infonya ya, saya ke tempat anak-anak marketing dulu," pamit Nathan yang di jawab anggukan kepada oleh perempuan itu. 

Nathan berjalan santai, kedua tangannya ia masukan ke saku celana, diliriknya ruangan kaca yang tertempel tulisan Marketing Room. Tampak banyak kubikel yang tertata rapi. Satu kubikel yang berukuran lebih luas berada di pojok tujuan Nathan. 

"Woy,  Nif, sibuk lo?" Nathan dengan santainya bersandar di kubikel Hanif - Kepala Marketing - yang hanya bisa melirik sebal ke rekannya itu. 

"Kenape, mau minta saran apa lagi ke gue? Udah dipraktekin belum jurus-jurusnya?" tukas Hanif tanpa menatap Nathan yang senyum-senyum sendiri. Sedangkan rekannya itu sibuk menatap layar komputer besar. 

"Gila ya, pelaku usaha kecil menengah makin rame, kita nggak ada arahan program baru untuk UKM, Nath?" Hanif menoleh, menatap Nathan, membahas hal lain.

"Belum ada panggilan ke kantor pusat, gue masih santai-santai aja. Pada ke mana anak buah lo? Kosong, nih, kandang macan." 

"Sempak. Mulut lo ya," protes Hanif. 

"Elo juga, tulul. BTW,  pada ke mana? Tebar jaring?" tanya Nathan lagi. 

"Iya, mereka harus kejar targetnya luar biasa, sih. Ada apa lo ke sini?" Hanif beranjak, ia berdiri di dekat meja kerjanya, bersedekap menatap ke arah Nathan. 

"Gue cuti, kamis sama jumat. Mau ajak Nadin ke rumah Ibu, gue kasihan sama dia, diterror kapan hamil melulu sama keluarga besar gue. Mereka tuh, kenapa ya, begitu aja, heran gue?" raut wajah Nathan tampak kesal, tapi ia hanya bisa menghela napas. 

"Bukannya emang biasa gitu. Lo pikir, keluarga mana yang nggak akan neror, apa lagi lo sama Nadin udah tiga tahun nikah, Bro, wajar aja kalau mereka begitu." 

"Ck! Ya enggak gitu juga, lah, kalau emang belum rejeki, gimana? Gue mau hajar tiap malam juga bisa aja, tapi kan..., ah, gue jadi kasian sama bini gue." 

Hanif mengangguk paham dengan perasaan Nathan, lalu Hanif menyarankan untuk makan buah kurma muda, dan serangkaian jurus andalannya. Bukan apa-apa, karena Hanif sudah mempraktekan dan istrinya sudah melahirnya tiga anak dengan jarak satu tahun dari anak ke satu sampai ke tiga. 

Maka, obrolan mereka berubah menjadi rumpian ala pria yang membahas gaya bercinta yang mampu memuaskan pasangan masing-masing, makanan apa saja yang harus di konsumsi, hingga ke obat kuat. Keduanya tertawa geli sendiri dengan kesomplakan isi kepala mereka. Bagusnya, di ruangan itu hanya mereka berdua, jadi bebas mau ngoceh apa saja. 

"Lo bucin banget sama Nadin, kan, Nath, paham gue kalau lo mau kasih yang terbaik dan selalu bikin dia bahagia. Just do it. Buat Nadin bahagia, puas dan nggak bisa lepas dari lo." Maka kalimat Hanif itu menjadi pecutan bagi Nathan untuk semakin semangat membahagiakan istri tercintanya itu. Ia tak sabar, melakukan perjalan mengunjungi Ibu mertuanya sekaligus bulan madu kedua. Apa yang akan terjadi kemudian? 

Bersambung,

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LFP" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LFP
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok
8.2
Gala adalah pria yang dihantui rasa takut akan luka emosional, sementara Lingga merupakan sosok haus popularitas yang justru membenci sanjungan. Di balik topeng kemunafikan, keduanya terjebak dalam hubungan penuh ancaman dan pemerasan untuk meraih kebahagiaan semu. Kolaborasi antara jiwa yang fasik dan munafik ini melahirkan dinamika cinta yang destruktif, di mana mereka saling menyakiti demi memuaskan hasrat batin serta obsesi gelap masing-masing.
Sampul Novel Kebohongan Sang Alfa, Pemberontakan Sang Omega
8.4
Kebahagiaan Omega ini hancur saat memergoki Alpha Baskara bersama wanita lain dan seorang putra rahasia. Ternyata, pernikahan mereka hanyalah alat politik yang dirancang oleh Baskara dan orang tua angkatnya. Meski dikhianati dan disebut pajangan, ia tetap tenang saat Baskara berpura-pura rindu. Di balik amarah yang membeku, ia menyiapkan pembalasan. Sebuah kristal berisi rahasia busuk mereka akan segera mengungkap kebenaran di tengah pesta akbar.
Sampul Novel Love for Haphephobia
8.5
Demi menggagalkan pernikahan ketiga ibunya, Arkania Lintang Jagat terjebak dalam sandiwara cinta yang rumit. Ia mengaku mencintai Bintang, calon saudara tirinya. Sang ibu yang ragu karena haphephobia Lintang, menuntut bukti nyata. Di hadapan Ishan sang mantan kekasih, Lintang nekat mengecup bibir Bintang. Aksi berani ini justru memicu obsesi Ishan untuk merebut kembali hati Lintang, sementara hubungan Lintang dan sepupu angkat Ishan itu semakin pelik.
Sampul Novel Marriage Life 2
8.9
Vante Adinan mendapatkan peluang kedua dari Andara Jeo untuk memulihkan pernikahan mereka yang hancur. Namun, tantangan baru muncul saat kepribadian Andara berubah drastis, termasuk permintaan anehnya saat mengidam. Situasi kian rumit ketika Jaren Adiyaksa menuduh Vante menjemput wanita hamil lain. Meski Vante bersikeras dirinya tidak berselingkuh, ia harus berjuang keras menghadapi segala ujian kesetiaan dan perubahan sikap istrinya demi menjaga rumah tangga mereka.
Sampul Novel Mendadak Disuruh Nikah
8.8
Raihan terpaksa menggantikan posisi adik angkatnya untuk menikahi Nico dari keluarga Kuiper. Pernikahan mendadak ini hanya dipersiapkan dalam dua hari. Nico awalnya tak menduga bahwa istrinya sangat menawan, hingga pesona Raihan benar-benar memikatnya setelah sah menjadi suami istri. Meski Raihan memberikan izin penuh bagi Nico untuk menyentuhnya, ia sempat gemetar saat Nico memeluknya dengan agresif. Raihan pun meminta Nico memulai malam mereka dengan perlahan.