Sampul Novel Setengah Kilo Nasi Aking Untuk Anakku

Setengah Kilo Nasi Aking Untuk Anakku

9.8 / 10.0
Setengah Kilo Nasi Aking Untuk Anakku mengisahkan Hardi dan Hanum yang berjuang melawan kemiskinan sebagai buruh. Meski bahagia, tantangan besar menguji ketahanan keluarga ini. Baca modern novel ini sebagai pilihan fiction books bagi pencinta romance novel yang penuh perjuangan hidup.
Ringkasan Setengah Kilo Nasi Aking Untuk Anakku
Hanum dan Hardi terjebak dalam kemiskinan setelah Hardi kehilangan pekerjaan. Meski Hardi menjadi kuli cangkul dan Hanum menjadi buruh cuci, mereka tetap bersyukur mendidik dua anaknya. Keharmonisan tujuh tahun pernikahan mereka menjadi teladan di tengah keterbatasan ekonomi. Namun, ketenangan hidup ini mendadak hancur saat sebuah malapetaka besar datang menghampiri. Hanum kini harus berjuang sendirian menghadapi penderitaan hebat demi melindungi buah hatinya.
Baca Selengkapnya

Setengah Kilo Nasi Aking Untuk Anakku Bab 1

Alhamdulillah.

Penulis : Lusia Sudarti.

"Dek ... seandainya Abang belum bisa membahagiakan kalian disisa hidup Abang. Abang mohon maaf yang sebesar-besarnya ....!"

"Emaak, Adek lapar udah masak belum Emak?" tanya Kurnia, Anak keduaku.

Aku terkesiap mendengar ucapan dan pertanyaannya. "Belum Sayang. Maafin Emak ya," ucapku pilu sembari merengkuhnya dalam pelukan. Tak terasa titik-titik embun menggenang dalam pelupuk mataku.

"Ya sudah kalo gitu Adek Nia main dulu ya mak, nanti kalo emak udah mateng masaknya, Adek panggil aja ya Mak!" ujarnya sambil beranjak dari kedua pahaku. Aku mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. "Iya Sayang," sahutku dengan suara parau

Selepas kepergiannya aku menangis dalam diam, tubuhku luruh kelantai.

'Ya Allah, tunjukkanlah kuasa-Mu yang Maha besar.

Namaku Hanum aku hidup bersama Suami dan kedua orang Anakku. Anak sulungku bernama Fandi, ia duduk di kelas dua SD, Kurnia masih berusia empat tahun. Suamiku bernama Hardi, ia bekerja sebagai buruh serabutan. Sedangkan membantu bekerja sebagai buruh cuci setrika dari rumah kerumah.

Namun, baik penghasilanku atau pun

Bang Hardi belum mencukupi semua kebutuhan rumah tangga kami.

Zaman sekarang kebutuhan pokok telah melambung.

Kami tinggal di rumah gubuk sederhana peninggalan orang tua Bang Hardi.

Rumah tangga kami baik-baik saja, Bang Hardi tipe lelaki yang baik dan bertanggung jawab.

Aku termenung seorang diri, sementara Bang Hardi belum kembali dari bekerja sebagai buruh cangkul di sawah tetangga.

Aku berfikir kira-kira apa yang dapat kumasak untuk makan siang ini.

Kulangkahkan kakiku dengan langkah yang tertatih menuju tudung saji yang berada diatas meja makan persegi yang telah usang.

Disana hanya tersisa sekitar dua sendok makan sambal terasi di dalam mangkuk plastik berwarna hijau, dan dipiring kecil tersisa beberapa potong kepala ikan asin sisa semalam.

Dan juga beberapa potong singkong rebus sisa sarapan tadi pagi.

Aku mengedarkan tatapanku kesebuah plastik yang tergantung disamping rak piring yang terbuat dari kayu. Aku melangkah untuk memeriksa isi kantong plastik yang tergantung.

Kedua netraku membola, aku melihat isinya dengan rasa bahagia.

'wah beras AKING rupanya. Alhamdulilah Ya Allah ... semua ini akan kuolah menjadi nasi kembali. Untuk Anak-anakku nanti."

Aku memindahkan beras aking tersebut kedalam wadah, kutakar dahulu. Dua kaleng susu, lumayan untuk pengganti nasi.

Aku mencuci beras aking dengan doa semoga menjadi berkah buat keluargaku.

Dengan cekatan aku menyalakan api ditungku sederhanaku. Ya karena melonjaknya bahan pangan, aku tak mampu membeli gas buat memasak dikompor.

🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀

Setengah jam kemudian nasi pun telah matang, segera kuangkat dari kukusan dan kutaruh di sangku agar cepat dingin, aku mengambil kipas yang terbuat dari anyaman bambu untuk mempercepat proses pendinginan. Namun Kurnia telah berada dibelakangku, rupanya ia benar-benar kelaparan.

"Emak, udah masaknya!" Kurnia muncul dari pintu dapur dan menghampiri aku yang sedang menyendok nasi aking yang masih mengepulkan uap panas.

"Udah Sayang, ayo kita makan!" jawabku sambil mencuci tangannya.

"Enggak apa-apa lauknya pake kepala ikan asin dulu ya? Nanti jika kita punya uang kita beli ikan asin yang segar," ujarku kepadanya dengan pelan.

"Iya Mak, gak apa-apa kok. Enak itu," sahutnya dengan kedua netra berbinar. Aku menghela nafas perlahan, hatiku sedih bagai tercabik-cabik.

Aku meniup nasi yang masih panas dan menambahkan kepala ikan asin yang kupotong kecil-kecil kedalam nasi lalu menyuapkan kepada Kurnia.

Ia makan dengan begitu lahap, senyum manis tersungging dari kedua bibirnya.

"Mak ... kok rasanya gak sama kayak nasi yang biasa Adek makan ya?" tanyanya dengan mulut penuh dengan nasi.

Aku tertegun sesaat sebelum aku menjawab pertanyaan polosnya.

"Iya Sayang karena nasi yang ini adalah nasi aking."

Kurnia menatapku sesaat kemudian ia fokus kembali kearah piringnya.

"Nasi aking itu nasi yang bagaimana Mak?" tanyanya lagi.

"Nasi aking itu adalah nasi yang sudah dijemur dan kering lalu dimasak kembali," jawabku sembari mengusap lembut rambutnya.

"Oh gitu ya Mak," sahutnya.

"Iya Sayang. Tapi enakkan?" tanyaku.

"Enak Mak. Boleh Adek nambah dikiiiit lagi Mak, adek belum kenyang."

Aku tersenyum mendengarnya.

"Boleh dong Sayang!" aku menyendok nasi dan kutaruh didalam piringnya. Ia tersenyum melihat nasi di piringnya yang telah berisi nasi kembali.

Aku masih menyuapinya dengan sabar.

Aku hanya mampu menyimpan semua rasa dihatiku. Aku tak ingin melihat Anakku bersedih karena keluh kesahku.

'Ya Allah, ya Robb. Tolong ampuni ketidak berdayaanku dalam memberikan nafkah untuk Anak-anakku," lirih batinku.

"Assalamu'alaikum."

Terdengar salam dari arah pintu dapur. Sosok Bang Hardi muncul, dari tubuhnya mengucur keringat dan membasahi kaos yang telah kusam menempel di badannya.

"Waalaikum salam, baru pulang Bang?" tanyaku sambil menyuapi Kurnia.

Bang Hardi tersenyum kepada kami.

"Iya Mak. Aduh Anak bapak lagi makan ya? Minta dong," sapa Bang Hardi kepada Kurnia yang masih menikmati makan siangnya.

"Enak lo Pak, Adek Nia makan sama kepala ikan asin," sahutnya dengan tersenyum.

"Oh ya benarkah, mau dong," ujar Bang Hardi kepada Anaknya.

"Boleh. Ya kan Mak."

Aku mengangguk.

"Udah kenyang Adek Mak," seru Kurnia.

"Udah kenyang Sayang?" tanyaku sembari menyodorkan air minum kepadanya.

"Iya Mak, Adek main dulu ya Mak!" ujarnya sembari beranjak bangkit lalu menuju keruang depan tanpa menunggu jawaban dariku.

Aku hanya menghela napas perlahan, dan Bang Hardi tertunduk lesu dan sedih.

"Ya udah bang, istirahat dulu, biar kering kering keringat ditubuh Abang, setelah itu mandi lalu makan siang," titahku kepada beliau.

"Iya Dek. Maafin Abang yang belum bisa membahagiakan kalian," jawabnya dengan sedih.

Aku tersenyum mendengarnya. "Enggak apa-apa Bang, yang penting kita sudah berusaha semampu kita. Jika memang kita belum berpunya, itu suratan takdir darinya," jawabku sambil mencuci piring bekas makan Kurnia.

"Dek ... seandainya Abang belum bisa membahagiakan kalian disisa hidup Abang. Abang mohon maaf yang sebesar-besarnya," ujar suamiku sambil tersenyum. Namun menurutku itu bukanlah sebuah senyuman, tetapi lengkungan patah dan menyerah.

Aku bingung mendengar ucapan Bang Hardi selalu meminta maaf! Sebenarnya apa yang akan terjadi terhadap kami ...? Berbagai pertanyaan berkelindan di kepalaku, namun aku berusaha menepisnya.

Aku mendongak dan menatap kearah Bang Hardi. "Abang bicara apa sih? Emak gak suka mendengar abang bicara seperti itu lagi," jawabku sembari menghampirinya.

"Mak, Adek Nia main di halaman samping sebentar ya?" ujar Kurnia kepadaku.

Ia berjalan dari ruang depan, mungkin bosan berada seorang diri diruang depan.

"Jangan ketempat yang panas ya Sayang," jawabku.

"Iya Mak."

"Hati-hati ya Sayang?" timpal Bang Hardi.

"Iya Pak."

"Bang, jangan bicara seperti itu lagi, aku menjadi sangat sedih mendengarnya."

Aku menjatuhkan bobot tubuhku di sampingnya. Bang Hardi mengipas tubuhnya menggunakan topi bulat anyaman yang selalu dipakai jika bekerja.

Next kah?

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Setengah Kilo Nasi Aking Untuk Anakku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Belenggu Pernikahan Sang Mafia
8.6
Gabriel Alaric menjadikan Aveline Harper alat balas dendam terhadap ayahnya, Leonard. Gadis berusia 21 tahun itu dipaksa menikah demi menebus dosa masa lalu keluarganya. Di tengah kebencian Gabriel yang dingin, terdapat rahasia kelam yang menyiksa batinnya. Aveline pun berusaha bertahan sambil memahami luka suaminya. Akankah dendam ini berakhir dengan kehancuran, atau justru cinta yang tak terduga muncul menyatukan mereka di tengah badai emosi?
Sampul Novel CINTA DINGIN TUAN BESAR
8.4
Marla masuk ke kediaman Austin sebagai pelayan, namun ia tidak menyadari bahwa Margaret memiliki agenda tersembunyi untuk menjodohkannya dengan sang cucu tertua, Richard Branson Austin. Richard adalah pria kaku yang sangat pendiam, kontras dengan adiknya, Ascar, yang gemar memberontak. Terjebak di antara dua kepribadian yang bertolak belakang, Marla kini menghadapi dilema besar: bertahan dalam rencana perjodohan tersebut atau memilih untuk melarikan diri.
Sampul Novel Dari Cinta ke Benci: Kejatuhannya
8.8
Lima tahun menikah, identitas asliku terungkap sebagai pengganti Clara, kekasih Baskara. Setelah melahirkan pewaris Adhitama, aku justru disiksa dan dikurung. Puncaknya, Baskara membiarkan putra kami, Banyu, tewas demi menyelamatkan Clara yang bersandiwara. Kini, duka itu berubah jadi dendam dingin. Baskara tak sadar telah menandatangani surat kuasa fatal di balik dokumen arsitekturku. Keangkuhannya akan kuhancurkan lewat hak yang dia remehkan.
Sampul Novel Dendam Birahi Penakluk Hati
9.7
Demi membalas kematian adiknya, Dirham Assegaff nekat menodai Dinar Azalea yang suci. Namun, dendam itu berbalik menjadi bumerang saat Dinar hamil dan menghilang demi menutupi aib. Bertahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Dirham pun menawarkan pernikahan demi mendapatkan darah dagingnya. Sayangnya, kehadiran cinta pertama Dirham menjadi penghalang besar. Akankah benci berubah jadi cinta, ataukah luka lama Dinar justru semakin menganga?
Sampul Novel Jebakan Cinta Sang Miliarder (Amata: Beloved).
7.9
Setelah tiga tahun, kepulangan Hwanhee ke rumah justru disambut paksaan nikah oleh ayahnya. Ia terjebak perjodohan dengan Ayda Hannah Elsworth demi ambisi keluarga besar mereka. Hannah yang keras kepala curiga bahwa rahasianya dimanfaatkan sebagai alat kendali, sehingga ia bertekad melawan status menantu boneka. Meski Hwanhee kewalahan menghadapi sifat Hannah yang rumit dan liar, kemandirian wanita itu mulai memicu dinamika benci tapi cinta yang sangat tak terduga.
Sampul Novel Tingkat Nol Cinta, Bagian 2
9.7
Sistem NCA akhirnya mendeteksi pelanggaran aturan sakral oleh Lucía Vega dan Bruno Ortega. Hubungan terlarang mereka kini terancam oleh Julián Iriarte, analis yang mulai mengendus jejak konspirasi emosional ini. Lucía dan Bruno tak lagi patuh, mengubah cinta mereka menjadi senjata yang mengancam stabilitas kekuasaan. Tanpa jalan kembali, mereka harus menghadapi perang terbuka di mana topeng hancur dan masa lalu menghantui. Untuk menang, mereka harus siap menghancurkan segalanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan