
Setelah Luka Hadirlah Kamu
Bab 2
Sejak percakapan itu, Keira merasa ada beban yang belum selesai di hatinya. Nadira, adik sepupunya yang dulu sangat dekat, kini berubah menjadi bayangan hitam yang terus menghantui. Setiap kali ponselnya berbunyi, ada ketakutan kecil yang tumbuh-siapa lagi yang akan mencoba menjatuhkannya?
Zeno yang tahu betul keadaan itu, semakin berusaha menjadi pelindung dan teman sekaligus penghibur bagi Keira. Namun, bukan hal mudah bagi seorang pria muda seperti Zeno untuk mengerti betapa dalamnya luka dan trauma yang dipikul Keira.
Pagi itu, di klinik militer tempat Zeno bertugas, suasana berbeda.
Zeno duduk di meja kerjanya, matanya kosong menatap layar komputer yang memuat data pasien. Meski banyak pekerjaan menanti, pikirannya tetap melayang ke Keira-wanita yang perlahan merebut hatinya dengan cara yang tak terduga.
Tiba-tiba, telepon berdering. Suara atasan militer yang tegas menyela lamunannya.
"Zeno, ada tugas khusus. Kamu harus ikut tim medis ke daerah konflik. Ini darurat."
Zeno mengangguk cepat, tapi hatinya berat. Ia belum siap jauh dari Keira, terutama saat mengetahui kondisi psikologisnya yang masih rapuh.
Sementara itu, di apartemen Keira, ia sibuk mempersiapkan sebuah dokumen penting untuk pekerjaan barunya. Sudah hampir tiga bulan ia berusaha membangun karir di perusahaan baru setelah lama menganggur karena fitnah yang pernah menimpanya.
Namun, hari ini, Keira menerima email aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Kami tahu siapa kamu sebenarnya. Jangan kira kamu bisa melupakan masa lalumu begitu saja. Semua rahasia akan terbongkar."
Pesan itu tanpa identitas pengirim, tapi Keira tahu betul itu dari Nadira.
Rasa takut berubah menjadi kemarahan. Keira merasa harus melawan, bukan lagi lari. Ia menghubungi Zeno dan menceritakan semuanya.
"Keira, kamu nggak sendiri. Aku akan bantu kamu hadapi ini," kata Zeno sambil menggenggam tangan Keira lewat layar video call.
Keira tersenyum walau hatinya masih berat. "Aku takut, Zeno. Kalau rahasia itu benar-benar keluar, aku bisa kehilangan segalanya lagi."
Zeno menatap layar dengan serius. "Kita akan cari tahu siapa yang mengirim pesan itu dan hentikan sebelum dia sempat menyakiti kamu lebih jauh."
Hari-hari berlalu, dan ancaman Nadira semakin nyata. Keira mendapat telepon dari nomor tak dikenal yang mengancam membongkar rahasia kelam keluarganya. Keira mencoba mengabaikan, tapi setiap malam ia merasa ada mata yang mengawasinya.
Suatu malam, saat Keira sedang tidur, terdengar ketukan keras di pintu apartemennya. Jantungnya berdegup kencang.
"Keira, buka pintu! Aku tahu kamu di dalam," suara Nadira menggema dingin.
Keira menolak membuka. Ia langsung menghubungi Zeno.
"Zeno, Nadira datang. Aku takut."
Zeno langsung bergegas ke apartemen Keira, meski ia harus menunda tugas penting di markas.
Saat Zeno tiba, Nadira sudah pergi. Tapi kehadirannya meninggalkan pesan yang sulit diabaikan.
"Keira, kamu pikir aku berhenti? Ini baru permulaan," bisik Zeno saat memeriksa keadaan.
Keira menangis, merasa semakin terjebak. Namun, Zeno menguatkannya.
"Kita akan melawan ini bersama, Keira. Aku nggak akan biarkan dia menghancurkan kamu lagi."
Sementara itu, Zeno harus segera berangkat ke medan tugas. Perpisahan itu membuat hati keduanya hancur.
"Zeno, aku nggak mau kamu pergi," kata Keira sambil menggenggam tangan Zeno erat.
"Aku juga nggak mau, tapi aku harus pergi. Aku janji, aku akan kembali untuk kamu," jawab Zeno dengan mata berkaca-kaca.
Setelah Zeno pergi, Keira merasa sendirian. Tapi ia bertekad untuk tidak menyerah. Ia mulai mencari tahu sendiri siapa sebenarnya Nadira dan apa motifnya.
Dengan bantuan Mira, Keira menyelidiki masa lalu Nadira dan menemukan hal mengejutkan: Nadira ternyata hidup dalam bayang-bayang iri dan dendam yang dalam terhadap Keira, sejak kecil merasa selalu kalah perhatian dari keluarga.
Di sisi lain, Zeno di medan konflik menghadapi bahaya nyata. Ia harus berjuang menjaga nyawa banyak orang sambil menyimpan kekhawatiran tentang Keira yang tengah menghadapi badai di rumah.
Di sela-sela kesibukannya, Zeno selalu berusaha menghubungi Keira, memberikan dukungan dan harapan lewat pesan singkat.
Kembali ke kota, Keira menemukan bukti-bukti baru tentang Nadira yang mulai merancang rencana licik untuk menjatuhkannya lebih dalam. Nadira tak hanya mengancam secara verbal, tapi juga bersekongkol dengan orang-orang di tempat kerja Keira untuk menciptakan masalah.
Keira merasa dikhianati sekali lagi, tapi kali ini ia tidak ingin menjadi korban. Ia mulai merancang strategi untuk melawan dan membuktikan siapa yang sebenarnya pantas mendapat kepercayaan.
Suatu sore, saat Keira sedang mengatur pertemuan rahasia dengan salah satu saksi penting, ia bertemu dengan seseorang yang tak ia duga: mantan tunangannya, Raka.
Raka menatap Keira dengan tatapan penuh penyesalan dan amarah yang tersimpan.
"Keira, aku nggak mau kamu hancur karena orang-orang yang membencimu. Aku di sini untuk minta maaf dan... mungkin membantu," katanya serius.
Keira terdiam. Apakah ia harus percaya? Atau justru harus lebih waspada?
Saat Keira dan Raka mulai membuka pembicaraan yang penuh ketegangan itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Keira.
"Jangan percaya siapa pun. Semua orang bisa jadi musuh. Bahkan yang kamu kira teman."
Pesan itu dari nomor tak dikenal. Keira menatap layar dengan mata melebar. Pertarungan belum selesai. Bahkan kini, ancaman terasa semakin dekat dan berbahaya.
Anda Mungkin Juga Suka





