
Setelah Luka Hadirlah Kamu
Bab 3
Keira berdiri di balik jendela apartemennya, memandangi kota yang mulai gelap diterangi cahaya lampu jalan. Pesan ancaman terakhir masih berdenyut di pikirannya, seperti duri yang tak kunjung lepas.
Ia tahu, permainan ini lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.
---
Pagi itu, Keira memutuskan untuk menemui seseorang yang mungkin bisa memberinya jawaban. Mira, sahabat sekaligus sekretaris pribadi yang sudah lama bersamanya, adalah orang pertama yang ia percaya.
"Keira, aku sudah cari tahu tentang Nadira. Ada sesuatu yang kamu harus tahu," kata Mira dengan suara rendah saat mereka bertemu di sebuah kafe kecil.
Keira mengangguk, mata penuh harap.
"Sejak kecil, Nadira merasa tersisih. Dia selalu hidup di bawah bayang-bayang keluargamu, terutama ibumu yang lebih menyayangi kamu," Mira memulai ceritanya. "Tapi ada lebih dari itu. Nadira dulu pernah terlibat dalam insiden yang membuatnya harus keluar dari sekolah secara diam-diam. Orang tua kalian menyembunyikan itu agar nama keluarga tetap bersih."
Keira terdiam, perasaan campur aduk menguasai dirinya. Ia baru saja bangkit dari luka lama, dan kini tahu bahwa adik sepupunya itu membawa luka yang jauh lebih dalam.
---
Di saat yang sama, Zeno sedang berada jauh di medan tugas, berhadapan dengan tekanan yang sama beratnya. Konflik di daerah operasi militer semakin memanas, dan sebagai dokter militer, ia harus berjuang menyelamatkan nyawa para prajurit sekaligus menjaga dirinya tetap kuat.
Namun, hatinya terus terpaut pada Keira.
Setiap malam sebelum tidur, Zeno selalu mengirim pesan pendek untuk memastikan Keira baik-baik saja.
"Keira, kamu harus kuat. Aku di sini, walau jarak memisahkan kita."
---
Keira kembali ke apartemennya dengan kepala penuh pertanyaan dan rencana. Ia memutuskan untuk menggali lebih dalam masa lalu Nadira, mencari celah untuk melindungi dirinya.
Di malam hari, Keira membuka laptop dan mulai menyusun daftar orang-orang yang pernah dekat dengan Nadira, serta mencari tahu siapa saja yang mungkin menjadi sekutunya.
Tidak lama kemudian, sebuah nama muncul yang mengejutkannya: seorang pengusaha muda bernama Adil, yang selama ini dikenal sebagai sosok gelap dan misterius di lingkaran bisnis keluarganya.
---
Hari berikutnya, Keira mengatur pertemuan rahasia dengan Adil. Ia tahu ini berisiko, tapi jika ingin mengalahkan Nadira, ia harus berani.
"Adil, aku tahu kamu punya hubungan dengan Nadira. Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku?" tanya Keira langsung saat bertemu di sebuah restoran tersembunyi.
Adil tersenyum sinis. "Keira, Nadira bukan hanya sekadar sepupumu yang iri. Dia terjerat utang besar pada orang-orang yang sangat berbahaya. Mereka menggunakan dia untuk menjatuhkan kamu, agar keluargamu hancur."
Keira menggenggam tangannya, merasa beban yang selama ini dirasakan mulai sedikit terjelaskan.
"Tapi aku nggak akan menyerah. Aku akan melawan, walau harus sendirian."
Adil menatapnya lama. "Kamu harus hati-hati, Keira. Mereka tidak segan membunuh demi tujuan mereka."
---
Sementara itu, di tempat lain, Nadira merencanakan langkah selanjutnya. Ia semakin licik dan kejam, menghubungi beberapa orang di perusahaan tempat Keira bekerja untuk menyebarkan gosip dan menciptakan kerusakan reputasi.
"Keira akan jatuh, aku pastikan," bisik Nadira dalam gelap, dengan senyum penuh dendam.
---
Di kantor, Keira mulai merasakan tekanan. Rekan-rekannya yang dulu ramah kini mulai menjauh, bahkan ada yang terang-terangan menebar fitnah.
Suatu hari, saat sedang bekerja, Keira menerima panggilan dari HRD.
"Keira, kami perlu bicara tentang beberapa laporan terkait kamu," suara di telepon terdengar dingin dan formal.
Keira tahu ini jebakan. Ia mengumpulkan keberanian dan meminta waktu untuk bertemu.
---
Pertemuan dengan HRD berlangsung tegang. Mereka menuduh Keira melakukan kesalahan serius dalam pekerjaan yang bisa membahayakan proyek besar perusahaan.
Keira menolak tuduhan itu dengan tegas. "Saya tidak melakukan itu. Ada seseorang yang mencoba menjatuhkan saya," katanya dengan suara mantap.
Namun bukti-bukti yang dipertontonkan HRD tampak kuat, dan semuanya tampak diarahkan untuk membuatnya terpojok.
---
Dalam keadaan terdesak, Keira menghubungi Zeno lewat video call.
"Zeno, aku... aku tidak tahu harus bagaimana. Mereka ingin aku keluar dari perusahaan. Semua ini terlalu cepat."
Zeno menatap layar dengan mata penuh kasih. "Keira, jangan menyerah. Aku percaya kamu. Kita akan cari tahu siapa dalang sebenarnya."
Keira menarik napas dalam. "Aku butuh kamu di sini."
Zeno menatap Keira, ingin bisa melangkah keluar dari layar dan memeluknya. "Aku janji, aku akan segera kembali."
---
Hari-hari berikutnya semakin berat bagi Keira. Ia merasakan isolasi dan tekanan yang hampir membuatnya putus asa. Namun di sisi lain, tekadnya tumbuh kuat untuk membersihkan namanya.
Ia mulai mengumpulkan bukti-bukti, meminta bantuan beberapa kolega yang masih setia padanya, serta mempersiapkan strategi hukum untuk melawan fitnah yang dilemparkan Nadira dan kroni-kroninya.
---
Sementara itu, Zeno yang tengah berjuang di medan tempur mendapat kabar buruk dari kantor: kasus Keira makin rumit dan bisa berdampak pada masa depannya.
Ia berusaha tetap fokus, tapi pikirannya kacau memikirkan Keira yang berjuang sendirian.
---
Suatu malam, Keira mendapatkan kejutan tak terduga. Raka, mantan tunangannya, datang dengan sebuah dokumen penting.
"Keira, aku dapat info ini dari seorang sumber terpercaya. Ini bisa membantu membersihkan namamu," kata Raka sambil menyerahkan file berisi rekaman dan dokumen rahasia.
Keira membuka file itu dengan jantung berdebar. Di dalamnya terdapat bukti kuat bahwa Nadira dan beberapa kolega perusahaan terlibat dalam konspirasi untuk menjatuhkannya.
---
Namun, saat Keira dan Raka mulai merancang langkah selanjutnya, sebuah pesan misterius masuk ke ponsel Keira.
"Jika kamu ingin hidup tenang, lepaskan semuanya. Jangan main api dengan kami."
Keira menatap layar, hatinya berdebar. Bahaya semakin nyata, dan musuh mereka tidak hanya satu.
Di balik bayang-bayang gelap malam, Nadira tersenyum dingin sambil menatap layar ponselnya.
"Keira, kamu pikir sudah menang? Ini baru permulaan," gumamnya penuh dendam.
Di sisi lain, Zeno yang tengah menjalani operasi darurat di medan tempur, menerima pesan yang mengubah segalanya.
"Zeno, Keira dalam bahaya besar. Kamu harus pulang sekarang."
Anda Mungkin Juga Suka





