Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Setelah Dibuang, Aku Menikahi Saingannya

Setelah Dibuang, Aku Menikahi Saingannya

Sepuluh tahun penantian hancur saat Kody Morgan kembali meninggalkan pernikahan demi kekasih masa kecilnya, Tonya Buckley. Meski hanya luka kecil, Kody rela menerobos lampu merah demi Tonya, mengabaikan martabat tunangannya di depan para tamu. Alasan klise penjadwalan ulang menjadi puncak kesabaran setelah berkali-kali dikhianati. Sadar dirinya tak pernah jadi prioritas, sang wanita memutuskan berhenti berharap dan memilih menikahi pria lain yang lebih menghargainya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Setelah menjalin hubungan selama sepuluh tahun dan merencanakan pernikahan impian kami berulang kali, tunanganku, Kody Morgan, yang merupakan seorang CEO selalu mencari alasan untuk tidak hadir.

Sejak Tonya Buckley, teman masa kecilnya, kembali ke negara ini, pernikahanku seolah berubah menjadi bom waktu.

Wanita itu berulah pada malam menjelang pernikahanku, dan setiap kali Kody selalu meninggalkanku.

Terakhir kali, jari Tonya terluka dan hanya meneteskan beberapa tetes darah, tapi Kody malah dengan cemas menerobos lampu merah, mempertaruhkan segalanya untuk segera membawanya ke UGD, bahkan mendesak dokter untuk memeriksanya dengan teliti.

Sementara itu, aku menghadapi tatapan mengejek dari para tamu dan hanya menerima alasan meremehkan dari Kody.

"Apa harus hari ini? Kita sudah membatalkannya berkali-kali, kita jadwalkan ulang saja di akhir pekan depan. Tonya pingsan saat melihat darah, aku harus menemaninya. Kamu seharusnya lebih pengertian."

Kody mengenang kebersamaan mereka semasa kecil, mengabulkan semua permintaan Tonya, dan mengabaikanku.

Sebenarnya, aku tidak harus menikahinya.

Ketika ketidakhadirannya sudah menjadi suatu pola, aku akhirnya menikahi orang lain.

....

Malam sebelum salah satu dari sekian banyak upaya pernikahan kami, Tonya memperbarui status media sosialnya.

Foto itu menunjukkan jari rampingnya yang terluka, darah mengucur keluar.

Dia menandai tunanganku, Kody. "Kepalaku sangat pusing, yang kuinginkan hanyalah membuatkan piring buah berbentuk hati untukmu dan tunanganmu ...."

Sarafku mulai tegang, kecemasan dan kejengkelan membanjiri pikiranku.

Saat aku menghubungi nomor Kody, dia sudah dalam perjalanan ke rumah sakit bersama Tonya.

Suaranya terdengar cemas. "Tonya pingsan saat melihat darah. Hal apa yang begitu mendesak sampai-sampai kamu harus meneleponku sekarang?"

Dia hampir berteriak, dan aku bisa mendengar suara klakson yang keras.

"Aku sedang mengemudi. Sial! Kenapa lampunya merah semua!" Kody jarang mengumpat. Dalam hubungan kami yang sudah terjalin selama sepuluh tahun, emosinya selalu stabil.

Sepertinya hanya masalah yang menyangkut Tonya yang dapat membuatnya kehilangan kendali dan menghancurkan prinsipnya.

Tanganku gemetar saat memegang ponsel. "Aku hanya ingin mengingatkanmu, besok adalah pernikahan kita ...."

Namun, tidak menunggu sampai aku selesai berbicara, dia sudah menutup telepon dengan tergesa-gesa karena Tonya merintih. "Kody, kepalaku pusing. Apa aku akan mati?"

Aku menatap foto itu cukup lama. Lukanya kecil, hanya ada tetesan darah, bahkan sudah menunjukkan tanda-tanda penyembuhan.

Sahabat karibku, Melinda Diaz, berbaring di ranjang pengantin yang besar, mencondongkan tubuhnya untuk melirik dan memutar bola matanya.

"Luka kecil itu akan sembuh dengan cepat. Hanya Kody yang akan panik seperti itu." Kata-katanya menghancurkan harapan terakhirku.

Melihat ekspresiku yang suram, Melinda memaksakan senyum untuk menghiburku. "Kody terlalu gugup. Setelah dokter selesai merawat luka Tonya, dia akan kembali padamu untuk menebusnya. Apa kamu lupa? Terakhir kali dia bersumpah hal itu tidak akan terjadi lagi. Clara, beri dia kesempatan lagi. Dia tidak akan mengacaukan hal yang begitu penting."

Namun, yang kurasakan hanyalah kepahitan.

Kami telah merencanakan pernikahan kami ribuan kali, hal itu sudah menjadi bahan lelucon yang dibicarakan orang-orang di Kota Clarment.

Bahkan forum lokal pun memiliki tag topik karenanya.

"Apa Clara sudah menikah hari ini?"

Tiga tahun lalu, di pernikahan pertama kami, Kody datang terlambat lima jam.

Sang CEO, yang bahkan tidak bisa membuka tutup botol tanpa asistennya, menyeret koper sambil memegang bantal leher dan mantel Tonya di satu tangannya.

Dia sibuk menjemput Tonya, teman masa kecilnya, yang pergi dalam keadaan marah bertahun-tahun lalu, mendengarkan cerita-ceritanya yang tidak ada habisnya tentang pengalamannya di luar negeri, dan sepenuhnya melupakan pernikahan kami.

Saat itu dia dipenuhi rasa bersalah dan berulang kali meminta maaf padaku. "Clara, ini semua salahku. Bagaimana bisa aku melupakan sesuatu yang begitu penting? Minggu depan, oke? Aku akan memastikan kamu menjadi pengantin tercantik di Kota Clarment."

Aku belum pernah melihatnya meminta maaf seperti ini. Meskipun aku merasa dirugikan, aku memaafkannya.

Namun, sejak saat itu, kami seolah-olah terkena kutukan.

Tidak peduli kami menundanya sehari atau seminggu, Kody akan selalu meninggalkanku demi Tonya.

Suatu kali saat hujan turun deras, Tonya tidak bisa memanggil taksi, dan bersikeras agar Kody menjemputnya sendiri.

Di waktu lain, kuku Tonya patah, dan Kody menemaninya ke salon untuk diperbaiki.

Di waktu yang lain, Tonya ingin memakan ikan salmon impor, dan Kody sendiri yang membelinya, bahkan mengantarkannya padanya.

Yang paling keterlaluan adalah saat terakhir, di luar gedung pernikahan, pergelangan kaki Tonya terkilir. Kody sudah memakai tuksedonya, tapi di depan semua tamu, dia menggendong Tonya dan pergi.

Mengenakan kerudung panjang yang menjuntai, aku diabaikan begitu saja.

Tonya menoleh ke belakang, sorot matanya penuh penghinaan, mengucapkan kata-kata untuk mengejek rasa maluku. "Bahkan seribu kali pun, dia hanya akan lebih peduli padaku, dasar bodoh."

Itu adalah pertengkaran paling sengit yang pernah terjadi antara aku dan Kody.

Namun, pria itu sudah lama kehilangan kesabaran padaku.

"Clara, orang tua Tonya telah beremigrasi. Dia tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa diandalkan di sini, kecuali aku. Aku tidak bisa mengabaikannya. Kalau kamu tidak bisa menolerir teman masa kecilku, aku tidak tahu bagaimana kita bisa akur dalam jangka panjang."

Kata-katanya membuatku tercengang.

Teman masa kecil? Dia dengan enteng membenarkan semua interaksinya bersama Tonya seperti menemaninya sepanjang malam, menyuapinya di hadapanku, dan semua tindakan berlebihan lainnya dengan sebuah pernyataan yang sederhana dan meremehkan.

Bahkan saat aku menangis karena kesal, pria itu malah merasa kesal. "Jangan sampai Tonya melihatmu seperti ini. Dia sudah sabar padamu. Aku tidak ingin membuatnya sedih."

Jadi, Kody sama sekali tidak bisa melihat kesedihanku.

Entah sudah tak terhitung berapa kali Kody bersikap acuh tak acuh hingga tidak peduli sama sekali dengan perasaanku.

Dari fajar hingga pagi, luka kecil itu membuatnya mengerahkan semua ahli di rumah sakit, memeriksa Tonya dengan hati-hati, takut terjadi kesalahan sekecil apa pun.

Kurang dari satu jam menjelang pernikahan kami, dia akhirnya menjawab telepon, tapi suaranya penuh dengan kelelahan dan ketidaksabaran. "Apa harus hari ini? Kita sudah membatalkannya berkali-kali, kita jadwalkan ulang saja di akhir pekan depan."

Dia berkata Tonya pingsan saat melihat darah, jadi dia harus menemani di sisinya.

Aku menahan air mataku dan bertanya padanya dengan suara pelan, "Kamu di mana? Kody, masih ada satu jam lagi. Kalau kamu bergegas, kamu bisa sampai ...."

Bahkan sebelum aku mengucapkan kata-kata "aku akan menunggumu", dia sudah mengamuk.

"Clara, kita sudah bersama begitu lama. Kapan kamu akan belajar untuk lebih pengertian? Pernikahan kita akan terjadi pada akhirnya, mengapa harus hari ini? Aku sangat peduli padamu, tapi Tonya juga sangat penting bagiku. Tentu saja, aku ingin dia menyaksikan kebahagiaanku juga. Apa menurutmu dia bisa menghadiri pernikahan kita hari ini dalam situasi seperti ini?"

Dia lalu buru-buru berkata, "Batalkan saja untuk hari ini, kita adakan minggu depan."

Lalu dia menutup telepon lagi.

Mungkin karena takut mengganggu istirahat Tonya, dia langsung mematikan ponselnya.

Aku jatuh terduduk di lantai, tersesat dan kehilangan arah, ada sebuah suara dalam hatiku yang berteriak memekakkan telinga.

Hanya karena Tonya tidak bisa hadir, pernikahanku dibatalkan.

Kody, kamu anggap aku ini apa?

Dia berkata dia peduli padaku, tapi sebenarnya dia sama sekali tidak peduli.

Melinda mengintip dengan gugup, bertanya apakah Kody sudah datang.

"Semua tamu sudah tiba."

Haruskah aku membatalkan pernikahan dan menjadi bahan tertawaan lagi, lalu menunggu dia datang dengan penjelasan yang sepele?

Aku menggelengkan kepalaku dengan lemah, air mata yang kutahan akhirnya menetes. "Tidak, pernikahan akan berjalan sesuai rencana."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah, Tapi Bukan Untuk Dicintai
9.6
Terdesak utang, Lana menerima tawaran Valerie untuk menggoda ayahnya, Cedric Vellani, demi membatalkan pernikahan pria kaya itu dengan wanita pemburu harta. Namun, Cedric yang dingin tak mudah ditaklukkan. Lana justru terjebak dalam pesona sang target hingga hubungan transaksional mereka berubah jadi perasaan terlarang. Saat Valerie merasa dikhianati, Lana harus memilih antara uang atau cinta yang berawal dari kebohongan. Akankah ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Antara Cinta Dan Obsesi
7.8
Melanjutkan kisah Ikhlasku dengan takdirku, Laras harus menjalani hidup sebagai anak angkat di keluarga kaya setelah kehilangan orang tuanya. Sosok yang merawatnya sebenarnya adalah penyebab kematian sang ibu yang ingin bertanggung jawab. Namun, kemewahan itu tidak membawa kebahagiaan. Laras justru terjebak dalam obsesi gelap kakak angkatnya sendiri. Di tengah berbagai rintangan pelik, mampukah obsesi tersebut berubah menjadi cinta yang tulus?
Sampul Novel CEO Dingin Pemikat Hati
9.2
Shintia berjuang memulai hidup baru pasca putus dari Arya. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali saat Arya muncul sebagai CEO di kantornya. Meski cinta Shintia bersemi lagi, Arya justru menyimpan kebencian mendalam dan sering bersikap kasar. Keadaan kian rumit akibat kesalahpahaman masa lalu dan skandal Shintia dengan Felix yang memicu kemarahan Arya. Mampukah Shintia meluluhkan hati Arya dengan mengungkap alasan tragis perpisahan mereka dua tahun lalu?
Sampul Novel CEO Mesum
9.1
Alice Handerson adalah sekretaris tegas yang harus menghadapi perilaku provokatif bosnya setiap hari. Meski profesional, ia sering terjebak dalam situasi penuh godaan dan makna ganda di kantor. Saat sang atasan mengajukan tawaran skandal, Alice terjepit antara logika dan keinginan hati yang membingungkan. Hubungan benci tapi rindu ini memaksa mereka menjelajahi batas kekuasaan dan cinta dalam narasi romansa kontemporer yang berani dan penuh gejolak.
Sampul Novel Cinta satu malam dengan boss
9.0
Terjebak dalam tawaran tak terduga, seorang wanita mempertanyakan alasan bosnya memilih dirinya. Tanpa ada rasa cinta, pria berkuasa itu dengan dingin menyatakan bahwa dia hanya menginginkan kepuasan fisik semata. Meski dikelilingi banyak wanita, sang bos hanya tertarik pada tubuhnya untuk memuaskan hasrat pribadinya. Kini, dia harus menghadapi kenyataan pahit menjadi pemuas keinginan sang miliarder dalam hubungan tanpa status yang sangat murni transaksional.
Sampul Novel Dendam Sang Pelukis: Cinta yang Ditebus
8.6
Alana Maheswari terjebak dalam pernikahan ketiga yang tragis. Damian, sang tunangan, justru menyiksanya demi menenangkan Elina. Setelah karier melukisnya dihancurkan dan tubuhnya ditinggalkan bersimbah darah di hutan, Alana menolak menyerah. Demi melindungi keluarga dan bisnisnya, ia menghubungi sosok misterius dari masa lalu. Ia sepakat menyerahkan seluruh asetnya dan melakukan pernikahan kontrak demi pelarian dan balas dendam yang setimpal.