
Setelah Dibuang, Aku Menikahi Saingannya
Bab 2
Karena Kody pernah melewatkan banyak pernikahan sebelumnya, pernikahanku dengan Kody sangat sederhana.
Kali ini, hanya segelintir teman yang hadir, kebanyakan dari pihakku.
Teman-teman Kody mungkin meramalkan bahwa kami tidak akan bisa menikah, jadi mereka mencari berbagai macam alasan untuk tidak hadir.
Orang tua Kody telah bepergian keliling dunia beberapa tahun lalu, mereka tidak peduli pada pernikahan kami. Atau mungkin, mereka tidak peduli padaku.
Kalau tidak, mereka tidak akan begitu saja memaafkan ketidakhadiran Kody yang berulang kali dalam resepsi kami. "Tonya tumbuh besar bersamanya, jadi Kody memperlakukannya dengan lebih penuh perhatian. Lagi pula, dia tidak melakukannya dengan sengaja. Segala sesuatu terjadi begitu saja. Mengapa harus diributkan?"
Pada akhirnya, semua akan menjadi salahku.
"Clara, bukankah orang tuamu mengajarkanmu untuk bersikap toleran? Tentu saja Kody berniat menikahimu, kalau tidak, dia tidak akan terus-terusan menyelenggarakan pernikahan ini. Jangan terus-terusan berdebat dengannya, atau dia akan bosan dan menolak menikah denganmu. Pada akhirnya kamu yang akan menyesalinya."
Bukan hanya orang tua Kody, bahkan orang tuaku pun berpihak padanya.
Keluargaku tidak seperti dulu lagi. Mereka mengandalkan sumber daya yang diberikan Kody untuk mempertahankan bisnis keluarga.
Jadi, meski mengalami kekecewaan berulang kali, mereka tidak pernah menunjukkan sikap dingin pada Kody.
Melihat acara resepsi ini berubah menjadi situasi memalukan lagi, ibuku mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan lebih dulu.
"Clara, jangan berdebat dengan Kody. Kalau dia tidak tertunda oleh hal yang mendesak, dia pasti akan ada di sini untuk menikahimu. Kalian dapat menundanya sampai waktu berikutnya."
Aku menatap ibuku dengan dingin, tetap diam.
Kakakku, Izabella, menikah pada masa kejayaan keluarga kami, dalam sebuah acara resepsi yang megah. Suaminya yang kaya juga memperlakukannya dengan baik.
Sedangkan aku?
Mereka takut aku akan merajuk dan menolak menikahi Kody, bahkan sangat berharap aku yang memohon pada pria itu.
Saat waktunya sudah tiba, ayahku mengangguk dan meminta maaf pada orang tua Kody. "Ini semua salah Clara karena memilih hari ini. Kami sudah memarahinya. Kody? Bagaimana mungkin Kody bersalah? Tidak banyak pria sepertinya, dia merupakan pria dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Jangan khawatir, Clara baik-baik saja dengan semua itu."
Ibuku menambahkan sambil tersenyum dengan paksa, "Hari apa pun bisa menjadi hari pernikahan. Cedera Tonya lebih penting. Clara akan segera mengunjunginya."
Aku menggigit bibir bawahku, begitu kecewa hingga aku mati rasa terhadap rasa sakit itu.
Ponselku bergetar karena ada pesan.
"Dalam perjalanan, tunggu aku." Pesan itu dari Brody Ward, penyelamatku di menit-menit terakhir.
Melihat pesan itu, suasana hatiku jauh lebih tenang.
Kody bukan satu-satunya orang yang bisa dekat dengan teman masa kecilnya.
Yang terngiang dalam pikiranku adalah respons lembut yang diberikan Brody setelah aku menyampaikan permintaanku beberapa menit yang lalu. "Sudah kubilang, kapan pun kamu membutuhkanku, aku akan ada di sana. Clara, kamu akan selalu menjadi yang paling penting bagiku."
Aku dengan gugup menegaskan padanya lagi dan lagi, "Bahkan meski aku memintamu untuk menikah denganku?"
"Ya, aku bersedia."
Meskipun aku tidak dapat melihat ekspresi Brody melalui ponsel, aku seolah bisa melihat senyum hangatnya ketika dia membalas pesanku.
Anda Mungkin Juga Suka





