
Seriusin Aja, Nikahnya
Bab 3
Kara sebisa mungkin menguasai emosi. Sungguh dalam dada Kara bergemuruh rasa kesal yang sangat dalam. Apalagi Kara pun dalam melihat pria yang teramat sombong di depan matanya saat ini.
"Ngapain kamu di sini? Masih mau maksa aku bilang kata maaf ke kamu?" Nada suara Hendra sangat tinggi. Cukup membuat orang-orang sekitar terkejut.
Kara masih bergeming, bukan takut untuk menjawab. Hanya saja membiarkan orang tahu ketika dia memang tidak melakukan apapun malah diperlakukan demikian.
Revan langsung menepuk pelan punggung Kara dan menatap memberi kode, bahwa semua akan baik-baik asal sahabatnya dapat tenang.
"Apaan sih, lo? Kara ini cewek yang gue undang. Duduk Kara! Mau makanan apa dan minumnya?"
Kara hanya menggelengkan kepala. "Aku minum aja."
Kara berekspresi sangat datar. Jika saja di sana tidak ada Revan, mungkin Kara sudah pergi meninggalkan tempat itu. Rasa kesal Kara sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, Kara benar-benar menahannya.
Hendra langsung izin ke toilet pada Arya. Dia tidak menyangka bertemu dengan wanita yang sangat mengesalkan baginya. Wanita yang sok memiliki harga diri tinggi. Di mata Hendra sama saja, wanita itu hanya matre dan mengincar uang si pria.
'Kenapa ketemu wanita sombong itu lagi, sih? Lagian juga si Arya kenal di mana cewek macam gitu? Bikin kesel aja. Semoga bukan dia aja, cewek yang di maksud Arya,' batin Hendra.
*
"Kamu kenal dia, Kar?" tanya Arya menyelidik. Arya tahu, Hendra paling enggan berhubungan dengan wanita. Anehnya Hendra malah langsung mengeluarkan nada tinggi di hadapan Kara.
Kara menggelengkan kepala. "Tadi aku lagi jalan, mobil dia lewat kenceng banget, sampai aku kecipratan genangan air. Makanya tadi pakaian aku basah itu gitu. Ya, karena dia. Ih, nyebelin bangetlah dia pokoknya. Tahu sendiri dong, tadi aku udah berusaha diam aja, malah aku yang disemprot."
Kara dengan polosnya mengungkapkan semua itu.
Arya memijat kepalanya. Sudah paham maksud ucapan Kara. Arya tahu, Hendra paling anti minta maaf, dan palingan ngasih uang ganti rugi. Sedangkan Kara, bukan wanita matre yang mengharapkan uang.
"Kak Arya katanya mau kenalkan aku sama pria yang mau berpura jadi kekasihku nantinya. Memangnya siapa?"
Arya dan Revan saling tatap, mereka berdua bingung untuk menjelaskan kepada Kara. Karena Kara sudah emosi saja.
"Ya, prianya ya yang tadi itu …." Revan sudah mulai bingung dengan keadaan ini. Revan yakin, Kara belum tentu mau.
Wajah Arya sudah masam. Arya sangat paham sikap Kara bila sudah tidak suka. Walaupun Arya tidak sedekat Revan pada Kara, tapi secara garis besar, Arya tahu sikap dan sifat Kara.
Kara bergeming mendengar hal itu. "Di-dia?"
Arya dan Revan serempak menganggukkan kepala, sedangkan Kara hanya memijat pelipisnya.
"Aku langsung pulang aja deh. Aku pusing." Kara lebih memilih menghindar saja. Sangat malas bila berurusan dengan pria seperti itu.
"Nggak bisa gitu dong, Ra. Kalau gini kamu nggak ngehargain aku. Please!" Revan kembali membujuk Kara. Revan tahu, Kara paling tidak tega padanya.
Kara berusaha tetap duduk dengan tenang. Kara pun menatap lurus pada Revan. "Oke!"
Hendra kembali dengan tatapan tajam. Hendra masih sangat kesal karena masih ada Kara di sana.
"Revan, Arya, mana perempuan yang kalian mau kenalkan ke aku? Jangan bilang, kalau wanita itu dia! Aku nggak mau ya kalau dia!" Hendra langsung menunjuk wajah Kara.
Kara masih diam, belum menanggapi apapun. Kara tahu, dia butuh pacar pura-pura. Namun dia juga tidak akan merendahkan harga dirinya.
"Dra, nggak bisa gitu. Bisa nggak sih, kerja sama. Cari perempuan itu sulit, apa lagi kalau tahu lo banyak harta. Yang ada dia makin nempel ke lo. Lo sendiri cuma butuh kontrak. Apa salahnya lagian kerja sama. Buang dulu gengsinya. Kalau lo nolak Kara, gue nggak mau bantuin lo lagi."
Pandangan Hendra semakin sinis pada Kara. Hendra sangat yakin, jika Kara itu wanita yang sama, yang mengincar hartanya.
"Lalu apa bedanya dengan dia? Aku tahu, dia juga sama seperti wanita lainnya."
Kara lekas berdiri. "Maaf aku nggak bisa! Aku memang butuh kekasih pura-pura agar Soni tidak mendekatiku lagi, tapi bukan berarti dengan asal, apalagi pria yang suka merendahkan seseorang."
Kara mulai mengambil tas dan ingin melangkah pergi. Lagi-lagi tangan Kara ditarik, tapi kali ini bukan Revan maupun Arya yang menarik, melainkan Hendra.
"Tunggu! Kamu bilang kamu butuh kekasih pura-pura. Buat apa? Kamu juga bilang aku suka rendahin seseorang, maksudnya apa?"
Hendra sangat heran kenapa wanita di depannya itu butuh kekasih pura-pura. Namun, Hendra pun berusaha memperhatikan Kara. Wajahnya Kara mengingatkan Hendra pada seseorang.
Hendra pun menatap penuh tanda tanya.
"Bukan urusan kamu, untuk apa aku butuh kekasih pura-pura. Sekarang lepasin, aku mau pulang, kamu sendiri nggak mau, jadi aku juga nggak mau."
"Aku nggak butuh kekasih pura-pura. Aku butuhnya istri pura-pura."
Hendra memang tidak banyak waktu lagi mencari itu. Hendra berpikir mendingan diajak kontrak nikah saja.
"Dan aku tidak mau mempermainkan pernikahan. Berarti memang aku nggak bisa sama kamu. Simple 'kan?"
Kara langsung menarik tangan Revan.
"Ayo, Van, pulang! Masalah Soni, nanti aku coba atasi sendiri."
Revan hanya menganggukkan kepala. Revan tahu, jika Kara paling anti dalam mempermainkan pernikahan. Revan hanya memikirkan, bagaimana Kara bisa memberikan pengertian pada Soni.
*
"Makasih ya, sudah anterin aku pulang! Maaf, jaketnya aku pinjam dulu!" Revan menganggukan kepala. Revan selalu selembut itu dalam bersikap terhadap Kara.
"Jaga diri baik-baik ya! Aku pulang, jangan banyak pikiran. Nanti aku coba carikan yang lain."
Kara mengangguk dan Revan pun segera pulang.
Hendra menatap Kara dari kejauhan. Hendra pun mengingat-ingat alamat rumah Kara. Mirip dengan seseorang. Hendra akhirnya ingat kembali kejadian lama itu.
"Jangan bilang dia adalah …."
Hendra memukul stir mobilnya, merasa frustasi sendiri dengan keadaan yang ada. Hendra pun akhirnya memilih pulang ke rumahnya setelah tahu rumah Kara.
"Berarti dia adalah amanat yang harus kujaga?" Monolog Hendra.
*
Kara memasuki rumah langsung ditatap dengan sinis oleh Arlita.
"Abis dari mana kamu? Soni jemput, malah keluyuran sama pria lain. Bukannya langsung pulang, mau jadi perempuan nggak benar kamu?"
Kara tersenyum sinis pada Arlita. "Serendah itukah Nyonya menilai saya?" Kara tetap mengumbar senyum. Tidak sedikitpun raut wajah kecewa dinampakkan.
"Lancang kamu, berani menjawab saya!" sentak Arlita.
"Lalu apa gunanya saya punya mulut, jika saya tidak boleh bicara, Nyonya? Sekalipun saya pergi dengan seorang pria, tenanglah wanita ini masih mampu menjaga marwahnya. Wanita ini juga tahu batasan. Mohon maaf Nyonya, lain kali sebaiknya Den Soni, tidak perlu menjemput saya lagi, agar tidak merepotkan."
Kara masih tersenyum, dengan senyuman manis.
"Apa maksud kamu, Kara? Kenapa kamu jadi orang yang tidak tahu di untung? Sama sekali tidak bisa dikasihani, sama seperti nenekmu dulu."
"Anda tinggal menuruti ucapan saya. Itu yang terbaik. Apalagi permintaan Soni yang …."
Kara sengaja menggantung ucapannya. Kara ingin agar Arlita dapat berpikir jernih.
"Memangnya apa permintaan Soni?" Arlita sangat penasaran dengan apa yang ingin Kara katakan.
"Soni ingin menikahiku. Anda tahu bukan, seharusnya kami itu seperti apa?" Kara mengulas senyum smirk, tapi juga penuh luka.
"Nggak, itu nggak boleh terjadi Kara. Kamu sedang berbohong 'kan?"
Kara menggelengkan kepala.
"Nyonya hanya perlu bersiap saja. Tenanglah, aku nggak akan menerima Soni, karena aku tahu batasanku. Cukup jangan mengekangku masalah pergi dengan siapa. Setidaknya, itu lebih baik."
Kara memang sulit berkata lainnya. Pikirannya terlalu carut marut dalam memikirkan permasalahan itu.
"Baiklah, ingat kamu harus jauhi Soni! Jangan pernah coba bongkar rahasia itu!"
"Nyonya tenang saja. Aku tahu apa yang harus dilakukan."
Kara akhirnya memilih pergi dari hadapan Arlita dan kembali ke kamar.
Anda Mungkin Juga Suka





