Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Seriusin Aja, Nikahnya

Seriusin Aja, Nikahnya

Kara merasa bimbang saat Soni menyatakan perasaannya. Meski sangat berutang budi atas kebaikan Soni, ia tetap tak bisa membalas cinta pria tersebut. Masalah semakin rumit ketika Hendra muncul dan membongkar rahasia Kara hingga Soni memutuskan untuk mundur. Tak disangka, Hendra justru bertekad untuk menikahi Kara. Akankah pernikahan mereka nantinya hanya sekadar perjanjian kontrak belaka, atau justru menjadi awal kebahagiaan sejati bagi Kara?
Bab
Bagikan

Bab 3

Kara sebisa mungkin menguasai emosi. Sungguh dalam dada Kara bergemuruh rasa kesal yang sangat dalam. Apalagi Kara pun dalam melihat pria yang teramat sombong di depan matanya saat ini.

"Ngapain kamu di sini? Masih mau maksa aku bilang kata maaf ke kamu?" Nada suara Hendra sangat tinggi. Cukup membuat orang-orang sekitar terkejut.

Kara masih bergeming, bukan takut untuk menjawab. Hanya saja membiarkan orang tahu ketika dia memang tidak melakukan apapun malah diperlakukan demikian.

Revan langsung menepuk pelan punggung Kara dan menatap memberi kode, bahwa semua akan baik-baik asal sahabatnya dapat tenang.

"Apaan sih, lo? Kara ini cewek yang gue undang. Duduk Kara! Mau makanan apa dan minumnya?"

Kara hanya menggelengkan kepala. "Aku minum aja."

Kara berekspresi sangat datar. Jika saja di sana tidak ada Revan, mungkin Kara sudah pergi meninggalkan tempat itu. Rasa kesal Kara sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, Kara benar-benar menahannya.

Hendra langsung izin ke toilet pada Arya. Dia tidak menyangka bertemu dengan wanita yang sangat mengesalkan baginya. Wanita yang sok memiliki harga diri tinggi. Di mata Hendra sama saja, wanita itu hanya matre dan mengincar uang si pria.

'Kenapa ketemu wanita sombong itu lagi, sih? Lagian juga si Arya kenal di mana cewek macam gitu? Bikin kesel aja. Semoga bukan dia aja, cewek yang di maksud Arya,' batin Hendra.

*

"Kamu kenal dia, Kar?" tanya Arya menyelidik. Arya tahu, Hendra paling enggan berhubungan dengan wanita. Anehnya Hendra malah langsung mengeluarkan nada tinggi di hadapan Kara.

Kara menggelengkan kepala. "Tadi aku lagi jalan, mobil dia lewat kenceng banget, sampai aku kecipratan genangan air. Makanya tadi pakaian aku basah itu gitu. Ya, karena dia. Ih, nyebelin bangetlah dia pokoknya. Tahu sendiri dong, tadi aku udah berusaha diam aja, malah aku yang disemprot."

Kara dengan polosnya mengungkapkan semua itu.

Arya memijat kepalanya. Sudah paham maksud ucapan Kara. Arya tahu, Hendra paling anti minta maaf, dan palingan ngasih uang ganti rugi. Sedangkan Kara, bukan wanita matre yang mengharapkan uang.

"Kak Arya katanya mau kenalkan aku sama pria yang mau berpura jadi kekasihku nantinya. Memangnya siapa?"

Arya dan Revan saling tatap, mereka berdua bingung untuk menjelaskan kepada Kara. Karena Kara sudah emosi saja.

"Ya, prianya ya yang tadi itu …." Revan sudah mulai bingung dengan keadaan ini. Revan yakin, Kara belum tentu mau.

Wajah Arya sudah masam. Arya sangat paham sikap Kara bila sudah tidak suka. Walaupun Arya tidak sedekat Revan pada Kara, tapi secara garis besar, Arya tahu sikap dan sifat Kara.

Kara bergeming mendengar hal itu. "Di-dia?"

Arya dan Revan serempak menganggukkan kepala, sedangkan Kara hanya memijat pelipisnya.

"Aku langsung pulang aja deh. Aku pusing." Kara lebih memilih menghindar saja. Sangat malas bila berurusan dengan pria seperti itu.

"Nggak bisa gitu dong, Ra. Kalau gini kamu nggak ngehargain aku. Please!" Revan kembali membujuk Kara. Revan tahu, Kara paling tidak tega padanya.

Kara berusaha tetap duduk dengan tenang. Kara pun menatap lurus pada Revan. "Oke!"

Hendra kembali dengan tatapan tajam. Hendra masih sangat kesal karena masih ada Kara di sana.

"Revan, Arya, mana perempuan yang kalian mau kenalkan ke aku? Jangan bilang, kalau wanita itu dia! Aku nggak mau ya kalau dia!" Hendra langsung menunjuk wajah Kara.

Kara masih diam, belum menanggapi apapun. Kara tahu, dia butuh pacar pura-pura. Namun dia juga tidak akan merendahkan harga dirinya.

"Dra, nggak bisa gitu. Bisa nggak sih, kerja sama. Cari perempuan itu sulit, apa lagi kalau tahu lo banyak harta. Yang ada dia makin nempel ke lo. Lo sendiri cuma butuh kontrak. Apa salahnya lagian kerja sama. Buang dulu gengsinya. Kalau lo nolak Kara, gue nggak mau bantuin lo lagi."

Pandangan Hendra semakin sinis pada Kara. Hendra sangat yakin, jika Kara itu wanita yang sama, yang mengincar hartanya.

"Lalu apa bedanya dengan dia? Aku tahu, dia juga sama seperti wanita lainnya."

Kara lekas berdiri. "Maaf aku nggak bisa! Aku memang butuh kekasih pura-pura agar Soni tidak mendekatiku lagi, tapi bukan berarti dengan asal, apalagi pria yang suka merendahkan seseorang."

Kara mulai mengambil tas dan ingin melangkah pergi. Lagi-lagi tangan Kara ditarik, tapi kali ini bukan Revan maupun Arya yang menarik, melainkan Hendra.

"Tunggu! Kamu bilang kamu butuh kekasih pura-pura. Buat apa? Kamu juga bilang aku suka rendahin seseorang, maksudnya apa?"

Hendra sangat heran kenapa wanita di depannya itu butuh kekasih pura-pura. Namun, Hendra pun berusaha memperhatikan Kara. Wajahnya Kara mengingatkan Hendra pada seseorang.

Hendra pun menatap penuh tanda tanya.

"Bukan urusan kamu, untuk apa aku butuh kekasih pura-pura. Sekarang lepasin, aku mau pulang, kamu sendiri nggak mau, jadi aku juga nggak mau."

"Aku nggak butuh kekasih pura-pura. Aku butuhnya istri pura-pura."

Hendra memang tidak banyak waktu lagi mencari itu. Hendra berpikir mendingan diajak kontrak nikah saja.

"Dan aku tidak mau mempermainkan pernikahan. Berarti memang aku nggak bisa sama kamu. Simple 'kan?"

Kara langsung menarik tangan Revan.

"Ayo, Van, pulang! Masalah Soni, nanti aku coba atasi sendiri."

Revan hanya menganggukkan kepala. Revan tahu, jika Kara paling anti dalam mempermainkan pernikahan. Revan hanya memikirkan, bagaimana Kara bisa memberikan pengertian pada Soni.

*

"Makasih ya, sudah anterin aku pulang! Maaf, jaketnya aku pinjam dulu!" Revan menganggukan kepala. Revan selalu selembut itu dalam bersikap terhadap Kara.

"Jaga diri baik-baik ya! Aku pulang, jangan banyak pikiran. Nanti aku coba carikan yang lain."

Kara mengangguk dan Revan pun segera pulang.

Hendra menatap Kara dari kejauhan. Hendra pun mengingat-ingat alamat rumah Kara. Mirip dengan seseorang. Hendra akhirnya ingat kembali kejadian lama itu.

"Jangan bilang dia adalah …."

Hendra memukul stir mobilnya, merasa frustasi sendiri dengan keadaan yang ada. Hendra pun akhirnya memilih pulang ke rumahnya setelah tahu rumah Kara.

"Berarti dia adalah amanat yang harus kujaga?" Monolog Hendra.

*

Kara memasuki rumah langsung ditatap dengan sinis oleh Arlita.

"Abis dari mana kamu? Soni jemput, malah keluyuran sama pria lain. Bukannya langsung pulang, mau jadi perempuan nggak benar kamu?"

Kara tersenyum sinis pada Arlita. "Serendah itukah Nyonya menilai saya?" Kara tetap mengumbar senyum. Tidak sedikitpun raut wajah kecewa dinampakkan.

"Lancang kamu, berani menjawab saya!" sentak Arlita.

"Lalu apa gunanya saya punya mulut, jika saya tidak boleh bicara, Nyonya? Sekalipun saya pergi dengan seorang pria, tenanglah wanita ini masih mampu menjaga marwahnya. Wanita ini juga tahu batasan. Mohon maaf Nyonya, lain kali sebaiknya Den Soni, tidak perlu menjemput saya lagi, agar tidak merepotkan."

Kara masih tersenyum, dengan senyuman manis.

"Apa maksud kamu, Kara? Kenapa kamu jadi orang yang tidak tahu di untung? Sama sekali tidak bisa dikasihani, sama seperti nenekmu dulu."

"Anda tinggal menuruti ucapan saya. Itu yang terbaik. Apalagi permintaan Soni yang …."

Kara sengaja menggantung ucapannya. Kara ingin agar Arlita dapat berpikir jernih.

"Memangnya apa permintaan Soni?" Arlita sangat penasaran dengan apa yang ingin Kara katakan.

"Soni ingin menikahiku. Anda tahu bukan, seharusnya kami itu seperti apa?" Kara mengulas senyum smirk, tapi juga penuh luka.

"Nggak, itu nggak boleh terjadi Kara. Kamu sedang berbohong 'kan?"

Kara menggelengkan kepala.

"Nyonya hanya perlu bersiap saja. Tenanglah, aku nggak akan menerima Soni, karena aku tahu batasanku. Cukup jangan mengekangku masalah pergi dengan siapa. Setidaknya, itu lebih baik."

Kara memang sulit berkata lainnya. Pikirannya terlalu carut marut dalam memikirkan permasalahan itu.

"Baiklah, ingat kamu harus jauhi Soni! Jangan pernah coba bongkar rahasia itu!"

"Nyonya tenang saja. Aku tahu apa yang harus dilakukan."

Kara akhirnya memilih pergi dari hadapan Arlita dan kembali ke kamar.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Kasih Sayangnya yang Terlambat
9.8
Selama tiga tahun, pengabdian Giselle hanya dibalas kebencian oleh Lucian. Setelah menyerah pada pernikahan yang menyesakkan itu, Giselle bangkit menjadi CEO saingan dengan berbagai identitas rahasia sebagai peretas hingga desainer ternama. Lucian yang awalnya meremehkan justru terobsesi untuk mengejarnya kembali saat rahasia Giselle terungkap. Meski Lucian memohon kesempatan kedua dengan segala cara, bagi Giselle, penyesalan suaminya sudah sangat terlambat.
Sampul Novel Dosen ku
9.8
Zahra, gadis 22 tahun yang sederhana, memilih bekerja di perusahaan milik Alvino Daffa Haidar demi mandiri tanpa menyusahkan ayahnya yang juga kaya. Sosoknya yang anggun dengan pakaian syar'i dan riasan tipis bedak bayi memikat perhatian. Di sisi lain, Alvino adalah pewaris dingin dari keluarga terkaya di Indonesia. Ternyata, sang ayah telah menyiapkan rencana perjodohan bagi Alvino dengan putri sahabat lamanya. Siapakah sosok wanita yang akan menjadi takdirnya itu?
Sampul Novel Gadis Kecil itu Istriku
8.2
Kehidupan seorang siswi SMK berubah drastis setelah sebuah malam pesta yang tak terkendali. Saat menghadiri acara di hotel mewah milik rekannya, ia justru kehilangan kesuciannya dalam situasi yang tidak terduga. Tragedi ini menjadi titik balik bagi sang gadis muda dalam menghadapi realitas dunia dewasa yang keras. Kini, ia harus menanggung konsekuensi dari peristiwa malam itu sembari berjuang menentukan arah masa depannya yang kian rumit.
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Sepuluh tahun menikah, hubungan asmara antara aku dan Mas Bram tetap membara layaknya pengantin baru. Sebagai atasan perusahaan yang sibuk mengontrol cabang luar kota, ia selalu lihai menyusun alasan demi menemui diriku tanpa sepengetahuan ibunya. Pagi ini, kemesraan itu kembali hadir lewat pelukan hangat dan kecupan di leher saat aku memasak. Sosoknya yang romantis sangat memahami cara memuaskan keinginanku hingga aku tak berdaya dalam dekapan gairahnya.
Sampul Novel Pelakor tak pantas bahagia
8.9
Keharmonisan rumah tangga yang dibangun Airin dan Danu kini berada di ambang kehancuran akibat kehadiran Maya. Sebagai sosok wanita idaman lain, Maya menjadi duri yang mengancam komitmen pernikahan mereka. Akankah Danu mampu melepaskan diri dari jeratan pesona Maya yang menyesatkan? Ataukah Maya justru berhasil memenangkan hati Danu dan merebutnya secara utuh? Kisah penuh konflik ini menguji kesetiaan serta takdir cinta mereka.
Sampul Novel PERANGKAP PANAS CEO DINGIN
9.7
Demi membalas budi, Ellshora terpaksa menjerat para CEO kaya atas perintah bibinya meski ia sudah memiliki kekasih. Luke Whiston menjadi target terakhir dalam misi ini. Namun, sang CEO dingin ternyata sudah menyadari niat terselubung Ellshora. Luke justru berencana membalikkan keadaan agar Ellshora yang jatuh cinta kepadanya. Di tengah persaingan ini, siapakah yang akan benar-benar terjerat dalam perangkap gairah yang membara?