
Seranjang Dengan Aktor Tampan
Bab 2
"Randy, mana Dave?" tanya Rosa.
"Dia lagi syuting dan tidak bisa izin, Tante. Jadi saya yang kesini, Tante tidak apa-apa?" tanya Randy asisten pribadi sang anak.
"Saya mungkin sudah tidak bernyawa jika wanita ini tidak menolong saya. kamu ambil uang di Atm lalu ganti uang Hana!" ucap Rosa.
"Iya Tante, Mbak terima kasih sudah menolong Tante Rosa," ucap Randy.
"Sama-sama. Karena sudah ada yang menjaga jadi saya pamit untuk kembali bekerja ya!" ucap Hana.
Rosa mengangguk, setelah uangnya di ganti Hana pun kembali ke mall tempatnya bekerja. Sialnya jalan menuju tempat kerjanya macet parah bahkan kendaraan sulit bergerak.
"Ada apa sih, Pak. Kok macet banget?" tanya Hana yang berulang kali melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ada syuting di depan katanya, Mbak. Artisnya yang namanya Dave katanya," ucap supir.
Mendengar nama idolanya Hana lupa akan segalanya, ia turun dari angkot tanpa membayar, meski di teriaki ia seperti tak mendengar. Hana berlari untuk melihat idolanya yang sedang melakukan syuting di jalan itu.
"Beneran Dave. Ternyata aslinya ganteng banget," ucap Hana.
Dengan tangan bergetar Hana meraih ponsel di saku lalu menyalakan kamera, ia merekam aktivitasnya yang berada di dekat lokasi syuting sang idola.
"Guys liat, tuh ada Dave Darian. Aslinya ganteng banget kan!" ucap Hana dengan ekspresi sangat senang.
Setelah selesai merekam ia meng-upload vidio tersebut ke story WhatsApp dan akun sosial media miliknya. Hingga tiba-tiba ponselnya berdering, Hana terkejut melihat nama orang di layar ponselnya.
"Matilah aku!" seru Hana seraya memukul pelan keningnya
Ponsel Hana terus berdering, wanita cantik itu ragu harus mengangkat atau mengabaikannya. Tapi ia kini sadar jika ia dalam masalah dan harus segera datang ke tempat kerjanya.
"Haduh gimana ini, jalan macet lagi," ucap Hana.
Gadis itu berlari di pinggir trotoar hingga beberapa kilometer sampai terlihat kemacetan tidak separah tadi.
"Bang ojek bang, anter saya ke mall Galaxi Square," ucap Hana.
"Saya bukan ojek pangkalan, Mbak. Harus pakai aplikasi," ucap abang-abang berjaket hijau tersebut.
"Please banget antar saya, nanti saya kasih dua puluh ribu deh sampai mall," ucap Hana.
"Yah si Mbak gimana sih, emang tarifnya segitu dari sini ke mall sana. Kalau gak pakai aplikasi nanti saya rugi Mbak," ucap Abang Ojol itu.
Hana menengok ke kanan dan kiri, di daerah tersebut memang tidak ada pangkalan ojek. Jika naik angkot pasti lama sampai karena masih sedikit macet dan terkadang angkot menunggu penumpang lain untuk naik atau turun di jalan.
"Yaudah saya kasih lima puluh ribu mau gak, Bang?" tanya Hana.
"Ya udah deh, saya juga lagi sepi order. Dari pada gak dapat uang sama sekali, gak apa-apa gak pakai aplikasi juga," ucap Abang Ojol itu.
Hana pun menaiki motor matic milik Abang Ojol, mereka berhenti di depan mall 20 menit kemudian. Sesuai yang dijanjikan Hana ia memberikan uang lima puluh ribu untuk perjalanan tersebut. Setelah turun dari motor Hana langsung berlari menuju tempatnya bekerja. Dengan nafas tersengal-sengal dan rambut mulai berantakan Hana sampai di tempatnya dan langsung mendapat tatapan tajam dari Lidia.
"Keruangan saya sekarang!" ucap Lidia.
Hana mengangguk dan mengekori langkah Lidya menuju ruangan leadernya tersebut. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Lidya kepadanya. Omelan pasti sudah pasti ia dapatkan dari dia yang akan membuat telinganya panas sepanjang hari.
Sesampainya di ruangan, Lidya langsung berkata dengan nada tinggi kepada Hana.
"Enak ya, orang-orang kerja kamu malah dateng ke lokasi syuting. Kamu mau makan gaji buta di sini, kamu pikir ini perusahaan bapak moyangmu!" Hardik Lidia.
"Maaf Mbak. Tadi hanya kebetulan saja," jawab Hana.
"Kamu pikir saya gak tau kalau kamu fans berat artis bernama Dave itu! Lihat casing handphone kamu saja foto dia, pasti saat kamu tahu dia syuting di sana kamu sengaja datang dan meninggalkan pekerjaan, Kan!" ucap Lidia.
"Mbak, saya benar-benar kebetulan lihat Dave syuting tadi. Kan Mbak Lidia tahu saya nganterin pelanggan yang tiba-tiba pingsan di sini tadi," ucap Hana.
"Alasan kamu tidak bisa diterima, terhitung sudah 2 jam lebih kamu keluar dari pekerjaan yang harusnya kamu kerjakan. Jika hanya mengantar ibu-ibu tadi, setengah jam harusnya sudah cukup," ucap Lidya.
"Saya tadi membantu mengurus administrasi Ibu itu, Mbak!" ucap Hana.
Hana tidak mungkin menceritakan kepada Lidya jika ia juga sempat ke toko perhiasan untuk menjual kalungnya, dan ia yang biayai administrasi rumah sakit ibu-ibu yang ia tolong tersebut.
"Harusnya cukup mengantarkannya saja ke rumah sakit, sampai di sana kamu bisa menelpon keluarganya, kan! Intinya alasan kamu tidak bisa saya terima, apalagi ini sudah beberapa kali kamu melakukan kesalahan yang sama," ucap Lidya.
Hana hanya bisa menunduk, memang bukan hanya sekali ia membantu seseorang yang membutuhkan dan melupakan pekerjaannya, hingga membuat leadernya itu marah kepadanya.
"Kamu sudah saya kasih surat peringatan sebanyak tiga kali, sesuai dengan SOP yang berlaku di sini, kamu dipecat karena tidak bisa profesional dalam bekerja," ucap Lidya.
Hana terkejut dan mendongakkan kepalanya, ia menatap leadernya itu dengan mata berkaca-kaca. Sudah 2 tahun ia bekerja di mall tersebut menjadi SPG di bagian underwear. Meskipun terkadang kesal mendengar omelan Lidya yang terasa panas di telinganya, tapi hanya tetap menjalankan pekerjaannya karena Ia membutuhkan uang untuk bertahan hidup, ia juga harus mengirimkan ke kampung untuk membantu ibunya membiayai sekolah adiknya.
"Mbak Lidya Saya minta maaf, Saya janji tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi. Tolong jangan pecat saya," ucap Hana memohon.
"Pada saat diberikan surat peringatan yang ketiga kamu juga mengatakan hal ini, tapi nyatanya kamu tetap melakukan hal yang sama. Jadi saya tidak bisa percaya dengan janji kamu, dan kamu harus membereskan barang-barang hari ini," ucap Lidya.
Hana terus memohon kepada Lidya, tetapi Lidya tidak goyah dengan keputusannya. Menurutnya apa yang sudah dia lakukan adalah hal yang memang jadi peraturan di tempat kerjanya.
Hana berjalan gontai keluar dari ruangan Lidya, lalu membereskan barang-barangnya di loker kemudian berpamitan pada teman-temannya.
"Makanya Hana, jadi orang jangan terlalu baik. Jangan kebiasaan jadi pahlawan kesiangan, kamu boleh menolong orang tapi juga ingat dengan pekerjaan kamu. Kalau sudah begini kan kamu sendiri yang susah," ucap Meli.
"Iya, Meli. Ya sudahlah mungkin emang rezeki aku di sini sudah habis. Aku harus berjuang untuk mencari pekerjaan yang lain," ucap Hana dengan nada lirih.
"Kamu jangan hapus nomor aku ya, nanti kalau ada info lowongan pekerjaan aku kabarin," ucap Meli.
Anda Mungkin Juga Suka





