
Seputih Mawar
Bab 2
Rasa penat yang melanda membuat Dinda memutuskan rehat sebentar. Di raihnya gawai di atas meja, tepat saat itu datanglah satu pesan.
"Hello!" sapa Shalu lewat pesannya yang datang.
"Hi!" jawab Dinda singkat.
"How r u?" katanya lagi, kembali pesannya hanya di singkat. "Hahh, apa memang udah biasa ya? Nulis di singkat-singkat gitu?" batin Dinda begitu membacanya.
"I am fine, and you?" jawab Dinda singkat lalu balik bertanya, sengaja memang dirinya memilih kata-kata yang singkat sadar diri akan kemampuannya.
"Ok, l am fine," jawaban yang datang dari Shalu.
Melihat ke layar gawai yang masih menyala senyum tipis terbit dari bibirnya. Ada pemberitahuan kalau Shalu mencoba melakukan panggilan video. Hal yang tak mungkin bisa, karena memang sengaja tak menginstal aplikasi meseger.
Tak pernah akan dia lupa saat memasang aplikasi itu di hari ke dua. Seseorang yang baru di konfirm pertemanannya, melakukan panggilan video tepat saat tengah malam.
"Kecilin suaranya!" kata Bayu suaminya dengan nada gusar. Segera Dinda menekan tanda menolak, dan melatakkan gawainya kembali. Dinda yang lupa mengaktifkan mode senyap menjadi ketar ketir saat terdengar ada pesan datang beberapa kali.
"Huahh!"
Terdengar suaminya menguap namun di hati Dinda dapat menangkap nada protes dari suaminya. Takut akan menjadi masalah dirinya hanya diam tak bersuara, namun dalam hatinya terucap janji tak akan lagi lupa mengaktifkan mode senyap menjelang waktu tidur.
Drrrrttt Drrrrrttt.
Getar gawai membangunkannya tanda sudah waktunya untuk bangun dan mempersiapkan bekal minum untuk suaminya yang hendak berangkat bekerja.
"Kasih tahu temanmu! Lain kali kalau mau telpon suruh siang hari!" kata Bayu, sepertinya kesal masih tersimpan di hatinya.
"Ya," jawab Dinda pelan tak ingin menambah kekesalan suaminya.
"Ambilkan masker!" perintah Bayu yang sedang sibuk bersiap-siap. Dinda pun segera berlalu ke kamar untuk mengambil masker seperti perintah suaminya. Saat masker di sodorkan pada Bayu, kembali suaminya berkata, "Kalau nggak penting blokir dia!"
"Ya nanti," sahut Dinda pelan.
"Send me your whatsapp number!" Kembali satu pesan datang dari Shalu membuyarkan lamunan Dinda.
"Next time," jawab Dinda yang masih sedikit trauma. Jadi Dia bilang lain kali saja.
"Ok" balas Shalu mengerti, namun kembali Dia mengirim pesan gambar.
"Wow," teriak Dinda dalam hati. Bagaimana matanya tak akan terbuka lebar melihat deretan kain sharee yang sangat memanjakan wanita.
"Send me other," pintanya agar memperlihatkan sisi lain dari toko yang di jaga Shalu. Meski tak yakin kalau Shalu akan paham dengan keinginannya, bagaimanapun Dia sadar kemampuan bahasa lnggrisnya.
"Call me!" jawab Shalu yang ternyata tahu maksud pesan darinya. Dan ternyata Dia mengirim gambar foto sebelahnya, isinya sama. Kain yang cantik di gantung berjejer rapi.
"Oh no," kata pesan yang di kirimnya buat Shalu.
"Why? What happen?" balas Shalu bertanya kenapa dan ada apa, wajar saja Dia heran.
"My headache," jawab Dinda jujur, bagaimana tidak sakit kepalanya melihat banyak kain cantik berjajar cantik. Pekerjaannya sebagai penjahit pasti membuatnya kepingin memiliki saat melihat kain yang motifnya cantik.
Kali ini datang lagi pesan dari shalu dengan emoji orang tertawa. Dan lalu di susul sebuah ucapan, "Thank you!"
"For?" tanya Dinda yang heran kenapa justru bukan dirinya yang berterima kasih.
"Your friendship, l am lonely," jawabnya, lalu kembali datang pesannya yang benar-benar membuat Dinda cukup terkejut, " l hate my life!"
"Apa? Dia berterimakasih hanya karena berteman dengannya?" batinnya sambil membaca ulang pesan yang baru saja datang.
"Dia kesepian, dan membenci hidupnya? Apa yang sebenarnya telah di laluinya?" batinnya kembali di penuhi beberapa pertanyaan. Akhirnya Dinda memberanikan diri mengetik beberapa huruf dan mengirimnya, "You married?"
Sambil menunggu jawaban dari pertanyaannya kembali Dia perbikir etis apa tidak ya sudah bertanya menikah atau tidak.
"Yes, but unlucky," katanya. Dinda hanya menunggu pesan yang sedang di ketik Shalu, namun benaknya merasa heran mengapa Dia bisa berkata tak beruntung.
"I am married diforce women, but just four month together she was die by accident," terang Shalu. Membacanya membuat mulut Dinda terkunci, pantas saja Dia bilang tak beruntung. Hanya empat bulan usia pernikahannya dengan wanita yang sudah janda, lalu istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan.
Pantas saja Shalu merasa kesepian, empat bulan pernikahan tentu waktu yang singkat untuk sebuah pernikahan.
Ting.
Datang lagi pesan berupa gambar wanita bule bersama seorang gadis kecil, wajah keduanya hampir mirip dan semua terlihat cantik.
" Your wife?" tanya Dinda tapi hatinya sangat yakin kalau Dia benar.
"Yes," jawab Shalu singkat, membuatnya merasa sedikit tak enak dalam hati.Dalam benaknya terlintas pemikiran kalau tlah membuka luka di hati Shalu yang baru beberapa hari di kenalnya. Akhirnya Dia mengirim pesan permintaan maaf, " So sorry."
"No problem," jawaban yang di terimanya membuatnya sedikit lega.
"Send me your whatsapp number," kata Shalu lagi dalam pesannya baru saja. Dinda yang merasa tak enak akhirnya memberikan juga nomor kontak whatsappnya.
"Ok," katanya lalu mengirim gambar setangkai mawar merah di sertai tulisan, "Thank you."
Tiba- tiba saja ada panggilan masuk, tak segera di terimanya Dia justru mengamati nomor yang terasa asing apalagi dua nomor depannya. Tapi rasa penasaran membuatnya menekan tombol hijau tanda terima.
Sedikit melebar kelopak matanya saat seraut wajah nampak di layar gawainya. Meski sudah pernah melihatnya tak urung Dia sedikit terkejut melihatnya. Apalagi saat sebuah senyum tersungging di bibirnya, manis sekali. Hal yang tak pernah di lihatnya dari beberapa foto yang pernah di unggah Shalu. Hampir semua fotonya terlihat ekpresi datar dan sorot mata lelah.
"Hello!" sapanya, membuyarkan pikiran Dinda.
"H Hi!" sambut Dinda agak gugup. Bagaimanapun Dia tak yakin akan bisa mengimbangi kemampuan bahasa lnggrisnya Shalu.
"How are you?" lanjutnya berbasa basi.
"I am fine," jawab Dinda lalu balas bertanya, "And you?"
"Fine to, and ...."
"Sorry!" tukas Dinda memotong ucapan Shalu.
"Why?" tanya Shalu yang keheranan.
"Lunch time," jawab Dinda jujur, memang semua cacingnya sudah berteriak minta di isi.
"Ok, thank you," sahutnya penuh pengertian. Setelah beberapa detik Shalu tak juga menghentikan panggilan, akhirnya Dinda menekan tombol merah agar panggilan terhenti seakan tahu yang akan dilakukannya Shalu justru melambaikan tangan seraya berkata, "Bye."
Sekilas senyum terbit dari bibirnya, refleks senyumpun mengembang di bibir Shalu.
Dan sejak hari itu hampir tiap dua atau tiga hari sekali Shalu minta ijin untuk melakukan panggilan video. Untunglah Dia selalu mengirim pesan lebih dulu, dan tak sekalipun langsung memanggil.
"Ahh benar-benar pria sopan Dia," kata Dinda dalam hati. Dinda memang tak salah menilai karena Shalu selalu bertanya lebih dulu apakah dia sedang sibuk atau tidak, dan bertanya kapan Dinda ada waktu untuk menerima panggilannya.
Seiring waktu yang berjalan Dinda menjadi nyaman saat berbincang dengan Shalu, meski sering tak bisa memahami maksud ucapannya namun Shalu selalu telaten mengulang ucapannya dan sesekali tangannya memperagakan maksud ucapannya.
Dinda yang sudah terbiasa berbincang dengan Shalu merasa ada yang aneh dalam hatinya saat lima hari berlalu namun tak ada kabar apapun darinya. Kini Dia mulai menyadari kalau dirinya sudah memberikan permintaan Shalu yang dulu dianggapnya angin lalu.
"Give me a small place in your heart!" ucapan Shalu saat video callnya yang ketiga kali. Yah saat panggilan hendak di akhiri Shalu meminta sedikit tempat dalam hatinya.
"Not promise," jawab Dinda saat itu karena memang tak ingin memberikan janji apapun. Toh dirinya sudah punya suami dan anak. Meskipun di akuinya saat ini hatinya tengah rapuh. Sudah dua kali Dia meminta nomor kontak gawai baru Bayu suaminya, dua kali pula Dia harus menelan kecewa.
Namun tetap saja hatinya merasa bersalah pada suaminya, dan sebelum semua terlanjur jauh maka dia memutuskan untuk berhenti menerima video call dari Shalu.
Anda Mungkin Juga Suka





