
Seputih Mawar
Bab 3
3
Keputusan Dinda telah bulat kini, jika nanti mereka berbincang Dia akan meminta Shalu berhenti menelponnya. Dirinya yakin akan sulit mengendalikan perasaannya lagi. Seperti tahu kalau sekarang sudah waktunya istirahat, satu pesan datang dari Shalu.
"Hello!" sapanya seperti biasa. Lalu kembali datang satu pesan seperti biasanya, "Can i video call you now?"
Yah Dia selalu bertanya, apakah bisa melakukan panggilan video. Tak pernah sekalipun langsung menelpon. Sikapnya yang sopan justru membuat Dinda sungkan untuk menolak, "Yes," jawabnya.
Tak menunggu waktu lama gawainya bergetar, Shalu benar saja Shalu yang memanggilnya. Segera di tekannya tombol tanda terima. Nampaklah wajah Shalu di layar, meski ada rasa heran di benaknya mengapa wajahnya terlihat agak sedikit pucat. Namun tekadnya sudah bulat untuk berhenti berbicara dengan Shalu.
"Hallo!" sapa Shalu lalu seperti biasanya menanyakan apa kabar Dinda, " How are you?"
"I am fine and you?" jawabnya yang memang baik-baik saja. Sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam akhirnya Dinda berkata, " Sorry."
"Why?" Shalu menyahut karena penasaran, wajar saja Dia merasa begitu obrolan baru beberapa menit dan Dinda sudah meminta maaf.
"Stop your call!" ucap Dinda dengan suara berat seperti ada beban di hatinya.
"What?" tanya Shalu seakan tak percaya akan permintaan Dinda agar berhenti memanggilnya.
"Stop your call!" Dinda mengulangi perkataannya lalu menggigit kedua bibirnya sendiri untuk mengurangi rasa sakit di dalam hatinya. Seketika matanya membulat melihat tangan kanan Shalu yang memegang dada sebelah kirinya, kemudian bernafas dengan tersengal sengal.
"Oh no! Sorry ... sorry ... sorry!" buru-buru Dinda meminta maaf setelah sadar apa yang sudah terjadi.
"Ya Alloh jangan sampai terjadi," Doa Dinda dalam hati air matanya menetes membasahi pipi melihat Shalu yang berguling kekanan kekiri sambil tetap memegangi dadanya. Melihatnya sulit bernapas Dinda sangat ketakutan.
"Shalu sorry ... sorry," kembali Dinda meminta maaf lalu berkata lagi, "You can call me any time, when you want!"
Dia hanya berharap rasa sakit Shalu mereda, jadi Dia tak peduli lagi akan niatnya berhenti berhubungan. Sebab itulah Dia mengijinkan Shalu menelponnya kapan saja Dia ingin. Dinda sangat takut jika penyakit Shalu menjadi fatal.
"So sorry Shalu," kata Dinda putus asa melihat Shalu yang masih kesulitan bernapas namun perlahan mulai tenang. Dinda segera meletakkan gawainya di meja dan menyandarkannya pada gelas.
"Sorry ... sorry," ucapnya dengan kedua telapak tangan menyatu di depan dada, sementara air mata tetap mengalir dari sudut mata membasahi wajahnya.
"Oh no, stop this!" ujar Shalu masih sedikit tersengal dan menggeleng gelengkan kepala.
"Sorry!" katanya lalu panggilan terhenti.
Melihat Shalu yang menghentikan panggilan membuat Dinda semakin merasa bersalah. Dia yang biasanya hanya menerima panggilan kini memanggil lebih dulu. Panggilan yang pertama tak diangkat, namun tak mau menyerah kembali di tekannya tombol hijau tanda panggilan.
Hatinya melonjak senang saat panggilan keduanya di angkat. "Are you ok?" katanya, terlihat nada cemas dari suaranya.
"Yes," katanya dengan wajah yang terlihat pucat namun sudah tenang. Kembali Dinda menyatukan tangan di depan sambil berkata meski serak, "So sorry ... please forgive me!"
"No!" sahut Shalu cepat sembari menggelengkan kepala, "Please never doing again" katanya meminta agar jangan pernah melakukannya lagi sambil menyatukan ke dua telapak tangan di dada, "Promise me!"
Dinda yang masih menyesal menganggukkan kepala.
"Never block me," pintanya. Senyumnya terkembang melihat Dinda menganggukkan kepala cepat. Seakan tak yakin dengan jawaban Dinda sekali lagi Shalu bertanya, "You sure will never block me?"
"Yes, l am promise you!" sahut Dinda yakin tak akan pernah memblokirnya.
"Thank you," katanya berterima kasih.
"Are you ok," tanya Dinda yang masih merasa bersalah, dapat terlihat jelas di matanya wajah itu lebih pucat dari tadi saat pertama berbincang.
"Yes!" Namun tangan kanannya terlihat sesekali memegang dadanya.
"Please go to your doctor," pinta Dinda agar Shalu pergi ke dokter.
"No this time," jawabnya lalu tersenyum seraya berkata, "Two days again,"
"Why," tanya Dinda penasaran kenapa harus menunggu dua hari lagi.
"To day the doctor going out of city," jelasnya kalau dokternya sedang pergi ke luar kota.
"But don't worry! I am after drink medicine," lanjutnya meminta agar Dinda tak khawatir karena dirinya sudah minum obat.
"Realy?" sahut Dinda tak percaya.
"Yes!" katanya lagi sambil berusaha tersenyum berusaha meyakinkan Dinda.
Melihat senyum tersungging di wajah Shalu membuat hati Dinda merasa lega. Ketakutannya yang berkurang membuatnya tersenyum lega.
"Thanks," katanya berterima kasih kemudian. Tadi sempat terlintas di benaknya pikiran buruk, jika Shalu keadaannya memburuk pasti sulit untuk sekedar memaafkan dirinya sendiri.
"Ok," jawab Shalu yang masih berusaha tersenyum, lalu kembali berkata, "Sorry."
"Why?" buru Dinda yang heran kenapa Shalu meminta maaf.
"I want sleep, effect medicine,"
yang merasa ngantuk efek dari obatnya.
"Ok, good sleep ... and good rest!" sahut Dinda mengucapkan selamat tidur dan beristirahat.
Dinda menghirup napas dalam dan membuangnya cepat begitu panggilan terhenti. Rasa lega menyelimuti hatinya.
Kini Dia menyadari kalau hanyalah seorang manusia biasa, yang hanya bisa pasrah menjalani semua takdirnya.
Tuhan pasti memberikan semua yang terbaik buat umatnya, Dia bisa berencana tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya.
Dua hari berlalu tanpa ada kabar dari Shalu, meski ada rasa khawatir namun Dinda hanya bisa berdoa agar Shalu baik-baik saja. Terkadang ada keinginan untuk menghubungi lebih dulu tapi takut mengganggu istirahatnya, jadi Dinda hanya bisa menunggu. Suara tanda ada pesan masuk membuat Dinda tersadar dari lamunan. Penuh harapan Dinda membuka menghidupkan gawainya, "Semoga ini dari Shalu" batinnya.
"Hello," sapanya lewat pesan yang datang.
"Hi," balas Dinda senang.
"Can l call you?" katanya meminta ijin melakukan panggilan.
"Yes," sahut Dinda.
Terlihat wajah segar di layar gawai membuat Dinda senang. Shalu juga ikut tersenyum membuatnya terlihat sangat manis.
"How are you?" sapanya dengan senyum yang masih tersungging.
"I am fine, and you?" jawab Dinda tetap bertanya bagaimana keadaan Shalu sekarang.
"Fine to," jawabnya.
"How time you going doctor?" tanya Dinda begitu ingat kalau sekarang dokternya mungkin sudah pulang. Jadi Dia menanyakan kapan Shalu akan pergi.
"In afternoon, he back this morning," terang Shalu jika Dia akan pergi sore nanti karena dokternya pulang pagi ini.
"Ok, take care!" kata Dinda meminta agar Shalu nanti berhati-hati.
"Ok, you to," jawab Shalu kembali tersenyum, dan meminta agar Dinda juga berhati-hati.
Saat panggilan berakhir ada pesan masuk dari Shalu, mata Dinda melebar ketika membuka pesannya. Nampak sebuah tangan yang memegang setangkai mawar merah dan bertuliskan kata, "l love you."
Sadar akan kemampuan bahasanya yang minim membuat Dinda berpikir bagaimana besok jika Shalu kembali menelpon. Tidak mungkin juga hanya bertanya kabar dan basa basi lainnya. "Kenapa tidak minta di ajari bahasanya Shalu ya?" Timbul ide untuk belajar bahasa negerinya Shalu. Senyumnya terkembang membayangkan hari esok.
Anda Mungkin Juga Suka





