Sampul Novel Senyum Itu Luka

Senyum Itu Luka

9.4 / 10.0
Terusir dari rumah akibat kesalahan masa lalu membuat Kamila depresi dan nyaris mengakhiri hidup. Beruntung, Arga datang menyelamatkannya. Dua tahun berselang, Kamila bangkit dan menjadi pembuat kue yang menuangkan cinta dalam setiap karyanya. Tak disangka, takdir mempertemukannya kembali dengan Arga melalui sebuah insiden yang sangat memalukan. Akankah pertemuan tak terduga ini menumbuhkan benih cinta di antara mereka setelah melewati masa-masa kelam?

Senyum Itu Luka Bab 1

“Dasar anak tidak berguna!” Sebuah cambukkan mengenai punggung Kamila.

“Cari uang yang banyak, bukannya main!”

Lagi-lagi cambukkan itu Kamila rasakan dari tangan seorang lelaki berstatus Ayah Kandung.

“Maaf, Yah,” ujar Kamila dengan wajah tertunduk dan duduk lesu di atas lantai.

Pak Angga –Ayah Kandung Nina—mengangkat wajah anaknya. Mencekik dengan kencang, sehingga sang Anak sulit mengambil napas. “Lo, itu dilahirkan buat cari uang! Bukan buat main-main nggak jelas!”

Bu Lesti menangis di atas kursi roda. Tak bisa berbuat apa-apa saat anak semata wayangnya disiksa sang Suami.

“I-iya, Ayah.” Kamila hampir kehilangan napas. Cekikan ini terasa kuat untuknya. Untung saja sang Ayah hanya melakukan penyiksaan itu sebentar. Begitu terlepas, ia langsung menghirup udara dengan rakus.

Telunjuk kanan Pak Angga menuding. "Awas, kalau gue lihat lo lagi main! Jangan harap gue lepasin, lo!"

Kamila mengangguk pelan. "Baik, Ayah."

"Mana duit? Gue butuh buat minum malam ini."

"Aku nggak ada uang, Yah."

"Halah, bohong!" Pak Angga merogoh saku baju anaknya. Menemukan selembar uang pecahan lima puluh ribu. "Katanya nggak ada uang! Ini apa? Daun!"

Kamila tersentak. Berusaha merebut uang sisa yang dimilikinya. "Jangan, Yah. Itu buat beli obat Ibu hari ini." Tangannya berusaha menggapai. Akan tetapi, karena tenaganya tak bagus. Ia kalah.

Pak Angga kembali mencambuk punggung Kamila, lalu pergi dengan membawa uang yang didapatkannya.

Tangis Kamila pecah disaksikan sang Ibu Kandung yang duduk di kursi roda karena lumpuh. Ia berusaha kuat. Menahan semua tekanan batin ini asalkan ayahnya tidak menyiksa sang Ibu.

"Sayang, maafin Ayahmu," kata Bu Lesti. Setetes air mata yang keluar dari netra Bu Lesti berubah menjadi deras. Setiap hari penyiksaan ini berlangsung dan sudah hampir setahun. "Kamu yang kuat, Nak."

Dada Kamila sesak. Rasa sakit di punggung sudah bukan hal luar biasa. Bahkan seluruh badannya pun dipenuhi luka.

Bu Lesti mendorong kursi rodanya. Menghampiri Kamila dan menyentuh pucuk kepala sang Anak. "Nak, kalau kamu nggak kuat. Tinggalkan Ibu aja. Ibu, in syaa Allah bisa bertahan."

Kamila menggelengkan kepala. Ia tak boleh menyerah. Gadis itu mengangkat kepala, menatap netra ibunya yang basah karena air mata. "Aku nggak mungkin tinggalin, Ibu. Sampai kapan pun, aku bakal ada di sisi Ibu. Maaf, belum bisa bawa Ibu pergi dari sini. Kerja sampinganku cuma cukup untuk bayar kuliah dan biaya obat."

Hati Ibu mana yang tak teriris tipis menyaksikan anaknya sendiri terluka dan berjuang sendiri. Lelahnya bekerja dan belajar tidak dapat sambutan baik di rumah. Kamila justru disuguhkan penyiksaan yang luar biasa.

Bu Lesti memegang kedua tangan anaknya. Menyatukannya dengan lembut. "Ibu, berdoa semoga hidupmu kelak bahagia. Bisa bertemu laki-laki baik yang menjagamu. Jaga diri baik-baik, Sayang. Kamu wanita berharga."

Kamila mengangguk pelan. Ia menyembunyikan wajah sendunya di pangkuan sang Ibu. Melepas jerit tangis dan meluapkan sakit di sekujur tubuhnya.

Hari-hari berlalu dilewati Kamila seperti biasa. Kuliah, bekerja di minimarket sampai jam delapan malam, dan pulang dengan perasaan was-was.

Tak jarang ia pun harus sarapan dengan pukulan dari sang Ayah yang baru saja pulang minum dengan teman-temannya.

"Mana makanannya?" Pak Angga melempar tudung saji yang berada di meja. Pasalnya, ia tidak melihat satu butir nasi pun di meja itu. "Kamila!"

Teriakan itu membuat Kamila yang sedang mengganti pakaian Bu Lesti terpaksa harus berhenti. Ia keluar kamar, mengayunkan langkah ke arah dapur dan melihat sang Ayah yang tak bisa mengendalikan emos

"Ayah," kata Kamila.

Gadis itu hendak mengambil tudung saji, tetapi ayahnya lebih dahulu menangkap tangan kanannya. Mencengkram kencang.

"Di mana makanannya? Lo, ngapain aja di rumah?" tanya Si Ayah. Sorot matanya tajam dan penuh kemarahan. "Dasar, Anak Nggak Becus!" Pak Angga menghempaskan tubuh Kamila ke tembok.

"Aw, sakit!" Kamila merasakan kepalanya membentur tembok. Rasa pusing pun mulai terasa.

Dengan berjalan sempoyongan Pak Angga mendekati Kamila. Menarik kembali lengan kiri anak gadisnya itu, dan berkata, "Kerjaan Lo apa di rumah ini?"

Kamila ketakutan. Rasanya sulit sekali mengambil napas.

"Ma-maaf, Yah," jawab Kamila.

Pak Angga kali ini membenturkan kening Kamila ke tembok. Mengamuk tak jelas. Pergi keluar dengan keadaan mabuk.

Setiap hari fase ini yang selalu dilewati. Dinikmati Kamila sebagai sarapan maupun makan malam. Menyedihkan bukan?

Kamila menguatkan diri. Balik ke kamar untuk menyelesaikan kegiatannya sebelum pergi bekerja ke minimarket.

Semua selesai. Kamila mendudukan ibunya di kursi roda. Memandangi wajah Beliau dengan sangat lekat. "Bu, Kamila berangkat kerja dulu, ya. Ibu, jaga diri. Assalamualaikum."

"Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan, Nak."

Dengan restu sang Ibu, Kamila pun berangkat bekerja. Upahnya memang tidak seberapa. Hanya saja saat ini pekerjaan tersebut yang bisa ia lakukan. Terkadang ia pun membawa gosokan tetangga ke rumah. Lumayan.

Kamila berjalan kaki dari rumah yang kecil itu. Menapaki jalanan kampung. Ya, dia hanya gadis kampung yang tidak jauh dari hiruk pikuk kota.

Untuk menuju jalan raya, ia perlu berjalan kaki sekitar delapan menit saja. Dari sanalah ia akan menaiki angkutan umum agar bisa sampai ke toko tempatnya bekerja.

Cuaca pagi hari ini terbilang cukup cerah. Kamila berjalan dengan tenang ke arah jalan raya. Hanya tinggal setengah kilo meter lagi. Sebentar. Tidak akan terasa.

Begitu sampai di dekat jalan raya. Kamila juga perlu menunggu kembali dengan sabar. Angkutan umum biasanya sangat penuh di pagi hari. Wajar saja.

"Semoga aja nggak telat," gumam Kamila.

Tiba-tiba sebuah motor hilang kendali menuju ke arah Kamila. Beruntung netra Kamila melihat, ia mundur cepat ke belakang untuk menghindari tabrakan. Lalu, pengendara motor itu terjatuh bersamaan dengan kendaraannya.

Kamila terkejut sekaligus histeris. Ia berlarian menghampiri. Melihat keadaan si Pengendara yang tergeletak.

"Mas, mas, bangun!" ujar Kamila mencoba menyadarkan. Tak ada reaksi. Kamila melihar sekitar. "Tolong! Ada kecelakaan, Tolong!"

Tidak berapa lama ada sebuah angkutan umum yang lewat. Supirnya berhenti dan keluar.

"Tolong, Pak. Mas-nya nggak sadar," kata Nina dengan khawatir.

"Bawa ke rumah sakit aja, Mbak. Saya yang antar," ujar si Supir.

Kamila setuju. Mereka menggotong tubuh lelaki muda itu ke dalam angkutan umum yang ternyata ada dua orang.

Singkat cerita, Kamila ikut ke rumah sakit. Ia tak mengenal siapa lelaki ini. Namun, rasa kemanusiaannya tentu berfungsi dengan baik.

Lima belas menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit terdekat. Supir tadi pamit. Kamila tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Sebab, pihak rumah sakit belum mengetahui keluarga korban. Terpaksalah ia menunggu. Sebelum itu, ia mengirimkan pesan pada rekan kerjanya.

Si lelaki mendapatkan perawatan di ruangan Unit Gawat Darurat. Sudah sadar juga dan bisa diajak komunikasi. Kamila lega.

"Kamu yang antar aku ke sini? Terima kasih," kata si Lelaki.

Kamila mengangguk pelan. "Iya, Mas. Sama-sama."

Pandangan si Lelaki tidak beranjak satu detik pun dari Kamila. Wajah Kamila memikatnya pada pandangan pertama. "Apa boleh minta nomor ponselnya? Kalau boleh."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Senyum Itu Luka

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel En-PD158
8.7
Tiga tahun menikah, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai dari istrinya demi menyelamatkan putra kandungnya bersama Lin Yanran yang menderita leukemia. Ia memohon izin untuk memiliki anak lagi dengan sang mantan agar sel bayi baru lahir itu bisa menjadi obat, sambil berjanji akan kembali setelah misi medis itu selesai. Namun, di tengah tangis kepedihan suaminya, sang istri menemukan pesan provokatif dari Yanran yang sudah menanti Yu'an untuk segera menghamilinya malam ini juga.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika dan mentornya, Charli, mengelola ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali. Di sana, Randika jatuh hati pada Andini Wijaya, seorang wanita mandiri pemilik sekolah. Namun, asmara mereka terancam saat Junot, mantan Andini, mendadak kembali. Di sisi lain, adik Andini yang bernama Lily berambisi merebut Randika demi mendapat pengakuan sang ayah, Sigit Wijaya. Terjebak dalam dilema masa lalu dan ambisi keluarga, mampukah cinta Randika dan Andini bertahan?
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Cyra Alesha, mahasiswi cantik berusia dua puluh tahun, harus berjuang di kota besar dengan bekerja paruh waktu. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat ia terjebak kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam itu tega menginjak harga diri Cyra dan menyeretnya ke dalam penderitaan. Meski disiksa oleh kekejaman sang pewaris tunggal, Cyra justru terjebak dalam pesonanya. Mampukah ia bertahan atau justru memilih berontak demi membebaskan diri?
Sampul Novel Song For Luna
8.9
Pertemuan singkat di Bandung menjadi awal mula hubungan antara Luna dan Alvino. Bermula dari pertukaran nomor telepon dan tawaran menjadi pemandu wisata, Luna tidak menyangka bahwa perkenalan sederhana itu akan mengubah hidupnya secara drastis. Kehadiran Vino membawa dinamika emosional yang penuh gejolak layaknya roller coaster. Kini, Luna harus menghadapi berbagai badai persoalan yang datang silih berganti dan menentukan apakah ia akan menyerah atau terus berjuang.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan