
Sekretaris Pengkhianat
Bab 2
Dunia seolah runtuh di atas kepala Scarlett. Setelah diusir dari kantor Daniel, dipecat, dan dicampakkan tanpa belas kasihan, ia mendapati dirinya terdampar di tengah kota Jakarta yang kejam, tanpa arah dan tanpa harapan. Air mata sudah kering di pipinya, digantikan oleh kekosongan yang menyesakkan. Perutnya yang mulai membuncit menjadi pengingat pahit akan cinta yang telah dihancurkan, dan beban baru yang harus ia pikul sendirian.
Pencarian pekerjaan menjadi neraka tersendiri. Dengan riwayat pekerjaan yang berakhir dengan "dipecat" dan perut yang semakin membesar, tak ada satu pun pintu yang terbuka baginya. Setiap wawancara berakhir dengan penolakan halus, tatapan iba, atau bahkan tatapan curiga yang seolah menuduhnya. Scarlett mencoba melamar di berbagai tempat, dari staf administrasi hingga resepsionis, namun selalu berakhir dengan kekecewaan. Setiap penolakan mengikis sedikit demi sedikit semangatnya, mengancam untuk menenggelamkannya dalam keputusasaan yang tak berujung.
Satu-satunya tempat yang mau menerimanya adalah sebuah warung makan kecil di pinggiran kota. Pekerjaannya sebagai pencuci piring, dengan upah harian yang pas-pasan, nyaris tidak cukup untuk menyambung hidup, apalagi untuk biaya persalinan yang semakin mendekat. Tangan Scarlett melepuh, punggungnya pegal, dan kakinya membengkak setiap malam. Dinginnya air sabun dan tumpukan piring kotor menjadi teman setianya, sementara pikirannya terus berkelana memikirkan masa depan bayinya.
"Hanya segini?" Scarlett bergumam pada dirinya sendiri, menatap lembaran uang lusuh di tangannya. Upah mingguannya bahkan tidak cukup untuk membeli satu set perlengkapan bayi yang paling sederhana. Panik mulai merayapi hatinya. Waktu terus berjalan, dan perutnya semakin membuncit, menjadi saksi bisu akan kehidupan baru yang sebentar lagi akan lahir, tanpa persiapan finansial sedikit pun.
Suatu malam, setelah seharian penuh berkutat dengan tumpukan piring berminyak, Scarlett kembali ke kamar kos sempitnya yang pengap. Ia berbaring di atas kasur tipis, membelai perutnya yang kini terlihat jelas di bawah daster longgar. "Bagaimana ini, Nak?" bisiknya lirih, air mata menetes membasahi bantal. "Ibu harus mencari uang..."
Ia meraih ponsel lamanya, mencari-cari pekerjaan sampingan. Iklan-iklan lowongan biasa sudah tak menarik perhatiannya lagi. Ia membutuhkan uang, cepat, dan banyak. Matanya menyusuri layar, berpindah dari satu iklan ke iklan lain, hingga akhirnya, sebuah iklan mencolok menarik perhatiannya. "Peluang Karier Eksklusif: Wanita Pendamping CEO. Gaji Fantastis. Privasi Terjamin."
Jantung Scarlett berdebar kencang. Ia tahu betul apa artinya "wanita pendamping CEO" dalam konteks seperti ini. Itu adalah nama lain untuk... wanita jalang. Rasa jijik dan mual menyeruak di tenggorokannya. Ia, Scarlett Chen, mantan sekretaris Daniel Lee, seorang wanita terhormat, kini dihadapkan pada pilihan mengerikan ini. Harga dirinya menjerit, berontak. Namun, wajah polos bayinya yang belum lahir seolah membayangi, memaksanya untuk menelan pahitnya kenyataan. Uang. Ia membutuhkan uang untuk melahirkan anaknya. Demi bayinya, ia akan melakukan apa saja.
Dengan tangan gemetar, Scarlett menghubungi nomor yang tertera di iklan. Suara seorang wanita paruh baya menjawab, ramah namun terdengar dingin. Setelah beberapa pertanyaan singkat dan detail yang membuat Scarlett merasa semakin kecil, ia diberi alamat sebuah gedung pencakar langit di pusat kota. Pertemuan dijadwalkan malam itu juga.
Malam harinya, dengan jantung berdebar tak karuan, Scarlett tiba di alamat yang diberikan. Gedung itu menjulang tinggi, penuh kemewahan yang kontras dengan keadaannya saat ini. Ia disambut oleh seorang pria bertubuh kekar dengan setelan rapi, yang langsung membawanya ke sebuah ruangan di lantai teratas. Di sana, seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal menunggunya.
"Nona Scarlett Chen?" tanya wanita itu, suaranya menusuk.
Scarlett mengangguk kaku.
"Baiklah, saya akan langsung pada intinya," kata wanita itu, menyerahkan selembar kontrak. "Ini adalah perjanjian kerja Anda. Anda akan melayani hasrat seksual klien kami, seorang CEO. Privasi sangat kami utamakan. Anda harus siap kapan pun klien membutuhkan. Kompensasi akan dibayarkan setiap kali Anda menyelesaikan tugas. Baca baik-baik, dan tanda tangani jika Anda setuju."
Mata Scarlett menyapu setiap baris tulisan di kontrak itu. Setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris hatinya. "Melayani hasrat seksual... kapan pun klien mau..." Itu adalah perjanjian untuk menjual tubuhnya, martabatnya. Namun, nominal angka yang tertera di bagian kompensasi membuat matanya terbelalak. Cukup. Cukup untuk biaya persalinan, bahkan lebih. Air mata sudah tidak punya tempat lagi di matanya. Hanya ada rasa dingin, kebas, dan tekad yang kuat. Demi bayinya.
Dengan tangan gemetar, ia meraih pena dan menandatangani kontrak. Sebuah bagian dari dirinya mati pada saat itu.
Setelah penandatanganan kontrak, Scarlett langsung dibawa ke sebuah kamar yang gelap. Pria bertubuh kekar tadi mengantarnya, lalu mendorongnya masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi "klik" yang mematikan.
Kamar itu gelap gulita, hanya ada sedikit cahaya remang-remang dari celah gorden yang tertutup rapat. Aroma maskulin yang asing menusuk hidungnya. Jantung Scarlett berdebar tak keruan, ingatan akan malam di hotel yang mengerikan itu kembali menghantamnya. Trauma. Ketakutan mencengkeramnya. Ia merasa akan muntah. Namun, ia tidak punya pilihan. Uang. Ingat uang. Demi bayimu, Scarlett.
Ia melangkah maju perlahan, matanya mencoba beradaptasi dengan kegelapan. Di tengah ruangan, sebuah ranjang besar terlihat samar. Di atasnya, terbaring sesosok tubuh pria.
"Kau sudah datang, Nona?" Suara berat dan serak itu memecah keheningan, membuat Scarlett tersentak. Suara yang asing, namun entah mengapa, terasa familiar, menimbulkan sedikit rasa takut yang tak bisa dijelaskan.
Scarlett tidak menjawab. Ia hanya berdiri terpaku, gemetar.
"Mendekatlah," perintah suara itu. "Dan lepaskan pakaianmu. Aku ingin kau memuaskanku."
Perintah itu bagai cambuk yang menghantam jiwanya. Scarlett memejamkan mata, menahan gelombang jijik yang menguasainya. Dengan tangan bergetar, ia mulai melepaskan satu per satu pakaiannya. Gaun sederhana, lalu pakaian dalamnya. Setiap helai kain yang terlepas, seolah mengoyak sedikit demi sedikit harga dirinya. Dinginnya udara kamar menyentuh kulitnya yang telanjang, membuat bulu kuduknya berdiri.
"Sekarang, naiklah ke atasku," perintah pria itu lagi, suaranya kini terdengar sedikit tidak sabar.
Scarlett melangkah mendekat, tubuhnya terasa kaku. Ia merangkak naik ke atas ranjang, merasakan kehangatan tubuh pria asing itu. Ia memejamkan mata, mencoba membayangkan wajah bayinya, mencoba mencari kekuatan dari sana. Ia naik, memposisikan dirinya di atas tubuh pria itu, merasakan kulit telanjangnya bersentuhan dengan kulit telanjang sang klien.
Pria itu mendesah pelan. "Kau... kenapa perutmu agak membuncit?" tanyanya, suaranya sedikit ragu, disentuhnya perut Scarlett yang sedikit menonjol. Sentuhan itu membuat Scarlett tersentak. Apakah klien ini menyadari? "Apakah kau sedang hamil?"
Jantung Scarlett berdegup kencang. Ia menahan napas. Jujur atau berbohong? Jika ia mengaku hamil, mungkinkah pekerjaannya dibatalkan? Ia sangat membutuhkan uang ini.
"Ti-tidak..." Scarlett berbohong, suaranya serak. "Mungkin... hanya karena banyak makan."
Pria itu tidak berkomentar lebih lanjut, hanya mendesah pelan. "Tidak apa-apa dengan bayimu jika kau sedang hamil?" tanyanya lagi, kali ini terdengar sedikit lebih serius.
Scarlett merasakan gelombang rasa bersalah. Ia harus tetap berbohong. "Tidak. Saya tidak hamil."
Pria itu menghela napas, lalu tangannya meraih pinggul Scarlett, menariknya lebih dekat. "Baiklah. Sekarang, puaskan aku, Nona."
Dengan air mata yang tak terlihat dalam kegelapan, Scarlett mulai menjalankan "tugasnya." Ia menggerakkan pinggulnya, menyesuaikan diri dengan keinginan pria itu. Ia melayani setiap sentuhan, setiap desahan, setiap perintah, seolah tubuhnya bukan miliknya sendiri. Pikiran Scarlett melayang jauh, berusaha melepaskan diri dari realitas yang mengerikan ini. Ia membiarkan pria itu memasukkan penisnya ke dalam rahimnya, menggerakkan tubuhnya mengikuti irama yang asing.
"Ahhh... ya... begitu... lebih cepat..." desah pria itu, suaranya parau. "Kau... kau lumayan... ghh..."
Scarlett menelan ludah, menahan rasa mual yang terus menyeruak. Ia menggerakkan tubuhnya lebih cepat, lebih dalam, seperti robot yang diprogram. Setiap desahan pria itu adalah siksaan baginya. Ia memejamkan mata, mencoba memblokir semua sensasi, semua rasa jijik.
Pria itu tiba-tiba menarik diri, lalu dengan cepat, memaksa penisnya masuk ke dalam mulut Scarlett. "Sekarang, hisap aku..." perintahnya, suaranya penuh nafsu.
Scarlett terkesiap. Lagi. Ingatan tentang malam di hotel itu kembali menghantuinya. Air mata menggenang di matanya, namun ia tidak bisa melawan. Ia harus melakukannya. Demi bayinya. Ia menghisap, mengulum, mengikuti setiap instruksi pria itu, membiarkan tubuhnya dinodai, dihancurkan. Rasa pahit dan amis memenuhi mulutnya. Ia ingin berteriak, ingin muntah, namun ia menahannya.
Pria itu mendesah panjang, "Ohhh... ya... itu... itu dia..."
Scarlett terus melakukannya, hingga akhirnya, pria itu mengerang panjang, dan cairan hangat memenuhi mulutnya. Ia menelan, memejamkan mata, membiarkan rasa jijik membakar tenggorokannya.
"Bagus... kau memang wanita yang tahu cara memuaskan pria..." desah pria itu, suaranya kini terdengar puas. Ia menarik diri, lalu berbaring lagi di ranjang. "Kau boleh istirahat sekarang. Besok pagi, kau akan menerima bayaranmu."
Scarlett tidak menjawab. Ia hanya berbaring di samping pria itu, terisak pelan tanpa suara dalam kegelapan. Jiwanya kosong, hampa.
Pagi harinya, cahaya mentari mulai menembus celah-celah gorden yang terbuka sedikit, menerangi kamar yang tadinya gelap gulita. Scarlett terbangun, merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Ia membuka mata perlahan, mencoba membiasakan diri dengan cahaya. Di sampingnya, pria yang semalam melayaninya masih terbaring pulas.
Pria itu mendesah pelan, lalu membuka matanya. Ia mengerjap, mengamati sekeliling kamar, lalu tangannya meraba-raba nakas di samping ranjang, mencari saklar lampu tidur. "Ah, sudah pagi rupanya," gumamnya, suaranya terdengar lebih jelas dan... familiar.
Scarlett merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Suara itu... tidak mungkin. Ia sudah pernah mendengar suara itu ribuan kali.
Klik. Lampu tidur menyala, memancarkan cahaya kuning lembut yang menerangi seluruh ruangan.
Dan di sampingnya, di atas ranjang yang sama, telanjang, terbaring... Daniel Lee.
Dunia Scarlett terbalik. Otaknya seolah berhenti bekerja. Jantungnya mencelos, berdetak dengan irama tak beraturan. Daniel? Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin.
Daniel, yang juga baru saja terbangun sepenuhnya, menggosok matanya. Pandangannya beralih dari lampu ke sampingnya, lalu membeku saat melihat Scarlett. Mata Daniel membelalak. Wajahnya yang semula tenang, kini berubah pucat pasi, lalu memerah padam karena amarah yang tiba-tiba membuncah.
"Scarlett?" Suaranya rendah, penuh keterkejutan dan kemarahan yang membakar. "Kau?!"
Scarlett terkesiap, tubuhnya menegang. Ia ingin berteriak, ingin menjelaskan, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ini adalah mimpi buruk terburuk yang pernah ia alami.
Daniel bangkit dari ranjang, wajahnya mengeras, matanya berkilat-kilat penuh amarah dan jijik. "Jadi ini pekerjaanmu? Menjadi wanita jalang? Aku tidak percaya! Jadi benar semua tuduhanku kemarin! Kau memang wanita murahan, Scarlett! Wanita jalang yang sering gonta-ganti pasangan, melayani hasrat siapa saja demi uang!"
Setiap kata Daniel bagai pisau yang menusuk jantung Scarlett. Ia tidak bisa menahan lagi. Semua rasa sakit, keputusasaan, dan amarah yang selama ini ia pendam, meledak keluar.
"Terserah kau mau bilang apa, Daniel!" Scarlett berteriak, air mata membanjiri pipinya. "Hina aku! Caci maki aku! Aku tidak peduli! Kau tidak tahu apa-apa! Kau tidak tahu betapa sulitnya aku harus bertahan hidup setelah kau mengusirku! Kau tidak tahu betapa putus asanya aku mencari uang untuk biaya persalinan anak ini!"
Scarlett menunjuk perutnya yang membuncit. "Ya, aku melakukan ini! Aku menjadi wanita jalang! Aku menjual tubuhku! Tapi itu semua karena kau! Karena kau mencampakkanku, karena kau tidak percaya padaku! Karena kau membuangku dalam keadaan hamil! Aku butuh uang, Daniel! Aku butuh uang untuk melahirkan anakmu! Anak yang tidak kau inginkan!"
Daniel terdiam, terkejut dengan luapan emosi Scarlett. Matanya menatap perut Scarlett, lalu kembali ke wajahnya, penuh keraguan. Anakku?
"Kau pikir aku senang melakukan ini?!" Scarlett melanjutkan, suaranya serak karena tangisan. "Aku jijik pada diriku sendiri! Aku membenci setiap detik yang aku lalui di sini! Tapi aku harus! Aku tidak punya pilihan lain! Demi anakku! Anak kita!"
Daniel melangkah mundur, keterkejutan dan kemarahan bercampur aduk di wajahnya. Ia melihat air mata di mata Scarlett, kesedihan yang tulus, dan perut yang memang terlihat membuncit. Apakah benar Scarlett hamil anakku? Dan semua ini... ia lakukan karena aku?
Namun, pikiran itu segera ditepis oleh kemarahan yang kembali membakar. "Bohong! Kau selalu berbohong! Kau pikir aku akan percaya lagi? Kau menjijikkan, Scarlett! Pergi dari sini! Sekarang juga!"
Anda Mungkin Juga Suka





