Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sekretaris Pengkhianat

Sekretaris Pengkhianat

Diusir dalam keadaan hamil, Scarlett Chen harus menelan kepahitan saat Daniel Lee menuduhnya berselingkuh. Sebagai CEO kejam yang tumbuh di dunia mafia, Daniel tidak mengenal ampun bagi pengkhianat. Lima tahun berlalu, Scarlett kembali dengan identitas baru dan rencana besar di hatinya. Akankah pertemuan ini menjadi ajang balas dendam yang setimpal, atau justru menjerat mereka kembali dalam lingkaran obsesi gelap yang sulit untuk diputuskan?
Bab
Bagikan

Bab 3

Napas Scarlett tercekat di tenggorokan. Kata-kata Daniel bagai cambuk panas yang menguliti harga dirinya. Rasa malu, marah, dan sakit bercampur aduk, membakar seluruh jiwanya. Ia bahkan tidak punya kekuatan untuk membalas, untuk membela diri lagi. Untuk apa? Daniel sudah memutuskan hukumannya, dan ia tidak akan pernah percaya. Tubuhnya gemetar hebat, namun ia berusaha tegar. Ia tidak akan membiarkan Daniel melihatnya hancur lebih dari ini.

Dengan tangan gemetar, Scarlett meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Setiap gerakan terasa berat, seolah beban ribuan kilogram menimpanya. Ia mengenakan kembali gaun yang tadinya koyak, menutupi tubuhnya yang telanjang, meskipun ia tahu, kehormatannya sudah terkoyak lebih parah dari kain itu. Matanya memerah, namun ia menahan air mata yang ingin tumpah. Ia tidak akan menangis di hadapan Daniel lagi. Tidak akan.

Tanpa sepatah kata pun, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Daniel, Scarlett melangkah gontai menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya terbuat dari timah. Ia tidak peduli lagi akan kemana, atau apa yang akan terjadi padanya. Yang ia tahu, ia harus keluar dari ruangan ini, dari pandangan Daniel yang memuakkan.

Saat tangannya meraih gagang pintu, sebuah suara menghentikannya.

"Mau kemana kau?" Suara Daniel dingin, penuh otoritas.

Scarlett tidak berbalik. "Bukan urusanmu," jawabnya lirih, suaranya serak.

"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah menodai ranjangku, setelah semua kebohonganmu itu?" Daniel berkata, suaranya tajam, menusuk. "Kau tidak bisa lepas dariku semudah itu, Scarlett."

Jantung Scarlett berdegup kencang. Ia memejamkan mata, menggertakkan gigi. "Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan padamu, Daniel. Kau sudah mengambil semuanya."

"Oh, ya? Kita lihat saja nanti." Daniel bangkit dari ranjang, meraih jubah mandinya dan mengenakannya dengan gerakan cepat. "Kau masih berhutang padaku, Scarlett. Hutang atas penghinaanku."

Scarlett tidak menjawab. Ia membuka pintu dan melangkah keluar, tanpa menoleh ke belakang. Koridor hotel terasa panjang dan tak berujung. Setiap langkah adalah penderitaan, setiap hembusan napas adalah siksaan. Ia terus berjalan, berjalan menjauh dari Daniel, dari kehancuran yang ia tinggalkan di belakangnya.

Daniel menatap pintu yang tertutup di belakang Scarlett dengan mata menyala. Rahangnya mengeras, kemarahan masih membakar hatinya. Gadis itu... Scarlett! Berani-beraninya ia muncul lagi di hadapannya, apalagi dalam kondisi seperti ini! Daniel merasa terhina, martabatnya diinjak-injak. Ia, CEO Daniel Lee, ditipu mentah-mentah oleh wanita yang pernah dicintainya. Wanita itu bahkan berani menjual tubuhnya! Dan ia, bodohnya, semalam bahkan menikmati sentuhannya!

Geram, Daniel meraih ponselnya di nakas. Dengan jari gemetar, ia mencari kontak "Liam".

"Liam!" bentak Daniel begitu panggilan tersambung. Suaranya penuh kemarahan yang tertahan.

"Ya, Tuan Daniel?" Suara Liam terdengar tenang di seberang sana.

"Kenapa kau begitu bodoh?!" raung Daniel. "Kenapa kau tidak mengenali wanita itu?! Kenapa kau tidak memberitahuku?!"

Liam terdiam sesaat. "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu maksud Anda."

"Wanita jalang yang kau kirimkan ke kamarku semalam! Wanita itu Scarlett Chen! Mantan sekretarisku! Mantan kekasihku! Apa kau pura-pura tidak tahu?!"

Terdengar helaan napas dari Liam. "Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu bahwa wanita yang melamar pekerjaan itu adalah Nona Scarlett. Nama yang tertera di aplikasi berbeda, Tuan. Saya hanya mengikuti prosedur."

Daniel mendengus kesal. "Alasan! Pokoknya, aku tidak mau dia lagi. Cari wanita lain. Sekarang juga!"

"Maaf, Tuan," kata Liam lagi, suaranya kini terdengar sedikit ragu. "Tapi... Nona Scarlett sudah menandatangani kontrak perjanjian, Tuan. Selama satu tahun."

Ucapan Liam bagai petir di siang bolong. Daniel terkesiap. Kontrak perjanjian? Selama satu tahun? Darah Daniel mendidih. Jadi, ia tidak bisa menyingkirkan Scarlett begitu saja? Wanita itu akan terus menjadi bagian dari hidupnya, bagian dari lingkaran setan ini?

Kemarahan Daniel berubah menjadi senyum sinis. Sebuah ide gila mulai terbentuk di benaknya. Ia tidak bisa menyingkirkan Scarlett? Baiklah. Jika begitu, ia akan membuat hidup Scarlett menderita. Ia akan membuat Scarlett menyesal telah menipunya, menyesal telah mengkhianatinya.

"Tuan?" suara Liam memecah lamunannya. "Apakah ada masalah, Tuan?"

"Tidak. Tidak ada masalah," jawab Daniel, suaranya kini terdengar tenang, terlalu tenang. "Biarkan saja. Aku tidak masalah jika Scarlett Chen menjadi 'wanita jalangku'."

Liam di seberang sana terdengar sedikit bingung, namun ia tidak berani bertanya lebih lanjut. "Baik, Tuan. Apakah ada perintah lain?"

"Tidak. Aku akan menghubungimu nanti." Daniel mematikan ponselnya, senyum sinis masih terpampang di wajahnya.

Ia bangkit dari ranjang, berjalan ke arah jendela, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai ramai di bawah sana. Matanya berkilat penuh rencana jahat. Scarlett Chen, kau ingin bermain? Baiklah, kita akan bermain. Kau akan tahu rasa sakit yang sesungguhnya. Kau akan menyesal telah menipu Daniel Lee. Hidupmu akan menjadi neraka. Dan aku akan memastikan itu.

Rasa sakit karena dikhianati masih membekas, namun kini rasa itu bercampur dengan tekad baja untuk membalas dendam. Daniel, yang terbiasa hidup dalam dunia hitam mafia, tempat kekerasan dan pengkhianatan adalah santapan sehari-hari, tidak mengenal belas kasih. Ia akan membuat Scarlett membayar mahal.

Beberapa hari berikutnya adalah siksaan bagi Scarlett. Ia tidak bisa melarikan diri dari kontrak itu. Setiap kali ponselnya berdering, jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, itu adalah panggilan untuk "bertugas". Setiap tugas adalah siksaan, setiap sentuhan adalah pisau yang mengiris jiwanya. Ia melayani para pria asing, wajah-wajah yang berbeda, namun rasa jijik yang sama selalu menghantuinya. Ia harus menelan pahitnya kenyataan, menekan semua emosinya, dan hanya fokus pada satu hal: uang. Uang untuk bayinya.

Perutnya semakin membesar, dan itu membuat pekerjaannya semakin sulit. Beberapa klien menatapnya dengan tatapan aneh, beberapa bahkan menolak untuk melanjutkan begitu mereka menyadari perutnya. Scarlett harus berbohong lagi, mengatakan bahwa ia hanya gemuk, atau bahwa ia sedang sakit. Setiap kebohongan terasa seperti ludah di wajahnya sendiri.

Namun, di antara semua klien itu, ada satu yang paling sering memanggilnya. Daniel.

Setiap kali Daniel yang memanggil, rasa takut dan jijik Scarlett berlipat ganda. Daniel selalu meminta agar lampu kamar dimatikan, seolah ia tidak ingin melihat wajah Scarlett. Namun, setiap sentuhan Daniel terasa lebih menyakitkan daripada sentuhan klien lain. Setiap desahan Daniel adalah pengingat akan pengkhianatan, akan cinta yang hancur.

Suatu malam, Scarlett dipanggil ke apartemen Daniel lagi. Ia melangkah masuk ke kamar yang gelap, bau parfum maskulin yang familiar menyambutnya. Daniel sudah berbaring di ranjang.

"Naiklah," perintah Daniel, suaranya dingin.

Scarlett menurut. Ia naik ke atas tubuh Daniel, merasakan otot-otot tegang di bawah kulitnya. Keheningan mencekam. Hanya napas mereka yang terdengar.

"Kenapa kau tidak memakai pakaian dalammu?" Daniel bertanya tiba-tiba, suaranya rendah.

Jantung Scarlett berdebar. Ia lupa. Dengan gemetar, ia mencoba untuk turun. "Maaf, Tuan. Saya lupa-"

"Jangan bergerak," potong Daniel. "Biarkan saja. Aku ingin kau merasakan setiap sentuhanku."

Scarlett memejamkan mata, menahan rasa sakit di dadanya. Daniel memang sengaja. Ia ingin menyiksanya.

Daniel memegang pinggul Scarlett, menariknya lebih dekat. "Kau ingat bagaimana dulu kita bersama, Scarlett?" bisiknya, suaranya serak. "Bagaimana kau selalu memohon padaku?"

Air mata Scarlett mulai menetes. "Jangan... jangan sebut-sebut masa lalu."

"Kenapa? Kau malu?" Daniel tertawa sinis. "Kau lupa bagaimana kau memelukku setiap malam, bagaimana kau berjanji akan selalu setia padaku?"

Setiap kata Daniel adalah tusukan. Scarlett tidak menjawab, hanya membiarkan Daniel melakukan apa yang diinginkannya. Ia mencoba mematikan perasaannya, membiarkan tubuhnya bergerak seperti boneka.

"Kau tahu, Scarlett," Daniel melanjutkan, "aku tidak pernah membayangkan kau akan jatuh serendah ini. Menjadi wanita jalang, melayani setiap pria demi uang."

Scarlett menggigit bibirnya, menahan isakan. "Aku melakukan ini demi anakku, Daniel. Anakmu."

"Anakku?" Daniel tertawa meremehkan. "Kau masih berani menyebutnya anakku setelah semua itu? Anak hasil perselingkuhanmu dengan pria lain?"

"Aku tidak pernah berselingkuh!" teriak Scarlett, tidak bisa menahan diri lagi. "Aku dijebak! Aku tidak pernah melakukan apapun dengan lelaki itu!"

"Cukup!" Daniel membentak. "Aku muak dengan kebohonganmu itu. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kau bisa berbohong pada dunia, tapi tidak padaku."

Ia menggerakkan pinggulnya dengan kasar. "Nikmati ini, Scarlett. Ini adalah balasan untuk semua kebohonganmu."

Scarlett hanya bisa pasrah, membiarkan Daniel menyiksanya, baik fisik maupun mental. Setiap kali Daniel bersamanya, ia selalu mengatakan hal-hal yang menghancurkan hatinya, mengingatkan pada pengkhianatan yang tidak pernah ia lakukan. Daniel seolah ingin memastikan Scarlett menderita, ingin membalas dendam atas sakit hatinya.

Beberapa bulan berlalu, dan perut Scarlett semakin membesar. Ia semakin sulit bergerak, semakin sulit menyembunyikan kehamilannya. Ia tahu, sebentar lagi ia tidak akan bisa lagi melakukan pekerjaan ini. Rasa panik kembali menyerang. Bagaimana ia akan membayar biaya persalinan, biaya hidup setelah ini?

Suatu malam, setelah melayani Daniel, Scarlett terduduk di sudut kamar mandi, menangis pilu. Ia sudah tidak tahan lagi. Ia merasa seperti mayat hidup, tanpa jiwa, tanpa harapan. Punggungnya pegal, kakinya bengkak, dan ia sering merasa mual. Ia merindukan pelukan hangat Daniel, senyumnya yang menenangkan, masa lalu mereka yang indah. Tapi semua itu kini telah menjadi abu, hancur lebur oleh api kesalahpahaman dan dendam.

Ia membelai perutnya. "Maafkan Ibu, Nak," bisiknya lirih. "Ibu tidak bisa memberimu kehidupan yang layak. Ibu adalah wanita kotor. Tapi Ibu janji, Ibu akan berjuang demi kamu. Ibu akan memastikan kamu lahir dengan selamat."

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama Daniel tertera di layar. Scarlett ragu untuk mengangkatnya. Namun, ia tahu ia tidak punya pilihan. Kontrak itu mengikatnya.

"Halo?" suaranya serak.

"Kau masih di sini?" Daniel bertanya, suaranya dingin. "Datanglah ke kamarku sekarang. Aku ingin bicara."

Jantung Scarlett berdebar. Bicara apa? Apakah Daniel akan membatalkan kontraknya karena kehamilannya? Atau apakah ia akan menyiksanya lebih parah lagi?

Dengan langkah gontai, Scarlett kembali ke kamar Daniel. Daniel sudah duduk di sofa, memakai jubah mandi, dengan segelas minuman di tangannya. Wajahnya terlihat muram, matanya menatap kosong ke depan.

"Duduklah," perintah Daniel, tanpa menoleh.

Scarlett duduk di kursi di hadapannya, menjaga jarak. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Udara terasa tegang, penuh emosi yang tidak terucap.

"Kau tahu, Scarlett," Daniel memulai, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. "Aku tidak pernah berpikir aku akan membenci seseorang sebegitu dalamnya. Aku mencintaimu, dulu. Sangat mencintaimu."

Mata Scarlett berkaca-kaca. Hatinya perih mendengar pengakuan itu.

"Tapi kau menghancurkannya," lanjut Daniel, suaranya kini mengeras. "Kau menghancurkan kepercayaanku, menghancurkan hatiku. Aku melihatnya, Scarlett. Dengan mataku sendiri. Kau berkhianat. Dan sekarang, kau menjadi wanita jalang. Kau menjijikkan."

Air mata Scarlett tumpah. "Aku tidak mengkhianatimu, Daniel! Aku tidak pernah! Ini semua jebakan! Kenapa kau tidak mau percaya padaku?!"

Daniel mendengus. "Untuk apa aku percaya pada seorang wanita jalang yang bahkan tidak tahu siapa ayah dari bayinya sendiri?"

"Ini anakmu!" teriak Scarlett, frustrasi. "Hanya anakmu! Aku bersumpah demi Tuhan!"

Daniel tertawa sinis. "Sumpah? Kau pikir aku akan percaya sumpah seorang pelacur?"

"Kau tidak punya hati, Daniel!" Scarlett berteriak, amarahnya meledak. "Kau monster! Kau egois! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri! Kau menghancurkan hidupku, menghancurkan segalanya, dan kau masih berani menuduhku!"

Daniel bangkit dari sofa, berjalan mendekat. Wajahnya mendekat ke wajah Scarlett. "Ya, aku menghancurkanmu. Dan aku akan terus melakukannya. Aku akan membuatmu menderita, Scarlett. Sampai kau memohon ampun, sampai kau menyesal telah mengkhianatiku."

Ia mencengkeram rahang Scarlett, memaksa Scarlett menatap matanya. "Kau terikat kontrak denganku selama satu tahun. Dan selama satu tahun itu, kau akan melayaniku. Kapan pun aku mau. Dan aku akan memastikan kau tidak pernah melupakan siapa yang menghancurkan hidupmu."

Cengkeraman Daniel menguat, menyebabkan Scarlett meringis. "Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku, Scarlett. Kau akan selalu menjadi budakku, sampai aku puas."

Scarlett memejamkan mata, air mata mengalir deras. Ia tahu, Daniel benar. Ia terperangkap dalam jaring Daniel. Ia harus melayani pria yang menghancurkannya, yang menuduhnya berkhianat, dan yang kini akan menjadi ayah dari anaknya. Hidupnya benar-benar telah menjadi neraka yang tak berujung. Dan ia tidak tahu sampai kapan ia harus bertahan dalam lingkaran setan ini.

Namun, di balik keputusasaan itu, sebuah tekad baja mulai tumbuh di hati Scarlett. Tekad untuk bertahan, demi anaknya. Tekad untuk suatu hari nanti, membalas dendam pada Daniel Lee. Jika Daniel ingin menyiksanya, ia akan menanggungnya. Tapi ia tidak akan pernah menyerah. Ia akan bertahan, dan suatu hari nanti, Daniel akan menyesali semua yang telah ia lakukan padanya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri Keempat
9.2
Airin dikenal sebagai putri penurut yang tak pernah membantah titah orang tuanya. Namun, kepatuhannya diuji saat ia dipaksa menikahi Saka Januar Pradipta, pengusaha kaya yang telah memiliki tiga istri. Menjadi istri keempat bukanlah akhir bagi Airin. Di balik wajah polosnya, tersimpan sisi manipulatif dan licik yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Meski mampu mengelabui dunia, Airin tak berkutik di hadapan Saka yang sanggup melihat jati diri aslinya.
Sampul Novel Love And Mystery
7.8
Harry Borison, CEO Rank Group yang dingin dan perfeksionis, tak sengaja terikat takdir dengan karyawannya sendiri, Han Yura. Di balik sosoknya, Yura menyimpan trauma mendalam dan gangguan PTSD. Demi melindungi nyawa dari ancaman wanita psikopat yang terobsesi pada Harry, keduanya terpaksa merahasiakan pernikahan mereka. Kini, Yura harus berjuang meluluhkan hati Harry yang keras sambil bertahan hidup dari incaran maut sang penguntit berbahaya.
Sampul Novel Mantan Suamiku, Penyesalanmu Terlambat Sudah
8.7
Zahara tewas mengenaskan di gudang dingin saat hendak bersalin, dikhianati Ardy yang lebih memercayai Kamila dan Astrid. Setelah kehilangan nyawa dan bayinya akibat kekejaman mereka, ia terbangun di masa lalu sebagai putri tunggal keluarga konglomerat. Kini, Zahara tak lagi buta karena cinta. Dengan identitas aslinya yang penuh kuasa, ia bertekad menghancurkan Ardy serta keluarganya. Pembalasan dendam dimulai demi menebus setiap tetes darah dan rasa sakitnya.
Sampul Novel MILIARDER CANTIK ITU ISTRIKU
8.4
Terdesak kebutuhan hidup, Zio terpaksa setuju melayani seorang wanita dalam satu malam. Ia sempat mengira akan bertemu wanita tua, namun justru sosok muda yang sangat cantik muncul di hadapannya. Secara mengejutkan, wanita itu memintanya untuk menghamili sekaligus menikahinya. Di tengah beban hidupnya yang sangat berat, mampukah Zio memenuhi permintaan gila tersebut dan menjadi pendamping sang miliarder cantik yang misterius itu?
Sampul Novel Pelayan Dinikahi Tuan Muda
9.4
Demi biaya pengobatan orang tua, Attaya terpaksa menikahi Leon. Namun, Leon merahasiakan status mereka hingga memicu kecemburuan saat melihat Attaya melayani pria lain. Konflik memanas ketika Attaya menyadari adik Leon adalah mantan kekasihnya. Meski ditentang keluarga karena status sosial, Leon memilih membuang harta demi Attaya. Saat sang adik terbukti tak bisa memberi pewaris, keluarga besar memohon Leon kembali, yang ia penuhi dengan syarat Attaya harus diterima.
Sampul Novel Penikmat Sepupu Sendiri
8.7
Ethan Eduardo adalah miliarder Casanova yang memandang wanita sebagai hiburan sementara di tengah kesibukan bisnis legal dan ilegalnya. Kehidupan dinginnya terusik saat sepupunya, Ruby Seraphina Vogue, hadir mengejar cintanya dengan tulus. Namun, hubungan terlarang ini terhalang oleh restu keluarga, karena orang tua Ruby telah menjodohkannya dengan pria lain. Mampukah Ethan membuka hati dan memperjuangkan Ruby di tengah konflik keluarga serta perjodohan itu?