
Sekretaris Cantik Milik Tuan CEO
Bab 2
Malam semakin larut. Namun, tak menyurutkan niat seorang Jovian Hadinata untuk mengendarai mobil sportnya menuju sebuah hotel bintang lima yang berada di pusat kota. Padahal, ia baru saja pulang dari pertemuan dengan salah satu kolega bisnisnya. Namun, entah kenapa rasa lelah terasa menguap semua. Setiap kali ingatannya melayang pada sosok wanita yang mungkin sudah menunggu dengan busana minim di salah satu kamar VVIP Paradise hotel.
Dag. Dig. Dug. Hatinya pun berdebar kencang saat mobil bericon kuda loncat itu sudah memasuki halaman depan Paradise hotel. Mungkinkah karena ia akan bertemu dengan seorang wanita penghibur seharga delapan puluh juta? Entahlah. Sebab, walaupun ia bukan tipe lelaki hidung belang yang menyukai wanita berkelas rendah seperti dia. Namun, uang sebesar itu biasanya ia habiskan untuk sekali jajan Fleurburger yang ia pesan tiap kali terbang ke Las Vegas, Amerika Serikat. Tetapi, yang jelas. Ada sesuatu pada gadis itu yang membuat jantungnya terus berdebar kencang.
Jo pun menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk hotel itu. Lalu dengan sigap seorang pelayan mendekatinya. Kemudian membukakan pintu mobilnya.
"Selamat malam, Tuan," sapanya ramah.
"Selamat malam," balasnya singkat dengan nada yang dibuat berat. Kemudian melenggang masuk ke dalam sedang si pelayan tadi masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobil itu menuju parkiran VIP yang tersedia. Dia cukup mengenal siapa Jo. Sebab, Jo memiliki empat puluh sembilan persen saham di hotel ini. Dan dia pun sering mengadakan pertemuan dengan para koleganya di tempat ini.
Saat melewati meja resepsionis semua karyawan langsung menangkupkan tangan di depan dada sambil menundukkan kepala. Memberi hormat pada Jo sambil mengucapkan 'Selamat malam, Pak.'
"Malam," balas Jo singkat. Sambil terus berjalan dengan angkuhnya.
Setelah menyusuri koridor akhirnya Jo menemukan kamar seratus sebelas. Tempat dimana ia akan berkencan dengan wanita delapan puluh juta itu. Sebelum masuk Jo menghentikan langkahnya sejenak lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas bagian dalamnya. Ia memakai benda itu yang ternyata adalah topeng masquerade berwarna gold dengan ukiran naga. Setelah merasa siap, ia pun kembali melanjutkan langkah kakinya.
Cekrek! Pintu pun terbuka saat ia menempelkan smart key di bagian khusus samping pintu itu. Deg. Deg. Deg. Jantungnya pun semakin berdebar kencang. Walau ia bisa menutupinya dengan gerakan santai dan tidak mengundang curiga pada setiap orang yang melihatnya.
Dua langkah ia masuk ke dalam kamar itu. Ia sempat terkejut dengan penampilan gadis cantik itu. Yah, dia tau untuk apa gadis itu ada disini. Namun, pakaiannya yang cukup seksi. Membuat dada Jo seakan ingin melompat keluar. Padahal, gadis itu hanya berdiri dengan canggung di sudut kamar. Wajahnya pun tertunduk malu-malu. Tak berani menatap ke arahnya.
"Selamat malam, Tuan," ujar wanita itu setengah berbisik.
"Malam. Kenapa kau malah berdiri disana? Datanglah kemari! Aku tidak membayarmu untuk menjadi patung disana."
"Ba... baik, Tuan." Nadira menjawab dengan syarat bergetar. Sebenarnya, dia merasa cukup familiar dengan suara milik lelaki itu. Namun, disaat gugup seperti ini otaknya tidak bisa mencerna suara siapa itu. Dengan kaki gemetar Nadira mendekati Jo.
Jo terus menatap wanita itu dari balik topengnya. Sebenarnya dia ingin memeluk gadis itu sekuat tenaga dan melepaskan semua kerinduannya. Namun, ketika ia teringat dengan pengkhianat gadis itu. Seketika Jo merasa penuh amarah.
'Jangan berpura-pura bodoh! Kau yang kukenal bukan gadis seperti itu!' Jo menarik pinggang Nadira hingga terjatuh dalam pelukannya. Jujur, jiwa laki-laki Jo berkobar seketika mencium aroma tubuh wanita itu yang sangat khas. Sebelumnya dia memang sempat menenggak beer dua gelas kecil. Biasanya itu tak berpengaruh apa-apa pada Jo. Namun berbeda dengan kali ini. Jo bagaimana kan daun kering yang terkena pemantik api. Mudah terbakar. Jo pun membalikkan badan gadis itu. Lalu menikmati aroma tubuh gadis itu dari belakang. Kedua tangannya tak mau diam. Dengan cekatan ia merayap ke setiap inci badan wanita minim busana dengan tubuh indah seperti biola spanyol itu. Kedua tangan Jo ditahan saat merambat naik ke puncak gunung kembarnya.
"Tuan. Saya rasa anda salah paham."
Ucapan Nadira terdengar sangat munafik bagi Jo. Padahal, dia tau apa yang sudah Nadira berikan pada lelaki lain sebelum mencampakkan dirinya dulu. Jo yang kesal karena niatnya dihalangi. Langsung menepis tangan Nadira dengan kasar. Kemudian Jo juga merobek baju yang di kenakan Nadira dengan sekali hentakan.
"Tuan. Saya mohon jangan!" Ucapan mengiba Nadira sudah tidak terdengar lagi di telinga Jo. Hasrat yang selalu ia bendung di dalam dada pun meluap bak air laut yang pasang naik akibat gravitasi bulan. Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dipendam. Akhirnya perasaan ini tercurah seperti gelombang omak pasang yang tak bisa dibendung. Jo meraih tengkuk Nadira lalu mengecupnya penuh gairah.
'Shith! Kenapa wanita ini begitu menggoda?' umpatnya dalam hati. Sambil terus menikmati bibir gadis itu yang terasa sangat manis.
Nadira berusaha untuk menahan jarak diantara mereka. Ini sudah tak seperti apa yang ia sepakati dengan Om Sam tadi. Padahal, sudah jelas jika Om Sam berkata. Rekan bisnisnya ini hanya butuh teman curhat dan sedikit perhatian. Kenapa jadi seperti ini?
'Tapi, kenapa bibir ini terasa tidak asing?' Nadira yang awalnya menolak. Lambat laun terbuai dengan permainan Jo yang sangat lihai. Dia malah mengerang nikmat saat kecupan Jo berpindah ke lehernya yang sensitif. Jo pun tersenyum.
'Lihatlah dirimu sekarang! Kau tak lebih baik dari semua wanita jalang di luar sana!' batin Jo tanpa menghentikan gerakannya.
Jo mengangkat tubuh Nadira. Lalu dengan segera membalik badan wanita itu lalu menempelkannya pada kaca besar yang menampilkan keindahan kota Jakarta malam ini. Jo pun mencium tengkuk wanita itu sedang tangan meremas gundukan kenyal yang setengah bukitnya masih tertutup gaun. Mulut si wanita pun mendesah menahan nikmat yang Jo berikan.
Setelah puas menandai tengkuk dan belakang telinga sang wanita dengan stempel merah bekas gigitannya. Jo segera meloloskan dress yang membatasi pergerakanya. Menangkap sinyal yang diinginkan Jo, si Nadira pun berusaha menyadarkan dirinya. Ini sudah melampaui batas perjanjiannya dengan Om Sam. Ia segera membalikkan badannya hingga kembali berhadapan dengan Jo. Nadira menangkap tangan lelaki itu yang sedang meraba-raba tubuhnya. Ketika melihat ke arah tangannya yang digenggam Nadira.
Gluk!
Jo menelan ludahnya dengan susah payah. Melihat pemandangan yang selama ini hanya ada dalam imajinasi liarnya saja. Tanpa menunggu lama Jo langsung menenggelamkan wajahnya di lembah gunung kembar itu. Sambil sesekali memberikan stempel-stempel merah hasil ukiran bibir dan giginya di kedua sisi gundukan yang menghimpit wajahnya. Tangannya pun tak mau tinggal diam. Ia gunakan kedua tangannya untuk menggenggam kedua bukit itu lalu ia gesek-gesekkan ke arah wajahnya. Tak ayal kedua bijinya pun berlari ke sana kemari menyapu wajahnya.
"Ampun, Tuan! Jangan!" Nadira masih sempat untuk mendorong kepala Jo menjauh. Sayangnya, tenaga Jo jauh lebih besar. Apalagi sekarang dalam keadaan penuh hasrat. "Aaah….," jerit Nadira yang tak mampu ia tahan lagi. Sungguh, ini pengalaman pertamanya menghadapi seorang lelaki. Ada perasaan jijik saat melihat pantulan bayangannya di cermin yang berada jauh di seberangnya, tapi ada juga rasa nikmat hingga ia tak mampu menahan desahan dari bibirnya. Hati dan pikiran Nadira bergejolak. Saling berdebat antara menikmati atau menolak permintaan ini.
Kembali pada Jo yang sedang tersenyum penuh kemenangan. Melihat Nadira memilih untuk menikmati permainannya. Akhirnya apa yang ia pelajari dari semua video dan film dewasa yang biasa ia tonton membuahkan hasil juga. Namun, di detik berikutnya Jo mengangkat tubuh wanita itu lalu ia jatuhkan di atas ranjang. Tak mau membuang waktu lebih lama, Jo langsung menindihnya. Memainkan bibirnya yang sedari tadi mengeluarkan suara magis yang kian membakar geloranya. Kemudian Jo pun menurunkan gerakannya kini yang menjadi sasarannya adalah leher jejang wanita itu. Setelah puas memberikan puluhan tanda merah di sana. Jo pun kembali menurunkan gerakannya. Dengan gemas ia bermain dengan kedua biji itu bergantian. Lalu memainkan kedua bukit itu hingga saling bergesekkan satu sama lain. Nadira mengigit bibirnya dengan cukup keras. Sampai-sampai terlihat membekas di bibirnya.
'Kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan,' batin Jo. Ia pun meningkatkan permainannya. Hingga tak lama kemudian....
"Aaahhh…." Kembali wanita itu mengerang hebat. Sambil meluluhkan hasrat yang sedari tadi membakar seluruh tubuhnya. Bak seekor merpati ia pun terasa membumbung tinggi ke atas awan dengan merasakan mahkotanya yang nyut-nyutan. Akal sehat Nadira mulai membenci dirinya sendiri. Kenapa dia bisa merasakan hal ini padahal lelaki itu jelas-jelas bukan suaminya?
'Bukankah seharusnya aku merasakan ini dari suamiku?' batin Nadira. Ia ingin memberontak, tapi ancaman Om Sam terus terngiang-ngiang di otaknya.
Setelah mendengar erangan penuh nikmat dari Nadira. Hasrat Jo tak bisa dikendalikan lagi. Cepat-cepat ia melucuti pakaiannya dan membuang kain pertahanan terakhir milik Nadira sembarangan.
Nadira menjerit saat benda tumpul dan berurat itu menembus miliknya yang masih sangat rapat. Air matanya merembes dari mata yang tertutup rapat. Menyadari akan segera kehilangan mahkota yang dijaganya dengan baik selama ini. Jo yang sudah dimabuk kepayang tak menghiraukan apapun. Ia terus berusaha membobol gawang milik Nadira yang terasa sangat sempit.
"Ahh.... Kenapa milikmu sempit sekalihh?" gumam Jo heran sambil terus berusaha menerobos benteng milik Nadira. Nadira membuka matanya mendengar suara yang cukup fenomenal di telinga. Ia menatap lekat-lekat wajah dibalik topeng itu yang semakin memperkuat kecurigaannya.
"Aakhh." Tetapi, perhatian Nadira benar-benar buyar. Ketika merasakan benda tumpul itu berhasil merobek selaput daranya. Perih. Satu kata yang ia rasakan saat itu. Nadira melirik laki-laki itu. Dia tampak menikmati kemenangannya saat ini. Saat lelaki itu lengah. Nadira meraih topengnya lalu membukanya dengan paksa.
"Iyan," gumam Nadira yang langsung membuat Jo tersadar. Saat ia sedang menikmati cengkraman otot-otot milik Nadira. Gadis itu segera mendorong tubuh lelaki itu menjauh. Lalu memakai pakaiannya lagi sebelum pergi. Jo hanya terdiam saat Nadira memilih pergi. Namun, matanya terbelalak melihat noda merah ada di atas seprai. Jo seketika menoleh ke arah pintu.
"Dira," gumamnya.
Anda Mungkin Juga Suka





