Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sebatas Istri Bayang-Bayang

Sebatas Istri Bayang-Bayang

Syakila, gadis berhijab yang menawan, terpaksa menjalani perjodohan dengan Reihan, polisi yang sangat berdedikasi. Namun, rumah tangga mereka hampa karena hati Reihan masih terkunci untuk Sonia, sang kekasih model. Meski Syakila tulus mengabdi, ia hanya menjadi sosok tak terlihat bagi suaminya. Dilema antara kewajiban dan luka batin kian memuncak saat status istrinya terasa tanpa makna. Mampukah pernikahan ini bertahan meski Reihan terus dibayangi masa lalu?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, sinar matahari menerobos jendela kamar pengantin, tetapi kehangatannya tidak terasa bagi Syakila. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi lantai tanpa benar-benar melihatnya, tenggelam dalam pikirannya yang kusut. Reihan masih tertidur di sisi lain ranjang, wajahnya tenang seolah tidak ada beban di dalam hatinya.

Semalam adalah malam yang sangat berat. Setelah pengakuan Reihan, Syakila tidak tahu harus berbuat apa. Ia menghabiskan malam itu dalam diam, menangis dalam hati sambil mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru saja menghampirinya. Reihan, yang seharusnya menjadi pasangan hidupnya, ternyata masih terjebak dalam cinta masa lalu dengan wanita lain. Keinginan untuk melarikan diri, menjauh dari semua ini, begitu kuat, tetapi Syakila tidak tahu ke mana harus ia pergi.

"Pernikahan ini baru saja dimulai," bisik hati kecilnya. "Apakah artinya ini sudah berakhir sebelum dimulai?"

Ketika akhirnya Reihan terbangun, suasana canggung menyelimuti kamar. Reihan mencoba tersenyum, tetapi itu terlihat dipaksakan. Syakila tidak membalas, hanya menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebingungan dan kesakitan.

"Kita perlu bicara, Syakila," kata Reihan, suaranya datar dan serius.

Syakila mengangguk pelan. Mereka duduk di meja kecil di sudut kamar, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk memulai percakapan yang mereka tahu akan sulit.

"Aku tidak ingin menyakitimu, tapi aku merasa jujur lebih baik daripada terus berpura-pura," Reihan memulai, suaranya tenang namun penuh dengan rasa bersalah.

Syakila memandangi wajah Reihan yang tertekuk itu, mencari jejak kejujuran yang selama ini ia rindukan. "Kenapa kamu setuju menikah denganku kalau kamu masih mencintai orang lain?"

Reihan menghela napas dalam-dalam. "Orang tuaku. Mereka ingin aku menikah denganmu. Mereka bilang kamu wanita yang baik, dan bahwa ini adalah keputusan yang tepat untuk masa depan kita. Aku tahu itu benar, tapi aku tidak bisa memaksa hatiku untuk mengabaikan Sonia."

Syakila merasa hatinya mencelos mendengar nama Sonia disebutkan lagi. Nama yang kini menjadi hantu dalam kehidupannya, menghantui setiap harapannya tentang masa depan. "Apakah kamu akan meninggalkanku untuknya?" tanyanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Reihan menunduk, tampak bimbang. "Aku tidak tahu. Aku merasa terjebak di antara dua dunia yang berbeda. Aku ingin melakukan yang terbaik, tapi aku tidak tahu apa itu."

Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka berdua. Syakila merasakan ketidakpastian yang menghantui setiap inci hatinya. Ia tahu bahwa dirinya berada di persimpangan yang sulit, tetapi ia tidak tahu jalan mana yang harus diambil.

"Aku menikahimu dengan harapan kita bisa membangun sesuatu bersama, Reihan. Tapi sekarang aku tidak tahu apakah itu mungkin," ujar Syakila dengan suara gemetar.

Reihan terdiam, tidak bisa menjawab. Ia tahu betapa berat beban yang telah ia letakkan di pundak Syakila, tetapi ia sendiri merasa tak berdaya dalam situasi ini.

Setelah beberapa saat, Reihan berkata, "Aku akan pergi sebentar. Aku butuh waktu untuk berpikir."

Syakila hanya mengangguk, tanpa berani menanyakan ke mana Reihan akan pergi. Setelah Reihan meninggalkan kamar, Syakila merasa sepi dan hampa. Kesendirian ini begitu menusuk, lebih daripada yang pernah ia bayangkan.

Syakila tahu bahwa ia tidak bisa terus seperti ini. Ia tidak bisa terus menunggu keputusan yang mungkin tidak akan pernah datang dari Reihan. Ia perlu mengambil kendali atas hidupnya, tetapi bagaimana caranya?

Ia kini bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Syakila merasa sangat berantakan, bukan hanya hatinya tapi juga wajahnya yang sembab akibat menangis semalam.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Syakila keluar dari kamar, berusaha mencari ketenangan di taman kecil yang ada di belakang rumah orang tuanya. Di sana, ia duduk di sebuah bangku kayu yang sepi, mencoba merenungi nasibnya. Angin pagi yang lembut mengelus wajahnya, tetapi ia tidak merasakan kedamaian. Di dalam hatinya, badai berkecamuk.

Tak lama, suara langkah kaki terdengar mendekat. Syakila menoleh dan melihat ibunya datang dengan senyuman lembut di wajahnya, membawa secangkir teh hangat di tangannya.

"Kila, kenapa duduk di luar? Udara pagi ini cukup dingin," kata ibunya sambil menyerahkan teh tersebut kepada Syakila.

Syakila mencoba tersenyum, tetapi hatinya terlalu berat untuk benar-benar menikmati momen itu. "Aku hanya butuh udara segar, Bu."

Ibunya duduk di sampingnya, mengamati wajah putrinya yang tampak lesu. "Tadi pagi nak Reihan pamit sama ibu, katanya dia di panggil sama atasannya. Kamu sih, mentang-mentang pengantin baru bangun kesiangan. Tadi waktu ibu tanya, kata suamimu kamu masih tidur."

Syakila tersenyum getir, ia tidak tahu harus bicara apa pada ibunya. "Apakah aku harus mengatakan semuanya padamu, ibu?" Batin Syakila dalam hati.

Ibunya terdiam sejenak, lalu tersenyum sebelum menjawab. "Nak Reihan laki-laki yang baik, sama seperti almarhum ayah kamu."

Syakila menundukkan kepalanya, air mata yang ia tahan akhirnya mengembun di pelupuk matanya. "Reihan ... I-iya Bu, dia memang baik."

"Dulu almarhum bapak kamu pernah berjanji akan menjodohkan kamu dengan putra temannya. Kami hanya bisa menunaikan janji itu setelah bapak kamu pergi," kata Bu Azizah.

Syakila menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang meledak-ledak di dalam hatinya. "Karena orang tuanya memintanya, sama seperti Ibu dan almarhum bapak dulu meminta aku menikah dengannya. Tapi hatinya tidak untukku, Bu." Batin Syakila.

Sebelum bapak Syakila meninggal dia pernah berpesan kepada Syakila dan Bu Azizah tentang Reihan anak sahabatnya.

Ibunya menarik napas panjang, "Kamu harus bisa jadi istri yang baik buat suamimu ya, Killa."

Syakila hanya tersenyum, mencoba menenangkan dirinya. Tapi Syakila tidak bisa menjawab iya ataupun tidak. Bahkan mengangguk pun dia tidak sanggup.

***

Reihan pulang dengan langkah yang mantap ke rumah orang tua Syakila. Senyumnya terpasang rapi di wajahnya, meskipun hatinya terasa kosong. Dia menyapa Bu Azizah dengan sopan, bercakap-cakap sejenak di ruang tamu tentang hal-hal umum, seolah semuanya berjalan normal. Bu Azizah senang melihat menantunya yang ramah dan tampak peduli.

Setelah percakapan itu, Reihan beranjak menuju kamar di mana Syakila berada. Tanpa banyak kata, dia mengetuk pintu dan masuk. Syakila yang sedang duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan mata yang penuh harap namun terbungkus kesedihan. Reihan langsung menuju lemari pakaian dan mulai mengambil barang-barang mereka.

"Kita harus segera pergi. Aku pikir, sudah waktunya kita tinggal di rumah orang tuaku," ucap Reihan, suaranya datar dan terukur.

Syakila hanya mengangguk pelan, tanpa protes. Dia tahu, ini adalah bagian dari peran yang harus dia mainkan sebagai istri. Dengan tangan yang gemetar, dia ikut membantu Reihan mengemasi pakaian mereka ke dalam koper. Setiap lipatan kain terasa seperti menambah beban di hatinya.

Pikiran Syakila melayang, mengingat kembali awal pernikahan mereka yang berlangsung tanpa cinta. Ia tahu bahwa hati Reihan milik wanita lain-Sonia, yang begitu sempurna di mata Reihan. Syakila sadar bahwa dirinya hanya sebuah bayangan dalam kehidupan Reihan, sebuah pernikahan yang tanpa rasa. Tetapi, meski begitu, dia tetap mencoba tersenyum, menyembunyikan kesedihannya yang begitu dalam.

Setelah semua barang dikemas, Reihan mengajak Syakila keluar. Sesampainya di ruang tamu, Bu Azizah tersenyum melihat mereka berdua.

"Ibu, maaf. Kami harus pergi sekarang, besok aku harus segera bertugas di kantor, lain kali kami akan sering berkunjung ke sini," kata Reihan sambil tersenyum. Sungguh Pria itu sangat apik saat memainkan perannya.

"Tidak apa-apa nak Reihan. Ibu mengerti, titip Syakila ya nak. Jaga dia dengan baik," Kata Bu Azizah.

Reihan mencium punggung tangan ibu mertuanya itu dengan sopan lalu keluar dari rumah tersebut dan berjalan menuju mobil.

Syakila kini pamit pada ibunya, memeluk wanita yang melahirkannya. Mata Syakila berkaca-kaca namun dia berusaha untuk menahannya. Syakila tidak ingin ibunya sedih.

"Ibu tahu ini berat, Kila. Tapi sebagai istri yang baik, kamu harus ikut kemanapun suamimu mengajakmu," kata Bu Azizah.

Syakila kini hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan ibunya.

Dalam keheningan, Syakila berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka ke rumah orang tua Reihan-rumah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi rumah bagi Syakila. Dengan penuh kesabaran, Syakila melangkah, menerima kenyataan yang harus dia jalani meski hatinya menangis.

Di dalam mobil, Reihan sudah ada menunggu Syakila. Setelah Syakila masuk ke dalam mobil tersebut, Reihan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut.

Selama perjalanan menuju rumah orang tua Reihan, mereka berdua hanya diam. Tak ada percakapan apapun di antara mereka.

Tak lama kemudian mobil tersebut memasuki halaman rumah. Dan Syakila yakin itu adalah rumah orang tuanya Reihan.

Reihan turun dari mobil, lalu menurunkan koper miliknya dan koper milik Syakila. Sedangkan Syakila harus turun dari mobil sendiri.

Dengan sedikit ragu, Syakila mengikuti Reihan masuk ke dalam rumah tersebut.

"Assalamu'alaikum..." Ucap Reihan saat masuk ke dalam rumah.

"Wa'alaikumussalam, Ayah, putra kamu sudah pulang membawa menantu kesayanganmu!" Kata Bu Rahma dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

Pak Hasan juga tersenyum saat menyambut mereka.

"Syakila, sini sayang. Kamu tidak usah takut, sekarang kami orang tuamu juga." Bu Rahma memeluk Syakila dengan sayang. "Terima kasih sudah mau jadi istri Reihan. Ibu sangat bahagia."

Syakila tersenyum. "Iya Bu."

Setelah berpelukan dengan ibu mertuanya, kini Syakila mencium punggung tangan ayah mertuanya.

"Ayah, ibu. Ini sudah malam, kami langsung istirahat di kamar, capek banget," kata Reihan.

"Iya deh paham, pengantin baru kan emang maunya sering berduaan di kamar." Goda Bu Rahma sambil tersenyum.

Reihan melirik ke arah Syakila yang sedang menunduk menyembunyikan rasa malu dan sedihnya. Sungguh Syakila benar benar merasa terjebak dalam sandiwara Reihan.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Mau Dimadu
8.4
Kehidupan rumah tangga Tiara Maheswari yang terlihat harmonis ternyata menyimpan rahasia kelam. Reno Sebastian, suami yang selama ini tampak sangat mencintai istrinya, rupanya telah mengkhianati janji suci mereka. Tanpa sepengetahuan Tiara, Reno telah membagi hati dan menikah lagi secara diam-diam dengan wanita lain. Kini, Tiara berada di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah ia tetap bertahan demi pernikahan mereka, atau memilih pergi meninggalkan Reno selamanya?
Sampul Novel DERITA PERNIKAHAN PAKSA
9.3
Hidup Vivian hancur setelah terikat pernikahan paksa dengan Maximilian Windsor. Setiap hari ia harus menanggung siksaan fisik dan batin yang meninggalkan trauma mendalam. Di tengah penderitaan tersebut, muncul River, pria lembut yang menjadi pelindung sekaligus penyemangat hidupnya. Namun, obsesi Max yang kian gila memicu insiden tak terduga hingga Vivian mengandung anak dari pria yang paling ia benci. Kini ia terjebak di antara cinta tulus River atau Max yang merupakan ayah dari bayinya.
Sampul Novel I Love You
8.7
Selama dua dekade, seorang CEO muda yang rupawan menghabiskan hidupnya demi mencari sosok cinta sejati yang ia idamkan. Penantian panjang tersebut akhirnya menemui titik terang saat takdir mempertemukannya dengan orang yang dicari melalui sebuah peristiwa yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di tengah kemewahan dunianya, ia harus menghadapi momen tak terduga yang akan mengubah seluruh perjalanan asmara serta masa depan hidupnya.
Sampul Novel LUKA HATI SEORANG IBU TIRI
9.0
Kehidupan Raisa seketika hancur dan dipenuhi duka mendalam saat sang suami tercinta mengembuskan napas terakhirnya. Namun, rasa sakit hatinya kian menjadi ketika ia menemukan kenyataan pahit di balik kepergian pria itu. Munculnya seorang bayi mungil yang terbukti sebagai anak kandung suaminya menjadi luka baru yang sangat menyiksa. Raisa kini terjebak dalam dilema antara rasa cinta yang tersisa dan pengkhianatan yang baru saja terungkap di depan matanya.
Sampul Novel Menikah dengan Miliarder Rahasia
8.9
Dikhianati calon tunangannya yang kabur, Livia nekat mengajak pria asing menikah secara spontan. Tanpa diduga, sosok itu adalah Kiran, pria yang dikenal punya reputasi buruk. Meski publik mencemooh dan sang mantan memintanya kembali, Livia tetap bertahan membela martabat pernikahannya. Segalanya berubah saat identitas asli Kiran sebagai triliuner dunia terungkap. Di hadapan semua orang, Kiran berlutut mempersembahkan berlian demi membuktikan cinta tulusnya.
Sampul Novel Menipu Penipu Asmara
8.3
Cassidy Belgenza menyelamatkan Sophie Marigold dari pelecehan, namun niat baiknya justru memicu salah paham. Di balik itu, Sophie ternyata wanita simpanan suami Angelica, mantan kekasih Cassidy. Demi menolong Angelica yang menderita, Cassidy pun setuju menjauhkan Sophie dari rumah tangga sang mantan. Tergerak oleh cinta lama, Cassidy menyusun rencana balas dendam demi menghancurkan Sophie. Namun, mampukah ia menipu Sophie, atau justru dirinya yang akan terjebak?