
Sebatas Istri Bayang-Bayang
Bab 3
Pagi itu, matahari baru saja muncul di balik horizon, mewarnai langit dengan semburat jingga yang indah. Namun keindahan pagi itu tidak terasa dalam hati Syakila. Dia terbangun dengan perasaan kosong, merasakan dinginnya pagi yang menyeruak masuk ke dalam kamar yang kini menjadi tempat tinggal barunya bersama Reihan di rumah orang tua suaminya.
Syakila perlahan bangkit dari tempat tidur, mengusap matanya yang sedikit bengkak akibat tangisan semalam. Dia melihat ke samping, tempat tidur itu telah kosong. Reihan sudah tidak ada di sana. Syakila menarik napas panjang dan mendapati dirinya sendiri di ruangan yang sepi. Hanya ada suara kipas angin yang berputar perlahan di sudut kamar.
"Reihan sudah bangun lebih awal," pikir Syakila.
Memang, suaminya selalu bangun pagi untuk bersiap ke kantor. Pintu kamar mandi tertutup, dan suara gemericik air mengalir dari dalam, menandakan bahwa Reihan sedang mandi. Syakila duduk di tepi tempat tidur, menatap seragam polisi yang tergantung rapi di kursi. Seragam coklat itu membuat Reihan terlihat gagah dan tampan, sosok yang menjadi idaman banyak wanita. Tapi, semua itu bukan untuknya, bukan untuk Syakila.
Syakila berdiri dan berjalan pelan menuju lemari pakaian, mengambil kerudung dan gaun sederhana yang biasa ia kenakan di rumah. Ketika ia sedang membetulkan kerudung di depan cermin, Reihan keluar dari kamar mandi. Syakila melirik suaminya sekilas. Reihan terlihat sibuk dengan dirinya sendiri, mengenakan seragam dengan cekatan tanpa banyak berkata-kata. Tidak ada sapaan mesra atau senyum yang ditujukan padanya. Hati Syakila kembali terasa perih.
"Sudah siap-siap, mas?" tanya Syakila pelan, mencoba mencairkan suasana.
Reihan hanya mengangguk tanpa menoleh. "Ya, aku ada tugas pagi ini. Kau istirahat saja di rumah, nanti kalau ada apa-apa, hubungi aku."
Sikapnya begitu formal, seolah mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama. Syakila mengangguk lemah, menahan segala perasaan yang berkecamuk di dadanya.
Setelah Reihan selesai mengenakan seragam, dia mengambil tas dan kunci mobil. Sebelum keluar kamar, dia berhenti sejenak di depan pintu, menoleh ke arah Syakila yang masih berdiri di dekat cermin.
"Aku pergi dulu, kau bisa sarapan dengan ayah dan ibu," ucapnya singkat, lalu melangkah keluar tanpa menunggu jawaban dari Syakila.
Pintu kamar tertutup pelan, meninggalkan Syakila dalam keheningan. Dia duduk kembali di tepi ranjang, menatap pintu yang baru saja ditinggalkan Reihan. Air mata yang tadi ditahan kini mengalir perlahan di pipinya. Hatinya terasa hancur melihat betapa jauhnya jarak antara mereka, suami istri yang seharusnya saling mencintai. Namun, kenyataan menunjukkan sebaliknya.
Setelah beberapa saat tenggelam dalam perasaannya, Syakila menyeka air matanya dan memaksakan dirinya untuk bangkit. Dia tahu, dia tidak bisa terus terpuruk seperti ini. Dia harus menjalani peran sebagai istri dan menantu yang baik, meski hatinya penuh luka.
Syakila melangkah keluar kamar dan menuju dapur, di mana ibu mertuanya, Bu Rahma, sedang sibuk menyiapkan sarapan. Aroma harum nasi goreng yang dimasak Bu Rahma menyambutnya saat dia memasuki dapur. Bu Rahma menoleh dan tersenyum hangat ketika melihat Syakila datang.
"Pagi, Nak. Sudah bangun? Ayo, bantu ibu di sini," ajak Bu Rahma dengan ramah.
Syakila mengangguk dan segera membantu ibu mertuanya, mengambil piring-piring untuk menata makanan di meja makan. Meskipun suasana dapur terasa hangat, Syakila merasakan dinginnya hubungan pernikahannya dengan Reihan yang masih menggantung di hatinya.
Bu Rahma, seorang wanita berhijab paruh baya dengan senyum lembut dan sikap keibuan, tidak pernah menunjukkan sikap yang buruk pada Syakila. Justru sebaliknya, dia selalu menyambut Syakila dengan hangat dan kasih sayang. Tapi, entah mengapa, perhatian dan kebaikan yang diberikan oleh ibu mertuanya tidak mampu menghapus perasaan sepi yang terus menggerogoti hatinya.
Selesai menyiapkan sarapan, mereka berdua duduk bersama di meja makan, hanya ditemani suara televisi yang menyiarkan berita pagi. Reihan sudah pergi bekerja, meninggalkan rumah dengan kesibukannya sendiri. Sementara Syakila duduk diam, berusaha menikmati makanan di depannya meski selera makannya hilang.
"Reihan sudah berangkat?" tanya Bu Rahma memecah keheningan.
"Iya, Bu," jawab Syakila singkat.
Bu Rahma nampak sedang mengembuskan napas panjang. "Kebiasaan sekali anak itu, ibu pikir setelah menikah dia akan berubah. Tapi ternyata sama saja, jarang sarapan di rumah."
Syakila tersenyum untuk menutupi hatinya yang terasa sangat perih.
Bu Rahma tersenyum, kemudian memandang menantunya dengan tatapan penuh pengertian. "Kamu baik-baik saja, kan, Nak? Kalau ada yang ingin dibicarakan, jangan ragu untuk cerita sama ibu."
Syakila tersenyum tipis, menahan air mata yang hampir tumpah lagi. "Iya, Bu. Terima kasih."
Bu Rahma meraih tangan Syakila dan menggenggamnya dengan lembut. "Ibu tahu, awal pernikahan memang tidak selalu mudah. Tapi, percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Kamu dan Reihan hanya perlu waktu untuk saling mengenal lebih baik."
Syakila mengangguk lagi, meskipun dalam hatinya dia merasa ragu. Bagaimana dia bisa berharap semuanya akan baik-baik saja jika cinta itu sendiri tidak pernah ada sejak awal?
Tak ingin larut dalam kesedihan, Syakila kini mengalihkan arah pembicaraan. "Oh iya, ibu. Ayah mana, kenapa tidak ikut sarapan dengan kita?"
"Ayah kamu sudah pergi bekerja sejak tadi pagi. Kamu tahu, Syakila. Ibu berharap kamu mau menemani ibu sarapan di rumah, karena dua Pria di rumah ini selalu sibuk dengan pekerjaan mereka," kata Bu Rahma.
Setelah sarapan selesai, Syakila membersihkan meja makan dan mencuci piring dengan pikiran yang berkecamuk. Pekerjaan rumah yang seharusnya bisa menjadi pengalihan, justru tidak mampu meredakan perasaan galau yang terus menghantuinya. Setiap sudut rumah ini, setiap bayangan yang melintas, selalu mengingatkannya pada kenyataan pahit yang harus dia hadapi.
***
Siang harinya, setelah semua pekerjaan rumah selesai, Syakila kembali ke kamar. Dia duduk di atas ranjang, memandangi langit-langit kamar yang polos. Keheningan yang begitu sunyi membuatnya tenggelam dalam renungan yang tidak ada habisnya.
Pikirannya melayang ke masa-masa sebelum pernikahannya dengan Reihan. Mereka hampir tidak pernah bertemu sebelum menikah, hanya berkenalan singkat dalam beberapa pertemuan yang diatur oleh keluarga.
Pernikahan mereka bukanlah hasil dari cinta, melainkan keputusan keluarga yang harus mereka terima. Reihan tidak pernah menunjukkan minat atau cinta padanya sejak awal. Itu sudah jelas, karena hati Reihan sudah terisi oleh orang lain-Sonia.
Syakila merasa dirinya hanyalah bayangan yang berdiri di belakang Sonia. Dia tahu, dia tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari hidup Reihan. Pernikahan ini hanya formalitas yang harus dijalani, tanpa ada kehangatan atau cinta di dalamnya.
"Apakah aku bisa bertahan dalam pernikahan seperti ini?" tanyanya dalam hati.
Setiap kali ada Reihan, setiap kali mereka bersama di satu ruangan, ada jarak tak terlihat yang begitu jelas di antara mereka. Syakila merasa asing di rumah suaminya sendiri, di kamar mereka sendiri. Rasanya seperti berada di dunia yang berbeda, dunia yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Syakila memandangi cermin yang ada di depan ranjang, melihat bayangan dirinya yang tampak pucat dan lelah. Sejak menikah, senyum yang dulu sering menghiasi wajahnya kini jarang muncul. Matanya yang dulu penuh harapan kini terlihat redup, seolah-olah cahayanya telah padam.
Detik demi detik berlalu dengan lambat di rumah ini. Syakila hanya bisa menjalani perannya sebagai istri yang patuh, tanpa banyak menuntut atau berharap. Dia tidak ingin menjadi beban bagi Reihan, meskipun dia tahu suaminya tidak mencintainya.
Namun, di tengah semua kesedihan dan keputusasaan itu, Syakila tetap berusaha mencari kekuatan dalam dirinya. Dia tahu bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginannya. Meski hatinya hancur, dia harus tetap menjalani hari-harinya, mencari makna dalam pernikahan yang dijalaninya, meski itu berarti harus berdamai dengan kenyataan pahit yang harus dia hadapi.
Syakila menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi dia yakin bahwa dia harus kuat. Meski sulit, dia harus bertahan. Untuk dirinya sendiri, dan untuk harapan kecil yang mungkin suatu hari akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih baik.
***
Anda Mungkin Juga Suka





