Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Scary Love

Scary Love

Trauma masa kecil menghantui Jasson setelah ia menyaksikan orang tuanya tewas di tangan perampok sadis. Didorong dendam, ia merantau demi memburu sang pembunuh. Di tengah pencarian, ia jatuh cinta dan menikahi seorang gadis yang mampu meluluhkan hatinya. Namun, sebuah rahasia pahit terungkap, memaksanya memilih antara keadilan bagi masa lalunya atau kebahagiaan wanita yang ia cintai. Akankah Jasson tetap menuntut balas saat kenyataan menyakitkan menghadangnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Lamat-lamat Jasson mendengar suara percikan api yang membakar kayu.

Dalam keadaan pingsan, ia mulai ketakutan. Api yang membesar dengan hawa panas seakan menghantui. Korban satu persatu jatuh tak bisa terbendung di depan matanya.

Jasson mulai berkeringat dengan mata masih terpejam erat.

"Ibu, ayah." Panggilnya.

Gambaran pemandangan itu kembali terlihat dan semakin nyata berdarah. Ia menggigil ditengah kobaran api yang melahap kampungnya.

"Ayah, Paman, ibu. Selamatkan diri kalian, hiks." Air mata mulai menetes membasahi pipi.

"Nak, kau tidak apa?"

Sebuah tepukan pelan di pipi Jasson rasa. Jasson menoleh, namun pandangannya tak melihat siapapun disekitar dirinya berdiri.

"Ayah, ibu, kalian membuatku takut?" ucapnya lagi dalam mimpinya yang seakan nyata.

"Nak, sadarlah!"

Tepukan lebih keras membuat Jasson seketika membuka mata.

"AYAAAAHHH!!" iya berteriak kencang.

"Tenanglah, kau pingsan, Nak. Itu haya sebuah mimpi."

Seorang pria brewok menatap pilu dirinya sambil memegang bahu Jasson..

"Kau siapa?" Jasson beringsut hendak beranjak, namun luka di lututnya membuat dia tak bisa leluasa.

Ia meringis kesakitan menahan perih.

"Ada banyak luka di tubuhmu. Tenanglah, aku bukan orang jahat." Ujar pria itu meyakinkan Jasson.

Raut wajah Jasson masih waspada.

"Istirahalah. Nanti saja kau ceritakan apa yang telah terjadi kepadamu. Yang penting, sembuhkan luka yang ada ditubuhmu terlebih dahulu. Ok?"

Wajahnya masih tegang dan waspada, meski pria itu telah berkata dengan lembut dan perhatian penuh.

"Aku ambilkan makanan dulu."

Kemudian pria itu berdiri dan mengambil mangkuk keramik di sebuah rak kecil serta sendoknya juga.

Dia taruh bubur yang baru ia masak pada mangkuk itu dan mendekatkannya pada Jasson.

"Aku akan menyuapimu. Tubuhmu harus terisi makanan agar kau bisa segera sembuh."

Perut Jasson memang terasa lapar. Tapi apa dia yakin jika makanan itu bebas dari racun?

Saat pria itu mengulurkan sendok berisi bubur ke arah mulut Jasson, bibir anak itu terus mengatup rapat.

Pria itupun langsung tersenyum.

"Akan kumakan bubur ini lebih dulu!" lalu dimakanlah bubur itu oleh pria tersebut dan menelannya. "Tidak ada racun. Untuk apa aku menolongmu jika untuk kuhabisi di sini dengan racun, hemm?"

Benar juga. Meski gengsi, akhirnya perlahan Jasson membuka mulutnya untuk menerima bubur tersebut hingga tandas tak bersisa.

"Minumlah!"

GLEK GLEK GLEK

Lagi, minuman yang pria itu berikan pada Jasson tandas pula.

"Semoga makanan dan minuman ini bisa memulihkan tenagamu."

Pria itu meninggalkan Jasson untuk mencuci mangkuk di luar rumah.

Kedua mata coklat Jasson mengedar memandangi rumah yang saa ini melindungi dirinya.

Rumah kayu yang sederhana dan hanya berbentuk persegi. Tak terlalu luas, dan hanya ada ruangan yang ia gunakan itu saja.

Perlahan Jasson berusaha duduk meski dia harus mati-matian menahan rasa perih disekujur tubuhnya.

Pria itu kembali masuk ke dalam lagi.

"Nak, siapa namamu?"

"Jasson."

"Jasson, lukamu belum sembuh benar, lebih baik kau berbaring saja."

Jasson tak menyahut. Dia melihat dirinya tak berpakaian dan hanya mengenakan celana pendek kedodoran.

"Itu celanaku. Maaf, aku memang tak punya anak kecil, jadi-"

"Dimana bajuku?" potong Jasson.

Pria berusia 40 tahun itu nampak terdiam sebentar ketika melihat Jasson yang berperilaku dingin padanya. Kemudian ia tersenyum lembut.

"Dijemuran. Mungkin sudah kering karena kau pingsan sejak kemarin malam. Akan kuambilkan untuk bisa kau pakai lagi."

"Pingsan semalaman?" Jasson tentu saja terkejut.

Dia merasa masih baru tadi dia jatuh dan pingsan. Tapi ternyata ia sudah sehari pingsan.

"Benar, kau sudah pingsan satu hari. Aku senang sekarang kau bisa tersadar."

Pria itu keluar, lalu kembali lagi dengan sepasang pakaian milik Jasson.

"Aku akan membantumu memakai pakaian ini."

Karena keadaan Jasson yang tak memungkinkan, maka dia menerima tawaran dari pria asing itu untuk membantunya memakai baju.

"Tubuhmu penuh hitam hangus, darah dan sangat anyir. Apa kau dari desa sebelah yang terbakar itu?"

"Paman tahu?"

"Ya. Desamu sudah hancur. Kejadian kemarin malam memang berdampk pada beberapa desa lainnya. Namun desa ini beruntung karena tak dilewati oleh sekelompok perampok berkuda itu."

Kembali memori kemarin malam melintasi kepala Jasson, membuatnya kembali menunduk dan sedih.

"Menangislah jika kau ingin!"

"Tidak!" Jasson menegakkan kepalanya seketika. "Aku tak akan menangis lagi demi ayah dan ibuku. Aku akan membalskan dendam mereka. Dan mencari keadilan untuk mereka."

Sorot mata Jasson tajam penuh amarah sekaligus ambisi yang meledak-ledak. Rahang mungilnya mengeras bagai dia sudah dewasa.

Eddy, nama pria yang telah menolong Jasson memandang lekat Jasson. Menggambarkan sedikit tentang anak kecil itu. Menyimpulkan bahwa anak itu sangatlah tegar meski dia telah menyaksikan perilaku sadis para perampok hingga kedua orang tuanya menjadi korban kebringasan mereka.

"Bukan ranahmu untuk membalas mereka. Biarlah Tuhan yang memberikan keadilan untuk orang tuamu!"

Jasson memandang Eddy seketika.

"Dan membiarkan mereka melakukan kejahatan mereka lagi di tempat lain?"

Eddy terdiam membeku.

'Pikiran anak ini sungguh jauh ke depan.' Batin Eddy.

"Istirahatlah. Kau sangat membutuhkan istirahat sekarang."

Pendar lampu minyak yang semula meneriangi mereka, kini dimatikan oleh Eddy. Ia bersiap membaringkan tubuhnya di atas dipan yang berada tak jauh dari Jasson. Jasson pun belum ingin tidur, tapi dia berusaha menenangkan dirinya sendiri yang mulai diselimuti amarah dan ambisi.

...

Paginya, Eddy membelah kayu dengan kapak di depan rumah.

Kayu itu nantinya akan dia gunakan untuk kayu bakar untuk memasak makanan.

Peluhnya banyak bercucuran. Hampir satu kubik sudah ia membelah kayu itu menjadi potongan kecil-kecil.

Sebuah tangan kecil mengulur tepat di bawah wajahnya, menghentikan dirinya yang hendak mengayunkan kapak.

"Aku akan membantumu, Paman."

Eddy tersenyum mendapati Jasson sudah berdiri tegak di atas kakinya sendiri.

"Kau yakin sudah pulih benar?"

Jasson hanya mengangguk.

"Kapak ini berat." Ujar Eddy sambil memberkan kapak itu.

Benar saja, tubuh kecil Jasson kesulitan membawa kapak tersebut. Ia sedikit terhuyung ketika mengayunkan kapak itu pada kayu yang berdiri.

Eddy masih melihat.

Dengan penuh kerja keras, akhirnya Jasson bisa membelah kayu itu meski sedikit meleset dan tak sama besarnya.

Ia mencoba lagi. Percobaan kedua cukup membuat Eddy terpukau.

Ketiga dan seterusnya membuat Eddy memandang ekspresi yang dikeluarkan oleh Jasson.

Ekspresi itu menggambarkan kemarahan yang teramat sangat besar. Juga ambisi untuk menghancurkan kayu yang saat ini berubah menjadi kecil-kecil.

Lama-lama gerakan Jasson pula terlihat berbeda. Kapak yang semula berat, kini sudah bagai mengayunkan kayu berukuran kecil. Enteng sekali.

Jasson tak berhenti mengahancurkan potongan kayu-kayu itu hingga Eddy yang sigap untuk menghentikannya.

"Cukup!"

Eddy mengambil alih kapak itu, sementara Jasson terengah-engah hampir kehabisan napas.

"Aku melihat ambisi yang menggebu dalam dirimu, Jasson. Aku juga melihat luka hati yang kau simpan karena kehilangan orang tuamu. Untuk itu, aku punya senjata untukmu dan akan melatihmu agar kau bisa mewujudkan keinginanmu!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel CEO LEBAY
8.3
Richard tewas setelah gagal bersaing memperebutkan Claudia. Di akhirat, ia memprotes ketidakadilan nasibnya hingga Tuhan memberinya kesempatan hidup kedua. Berkat doa tulus seorang gadis, Richard bangkit dengan memori masa lalu yang luar biasa. Kini ia menguasai berbagai bahasa dan seni, serta tahu letak harta karun tersembunyi. Sambil mengejar Claudia dengan kekayaan barunya, Richard mulai ragu apakah obsesinya itu benar atau ada cinta lain yang lebih tulus.
Sampul Novel Dendam Seorang Pelacur
8.3
Felisha membuktikan bahwa wanita yang tersakiti mampu menjadi sosok yang sangat tangguh. Demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya, ia bergabung dengan Agency The Angel sebagai wanita panggilan kelas atas. Bersama sang adik, Shasya, Felisha rela terjun ke dunia prostitusi elite demi melacak sang pembunuh. Mereka mempertaruhkan segalanya dalam misi berbahaya ini demi mengungkap kebenaran dan membalas rasa sakit hati yang selama ini terpendam.
Sampul Novel Keinginan Sang Elf: Petualangan Erotis di Dunia Peri
8.7
Lyra, elf muda yang anggun, memulai pengembaraan demi memuaskan rasa ingin tahunya akan dunia luar dan hasrat sensual yang terpendam. Perjalanannya berubah saat bertemu Orion, peri tampan yang membimbingnya menjelajahi sisi erotis yang belum pernah ia jamah. Di tengah keindahan dunia peri yang penuh keajaiban, mereka harus menghadapi ancaman gelap yang mengintai. Hubungan keduanya berkembang menjadi ikatan intim yang dalam saat rahasia besar mulai terungkap dan menguji cinta mereka.
Sampul Novel Mystical Item User
8.6
Main adalah pemuda lemah yang sangat sensitif terhadap cahaya matahari. Ia mengemban misi berat untuk kembali ke desa demi menghancurkan mustika ular hijau yang berbahaya. Namun, perjalanannya penuh rintangan saat ia harus bertarung melawan para pengguna piranti mistik. Main juga terjebak dalam berbagai konflik sengit melawan manusia dan makhluk gaib. Ia harus berjuang mencari informasi demi menemukan lokasi mustika itu dan menuntaskan tugasnya.
Sampul Novel Pelangi Di Atas Singasari
8.6
Mahesa, putra Arjuna dan Ken Rukmini, terjebak dalam intrik Kerajaan Pedang Wangi saat menghadapi ancaman Joyorono serta pasukan Mong. Didampingi Niken Wulandari, ia nekat bersekutu dengan Mong demi menumbangkan musuh, namun justru dikhianati. Untuk menyelamatkan negeri, Mahesa harus mengungkap rahasia masa lalu dan membangkitkan kekuatan pusaka Wesi Wangi. Di tengah pengkhianatan istana, ia belajar bahwa kepemimpinan sejati menuntut pengorbanan ego demi rakyat.