
Scary Love
Bab 3
Pergerakan Eddy masih Jasson ikut. Hingga ia di dalam rumah, Eddy menyuruhnya untuk duduk.
"Aku akan mengambilkan sesuatu untukmu."
Eddy membuka pintu lemari kayu yang berukuran kecil. Di dalam situlah biasanya Eddy menyimpan pakaiannya yang bersih.
"Aku tidak perlu memakai bajumu!" seru Jasson.
Ia kira, Eddy akan mengambilkan baju miliknya untuk ia gunakan ditubuh Jasson yag mungil.
Tapi, yang ada ditangan Eddy ketika ia berbalik badan adalah sebuah kotak kayu berbentuk persegi panjang.
"Ini lebih penting daripada sebuah baju."
Pria 40 tahunan itu mengambil tempat duduk di sebelah Jasson. Perlahan ia membuk kotak itu dan sebuah pisau dengan ujung yang runcing mengkilat di depan mata.
"Pisau?" Jasson berucap.
"Ini bisa kau gunakan untuk berlatih lempar jarak jauh. Aku akan mengajarimu tekniknya. Selain itu, suatu saat ini juga bisa kau gunakan untuk melindungi dirimu dari bahaya, Jass."
Jasson masih belum mengerti kenapa Eddy memberikan pisaunya pada dirinya.
"Pertahanan diri dibutuhkan di jaman sekarang ini. Meski kau masih kecil, tapi aku tak bisa membendung amarahmu yang meledak ketika kau mengingat kejadian kemarin. Untuk itu, aku berikan pisau ini padamu untuk kau gunakan berlatih."
Perlahan Jasson mengambil pisau runcing yang terbalut kain lembut dalam kotak tersebut.
"Dari kemarin kau tak menanyakan siapa namaku. Aku akan perkenalkan diri. Aku Eddy, mantan tentara. Aku memilih pensiun untuk mencari kehidupan yang tenang."
Jasson hanya mengangguk.
"Aku hanya punya kau, kaupun sepertinya hanya punya aku. Untuk itu, kita akan jadi pasangan di desa ini sebagai paman dan keponakan. Bagaimana?"
"Terserah paman." Jawab Jasson.
Tanpa ragu dan penuh kepercayaan diri, Eddy melatih Jasson. Terutama fisik.
Tubuh Jasson harus ia bentuk sejak dini. Mulai dari makanan yang akan dia makan, serta olahraga yang harus Jasson lakukan setiap hari.
Eddy terus memantaunya.
"Lakukan dengan baik Jasson!"
Jasson mengumpat kesal pada Eddy karena seharian ini dia tak diizinkan untuk istirahat sama sekali.
"Apa kau ingin membunuhku perlahan, Paman?" tanyanya sambil mencabut pohon singkong.
"Bukankah kau ingin segera dewasa dan melakukan apa yang kau sebut keadilan itu?"
"Ya, kau benar. Tapi bukan begini caranya!"
Setiap hari Jasson disuruh untuk menanam singkong serta sayuran lain yang bisa mereka tanam untuk kebutuhan makan sehari-hari. Setelah yang ini ditanam, ia di suruh mencabut tanaman singkong yang sudah besar, yang jelas sudah ada singkongnya untuk menu mereka.
Selain itu juga Jasson harus menyapu seluruh halaman yang begitu luas, megumpulkan ranting untuk digunakan sebagai kayu bakar, serta berolah raga berlari keliling pekarangan di bawah terik matahari siang.
Sementara Eddy hanya memantau dan memberikan komandonya.
"Ini bukan berlatih untuk bisa hebat. Mana yang kau katakan berlatih melempar pisau jarak jauh? Setelah kemarin kau menunjukkan pisau itu, sekarang kau tak lagi meminjamkannya untukku!" sambil mengerjakan tugas dari Eddy, Jasson tak hentinya mengomel dengan latihan yang pria itu berikan.
"Kau masih sangat kecil untuk melakukan itu!"
KRAUKK
Eddy memakan buah apel yang ada di tangannya.
"Dasar pembohong!" umpat Jasson kembali.
...
Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, barulah Jasson menghentikan aktifitas melelahkan yang beberapa hari ini telah dia lakukan.
Dia mandi dan memakai pakaian baru yang dibelikan oleh Eddy.
"Ini, singkong bakar untukmu!" Eddy melempar singkong hitam panas itu begitu saja sehingga refleks Jasson menangapnya.
"Aw, panas!" segaja Jasson menjatuhkan makanan itu ke tanah, lalu memungutnya kembali dan menaruh di atas selembar daun pisang.
"Jika tubuhmu sudah terbentuk dengan baik, aku pasti akan melatihmu dengan latihan bagai seorang tentara."
"Aku sudah tak sabar melakukannya. Berikan latihan itu secepatnya!"
Eddy tersenyum.
Anak itu masih saja dingin dan kaku.
"Apa kau bisa menjanjikan sesuatu untukku?"
Dibawah langit hitam yang bertaburan bintang, serta api ungun kecil yang menghangatkan tubuh mereka, mereka mulai suatu perbincangan serius.
"Janji apa?"
"Terlepas dari dendam yang kau miliki pada perampok yang telah membunuh orang tuamu, aku ingin kau tetap bersikap baik pada orang lain, juga membantu mereka. Apa kau bisa?"
"Kau salah jika kau kira aku ini anak yang jahat."
Jawaban yang Jasson berikan kembali membuat Eddy tersenyum.
"Aku hanya berjaga-jaga saja. Aku tahu kau anak yang baik. Karena itulah aku berani menawarkan pisau itu kepadamu." Bau singkong bakar sudah menari di depan hidungnya.
Ia memilih melahap singkong itu diikuti oleh Jasson yang juga sudah membuang kulit singkongng hangus.
"Berjanjilah untuk tetap berbuat baik pada siapapun. Serta, andai kau bisa, janganlah kau membunuh para rampok itu andai kau sudah menemukan keberadaan mereka. Cukup kau beri pelajaran-"
"Tidak. Aku tidak janji." Potong Jasson. "Kau tidak melihat keadaan ayah dan ibuku serta pamanku dan warga kampung Ars. Kau hanya bisa bicara tanpa melihat kenyataan berdarah itu."
Jasson menahan sesenggukannya ketika ia mengingat wajah terakhir keluarganya.
"Kau tidak melihat literan darah mengalir di sekitar mayat-maat itu. Kau tidak melihat baaimana perampok itu tertawa ditengah puluhan orang yang meregang nyawa. Terserah, aku tak peduli dengan pisau itu, aku bisa menggunakan ranting untuk melatih kemampuanku!"
Banyak kepedihan yang terpendam di hati Jasson, Eddy bisa melihat itu. Anak sekecil itu sudah kehilangan masa bermainnya. Wajar jika Jasson berlaku demikian.
...
Esok harinya dan lima hari kemudian, Jasson tak terlalu banyak bicara pada Eddy. Dia masih marah dengan syarat yang Eddy ajukan.
Tanpa di suruh dia sudah melakukan semua yang seharusnya dia lakukan. Seperti menanam sayur, menyapu halaman, memotong pepohonan yang kering, atau mencari rumput untuk ternak Eddy.
Dia juga olahraga sendiri, seperti berlari beberapa ratus meter. Menggunakan ranting panjang sebagai pedang, ia gunakan untuk berlatih meski Eddy belum pernah mengajarkan teknik silat atau beladiri.
Eddy melihat ambisi yang begitu luar biasa pada diri Jasson, maka diapun menghampiri Jasson.
"Kuda-kudamu salah!" Eddy memukul kaki Jasson dan menunjukkan kuda-kuda yang benar.
Jasson mengikuti dan ternyata dia sangat cepat belajar.
Dalam waktu beberapa bulan saja Jasson sudah menunjukkan kemampuan yang luar biasa. Eddy hanya perlu mengasah agar lebih baik dengan teknik yang benar.
Dengan pisau dapur, Eddy melatih Jasson melempar pisau jarak jauk.
Target mereka adaah pohon isang yang sudah berdiri beberapa meter di depan mereka.
Terlebih dahulu Eddy memberikan contoh, lalu Jasson mengikuti.
Beberapa lemparan gagal. Mereka meneruskan latihan esok harinya.
Jasson sangat bersemangat. Tak pernah lagi ia mengeluh lelah atau apapun, karena dia sudah merasakan sendiri efek latihan yang Eddy berikan.
Dua belas tahun kemudian.
DAAAGG
Lemparan batu Jasson menjatuhkan burung besar yang terbang jauh di atas sana.
"Cukup untuk makan siang hari ini."
Anda Mungkin Juga Suka





