
Satu Shaf Di Belakangmu
Bab 2
“Aku menikahimu hanya karena ingin pembagian saham dari orang tuaku bukan karena cinta,” ungkap Athar.
Deg!
“Kamu jahat, Mas. Kenapa kamu setuju dengan perjodohan ini kalau jika hanya ingin mempemainkannya saja? Pernikahan itu ibadah bukan bahan bercandaan, Mas.”
“Masih pagi sudah ceramah. Minggir, aku mau mandi.” Athar mendorong istrinya hingga perempuan itu sedikit terhuyung.
Sebutir harapan kembali luntur. Eira tidak menyangka alasan di balik perjodohan ini semata-mata hanya karena harta. Segelimang kekayaan tiada artinya jika tidak diselipkan kebahagiaan di dalamnya. Ujian berat sebagai seorang istri baru dimulai. Eira mengusap air matanya sebelum keluar kamar. Bagaimanapun juga tidak ada yang boleh mengetahui aib rumah tangganya.
“Gimana masakan hari ini?” tanya Diana.
Keluarga besar Athar tengah berkumpul menikmati sarapan pagi. Diana senang mempunyai menantu seperti Eira yang pandai memasak. Bukan hal yang asing lagi akan seutas pertanyaan tersebut. Setiap hari ia menyelipkan pertanyaan yang sama. Ia jauh lebih suka jawaban dari putranya daripada suaminya. Karena sang suami sering meledek masakannya yang rasanya terkadang hambar, asin, bahkan gosong.
“Enak,” jawab Athar singkat.
Mendengar hal tersebut Eira tersenyum bahagia. Masakan pertamanya diakui enak oleh suaminya. Satu kata yang berharga dan mampu menghilangkan kesedihannya. Eira perlahan berlajar mengingat makanan dan minuman kesukaan Athar. Ia juga menemukan fakta baru jika pria itu tidak menyukai kopi. Hal tersebut sesuai dengan doa-doa yang selama ini panjatkan.
“Ngomong-ngomong ini semua yang masak Eira, loh. Mama senang deh punya menantu yang paket komplit gini. Pintar masak, rajin, dan cantik lagi,” puji Diana.
“Biasa saja,” kata Athar.
“Jangan didengarkan ya, Eira. Mungkin Atharnya lagi malu, jadinya dia ngomong kayak gitu,”
Sedangkan Eira hanya mengangguk sebagai jawaban. Mengulas senyum di balik kekecewaannya pada sang suami. Athar memang bukan pria yang mudah ditaklukkan. Berjuang sendiri memang memerlukan pendirian yang kuat dan hati yang tidak gampang goyah. Eira hanya memilki raganya, namun tidak dengan hatinya.
“Berhubung hari ini kalian mau pindah. Mama mau nitip pesan, jaga komunikasi dan hati. Jangan sampai ada kesalahpahaman yang membuat rumah tangga kalian sampai hancur. Terutama kamu, Athar,”
Athar sudah muak mendengar segala ancaman yang diberikan oleh ibunya. Ia merasa tersisihkan dan terkekang dengan kehadiran Eira. Tidak bisa bebas seperti dulu lagi.
“Kelakuan sama kayak menantunya, ceramah mulu,” gerutu Athar lalu pergi meninggalkan meja makan.
Kesabaran Eira diuji, ia memilih membereskan piring kotor bersama mertuanya dan tak lupa mencucinya. Setelah itu, barulah ia mengemas pakaian yang akan dibawa ke tempat tinggalnya bersama sang suami. Eira menganggap Diana sudah seperti ibu kandunganya sendiri. Sehingga ketika ia pergi dari rumah ini, hatinya sedikit tidak rela. Membayangkan ke depannya harus menghadapi sikap Athar yang suka semena-mena.
Di perjalanan menuju rumah mereka, Athar menyempatkan untuk mengajak Eira untuk menemui teman-temannya. Eira tidak setuju dengan hal tersebut, namun ia tidak punya kuasa untuk menolak. Alhasil di sinilah mereka berada. Sebuah kafe yang terasa asing bagi Eira.
Tidak ada satupun orang yang dikenal Eira. Wanita itu termenung sendirian seperti orang asing. Athar bahkan mengacuhkannya, sama sekali tidak mencerminkan pengantin baru pada umumnya yang dilanda keromantisan. Demi mengurangi situasi yang canggung, Eira meminta izin ke toilet pada sang suami.
Lagi-lagi hanya deheman singkat yang Eira dengar. Sesampainya di toilet, ia menatap cermin sembari merapihkan jilbab dan pakaiannya. Entah sampai kapan kehadirannya tidak dihiraukan. Eira memutuskan untuk kembali. Sayangnya ia berjalan sambil melamun sehingga tidak tahu ada bahaya yang mengintai.
Pyar!
Lampu yang berada di atasnya hampir menimpa kepala Eira. Saking terkejutnya, wanita itu tidak sadar jika berada dalam pelukan seseorang. Jantungnya bergemuruh melihat lampu sebesar itu pecah dan berserakan di mana-mana.
Bugh!
Keterkejutan Eira tidak berhenti sampai di sana. Pasalnya Athar datang dan memukul pria yang menolongnya dengan tonjokan tepat di wajahnya. Eira mendekat dan mencoba memisahkan, namun Athar justru mendorongnya. Hingga pemilik kafe tiba dan barulah perkelahian itu berhenti.
“Mas, dia yang sudah menolong aku. Kenapa kamu malah pukul dia?”
“Ayo, pulang,” ajak Athar sembari menarik tangan istrinya kasar.
“Tapi, Mas–“
“Aku bilang pulang ya pulang!” seru Athar tidak mau dibantah.
Belum sempat Eira mengucapkan terima kasih, tangannya sudah ditarik membelah keramaian pengunjung kafe. Kesalahpahaman ini seharusnya bisa diluruskan dengan cepat. Eira gagal meredam emosi suaminya.
Dan tibalah mereka di kediaman yang baru. Athar sudah menempati rumah ini sekitar satu tahun lamanya. Sementara Eira pertama kalinya menapakkan kakinya ke sini. Tempat tinggal yang terkesan mewah sampai mulutnya terdiam.
“Kamar kamu di sebelah,” kata Athar seraya menunjuk kamar di sebelahnya.
“Kenapa tidak satu kamar saja?” tanya Eira.
“Jangan mimpi kamu bisa sekamar denganku,”
Hanya status yang berganti. Jika pasangan suami istri pisah ranjang sama halnya hidup seorang diri. Di sini yang dimiliki Eira hanyalah Athar. Dentingan keras ketika pria itu menutup pintu dengan keras menyadarkannya jika mencari celah untuk masuk ke hati suaminya sangatlah sulit.
Diseretnya koper menuju kamar sebelah. Sesakit apapun hatinya sekarang, Eira tidak boleh terlihat kacau di hadapan Athar. Setelah itu, barulah ia menata semua pakaiannya di almari. Diperuntukkan bagi satu orang rasanya ruangan yang begitu luas terasa sepi. Menatap tembok dalam lamunan sepertinya akan menjadi rutinitas awalnya.
Sampai waktu sholat isya tiba, Eira baru keluar dari kamar setelah seharian tidak melakukan aktivitas apapun. Bagaimanapun juga ia tidak boleh membalas keburukan suaminya dengan hal yang sama.
“Sudah sejak kapan kamu tidak sholat, Mas?”
Pekataan yang keluar barusan sebenarnya tercetus begitu saja. Ia tidak bermaksud lancang sedikitpun mengenai hal tersebut. Pasalnya ibadah tidak perlu diumbar apalagi haus akan pujian. Namun, rasa penasarannya mencuak karena sejak kemarin ia belum melihat suaminya sholat sama sekali.
Lama terdiam, Eira mendekat ke arah suaminya yang sedang berkutat di laptop. Diraihnya laptop itu lalu disingkirkan dari hadapan mereka. Tindakan Eira ini tentu membangkitkan amarah Athar yang baru saja padam.
“Sejak diselingkuhi oleh orang yang ku cintai. Puas kamu?”
“Astaghfirullah, Mas. Kamu marah pada manusia tapi kenapa Allah yang kamu abaikan?”
“Jangan mencampuri urusanku. Mau aku sholat atau tidak, itu bukan urusan kamu,”
Eira dipaksa keluar oleh Athar. Tidak habis pikir dengan pikiran sedangkal itu. Wanita itu terpaku atas alasan yang diungkapkan suaminya. Mementingkan urusan duniawi dan melalaikan urusan akhir menjadi titik keterpurukan pria itu. Eira kini sadar jika ia menikah dengan lelaki yang belum selesai dengan masa lalunya. Sungguh, cobaan yang berat baginya dalam memulai hubungan yang tidak berlandaskan pada cinta.
Anda Mungkin Juga Suka





