
Satu Shaf Di Belakangmu
Bab 3
Memasuki satu bulan lamanya pernikahan Eira dan Athar. Belum juga ada hasil yang baik bagi keduanya. Sikap Athar yang egois menjadikan Eira mengalami tekanan batin. Kehadirannya tidak pernah dianggap.
Setiap harinya tidak ada obrolan khusus yang mengarah pada rencana di masa mendatang. Athar yang seringkali pulang tengah malam terkadang mengabaikan masakannya yang sudah susah payah dibuatnya. Alhasil ia hanya berkesempatan sarapan pagi bersama sang suami. Ia tahu Athar sosok yang pekerja keras hingga tak kenal waktu sampai-sampai melupakan kewajibannya sebagai seorang suami. Eira ingin merasakan yang namanya disayang, dicintai, diperhatikan seperti hak istri pada umumnya.
Daripada larut dalam kesedihan, Eira memutuskan memesan ojek online untuk mengantarnya belanja kebutuhan dapur yang sudah mulai menipis. Saat ini ia belum kepikiran untuk mempekerjakan pembantu di rumahnya. Selagi bisa dikerjakan sendiri, maka ia tidak mau merepotkan orang lain.
Pandangan Eira tertuju pada pasangan suami istri yang lalu lalang. Andaikan Athar menerimanya dengan baik, ia bisa merasakan keromantisan dari hal sederhana. Terpaksa ia mendorong troli sendiri ketika mengitari supermarket.
“Tunggu, kamu istrinya Athar, ‘kan?”
Tanpa harus bersusah payah akhirnya Eira berjumpa dengan lelaki yang telah menolongnya pada waktu itu. Dibalasnya pertanyaan itu dengan senyuman. Entah mengapa ia suka dengan perkataan sepert itu.
“Perkenalkan namaku, Adnan. Kita belum sempat kenalan kemarin,” ujar Adnan mengulurkan tangannya untuk salaman dengan Eira.
Uluran tangan itu disambut Eira dengan menyatukan kedua tangannya di dada lantaran Adnan bukan mahramnya. Sedangkan Adnan seikit malu lantaran ditolak. Namun, ia memahami betul akan prinsip wanita di depannya.
“Benar, ngomong-ngomong apa kamu temannya Mas Athar?” tanya balik Eira.
“Ya, kita satu kampus dulu. Boleh aku bantu bawa belanjaanmu?” tawar Adnan.
“Biar aku saja,” tolak Eira secara halus.
“Tidak apa-apa. Aku ikhlas menolongmu dan kali ini jangan menolak,”
“Baiklah, terima kasih,”
Lagi-lagi Eira menerima perhatian tulus dari orang lain. Adnan sepertinya pria yang baik, namun Eira merasa ada aura permusuhan yang kuat pada lelaki itu dan suaminya. Teringat perkelahian yang terjadi di antara mereka sepertinya keduanya bukanlah sahabat dekat.
Hanya sekedar obrolan ringan sepanjang gondola yang mereka lewati. Sesekali Adnan membantu meraih barang yang berada di rak paling atas ketika Eira tidak bisa menjangkaunya. Sosok Eira yang begitu teduh membuat Adnan terpesona olehnya. Salahkah jika ia menaruh rasa pada istri sahabatnya?
Hubungan Adnan dan Athar sudah sangat buruk. Adnan tidak mau semakin memperkeruh suasana. Namun, tindakannya yang seperti ini justru memicu gendering baru. Tidak ada niat sedikitpun untuk merusak hubungan rumah tangga Athar dan Eira. Ia hanya ingin berteman baik dengan wanita itu. Adapun hal lain adalah ia ingin meminta bantuan pada perempuan tersebut guna memperoleh maaf dari Athar karena perbuatannya di masa lalu. Akan tetapi, tidak dalam waktu dekat. Ia akan berusaha mencari momen yang tepat.
“Soal kejadian di kafe waktu itu. Aku minta maaf, atas nama suamiku. Maukah kamu memaafkannya?”
“Apa kamu sangat mencintainya sampai rela meminta maaf atas kesalahan yang tidak kamu lakukan?”
“Tentu, aku sangat mencintainya. Jadi, apa kamu mau memaafkannya?”
Tanpa ragu sedikitpun Eira mengaku bahwa ia mencintai Athar selaku suaminya. Sosok Adnan yang begitu ramah membuatnya merasa nyaman. Anehnya, hal ini tidak didapatkannya dari sang suami. Interaksi mereka layaknya pasangan sungguhan.
Perbincangan yang awalnya hanya sekedar kenalan kin mengarah ke obrolan serius. Adnan tidak bisa banyak bicara mengenai permasalahannya dengan Athar. Ia tidak mau orang lain tahu akan hal tersebut termasuk Eira. Ia paham betul dengan karakter Athar. Oleh karena itu, ia memilih menyimpan masalah ini dan membiarkan Athar terbuka dengan Eira.
“Aku pantas mendapatkan pukulan itu. Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah memaafkannya. Mungkin suamimu yang belum bisa memaafkanku,”
“Apa ada masalah di antara kalian?”
“Kalau soal itu tanyakan langsung saja pada suamimu,”
Netra wanita berbalut gamis berwarna nude itu menelisik ekspresi wajah Adnan yang seketika murah ketika ia bertanya demikian. Eira tidak bermaksud ikut campur, namun jika menunggu Athar terus terang rasanya tidak mungkin. Athar sangatlah tertutup dan enggan mencurahkan keluh-kesahnya.
Seusai membayar di kasir, Eira ingin memesan ojek online lagi. Akan tetapi, kegiatannya itu dihentikan oleh Adnan. Terpaksa ia mengizinkan pria itu untuk mengantarnya pulang. Tanpa Eira sadari, sebenarnya Adnan menaruh kekaguman padanya. Terbukti dari tatapan yang berbeda yang dipancarkan oleh lelaki tersebut.
Pengalaman pertama bagi Adnan datang ke rumah baru Athar. Ia mampir sejenak bukan karena ada niatan lain. Melainkan membantu Eira membawakan barang belanjaan hingga ke dapur. Meskipun demikian, Eira berusaha menjaga jarak dengan tidak berdekatan dengan pria itu.
“Boleh numpang ke kamar mandi?”
“Tentu, silakan,”
Eira bingung harus membuatkan minum atau tidak. Pasalnya Adnan sudah banyak membantunya. Namun, jika ia menyuguhkannya maka ia bisa terjebak berdua dan takutnya menimbulkam fitnah.
Tak lama kemudian terdengar suara mesin kendaraan. Eira masih belum menyadarinya karena masih menata barang belanjaannya ke masing-masing tempat. Bersamaan dengan itu Athar datang menghampiri istrinya dan juga Adnan yang baru selesai dari kamar mandi.
“Kamu sudah pulang, Mas?”
“Kenapa memangnya kalau aku sudah pulang? Apa kalian terganggu karena kepergok berselingkuh?”
Athar tidak bisa lagi berpikir jernih. Darahnya mendidih melihat istrinya berduaan di rumah bersama pria lain. Apalagi dengan Adnan yang selama ini selalu mengusik kehidupannya. Matanya memerah memancarkan kemarahan yang luar biasa.
Tudingan akan perselingkuhan tersebut membuat Adnan membabi buta. Ia menepis dengan lantang. Dari dulu sifat Athar yang gampang tersulut dan mudah menyimpulkan tanpa mencari kebenaran tidak pernah berubah dan Adnan pun muak melihatnya.
“Jaga mulutmu! Jangan asal menuduh jika tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya,” seru Adnan tersulut emosi.
Bugh bugh!
Tanpa basa-basi Athar menonjok Adnan hingga membuat hidung pria itu berdarah karena terkena pukulan yang cukup keras. Eira yang melerainya juga mendapat imbasnya. Tubuhnya terpental sampai kepalanya terbentur meja.
Melihat kejadian tersebut, Adnan tidak terima ketika Athar melakukan kekerasan di depan matanya. Bergegas ia menghampiri Eira yang terjatuh. Ia kira Athar hanya berani melawannya saja. Namun, dugaannya salah besar. Pria itu dengan teganya menyakiti wanita.
“Jangan ikut campur dengan urusan rumah tanggaku. Dan satu hal lagi jangan pernah menginjakkan kaki kotormu itu ke rumahku lagi,” ancam Athar.
Adnan menatap iba pada Eira. Sedangkan Eira mengisyaratkan dengan tatapan matanya, meminta Adnan untuk segera menjauh. Tidak biasanya Athar pulang sore hari, maka dari itu ia menerima itikad baik Adnan. Meskipun begitu, tadinya ia berniat untuk memberi tahu sang suami ketika sudah pulang. Siapa sangka justru keduanya terlibat perkelahian sengit.
“Rupanya istri kecilku ini sudah berani bermain api di belakangku.” Athar menjambak jilbab istrinya dengan kencang.
“Mas, kamu salah paham. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Mas Adnan,” bantah Eira.
“Mas Adnan? Cih, panggilan yang menjijikkan untuk selingkuhan,” cibir Athar berdesis tak suka.
Anda Mungkin Juga Suka





