
Sang Pewaris Pesantren
Bab 2
Badannya begitu gemetar tidaklah karuan. Matanya begitu sayup, dan ada beberapa bulir air mata yang lekas meluncur di TV pipinya.
Pandangannya menatapku dalam-dalam.
Sementara aku mentapnya dengan penuh tanya dan kecemasan.
Sebenarnya apa yang gadis ini inginkan?
Aku tidak tahu, gadis ini kenapa juga terengah-engah?
Deruh nafasnya begitu menandakan kecemasan dan kekhawatiran yang serta merta menghantuinya.
"Tolonglah, aku!"
Tangan dinginnya menghinggap di atas punggung tanganku, lalu melemas ketika aku menatapnya dengan mata elang yang tiba-tiba.
Aku tidak tahu benar, tolong buat hal apa?
"Berhentilah!!!! sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih buruk buatmu ...."
Aku mendengar pria yang usai lewat disampig kananku.
Saat itu, aku menoleh ternyata gadis yang tadinya di depanku itu langsung melesat.
Aku dihantui pertanyaan yang tidak mampu aku jawab di detik itu, aku pun tidak sempat berfikir soal gadis yang menabrakku tadi.
Apa yang terjadi?
Aku melajukan motorku dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ku lihat pria itu hampir berjarak tiga langkah dari gadis itu.
Aku turun dari atas motor lalu aku berlari dan mendekati para guru dan karyawan yang berada dibelakang laki-laki brandal yang gila itu.
"Bila kalian mendekat maka akan aku akan bunuh gadis ini!"
Ku lihat air mata gadis itu menetes, mulutnya terbungkam tiada dapat berbicara.
Hanya terdapat rintihan lepaskan dan lepaskan. Ini sebenarnya ada apa? Aku begitu tidak faham dengan semua ini.
Rasanya aku tidak berani menatap gadis itu yang menahan luka batin dan merasakan dilema yang seperti saat ini.
"Ayo ... pergi denganku, bukankah kamu ingin merasakan yang dirasakan Fatma?"
laki-laki brandal itu menarik gadis yang tangannya Ia genggam tanpa tahu rasanya sakit, tidak hanya itu juga, tangan gadis itu sempat diremas-remas di hadapan kami, namun kenapa kami begitu tidak berdaya?
Laki-laki brandal itu sungguh tak memiliki hati. Aku jijik melihatnya.
"Awas kalian jangan mendekat, aku bisa menusuk gadis ini dengan pisau yang ada di pinggangku!"
Laki-laki bradal itu mengeluarkan pisau kecil. Namun aku tidak perlu memikirkan dampak negatif bila mana pisau itu bisa menusuk perut gadis itu, atau bisa melukai gadis itu permanen.
Kami yang mulai melangkah maju, beberapa langkah bisa memundur lagi karena ucapan itu.
Kami harus mengambil stragtegi, membuat laki-laki brandall itu bisa pergi meninggalkan gadis yang dipegang tangannya itu.
Tidak beberapa lama, pikiranku terbelesat ketika aku menatap kaki gadis itu yang tidak memakai sandal.
"Dek ... lari!!!!"
Aku berteriak cukup keras. Sambil tangan yang memberi aba-aba menyuruh gadis itu pergi.
Ya, mungkin tidak seberapa usahaku menolongnya. Hanya saja aku bermodal melempar sepatu yang habis aku beli kemarin dipasar.
Gadis itu berlari, namun yang aku lihat. Kenapa dari lajunya ia berlari menuju ke arah laut? Ada yang salah!
Laki-laki brandal itu, nampaknya begitu kuat dan masih mencoba mengejar gadis itu. Apa yang membuat laki-laki brandal itu ingin mendekat?
Kami terus mengejar!
Rasanya aku berlari mengejar mereka tidak bakalan tepat waktu, kelamaan.
Guru-guru lelaki yang mengejar itulah yang akan menangkap lelaki brandal itu. Sementara tugasku adalah menolong gadis itu.
Aku cepat-cepat menaiki motorku dan melajukannya kencang menuju gadis itu yang berlari menuju akhir tepi pesisir.
"Tenang, aku akan menolongmu!"
***
POV; Neng lia
Jalan yang mana yang harus aku pilih, sementara pria gila ini kian mengejarku tiada henti, sementara aku sudah sampai pada akhir tepi pesisir.
Haruskah aku berakhir disini?
Dan para guru laki-laki bahkan masih selisih beberapa langkah dari laki-laki itu.
Hembusan angin laut yang kencang mulai ku rasa.
Gemericiknya air laut terdengar keras dan semakin keras.
Kakiku mulai tergenang air, jalanku hanya bisa mundur tak bisa memilih jalan maju. Aku tak mau lagi merasakan pegangan tangan jahatnya.
Aku terus berjalan mundur, entah apa jadinya aku. Yang ada dalam batinku hanyalah ada lantunan ketakutan atas imanku yang hampir rapuh.
"Lailahaillaallah ...."
Aku menyebut itu berkali-kali.
Mataku semakin sayup, kelopak mataku tergenang airmata.
"Braakk!!!!!!"
Bersamaan itu, ombak benar-benar menyeretku, badanku tiada kuasa menghalang.
Hingga tubuhku yang lunglai ini tumbang dan terbawa air yang menggelombang.
Aku sudah terlanjur menuju ke lautan luas ini.
Apakah aku akan digiring bersama air ini menghadap pada allah?
Air laut membasahi tubuhku menyeluruh, aku semakin ditarik semakin dalam, ombak berkali-kali menghantamku.
Dan aku hanya bisa diam tanpa lalu, Aku terasa lemas seketika. Lalu meminum banyak air laut, hingga aku rasanya lelah bernafas.
***
POV; Gus Iqbal
Laki-laki brandal itu akhirnya pingsan, setelah aku tabrak dengan motorku.
Seketika itupula aku melepas kemeja putihku, melontarkan kemeja itu bersamaan dengan peci hitamku ke badan motorku.
Aku yakin laki-laki brandal itu tida terluka berat, mungkin hanya nyeri dibagian pinggangnya yang terkena pukulan keras dari bemper depan motorku.
Biarlah, karena memang laki-laki brandal itu perlu diberi pelajaran untuk kegilaan yang dilakukannya pada gadis itu.
Aku mencebur ke arah gadis itu terseret ombak.
Lalu, aku menemukan gadis itu, didalam air laut yang bergelimang.
Diantara juga ombak-ombak kejam yang semakin menyeretnya.
Tangan kanannya kupegang erat, lalu kurapatkan dengan tangan kiriku.
Semua cara aku lakukan untuk mencegah ombak itu agar tidak membawanya lagi.
Pandanganku agak sedikit kabur, begitu buram karena berkali-kali air laut memuncratkan air ke mataku.
Sampai-sampai mataku perih dan agak panas kalau buat melihat sesuatu.
Aku mengangkat gadis itu. Menggendong depan dirinya,
Pandanganku seketika jatuh, memperhatikan wajah itu.
wajahnya yang basah terkena sinar mentari pagi yang membuatnya kalut.
Matanya samar-samar mulai terbuka perlahan. Namun mata itu memerah. Bersama kedipan matanya yang pelan.
Dari arah depan, belakang, ombak mehantam tiada batas.
Namun aku tetap memegang kuat-kuat tubuhnya agak tidak terlepas.
Meski kurasa badannya sedikit berat karena pakaiannya yang basah penuh dengan air laut.
"M ... m ... mas ....?"
"Assalamu'alaikum ...."
Mata itu menatapku penuh, hembusan nafasnya begitu pelan.
Kecantikannya memancar, bagai memikatku secara pelan dan membuat pandanganku tidak mampu lagi tuk aku kendalikan.
Ya tuhan, makhlukmu ini begitu Indah! Namun aku tiada memiliki hak untuk memandangnya dalam nafsu yang bergelora.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh."
Bibir merah jambunya menjawab salamku dengan patah-patah.
Lalu sesekali mencoba menyembunyikan mata, disanding merapatkan pegangan tangan kirinya yang berada di leher belakangku.
Seakan-akan takut jatuh, saat aku gendong depan begini.
Ya tuhan, kenapa aku tidak sadar? Sepanjang aku melangkah ke arah pesisir aku menatapnya tiada lalu. Parasnya begitu cantik. Bak bidadari yang tenggelam dalam lautan mimpiku.
Namun, jangan sampai meruntuhkan imanku. Aku harus tabah dan lebih menjaga pandangan.
"Tidak usah malu sama aku ... aku sendiri juga tahu semua ini bukanlah salahmu, tunggulah! kan aku ambilkan hijabmu."
Anda Mungkin Juga Suka





