Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sang Pencuri Kehormatan

Sang Pencuri Kehormatan

Hidup Devan yang bebas seketika hancur saat sesosok bayi ditinggalkan di depan rumahnya. Surat yang menyertainya mengungkap fakta mengejutkan bahwa bayi itu adalah putri kandungnya sendiri. Kini, kebebasan masa muda yang ia dambakan pun sirna. Situasi kian rumit ketika sang anak mulai mencari sosok ibu. Demi menenangkan putrinya, Devan terpaksa mencari ibu palsu untuk bersandiwara, dan pilihan itu jatuh kepada seorang wanita bernama Kiara.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi kembali datang. Semburat arunika menebar menghujani sebagian belahan bumi. Menampakkan keindahan yang sempat terlingkupi gelap. Harusnya pagi menjadi rutinitas yang indah, karena merupakan awal dari harapan akan hari ini.

Seorang gadis dengan tinggi kira-kira seratus lima tujuh itu mematut wajahnya di kaca. Memoles lipstik berwarna pink soft. Ia seperti tersadar saat seberkas cahaya matahari menerebos jendela kamarnya yang lupa ia buka. Ia tersentak dan lirik jam mungilnya di meja rias.

"Gawat! udah jam tujuh seperempat lagi. Mati gue!"

Kiara buru-buru menyelesaikan rutinitas dandannya, mematut sejenak penampilannya di cermin. Lalu tangannya menyambar tas kecil miliknya, memakai heelsnya.

"Bu, Kia berangkat."

"Ya, hati-hati."

Gadis itu tak terlalu mendengar jawaban ibunya. Berlari sekuat tenaga menuju halte bis yang berjarak lima ratus meter dari rumahnya.

Kurang lima meter lagi, terlihat bis mulai melaju.

"Eh! eh! Ey! Stop!" teriaknya sembari mengejar bis tersebut. Beruntung sang kernet melihatnya. Bis kembali berhenti.

"Hap! huft..."

Leganya saat berhasil mencapai dalam bis. Bis kembali melaju. Kiara mengedarkan pandangan mencari tempat kosong.

Pojok dua dari depan hanya satu penumpang. Kiara bergerak menuju kursi kosong tersebut.

"Hahh!" Akhirnya, setelah perjuangan panjang. Dia menyandarkan punggungnya di kursi bis.

Semburat sinar mentari mulai meninggi. Menerobos kaca bis, membuat silau mata. Jalanan pagi yang terlihat ramai dengan banyaknya kendaraan yang menuju aktivitas masing-masing.

Beginilah keseharian Kiara, berangkat pagi demi mengejar bis meski ujung-ujungnya tetap kesiangan sampai di kantor.

Sebenarnya biasanya dia menaiki bis kedua, karena memang dia membantu menyiapkan dagangan untuk ibunya dulu. Tapi berhubung bossnya killer, jadi dia akhirnya mengejar bis ke dua. Huh, padahal dulu pak Dedi saja memaklumi dirinya, tapi kenapa putranya tidak? menyebalkan!

Bis sampai juga di halte tujuannya. Dia bergegas membayar dan turun.

"Shit! tiga menit lagi!" gerutunya. Tidak ada cara lain, dia lepas heelsnya dan kembali berlari ke kantor. Bodo amat dengan tatapan heran dari orang-orang.

.

.

"Hosh! hosh! hosh! Capek banget,"

"Telat lagi?"

Kiara mengangguk.

"Pak Devan sudah di dalam?" tanyanya dengan suara lirih.

Ayu mengangguk.

"Aish!" keluhnya.

"Rajin amat sih. Mati deh gue. Nyariin gue gak tadi?"

"Gak kok. Lewat aja gak nengok."

"Syukur deh. Moga aja amnesia dia," harapnya.

Namun baru saja mingkem, telepon di mejanya berdering. Kiara bergegas meraihnya.

"Hall ... oh?"

"Masuk keruangan. Sekarang!"

"Ba-baik, Pak."

Telepon dimatikan. Kiara menangkupkan wajahnya di meja. Merutuk.

"Dipanggil lagi?"

Ia mengangguk, lesu.

"Semangat!"

"Yeah," sahutnya lemas seraya menuju ruangan Devan.

.

.

Hening. Hanya saja ruangan terasa panas dengan hawa dinging yang menusuk. Bingung kan? ya pokoknya begitulah yang dirasakan Kiara. Kena semprot lagi. Mampus!

"Apa kamu tidak punya jam, hah?"

"Pu-punya, Pak."

"Tidak bisa membaca jam?"

"Bisa pak," jawabnya dengan tetap menunduk.

"Kenapa datang terlambat lagi? sudah saya peringatkan bukan? saya tidak suka ada karyawan yang tidak disiplin. Dua hari saya disini kamu sudah membuat kesan yang buruk."

"Maaf, Pak."

"Hah, maaf lagi," dengusnya.

"Rumah saya jauh, Pak. Dan saya setiap hari naik bis dari rumah."

"Bukan urusan saya."

"Kamu di terima disini, tentu saja harus menuruti aturan perusahaan. Bukan perusahaan yang menurutimu. Belilah kendaraan, atau cari kontrakan disini. Kurang cerdas sekali."

Kiara menunduk. Andaikan bisa ia lakukan, sudah dari dulu dia mencari kontrakan di sekitar sini. Tapi ....

"Saya tidak mau tahu. Datang tepat waktu atau keluar dari perusahaan ini. Mengerti!" tatapnya tajam.

"Me-mengerti, Pak."

"Sudah! sana keluar!"

Kia bangkit dari duduknya.

"Tunggu!"

Kiara menghentikan langkahnya.

"Jangan lupa rapat nanti siang."

"Baik, Pak."

"Ya sudah! Sana!"

Hari ke-dua, diusir kedua kalinya, dan di omeli berkali-kali. Kiara melangkah keluar dengan gontai.

---

"Ya? hallo, kenapa, Nin?"

"Rara mengamuk lagi, Tuan"

"Ya sudah, kamu tenangkan. Ajak keluar jalan-jalan atau bagaimana, terserah."

"Sudah, Tuan. Tapi Rara tetap marah."

"Haish!" Devan mengacak rambutnya. Bukan karena dia kesal, dia merasa bingung saja.

"Memang dia minta apa? Apa kamu sudah tanya?"

"Emm ... itu, Tuan ...."

"Itu apa? Ngomong jangan setengah-setengah dong, Nin."

"Rara minta mama, Pak. Gara-gara tadi disekolah banyak yang diantar mamanya."

Devan terdiam. Inilah yang sedari dulu ditakutkannya. Suatu saat Rara pasti akan menanyakan itu. Menanyakan wanita yang menjadi mamanya. Ah, harus ia jawab bagaimana saat dia sendiri tak ingin membahasnya. Rara mulai memasuki Paud. Anak itu terlihat gembira saat ia diberi tahu akan sekolah. Tapi pasti anak-anak lain akan diantar mamanya, atau baby sitter seperti Nina.

Dan tentunya disana ia akan menemukan fakta bahwa ia tak punya mama. Ah, anak-anak itu.

"Bagaimana, Tuan? saya harus jawab bagaimana?"

"Huft ...." Hanya helaan napas yang terdengar.

"Baiklah. Katakan saja, nanti padanya bahwa papanya akan membawakan mama untuknya."

"Tapi, Tuan ... memang siapa mamanya Rara? Apa Tuan benar mau membawanya?"

"Pokoknya kamu katakan saja seperti itu, ya?"

"Baik, Tuan."

Devan memutus sambungan telepon. Mengusap kepalanya sedikit kasar, membuat rambut rapinya menjadi sedikit acak-acakan. Menjadi orang tua tunggal di usia semuda itu memang tidak mudah. Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin saja saat ini dia masih bebas menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Masih bisa bebas berkelana melalang buana sesukanya. Tapi karena anak itu, ia berusaha keras lulus dengan cepat dan berakhir memangkas masa mudanya dengan menggantikan papanya. Perjanjian yang dibuatnya dengan papanya dulu saat mengetahui dirinya telah mempunyai anak dengan menyuruhnya fokus ke studi dan mengurus perusahaan, atau kalau dia tidak mau, mereka akan mengusirnya. Dan semuanya berawal dari terpaksa.

Tapi, saat ini tak bisa di pungkiri, dia mulai menyayangi Rara. Wajah mungil dengan pipi gembul menggemaskan itu membuat lelahnya hilang. Mata bulat yang mengerjap berbinar saat menyambut kedatangannya seakan mengembalikan semangatnya.

"Argh! siapa yang akan ku bawa untuk menjadi mamanya Rara nanti. Kenapa sesembrono itu omonganmu, Devan!" rutuknya.

"Bagaimana kalau Rara kecewa kalau tahu aku pulang tidak membawa mamanya seperti yang aku janjikan? ah, dia pasti kecewa."

Tubuh kekarnya bersandar di kursi kebanggaannya dengan mata terpejam.

"Tok! tok! tok!"

"Masuk!"

Derap langkah pelan mendekatinya. Devan masih tak beranjak dari posisinya.

"Maaf pak. Jadwal rapat di percepat jam sepuluh."

Devan sontak membuka matanya. Gadis itu ternyata.

"Siapa yang merubahnya?"

"A-anu, Pak. Perusahaan dari Darkside corp."

"Aish! siapa dia seenaknya merubah jadwal!"

Darkside adalah perusahaan besar yang pengaruhnya sebanding dengan GF Corp. Mereka seringkali bersaing ketat.

"Mereka pikir karena aku baru menjabat bisa bertingkah seenaknya. Heh! kita lihat saja nanti," seringainya.

Kiara masih berdiri dengan bulu kuduk merinding. Sumpah, wajah pria di depannya ini berubah menakutkan.

"Kau bisa keluar."

"Baik, Pak."

Dengan senang hati.

Kiara membalikkan tubuhnya. Huft, untung saja pria itu cepat mengusirnya. Kali ini dia bersyukur. Hey, melihat wajah tampan, ah bukan! wajah sangar itu di depan matamu bukan hal baik bukan?

Namun, baru saja dua langkah ...

"Tunggu!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cantika : DESTINY OF LOVE
9.5
Pertemuan tak terduga dengan Jaden menyeret hidup Cantika ke dalam pusaran takdir yang mencekam. Melalui ultimatum posesif bahwa tak ada orang lain yang boleh memilikinya, Jaden mengurung Cantika dalam belenggu obsesi yang menyesakkan. Kini, Cantika dihadapkan pada pilihan sulit: melarikan diri dari dominasi pria itu atau justru terjerat perasaan cinta saat identitas asli Jaden terungkap. Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang rahasia dan ambisi.
Sampul Novel Desakan Perceraian dari Saudara Laki-Laki
9.1
Diceraikan saat hamil dan diusir oleh ibu mertua serta putri angkatnya, Sita Hartanto mengira hidupnya hancur. Namun, kebenaran terungkap bahwa Sita adalah putri kandung Keluarga Syailendra yang hilang. Enam kakak laki-lakinya yang berkuasa dan kaya raya siap melindunginya dari segala penindasan. Saat sang mantan suami memohon untuk rujuk kembali, ia harus menghadapi restu dari para kakak Sita yang protektif dalam novel romantis miliarder yang penuh intrik ini.
Sampul Novel Dikorbankan Demi Keselamatan Cintanya
9.1
Saat penculikan melanda diriku dan Elowyn—mantan kekasih suamiku—harapan muncul ketika suamiku yang berprofesi sebagai ahli negosiasi tiba di lokasi. Namun, saat penculik hanya mengizinkan satu sandera bebas, suamiku justru memilih menyelamatkan Elowyn. Dia berdalih Elowyn yang masih suci tidak akan kuat menghadapi trauma, sementara aku yang sudah berstatus istrinya dianggap sanggup bertahan. Meski aku memohon, dia tega menyerahkanku pada penculik, tanpa tahu aku sedang hamil tiga bulan.
Sampul Novel Dosa Termanis dengan Calon Iparku
9.6
Safira terjebak dalam dilema besar setelah menerima kesepakatan dari Kai, calon adik iparnya. Meski seharusnya ia setia pada Arkana, sang calon suami, Safira justru melampaui batas hingga membiarkan Kai mengusik hatinya. Hubungan terlarang ini memicu konsekuensi fatal saat benih cinta tumbuh di rahimnya. Di tengah pengkhianatan ini, Safira harus memilih antara tanggung jawab atau perasaan. Siapakah yang akan menjadi pelabuhan terakhir bagi cintanya?
Sampul Novel I love you Mas duda
9.3
Demi membalas budi, Meysa bersedia dijodohkan dengan Harry, seorang duda beranak dua. Meski benih cinta mulai tumbuh dan rencana pernikahan disusun, rintangan besar menghadang dari mantan istri Harry. Sang mantan tak henti mengusik, mulai dari menghasut anak-anak agar membenci Meysa, menyebar fitnah keji di kantor, hingga melakukan sabotase fisik untuk menggagalkan akad mereka. Akankah ketulusan Meysa mampu mengalahkan segala tipu daya jahat sang mantan istri?
Sampul Novel Jodoh Terpilih
8.4
Mentari yang memiliki keterbatasan terpaksa menanggung beban kesalahan saudarinya, Bulan. Setelah tertangkap basah oleh warga saat bermesraan dengan Arjuna, Bulan justru menghindar dari pernikahan dengan menunjuk Mentari sebagai pengantin pengganti. Padahal, Bulan dan Arjuna sebenarnya saling mencintai namun belum siap berumah tangga demi mengejar karier. Akankah Mentari menemukan kebahagiaan dengan pria asing tersebut saat cinta Bulan dan Arjuna teruji?