
Sang Pemuas Hasrat Wanita Kesepian
Bab 3
Lima belas menit berlalu, dan kini Angga sudah berada di depan pintu toko yang tertutup rapat. Ada tulisan tutup disana. Dia mengerutkan kening. Kalau dibilang repot karena toko, jelas-jelas tokonya tutup. Lantas bantuan seperti apa yang dimaksud oleh si Doni?
Merasa tiba-tiba punya banyak firasat tak enak, Angga dengan segera mencoba membuka pintu toko yang ternyata tidak dikunci. Pikiran buruknya semakin menjadi karena dia berpikir barangkali ada maling atau penjahat yang sedang beroperasi. Karena terlanjur masuk, Angga menyiapkan sebuah tongkat di sisi tubuh untuk berjaga-jaga sambil masuk dengan mengendap-endap melihat-lihat kondisi sekeliling.
Pria itu memastikan berjalan sepelan mungkin ketika dia menyusuri bagian dalam toko yang merupakan rumah pribadi sahabatnya. Saat itu lah dia mendengar suara samar dari arah dalam rumah. Toko Doni sendiri memang sejenis ruko, dimana toko berada di depan sedangkan rumahnya sendiri ada di bagian belakang dan disinilah sekarang Angga berada.
Raut muka si pemuda langsung pucat pasi. Dia berpikir bahwa suara itu berasal dari sepupu Doni yang sedang disiksa penjahat dan itu sebabnya dia meminta pertolongan. Tanpa basa basi pemuda itu mulai mengikuti suara yang dia dengar hingga menuntunnya menuju ke pintu yang tertutup rapat. Dia mempersiapkan diri untuk mendobrak pintu tersebut.
Namun ketika dia mengintip dari luar. Tubuh Angga langsung membeku menyadari apa yang sedang dia lihat.
Di dalam sana, seorang gadis sedang berbaring dalam kondisi telanjang bulat. Dan yang paling membuat pemuda itu shock adalah fakta bahwa kini perempuan itu sedang bermain dengan sebuah dildo besar yang dimasukan ke dalam miliknya dengan sebelah tangan sibuk meraba dan memainkan dadanya sendiri.
Perempuan itu tampak asyik sendiri dengan kegiatan yang sedang dia lakoni. Menikmati semua hal yang dia inginkannya tanpa peduli ada Angga yang saat ini sedang menyaksikan apa yang dia perbuat dari balik celah pintu.
"Nghh!" rengek perempuan itu. "Ini tidak cukup bagus, aku tidak bisa puas kalau hanya dengan mainan murah seperti ini! katanya sesuai pesanan sedangkan ini apa? benar-benar sepupu tidak berguna!" gumamnya lagi mengeluhkan ketidakpuasannya.
Merasa frustasi karena tidak bisa mendapatkan klimaks yang memadai. Dia mendesah sambil menarik keluar mainan tersebut dari dalam dirinya dan melemparkannya ke samping dan hal refleks tersebut langsung menarik suara Angga yang mengintip di luar celah pintu. Kedua mata wanita itu melirik ke arah pintu yang terbuka dan melihat seseorang yang mengintip perbuatannya.
"Oh? Siapa disitu?!" teriak perempuan itu dari dalam, membuat Angga menutup mulut. Tapi percuma saja karena perempuan itu sudah tahu, dan Angga kepergok. Dia tidak bisa lari lagi.
Angga yang ketahuan sedang mengintip langsung tergagap. Dia tidak mengira akan tertangkap basah dengan mudah saat sedang asyik menonton wanita itu memuaskan dirinya sendiri di dalam sana. Tidak ada banyak kata-kata yang bisa Angga ucapkan, isi kepalanya mencoba sebisa mungkin merangkai kata demi kata untuk mendapatkan sebuah kalimat yang masuk akal sebagai pembelaan. "Aku ...uh ... sebenarnya aku kemari karena..."
Lihat? dia bahkan terlihat seperti orang dongo yang bahkan lupa bagaimana caranya bicara. Isi kepalanya terlalu banyak diisi adegan demi adegan yang baru saja dia lihat secara langsung.
Alih-alih tertarik dengan argumentasi dari Angga, wanita itu justru lebih tertarik pada kaus ketat yang membungkus tubuh Angga yang ramping dan tegap. Dia mengalihkan pandangannya ke bawah dan mendapati sebuah tonjolan menarik dari balik celana yang pemuda itu kenakan. Diam-diam wanita itu menjilat bibir bawahnya, dia punya ide yang bagus di kepala.
"Masuk kemari tukang intip!" Suara wanita itu terdengar agak tinggi seakan siap memarahi. Meski sebetulnya suara melengking itu tercipta lantaran nafsunya sendiri yang tidak sepenuhnya dapat dia kuasai.
Dengan sedikit takut, Angga lantas masuk dan melakukan apa yang wanita itu suruh. Menutup pintu geser ruangan tersebut dan mengunci dirinya bersama perempuan itu di dalam sana. Angga dengan ragu-ragu berjalan mendekati ranjang dimana wanita itu sedang duduk disana.
Di ujung ranjang, Angga menunggu. Sedikit berdoa berharap agar wanita itu tidak memukulinya habis-habisan karena mengganggu aktivitas pribadinya. Namun terlepas dari pada rasa takut, Angga tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat tubuh telanjang sang wanita dalam satu bingkai yang utuh. Kedua dadanya yang bulat dan kencang berwarna kecoklatan, dengan rambut panjangnya, dengan kedua kaki ramping, dan pahanya yang seksi adalah satu kesatuan paling sempurna yang layak disebut dengan satu kata 'indah' apalagi ketika wanita itu merangkak ke arahnya. Untuk beberapa alasan celana yang dipakai Angga mulai mengetat.
Wajar saja kan? toh dia itu adalah pria sehat dan normal.
"Biasanya aku akan memukul siapa saja yang berani mengintip, apalagi mengganggu waktu privasi seorang wanita," kata wanita itu sambil menyeringai. "Tapi untukmu, kurasa aku akan memberikanmu sedikit keringanan, begitu aku melihat apa yang kau sembunyikan dibalik celanamu."
Angga kontan langsung tercengang ketika perempuan itu meraih pakaian yang sedang dia kenakan dan melepaskannya dengan mudah. Saat wanita itu menurunkan celananya, dia kembali menjilat bibirnya hingga terlumuri oleh saliva dan basah. Meskipun dia pernah melihat seorang pria telanjang sebelumnya. Tetapi yang satu ini jelas berbeda karena sekarang dia disuguhi oleh kejantanan si pemuda yang berdiri tegak dan ukurannya cukup fantastis.
Benda itu membuat tubuhnya bergidik. Ketebalan dan panjangnya cukup membuat sang wanita bisa membayangkan betapa dia akan puas hanya dengan memasukan benda itu ke dalam dirinya. Dengan gerakan lembut, wanita itu mulai menyentuh kejantanan sang pria menyebabkan Angga langsung tersentak apalagi ketika tangan wanita itu telah melingkari batangnya.
"Ngomong-ngomong aku Riri, sepupunya Doni. Dan kau?" ujar wanita itu tiba-tiba.
Terus terang saja ini kali pertama Angga berkenalan dengan seorang perempuan dalam kondisi seperti sekarang. Benar-benar cara perkenalan yang aneh.
"A-Angga," sahut si pemuda susah payah lantaran tiba-tiba saja Riri membelainya.
"Angga ya? okelah. Kalau begitu sekarang berbaringlah di tempat tidur, Angga," katanya lagi dengan seringai yang kelewat seksi.
Saat Angga berbaring di atas seprai lembut, Riri memposisikan diri untuk duduk di atasnya. Dan sekali lagi Angga kembali dibuat terbelalak lantaran bagian pribadi wanita itu terdorong tepat di depan mukanya.
"Dasar mesum," goda Riri. "Aku hanya duduk di atasmu tanpa pakaian, dan kau sudah siap meledak."
Angga menggigil ketika lidah basah mulai menjilat batangnya. Riri mengerang saat dia mencicipi kejantanan pemuda itu. Sudah lama sekali sejak dia merasakan milik pria berada di ujung jarinya seperti ini. "Besar sekali ..." Dia mengerang sedikit sebelum betul-betul memasukan seluruhnya ke dalam mulut memanjakan pemuda itu.
Anda Mungkin Juga Suka





