
SAMANTHA
Bab 2
Bertemu kamu adalah part paling indah dan paling menyakitkan dalam hidupku. Meski begitu aku tetap ingin kamu sebagai peran utamanya dalam buku itu.
****
Anantha menendang batuan kecil di sekitar kakinya mulai bosan menunggu Samuel yang tak kunjung datang. Sesuai janji mereka tadi, setelah pulang sekolah Samuel akan mengantarnya pulang. Lebih tepatnya mereka akan jalan sebelum pulang, sudah hampir setengah jam Anantha menunggu dan dia sudah mulai bosan.
"Emang osis lebih penting dari gue? Sialnya emang iya. Kapan ya gue punya cowok yang selalu jadiin gue prioritas, nggak perduli sama apapun intinya gue yang nomor satu. Bahagia banget hidup gue!" gumam Anantha.
"Kalau gue yang jadi pacar lo keinginan lo itu akan terwujud!" celetuk seorang pria dengan dasi yang di ikat di kepala. Ia melempar senyuman lebar ke arah Anantha, senyuman yang sangat indah. Dia Zero Adipatma, ketua basket SMA BHAKTA dan merupakan tetangga Anantha.
Anantha menatapnya sinis melipat kedua tangannya di dada. "Woi, tetangga sebelah ngapain lo ke sini? Jemput cewek lo?" cetus Anantha, dia memang tidak pernah bersikap baik pada Zero.
"Iya, lo cewek gue!" Zero melepas helm full facenya menyugar rambutnya ke belakang, sembari mengedipkan satu matanya ke arah Anantha.
"Najis banget! Nggak usah sok kecakepan jadi cowok, cewek lo cewek lo sorry ya. Anantha yang cantiknya kayak bidadari udah punya cowok namanya Samuel Dirgantara!" ucap Anantha dengan bangga.
Zero tersenyum tipis. "Kalau semesta mendukung, bentar lagi gue yang akan jadi pacar lo!" ucap Zero.
Anantha mendelikkan matanya memukul lengan Zero kesal. "Enak aja, jangan do'ain yang enggak-enggak. Anantha nggak akan punya pacar lagi selain Samuel!" tekan Anantha.
Lagi-lagi Zero melempar senyuman yang terlihat menyebalkan di mata Anantha. "Kita lihat aja, bagaimana cara semesta bekerja. Gue sama lo ada kemungkinan untuk bersama atau nggak, kan enak nanti kalau nikahan tinggal jalan kaki nggak perlu sewa mobil!" goda Zero.
"Tetangga sebelah! Jangan sembarangan ya kalau ngomong, udah sana pergi ngapain sih ke sini sekolah lo kan di sana!" usir Anantha.
Zero kembali mengenakan helmnya ia sempat melempar senyum miring ke arah Samuel yang baru saja datang. "Anantha, gue udah bilang sama semesta kalau hari ini dan hari-hari selanjutnya Anantha harus bahagia!"
Anantha tertegun mendengar ucapan Zero, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Semesta semesta, Zero emang udah sinting!" kesalnya.
Kekesalannya hilang begitu melihat Samuel datang dengan motornya. "Sorry," ucap Samuel sembari memakaikan helm di kepala Anantha.
"Selalu ada kata maaf untuk Samuel, udah selesai rapatnya? Nggak nunggu lama kok, kalau untuk Samuel mau di suruh nunggu bertahun-tahun juga Anantha siap," ucapnya dengan senyuman manis di bibirnya.
"Udah, bentar lagi udah pergantian ketua osis, kalau udah lengser nggak akan ada rapat lagi dan lo nggak perlu nunggu gue lagi!"
Mendengar penjelasan Samuel, Anantha terlihat sangat bahagia. Itu artinya waktu Samuel akan tersisa banyak untuknya. Anantha segera naik ke motor Samuel, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Samuel.
"Mau jalan ke mana?" tanya Anantha.
"Keliling Bandung, gue mau ngenalin ke Bandung kalau gue punya cewek yang cantik namanya Anantha. Dia cewek paling bandel, paling ngeselin, dan paling gue cintai!" ucap Samuel lirih di akhir.
Anantha tak dapat menahan senyuman di bibirnya ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Samuel. Merasakan indahnya suasana Bandung sore ini, terlebih pria yang bersamanya.
"Samuel, semesta hari ini indah ya?" Anantha sedikit mencondongkan kepalanya agar Samuel mendengar ucapannya.
"Semesta gue selalu indah, karena lo semesta gue, Anantha!" ucap Samuel dengan lantang.
Anantha tak dapat menyembunyikan rasa bahagia dalam hatinya. Samuel mencintainya secara ugal-ugalan. Samuel membuat ia merasa menjadi wanita paling beruntung di kota ini. Kota Bandung, kota yang banyak cinta di dalamnya.
Samuel menghentikan motornya di penjual bakso pinggir jalan. "Mau makan di sini?" tawar Samuel.
Anantha menganggukkan kepalanya, makanan favoritnya adalah bakso. Tidak perduli di mana pun tempatnya asal bersama Samuel, tempat itu terasa indah. Samuel memesan dua porsi bakso untuk mereka sedangkan Anantha sudah mencari duduk.
"Samuel, tahu nggak kenapa aku suka makan bakso?" tanya Anantha.
Samuel terdiam lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Setahu gue lo suka semuanya, bakso bukan makanan spesial buat lo. Partner makan baksonya yang spesial!"
Anantha tertawa mendengarnya. "Dih kepedean jadi orang, siapa yang bilang kamu spesial!" ledek Anantha.
Cekrek
Samuel tersenyum tipis melihat foto yang ia ambil, sangat manis. Senyuman Anantha sangat indah, Samuel selalu senang mengabadikan setiap detiknya bersama Anantha.
"Ih, pasti jelek. Hapus nggak! Lain kali kalau mau ngefoto bilang dulu dong biar aku bisa pose!" protes Anantha.
Samuel justru memasukkan ponselnya ke dalam saku, menatap Anantha lekat. "Lo selalu cantik Anantha," ucap Samuel.
Anantha memalingkan wajahnya yang memerah. Untungnya bakso mereka datang, Anantha yang memang sudah lapar langsung saja memakannya.
"Tadi yang sama lo siapa? Zero?" tanya Samuel.
Anantha menganggukkan kepalanya. "Iya, anak sekolah sebelah. Kamu juga kenal dia kan tetangga rumah aku!" ucap Anantha.
"Jangan deket-deket sama dia," ucap Samuel.
Anantha memincingkan matanya menatap intens ke arah Samuel. "Kenapa? Cemburu kalau Zero ngedeketin aku? Kamu takut kalau aku jadi suka sama dia?" goda Anantha.
Samuel mengangguk, dia tanpa gengsi mengatakan itu. "Gue nggak suka cewek gue deket sama cowok lain."
Anantha tersenyum lebar, mengacungkan jempolnya ke arah Samuel. "Samuel tenang aja, Anantha selalu jaga hati buat Samuel. Anantha nggak akan biarin cowok yang Anantha sayang bersaing sama orang lain!" kekehnya.
Samuel tersenyum tipis mengacak rambut Anantha gemas. "Good, selesai makan gue anterin pulang." Anantha mengangguk segera menghabiskan makanannya.
Di perjalanan pulang banyak hal menarik yang Samuel dan Anantha lihat. Salah satunya pasangan kakek nenek yang terlihat tengah suap-suapan. "Samuel, nanti kita bisa sampai seperti mereka nggak ya?" tanya Anantha.
"Mungkin, kita usahain!" jawabnya singkat.
Motor Samuel sudah berhenti di depan rumah Anantha. Ia melepaskan helm yang Anantha kenakan merapikan rambut Anantha yang berantakan. "Langsung mandi jangan tiduran dulu, tugas lo kerjain. Jangan sampai Pak Beni beneran manggil papa lo ke sekolah!" peringat Samuel.
Anantha mengangguk, ia menatap Samuel intens. "Nggak mau mampir dulu? Nggak mau ketemu sama mama? Mama kangen loh sama kamu," ucap Anantha alasan, padahal ia yang tidak ingin berpisah dengan Samuel.
"Titip salam ke Tante, gue masih ada urusan jadi nggak bisa mampir. Besok gue jemput, sebelum setengah tujuh lo udah harus siap. Kalau lama gue tinggal!"
"Siap! Sampai rumah jangan lupa telepon, Anantha nunggu kabar keselamatan dari Samuel." Samuel terkekeh menepuk kepala Anantha pelan.
"Masuk sana, baru gue pergi." Anantha mengangguk segera masuk ke dalam rumah sembari melambaikan tangan ke arah Samuel.
Setelah memastikan Anantha masuk, baru Samuel melajukan motornya pergi. Samuel tersenyum tipis, ia senang setelah menghabiskan waktunya bersama Anantha. Melihat gadis itu bahagia membuat Samuel turut bahagia. Anantha adalah segalanya untuk Samuel, dia sudah menjadi rumah tempat Samuel pulang.
"Anantha, semoga semesta selalu mendukung kita berdua!"
Anda Mungkin Juga Suka





