
Sahmura Yang Redup
Bab 3
"Yang sering memberikan bunga dan coklat nyatanya bakalan kalah sama yang memberi akad."
~Sahmura Yang Redup 🥀
"Maaf Pak Hafiz, Hafizah tidak bisa ...." keluhnya. Namun, dibalik itu ia menahan senyum.
"Kena-" Hafiz yang akan bicara dengan cepat dipotong Hafizah.
"Hafizah tidak bisa menolak, Pak!" Ia tanpa sadar berseru senang.
Hati yang sedari tadi menahan gejolak kecewa kini perlahan menerbitkan kebahagian. Hafizah menerima Hafiz dan pastinya Hafiz sangat senang. Kini terasa kupu-kupu seperti berterbangan di perut keduanya.
Serempak ruangan itu mengucapkan hamdalah. Selain mencintai Hafizah, Hafiz juga diperintahkan untuk melakukan sesuatu. Diantara mereka ada yang senang. Namun, seperti menyembunyikan sesuatu. Senyuman miring itu tidak terlihat oleh siapapun kecuali mahluk selain manusia diruangan itu.
"Ayah, tapi Hafizah khawatir. Hafizah masih kecil, apakah bisa menikah dalam usia dini? Terus bagaimana dengan sekolah Hafizah Ayah?" tanyanya lesu.
Semua orang terdiam memikirkan hal itu. "Kita akan berusaha, Sayang. Jika dengan menikah bisa membuat Hafizah lebih dekat dengan Allah, Ayah ikhlas agar terjauh dari zina juga. Hafizah, Ayah hanya berdoa, semoga Hafiz bisa menjadi laki-laki yang lebih baik dari Ayah, lebih bisa menjaga Hafizah. In Syaa Allah, niat baik akan dipermudah Allah, aamiin Ya Allah." Ayah Faris menjawab.
Hampir semuanya terharu mendengar penuturan Ayah Faris. Hafiz tersenyum lembut, "In Syaa Allah, saya akan menjaga amanah ini sebaik mungkin, Om."
Hafizah memeluk Ayahnya. "Ayah tetap laki-laki terbaik yang aku temukan. Makasih Ayah dan Bunda udah besarin Hafizah."
Mengelus puncak kepala Anaknya Ayah Faris lakukan. "Iya, Sayang."
****
Setelah melalui proses panjang. Akhirnya, pernikahan Hafiz dan Hafizah akan dilaksanakan malam ini. Menikah diusia dini memang tidak mudah, Hafiz yang berusia sembilan belas tahun dan Hafizah berusia 16 tahun.
Sekarang hari terakhir Hafizah sekolah di Minggu ini, sebelum tiga hari ke depan dirinya akan izin dengan alasan ada acara keluarga. Memang benar bukan begitu adanya?
Langkah itu diiringi senyuman manis. Hafiz yang melihat Hafizah langsung mendekatinya. "Pulang bersama saya, yuk calon Istri!" Hafiz mengajak.
Dengan malu-malu Hafizah mengangguk. "Boleh, calon Pak Suami," katanya pelan.
Mereka jalan beriringan dengan jarak yang tidak terlalu dekat. "Pak Hafiz, Hafizah tunggu di depan ya, malu." Setelah mendapat anggukan geli dari Hafiz, Hafizah lantas pergi.
"Pakai pelet apa, sih, Lo Hafizah? Sampai Pak Hafiz bisa natap lo penuh cinta? Padahal kemana-mana cantikan juga gue!" hina Ardela.
Hafizah beristigfar, menundukkan kepalanya dalam. "Emangnya aku engga boleh merasakan jatuh cinta ya? Pak Hafiz 'kan bukan siapa-siapa kalian. Kenapa kalian larang?" lirih Hafizah berusaha untuk tidak takut.
"Ya, jelas salahlah! Karena lo itu pakai cara licik! Buktinya Pak Hafiz mau sama bocah ingusan kaya lo?!" sinis Yulisa dan mendorong kencang bahu Hafizah.
Hafizah hampir saja terhuyung. "Makanya jaga diri, patuh dong kalau dibilangin!" delik Fazaya sebelum ketiganya melangkah pergi.
Tidak lama Hafiz datang mengklakson mobilnya. "Ayo!"
Hafizah kembali tersenyum, ia mengangguk dan memasuki jok belakang. Hafiz yang mengerti mereka bukan mahrom pun tidak mempermasalahkannya.
"Maharnya yakin mau surah Ar-Rahman sama cincin aja?" tanya Hafiz sambil menggoda.
Hafiz mengangguk. "Itu aja Pak Hafiz, Hafizah tidak ingin memberatkan," ungkapnya tulus.
Hafiz terkekeh. "Itu sudah kewajiban saya, Hafizah. Oh iya, saya mau bertanya boleh?"
Hafizah mengiyakan. "Kamu ... pernah pacaran?" Hafizah menggeleng. "Apakah kamu terpaksa menikah dengan saya?"
Hafizah menggeleng lagi dengan cepat. "Hafizah ikhlas, ko, Pak Hafiz." Hafizah khawatir.
"Apa itu artinya kamu mencintai saya?" Pertanyaan itu membuat pipi Hafizah merona. Hafizah malu ....
Rasanya jika Hafiz menggoda terus, ia ingin tenggelam saja. 'Bunda, tolong Hafizah terbang!' teriak batinnya.
"Kamu sakit, Fizah? Kenapa merah gitu pipinya?" tanya Hafiz melihat ke kaca tengah.
Hafizah memalingkan wajahnya. "Barusan jatuh, gara-gara Bapak," jawab Hafizah setangah kesal.
Hafiz tertawa renyah. "Ko bisa jatuh, Fizah? Jatuh kemana? Apanya yang jatuh?" cerca Hafiz.
Hafizah mendengus. "Hati saya jatuh ke hati Bapak. Sebel, deh. Godain Hafizah mulu," gerutunya malu.
"Ini baru pendaftaran, Hafizah. Nanti setelah selesai akad baru mulai ya."
Pekataan Hafiz terdengar ambigu di telinga Hafizah. Mulai, mulai apa? "Hah, mulai apa, Pak?" tanyanya polos.
Hafiz malah ketawa semakin keras. Tawanya membuat hati Hafizah semakin melayang, mata teduh Hafiz menyipit. Hafizah berharap Hafiz hanya miliknya sampai ajal menjemput nanti.
"Rahasia."
****
Gadis cantik berbalut gamis putih dengan hijab senada itu kini sedang duduk dengan tangan gemetar. Atmosfer ini terasa canggung. Mulai malambini status Hafizah akan bertambah.
Laki-laki yang sedang menjabat tangan Ayahnya itu berkata tegas setelah menghela nafasnya dalam. "Saya terima nikah dan kawinya Hafizah Putri Amaliyah binti Faris Satya Prawinata dengan mahar tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi?"
"Sah?"
"Sah!"
"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir."
Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.
Setelah akad selesai Hafiz menghampiri Hafizah yang sedang menunduk bahagia disebelah Bunda Maya. Hafiz ikut tersenyum melihat itu. Hatinya kini berdetak lebih cepat.
Hafiz kini mempunyai tanggung jawab yang lain, yaitu menjadi Imam Hafizah. Rasanya seperti mimpi. Namun, ini memang terjadi.
Hafiz menyodorkan tangganya ke depan Hafizah. Hafizah menatap Hafiz. "Ini buat apa, Pak?" tanyanya dengan polos seraya melihat uluran tangan itu.
Bunda Maya menepuk jidat. "Ya Allah punya anak gini amat."
Hafizah cengengesan. Lalu, dengan bantuan Bunda Maya, Hafizah menyalimi Hafiz. Sedangkan Hafiz memegang ubun-ubun istrinya seraya membaca doa. "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
Mereka saling tatap setelah melakukan ritual itu. Semua orang menggoda keduanya apalagi dari pihak sang Bunda yang sangat ramah. Bahkan, mereka pun sangat mendukung Hafizah menikah muda dengan Hafiz. Karena kebaikan orang tuanya dulu.
"Bolehkah saya menge .... cup kamu?" tanyanya dengan kalimat tertahan.
Hafizah terdiam. "Emangnya kalau udah nikah boleh kecup-kecupan ya, Pak? Bukannya, bukan mahrom?" Ia bertanya dengan wajah lugu.
Bunda Maya yang menjadi nyamuk lagi-lagi dibuat malu oleh anaknya. "Boleh dong, Sayang ...," gemasnya.
Hafiz hanya memegang kepalanya sambil terkekeh gemas. Hafizah menunduk malu. "Ya-yaudah," katanya dengan suara tertahan.
Hafiz mendekatkan wajahnya ke kening Hafizah. "Ekh, Pak Hafiz, tapi jangan lama-lama ya, malu ...."
Hafiz mengangguk, lalu mengecup kening Hafizah lama. Hafizah memejamkan mata, menikmati sensasi aneh yang menjalar disekejur tubuhnya.
Bunda Maya sudah ngacir dan digantikan dengan sorakan godaan. Hafiz melepaskan kecupannya setelah mendengar godaan semakin menjadi-jadi. Hafizah yang malu langsung memeluk tubuh Pak suami. Wajah meronanya hanya dilihat oleh Hafiz.
"Lanjut di kamar aja, Fiz!"
"Akh, bikin jomblo baper aja!"
"Udah hey udah, dosa!"
"Udah halal, kecuali kalau kamu yang lakuin, 'kan jomblo!"
"Jadi, pengin nikah muda!"
****
Acara pernikahan itu diakhiri dengan makan bersama, keluarga yang hadir pun satu persatu pulang. Bunda Maya dan Ayah Faris pun sudah beristirahat di kamar mereka.
Kini Hafiz dan Hafizah duduk bersebelahan di ranjang. Hafizah kebingungan. Apakah memang dirinya perlu tinggal satu ranjang dengan Hafiz? Rasanya, Hafizah belum mau dan belum terbiasa.
Walau bagaimanapun Hafizah hanya sering tidur dengan Ayah dan Bundanya saja. Mengigit bibir sebentar, Hafizah melirik Hafiz.
"P-pak Hafiz tidurnya di mana?" Duh, Hafizah pertanyaan unfaedah apa itu?
Hafiz tersenyum menatap Hafizah. Hafiz tahu pasti Hafizah belum siap, meskipun hanya sekadar tidur seranjang aja. Jadi, ia menjawab, "Ada kasur lantai atau karpet?" tanyanya.
Hafizah menahan nafas dan mengangguk. Ia beranjak ke dekat lemari dan mengambil karpet berbulu di sana. Melihat Hafizah kesusahan, Hafiz beranjak membantu.
"Saya tidur di sini aja," kata Hafiz seraya mulai membenahi tempat tidurnya.
Hafizah mengangguk pelan. Apa ini perbuatan dosa? Hafizah yang tidak tahu apa-apa hanya bisa terus berpikir. Hafizah dengan ragu berbaring di atas ranjang setelah Hafiz berbaring.
"Selamat malam, Khumairoh Kecilku," ujarnya manis.
Hafizah hanya menahan malu. "Kembali Pak Hafiz," jawabnya lirih.
Hafiz telah terlelap beberapa menit yang lalu. Sedangkan Hafizah hanya berbaring gelisah. Ini ada yang kurang dari biasanya. Haruskah Hafizah membangunkan Hafiz hanya untuk membantunya menjalankan ritual?
"Pak Hafiz," panggilnya.
Anda Mungkin Juga Suka





