
Sahmura Yang Redup
Bab 2
"Cinta yang sesungguhnya, akan selalu menerima apapun kekurangan pasangannya. Sedangkan, cinta yang hanya sekadar bisikan syaitan atau penasaran hanya menginginkan kesempurnaan."
~Sahmura Yang Redup
Riuh angin menyapa sejuknya saat baskara belum sempurna menampakkan diri. Sunrise terukir begitu indah di langit sana. Daun-daun tertiup ke sana kemari, saat angin menjumpai tanpa henti.
Allah ... Sebegitu indah kah ciptaan-Mu ini. Meskipun, pagi ini cuaca dingin yang datang menerpa. Tidak mendung, pun tidak hujan. Tidak berpisah, pun tidak bersatu-umpama cinta yang sering dikata.
Menatap gugup rumah di depannya Hafiz melangkah pelan. Saat ia masih kecil, sering sekali datang ke rumah ini bersama kedua orangtuanya yang kini telah dijemput sang Ilahi. Rumah itu tidak jauh beda dari sebelumnya.
Gerbang yang tidak terlalu tinggi, taman kecil beserta ayunan berukuran sedang nangkring di pinggir rumah. Hafiz mengembangkan senyumnya, ini rumah sisiwi yang ia kagumi. Siapa lagi jika bukan Hafizah Putri Amaliyah.
Dengan langkah pelan, Hafiz menghampiri sang pejaga. Hafiz hanya bisa datang di pagi hari, karena setelah mengajar nanti Hafiz mempunyai agenda kuliah dan membantu mengembangkan usaha cafe milik almarhum sang Ayah.
"Semangat Hafiz! Kamu pasti bisa," gumamnya sumringah.
Ia mengucapkan salam kepada Pak Satpam yang berjaga itu. "Pagi, Pak. Saya ingin bertemu dengan Bapak Faris Satya Prawinata, apakah benar ini rumahnya?" tanya Hafiz sekadar basa-basi.
Pak Satpam mengangguk. "Iya, Mas. Apakah sudah ada janji?"
Gelengan Hafiz menjadi jawaban. "Saya anak sahabat lamanya, Pak." Hafiz mengiringi dengan senyuman.
"Ohh, Nak Hafiz?" tanyanya ragu.
Pak satpam merasa familiar dengan wajah Hafiz. Ternyata, ini adalah anak kecil yang dulu sering mengusilinya. "Iya, Pak. Bapak melupakan saya hiks," drama Hafiz dengan pura-pura mengusap air mata.
Pak satpam terkekeh lalu memeluk Hafiz. "Alhamdulillah, Nak Hafiz sekarang udah besar ya. Padahal, baru tiga belas tahun kemarin kita main."
Keduanya pun terus mengobrol Sono. Beratahun-tahun tidak bertemu membuat mereka ingin mengulang masa indah bersama yang pernah terjadi di masa lalu. Jika ada yang mengatakan, kenangan selalu pahit, maka orang itu belum pernah merasakan indahnya cinta karena Allah.
"Anak usil, ayo bapak anterin. Makin ganteng aja, padahal dulu kucel banget kaya bebek goreng kecap!" serunya mengejek.
"Enak dong, Pak!" antusias Hafiz. Ia sendiri jadi ngiler.
"Bukan enak, tapi itemnya yang dituju!" tawanya pecah apalagi ketika melihat anak usil itu tersenyum paksa.
"Yang penting ta'atnya kepada Allah, Pak. Kita harus mencontoh Bilal bin Rabah. Meskipun parasnya kalah ganteng dengan Abu Lahab, tetapi Bilal dirindukan bidadari surga. Masyaa Allah, beruntung engga tuh, Pak, bisa poligami lebih dari lima nanti di surga," jelas Hafiz penuh kemenangan.
Niat hati ingin mengusili malah diceramahi. "Iya, deh anak usil yang udah pinter!" puji Pak satpam seraya merangkul pundak anak majikan lamanya.
"Doain ya, Pak," kata Hafiz tiba-tiba saat tepat di depan pintu.
Dahi pak satpam dengan nama Geodi di seragamnya itu mengeryit. "Kaya yang mau ngelamar anak gadis aja!" jawabnya diiringi kekehan.
"Emang iya," jawab Hafiz enteng.
"Hah?!" Geodi membulatkan matanya tidak percaya. Sedangkan Hafiz tersenyum geli tanpa dosa.
****
Rintik hujan bedenting bersatu dengan genting rumah. Hafizah terdiam ia teringat kejadian tadi, di mana Hafiz mengantarkannya pulang sekolah. Senyum itu terbit begitu manis. Hafizah senang, boleh tidak Hafizah baper?
Hafizah tidak tahu rasa apa ini, entah hanya bisikan syaitan berkedok cinta ataukah memang benar-benar cinta? Hafizah menjadi resah sekarang. Memang Hafiz mau bersama perempuan seperti Hafizah?
Tok tok tok
Ketukan pintu terdengar mengalun melewati gendang telinga Hafizah. Munculah sosok bidadari tanpa sayap yang selama ini sering memberikan kasih sayang tiada henti kepada Hafizah.
"Sayang, Hafizah ...," panggil Bunda Maya Alamayiah.
Hafizah menengok. "Bunda," jawabnya dan memeluk orang yang ia panggil Bunda itu.
Bunda Maya mengelus puncak kepala anaknya dengan lembut penuh kehangatan. Belaian yang paling dirindukan oleh sang anak dari Ibunya. Hafizah beruntung telah mendapatkan itu.
Terkadang kehidupan yang kita kira sempurna, itu belum tentu benar, dan terkadang kehidupan yang kita kira tidak Sempurna juga belum tentu itu tidak.
Apapun takdir yang tergores di lauhul Mahfuz, kita patut mensyukurinya. Walau bagaimanapun Rabb kita tahu yang terbaik untuk kita jalani.
"Turun yuk, Nak. Ada tamu!" ajak Bunda Maya seraya melepaskan pelukannya.
Bunda Maya melihat anaknya tidak mengerti pun berbicara lembut, "Nanti juga Fizah tahu siapa."
Rumah berukuran kelas sedang itu jarang sekali kedatangan tamu malam, tetapi malam ini kedatangan dan Hafizah juga dipanggil. Mana mungkin teman Hafizah, ia tidak punya teman di sekolah itu. Malah sebaliknya, mereka menjauhi Hafizah.
Hafizah menghela napas ketika Bunda Maya merangkul bahunya dan tersenyum tipis. "Siapp deh, demi Bunda."
"Dasar modus mau coklat," balas Bunda Maya seraya mendelik.
Hafizah terkekeh. "Tempe aja, Bun."
Saat sudah berada di ruang tamu Hafizah terkejut melihat orang yang ia kagumi kini tengah duduk diantara paman dan Ayahnya. "Loh, Pak Hafiz?" tanyanya refleks.
Atensi mereka pun kini tertuju kepada Hafizah. Hafiz hanya membalas sekilas dengan senyuman manis. Hati Hafizah terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Apakah Hafizah sedang di alam kabulnya doa?
Hafizah dan Bunda Maya ikut duduk. Perasaan Hafizah semakin gelisah, diliputi juga rasa senang. Bolehkah Hafizah berharap kedatangan Hafiz untuk meminang dirinya? Astagfirullah ... Hafizah tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Kedatangan saya ingin meminang putri dari Bapak Faris yaitu Hafizah yang jika diterima akan disandingkan dengan Hafiz. Apakah Hafizah berkenan?" Similar Sarwana mengutarakan niatnya.
Deg!
Perasaan Hafizah kini campur aduk. Ia kini serius sedang dipinang oleh gurunya sendiri. Jika ini mimpi tolong bangunkan Hafizah segera! Ia tidak ingin berlanjut dengan harapan semu.
"Bagaimana Hafizah, apakah kamu mau menjadi pelengkap iman saya?" tanya Hafiz, jangan lupakan senyuman manis yang tidak luntur sejak tadi.
Hafizah tidak tahu harus menjawab apa sekarang. "Pa-pak Hafiz kenapa mau sama Hafizah, padahal Fizah masih sekolah belum bisa apa-apa?"
Hafiz menunduk. "Maaf sebelumnya, karena saya sering mencuri nama kamu disetiap doa yang saya panjatkan. Keteduhan matamu, keshalihanmu membuat saya merasa surga begitu dekat." Hafiz menatap Hafizah intens. "Hafizah .... saya tulus mencintai kamu. Saya tidak ingin terlalu lama memendam ini, saya takut syaitan melerai perasaan ini menjadi melewati batasan." Hafiz menjelaskan.
Senyum tidak bisa lagi Hafizah tahan. Hatinya sungguh merasa terbang melayang jauh. "Hafizah, saya In Syaa Allah akan berusaha menjadi imam yang baik buat kamu. Bukankah pernikahan itu termasuk Sunnah Rasulullah? Saya tidak ingin menunda niat baik, padahal saya sudah siap."
"Jadi, bagaimana, Sayang? Kamu mau?" Bunda Maya ikut menimpali.
Hafiz telah menjelaskan semuanya kepada Hafizah kini dirinya tinggal menunggu jawaban Hafizah. Rasanya atmosfer ruangan ini terasa sangat mencekah dada Hafiz. Tidak bisa dipungkiri Hafiz takut penolakan itu terlontarkan. Hafiz akan hancur jika itu benar.
Hafiz tidak ingin menjadi laki-laki yang mengorbankan harga dirinya hanya untuk mengajak perempuan berpacaran. Hafiz mempunyai impian untuk menikah muda, dan hatinya memilih kepada siswinya yang manis ini.
'Oh Allah ..., saya mohon lancarkan lah. Jika kini aku terjatuh semoga aku bisa bangkit kembali.' Hafiz membatin.
Hafiz tidak ingin kecewa dengan pencapaian yang ia perjuangkan. Maka, setiap apapun yang ia lakukan, tidak lupa Allah terlibatkan. Hafiz tidak ingin membuat Rabb-Nya cemburu, yang bisa membuat kekecewaan nantinya datang menghampiri.
"Hafizah masih banyak kekurangan, Pak Hafiz," lesu Hafizah semakin menunduk.
"Cinta yang sesungguhnya, akan selalu menerima apapun kekurangan pasangannya. Sedangkan, cinta yang hanya sekadar bisikan syaitan atau penasaran hanya menginginkan kesempurnaan." Dengan cepat Hafiz membalas.
"Maaf Pak hafiz, tapi Hafizah tidak bisa ...."
Anda Mungkin Juga Suka





