Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sahabat Masa Kecil Suamiku Adalah Pelakor

Sahabat Masa Kecil Suamiku Adalah Pelakor

Kesetiaan selama delapan tahun runtuh seketika bagi Nindy. Di malam pernikahan Peter dengan wanita lain, kepedihan Nindy berubah menjadi aksi nekat. Tanpa ragu, ia menghancurkan seluruh isi rumah yang telah mereka tinggali bersama selama hampir sewindu tersebut. Mengangkat konflik pengkhianatan yang mendalam dalam hubungan modern, kisah ini menggambarkan batas akhir kesabaran seorang wanita yang dikhianati oleh pasangannya tepat di hari bahagianya bersama orang lain.
Bab
Bagikan

Bab 4

Orang-orang yang berkerumun semakin banyak. Bisikan-bisikan, tatapan mencela, dan jari-jari yang menunjuk, semuanya mengarah ke Nindy.

Tanpa berpikir panjang, Elvi maju selangkah dan langsung menampar wajah Peter dengan keras. "Peter, kamu sudah gila ya?!"

Seumur hidupnya, Peter belum pernah dipukul orang. Matanya langsung menyala marah dan menatap Nindy seolah dialah pelakunya. "Bagus sekali! Kamu bahkan bawa wanita hamil untuk membantumu membuat keributan. Nindy, di mana sopan santunmu?!"

Elvi masih ingin melayangkan tamparan kedua, tapi Nindy buru-buru menahan tangannya. "Sudahlah, ayo pergi. Mobilku sudah datang."

Tanpa melirik Peter ataupun Sofie yang masih bersimpuh di lantai berperan seperti korban, Nindy menarik Elvi dan berbalik hendak pergi.

Peter yang selama ini selalu merasa dirinya menjadi pusat perhatian, tidak pernah diabaikan begitu saja oleh Nindy. Dadanya naik turun penuh amarah. Dia buru-buru menarik pergelangan tangan Nindy dengan kasar.

"Berhenti! Minta maaf sama Sofie!"

Melihat Nindy diam, Peter menekan genggamannya lebih keras. "Aku suruh kamu minta maaf sama Sofie!"

Rasa sakit dari pergelangan tangan itu tidak seberapa dibanding luka di hati. Nindy menarik napas panjang, lalu menoleh dan menatap Peter dengan tatapan sedingin es.

"Kenapa aku harus minta maaf? Apa aku bicara sesuatu? Apa aku berbuat sesuatu? Lagi pula, memangnya rumah sakit ini milik keluargamu? Kamu boleh datang, kenapa aku nggak boleh? Profesor Peter, boleh aku tanya, di mana letak pendidikan dan martabatmu?"

Tatapan Nindy begitu asing dan dingin, seakan-akan Peter hanyalah orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Peter mematung. Entah mengapa, ada hawa dingin yang menyusup ke dadanya. Genggamannya melemah dan perlahan melepaskan pergelangan tangan Nindy.

Nindy tidak ingin lagi berdebat. Dia menggandeng Elvi dan melangkah mantap keluar dari rumah sakit.

Melihat wajah Peter yang tampak gelisah, Sofie menggenggam tangannya dengan hati-hati, lalu berkata dengan suara bergetar, "Peter, apa aku bikin masalah lagi?"

Peter tersadar, lalu buru-buru menepuk tangan Sofie dan berusaha menenangkan, "Bukan salahmu. Ini salahku. Akhir-akhir ini aku terlalu mengabaikannya."

Ya, hanya itu. Semua ini hanya karena dia terlalu sibuk dan lelah. Karena itu Nindy jadi tersinggung, hatinya tidak enak, lalu membuat keributan. Tidak apa-apa. Dia tahu Nindy paling pengertian, paling mudah dibujuk.

Kalau nanti dia pulang dan bicara baik-baik, lalu membujuknya sedikit, pasti semua akan kembali seperti semula.

Setelah menenangkan diri dan meyakinkan hatinya, Peter menepis rasa tidak enak yang sempat muncul. Dia lalu menggandeng Sofie masuk ke dalam lift.

Malam harinya, Peter akhirnya memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan, dia bahkan sengaja membeli setangkai tulip merah muda yang merupakan bunga favorit Nindy.

Begitu pintu rumah terbuka, Peter melihat Nindy sedang berbicara di telepon. "Oke, kamu siapkan draf perjanjiannya lalu kirimkan ke aku. Hmm, secepatnya."

Selesai bicara, Nindy langsung menutup telepon.

"Perjanjian apa?" tanya Peter, berusaha bersikap biasa saja, seolah pertengkaran di rumah sakit siang tadi sama sekali tidak pernah terjadi.

"Urusan kerja," jawab Nindy datar. Dia bahkan tidak menoleh pada Peter, lalu melangkah pergi.

Peter buru-buru menyusul, lalu memeluk Nindy dari belakang. "Sayang, aku pulang."

Dulu, Nindy pasti akan berbalik dan menatap wajah Peter dengan senyum hangat, lalu menyentuh pipinya dengan penuh kasih dan bahkan memberi sebuah ciuman ringan.

Namun sekarang, Nindy bahkan tidak sudi membuka mulut. Dia mendorong kuat kedua lengan Peter yang melingkar di tubuhnya, kemudian berjalan masuk ke kamar tidur dan menutup pintu rapat-rapat.

Peter tertegun dan berdiri kaku di tempat. Dia benar-benar tidak mengerti. Bukankah dia sudah pulang? Lalu mengapa Nindy masih memperlakukannya seperti orang asing?

Diopname tiga hari di rumah sakit benar-benar menyiksa Nindy. Setiap kali memejamkan mata, yang muncul hanya bayangan Peter yang mati-matian membela Bonita dan Sofie, sementara dirinya tergeletak sendiri.

Tak lama kemudian, dengan tubuh masih lembap setelah mandi, Peter masuk ke kamar. Dia langsung menyibakkan selimut, lalu berbaring di samping Nindy. Dengan lengan panjangnya, dia memeluk pinggang Nindy dari belakang dan wajahnya menempel di lekuk leher Nindy.

"Nindy, beberapa bulan ini aku memang mengabaikanmu. Kamu pasti kangen aku, 'kan?" bisiknya, seraya mencoba mencium Nindy, sementara tangannya mulai bergerak menggerayangi di balik selimut.

Namun, rasa jijik langsung merayapi tubuh Nindy. Dia menghindar dari ciuman itu dan menepis keras tangannya, lalu menoleh dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan sentuh aku."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Mauku Menjomlo
9.4
Menjadi wanita lajang di atas usia tiga puluh tahun membuat Hasmi Azzahra kenyang akan cibiran tetangga. Sebagai perawat di desa, ia sering dicap tidak laku, namun Hasmi memilih tetap santai menghadapi tekanan sosial tersebut. Baginya, pernikahan adalah komitmen panjang yang butuh pertimbangan matang, bukan sekadar asal pilih demi status. Meski rindu akan belahan jiwa, Hasmi tetap teguh menanti jodoh yang tepat sambil bertahan di tengah nyinyiran orang sekitarnya.
Sampul Novel Cinta Joanna
9.0
Dunia Joanna Alexander seketika hancur berkeping-keping saat mendapati kekasih yang sangat dicintainya tega berkhianat dengan teman dekatnya sendiri. Namun, penderitaan Joanna tidak berhenti di situ saja. Sebuah rahasia besar yang telah disembunyikan orang tuanya selama belasan tahun akhirnya terungkap ke permukaan. Di tengah badai emosi yang mengguncang hidupnya, mampukah Joanna melapangkan dada dan memaafkan kesalahan besar orang tuanya tersebut?
Sampul Novel DILEMA CINTA SEGITIGA
9.3
Marlon dan Sarah menjalani pernikahan yang hanya berlandaskan urusan bisnis semata. Di balik itu, mereka memiliki pasangan rahasia masing-masing. Sarah sebenarnya berniat menjatuhkan reputasi Marlon demi perceraian kilat, namun ia justru mulai merasa cemburu melihat kemesraan Marlon dengan Natalia. Kini, Marlon terjebak dalam situasi rumit karena istri dan kekasihnya sama-sama enggan melepaskannya. Ia pun bimbang harus memilih siapa di antara mereka.
Sampul Novel Gadis Nakal Miliarder
8.4
Serafhine Ariana menjalani profesi unik di dunia daring dengan menawarkan jasa khusus bagi pria tanpa harus mengorbankan kesuciannya. Meski banyak pelanggan merasa puas dan bersedia membayar mahal, Serafhine memiliki prinsip yang sangat teguh dalam bekerja. Ia hanya melayani satu klien untuk satu malam saja. Baginya, tidak ada kesempatan kedua bagi siapa pun, karena ia secara tegas menolak pesanan berulang meskipun ditawari imbalan yang sangat tinggi.
Sampul Novel Harga Sebuah Keperawanan
9.6
Terdesak kemiskinan, Dinda nekat menjual kehormatannya seharga lima ratus ribu rupiah kepada preman. Namun, razia kepolisian menggagalkan rencananya hingga ia bertemu Sergio, polisi tampan yang menolongnya. Meski Sergio sudah berkeluarga, Dinda tetap mengejar cintanya hingga mereka memulai hubungan terlarang secara sembunyi-sembunyi. Akankah rahasia gelap ini terungkap? Bagaimana reaksi istri Sergio saat mengetahui pengkhianatan suaminya tersebut?
Sampul Novel Marriage Agreement
9.2
Aileen Benyamin terpaksa menerima perjodohan dengan Samuel Manasye demi melunasi utang besar ayahnya kepada Ruben Manasye. Meski baru sekali bertemu, keduanya sepakat menikah dengan rencana rahasia: pura-pura hamil, adopsi anak, lalu cerai. James, kekasih Aileen, merestui pernikahan ini namun mengajukan syarat yang sangat berat. Akankah sandiwara mereka berjalan mulus, atau justru syarat sulit dari James menghancurkan segalanya?