Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Saat adik-adikku sukses

Saat adik-adikku sukses

Kisah ini menyoroti perjuangan tanpa pamrih seorang kakak yang mengabdikan hidupnya demi masa depan ketiga adiknya. Berkat kerja keras dan pengorbanannya, mereka semua berhasil meraih puncak kesuksesan. Namun, setelah bergelimang harta, para adik justru menjadi angkuh. Mereka melupakan jasa besar sang kakak, bahkan tega menghina kondisinya yang sederhana. Sebuah drama menyentuh tentang pengkhianatan keluarga dan luka hati yang mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 1

Saat adik-adikku sukses

"Anak Teteh gak pernah makan enak ya, kayak orang kelaparan gitu," ucap Mala pada Nurma, kakaknya.

"Heh, Tedi. Gak boleh, kamu udah ngambil sepotong ayam goreng tadi, Ibumu ke sini gak bawa makanan apa-apa, cuma bawa perut," tegur Ratri pada cucunya sambil menangkis tangan Tedi yang hampir menyentuh piring berisi ayam goreng yang begitu banyak, rasanya tidak akan habis jika Tedi mengambilnya sepotong lagi.

"Teh, mending bawa anaknya makan di dapur, dari pada bikin recok di sini," Mala kembali berbicara.

Tanpa berkata apa-apa, Nurma langsung membawa Tedi ke dapur, meninggalkan Ibu, dan saudara-saudarnya yang sedang menikmati buka puasa terakhir di tahun ini.

Nurma sadar, dari banyaknya makanan, tidak ada satupun yang bisa dia akui. Semua makanan ini di beli oleh ketiga adiknya yang sedang kembali ke kampung halaman untuk merayakan hari raya idul fitri esok hari.

Mereka tidak sadar, jika bukan karena tangan Nurma, bahan mentah yang mereka bawa tidak akan menjadi makanan lezat yang sedang mereka nikmati sekarang ini.

Istilah uang tidak bersaudara itu memang ada dan nyata, seperti yang sedang Nurma alami. Nurma adalah sulung dari 4 saudara, dua adiknya perempuan dan satu lagi bungsu laki-laki.

Dari ketiga saudaranya, Nurma lah yang kini hidupnya paling memprihatinkan.

Diam-diam Nurma pulang, membawa Tedi yang menangis karena ingin ayam goreng.

"Udah pulang kamu Neng? emang udah selesai buka bersamanya?" tanya Hendi pada Nurma, istrinya.

"Udah," jawab Nurma, lirih.

"Tedi kenapa kok nangis?"

"Biasa anak kecil rewel, kayak gak ngerti aja."

"Ayam goreng, Tedi mau ayam goreng, Bapak." Bocah berusia 5 tahun itu mengadu pada Bapaknya sambil menangis.

Ada rada nyeri di hati Nurma, saat mendengar anak semata wayangnya merengek, hanya sapotong ayam goreng pun Nurma belum mampu membelikan untuk anaknya itu.

"Kata Nurma juga apa Kang, Nurma malas pergi ke sana."

"Maafin Akang ya, Akang gak tahu kalau kayak gini."

Awalnya Nurma menolak, saat Ratri, Ibunya. Menyuruh Nurma untuk datang ke rumahnya, namun Hendi memaksa Nurma untuk tetap menuruti permintaan Ratri. Meskipun Hendi sendiri di larang untuk datang.

"Kamu aja yang datang, si Hendi gak usah!" ucap Ratri pada Nurma.

Ketiga adiknya Nurma yaitu, Mala, Dewi, dan Lukman bisa di bilang hidupnya sudah berhasil, mereka memiliki pekerjaan dengan gaji yang cukup besar.

Nurma kurang mengerti apa pekerjaan adik-adiknya itu, yang jelas ketiga adiknya itu orang kantoran, Nurma hanya tahu pekerjaan Mala yang merupakan seorang pegawai bank.

Jika disadari, Nurma juga berperan dalam kesuksesan ketiga adiknya itu. Karena Nurma lah yang membiayai pendidikan mereka sampai mendapat gelar sarjana.

***

"Nurma, kamu gak usah lanjut sekolah ya, mending kerja aja bantu Ibu sama Bapak cari uang. Lihat! adik-adikmu juga masih kecil butuh biaya," ucap Ratri saat Nurma baru saja menerima surat kelulusan sekolah dasarnya.

"Tapi Bu, Nurma pengen tetap sekolah Bu."

"Kamu pikir biaya sekolah pake daun hah? pokoknya besok lusa Bu Darmi akan datang ke sini buat bawa kamu kerja di kota."

Impian Nurma untuk memakai seragam putih biru harus dia kubur dalam-dalam.

Disaat teman-teman sebayanya sedang mempersiapkan segala hal untuk masuk sekolah ke jenjang menengah pertama, Nurma justru sudah berjuang mencari pundi-pundi rupiah dengan menjadi asisten rumah tangga di Ibu kota.

Bahkan saat usia Nurma menginjak 18 tahun, Ratri meminta Nurma untuk menjadi TKW, karena Ratri merasa gaji Nurma di Jakarta tidak lagi cukup untuk membiayai ketiga adiknya, apalagi saat itu Mala sudah mau lulus SMP dan Mala ingin melanjutkan pendidikannya sampai memiliki gelar.

"Bu, kata guru aku itu pintar Bu, sayang kalau harus putus sekolah apalagi kalau jadi pembantu kayak Teh Nurma," ucap Mala yang membuat Ratri semakin mendesak Nurma untuk daftar menjadi TKW.

Nurma memang anak yang penurut, setelah melalui proses yang begitu panjang, akhirnya tiba hari di mana Nurma untuk terbang ke negeri orang, menggantungkan nasibnya di sana demi membahagiakan Ibu dan adik-adiknya.

***

Tok tok tok

Tok tok tok

"Nurma . . . ,"

"Nurma . . . ,"

Suara Ibunya yang memanggil namanya membuyarkan lamunan Nurma.

"Kamu ini gimana sih main pulang aja? kan di rumah belum beres. Ayo balik lagi, ruang tamu masih acak-acakan, piring gelas juga belum di cuciin," ucap Ratri saat Nurma baru saja membuka pintu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DIKIRA MISKIN
8.0
Yudi dan Antika kerap menjadi sasaran cemoohan para kakak ipar yang memandang rendah kondisi ekonomi mereka. Di balik hinaan tersebut, pasangan ini sebenarnya telah meraih kesuksesan besar selama menetap di kota. Begitu fakta kekayaan mereka terungkap, sikap sinis keluarga besar seketika berubah menjadi upaya untuk mendekat demi keuntungan pribadi. Akankah Yudi dan Antika menerima perubahan sikap yang mendadak ini setelah sekian lama diremehkan?
Sampul Novel Dinikahi Om Bujang
9.4
Berdasarkan kisah nyata, narasi ini membuktikan bahwa jabatan dan usia bukan penentu kebahagiaan rumah tangga. Fokus utama adalah kejujuran serta upaya saling melengkapi. Sang suami dengan sabar membimbing istrinya yang sempat jauh dari agama untuk kembali mengenal Islam. Meski diterpa cemoohan keluarga terkait masa lalu sang istri, ia tetap setia merawat di kala sakit. Sebuah bukti cinta tulus yang mengedepankan kesabaran dan perjuangan spiritual dalam pernikahan.
Sampul Novel Istri Rahasia Sang CEO
9.3
Danendra Danu Atmaja, pengusaha sukses, tiba-tiba menawarkan untuk melunasi biaya pengobatan ibu Arana Salingga. Namun, bantuan tersebut datang dengan syarat yang mengejutkan: Arana harus menikahinya. Meski Arana sudah memiliki kekasih dan merasa asing dengan Danendra, pria itu tetap bersikeras. Arana terjebak dalam dilema besar karena perbedaan status sosial mereka yang sangat jauh. Mengapa sosok CEO ternama tersebut memilih gadis biasa sepertinya?
Sampul Novel Mahkota Sang Dewi
8.2
Husein memandang akad nikah sebagai janji suci untuk melindungi pasangan, namun bagi Mutia, pernikahan hanyalah beban yang ingin ia sudahi secepat mungkin. Kehadiran orang lain di hati Mutia membuat komitmen ini terasa semakin mustahil. Saat takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan rumah tangga tanpa dasar cinta yang sama, mampukah mereka bertahan? Kisah ini menguji kesetiaan dan pengorbanan dalam mempertahankan hubungan yang penuh keterpaksaan.
Sampul Novel Nafsu Besar Sang Dokter
8.9
Di balik jubah putih yang melambangkan profesionalisme, seorang dokter tetaplah individu biasa yang memiliki sisi kemanusiaan mendalam. Kehidupannya tidak hanya seputar medis, tetapi juga melibatkan gejolak perasaan, empati hati, serta dorongan hasrat alami yang manusiawi. Kisah ini mengeksplorasi sisi lain dari dunia kedokteran, di mana emosi dan insting dasar sering kali beradu dengan dedikasi, membuktikan bahwa seorang praktisi medis pun punya rasa.
Sampul Novel Pengobatan Khusus Tabib Desa
7.9
Saat merayakan Hari Raya di sebuah desa terpencil, seorang wanita mengalami sakit perut parah akibat salah makan. Karena rumah sakit sangat jauh, ia terpaksa mendatangi tabib tua setempat untuk mendapatkan pengobatan pijat. Namun, situasi berubah mencekam ketika tabib tersebut memaksanya melepas celana dengan dalih membuang hawa jahat. Begitu menyadari kondisi sensitif tubuh pasiennya yang basah kuyup, hasrat liar sang tabib memuncak hingga ia nekat melancarkan aksi bejatnya.