Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumah Sakit Itu Memakan Korban Jiwa

Rumah Sakit Itu Memakan Korban Jiwa

Di sebuah kota terpencil yang jarang dijamah orang, berdiri sebuah rumah sakit misterius yang terus-menerus merenggut nyawa pasiennya secara tidak wajar. Fenomena mengerikan ini menimbulkan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding rumah sakit tersebut. Dokter Tio bersama rekan-rekannya memutuskan untuk menyelidiki kejanggalan ini. Akankah mereka berhasil mengungkap rahasia kelam di sana atau justru menjadi korban berikutnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Rumah Sakit Itu Memakan Korban Jiwa (2)

Aku melihatnya sanggup tak sanggup, kami semua melihat wanita itu terkapar dari lantai 5 Rumah Sakit ini. 

"Ini semua gara-gara dokter tio!" Ucap dokter Bryan. 

Apa-apaan ini? Kenapa aku yang jadi di salahkan.

"Maksud dokter apa?" Kataku. 

"Masih nanya lagi, setiap dokter mau mengaji pasti ada aja yang kesurupan!"

"Loh, bukannya memang aku ga ngaji juga samakan?"

"Iya, tapi semenjak ada kamu makin banyak." Ucap Dokter Bryan emosi. 

"Sudah-sudah, kalian malah bertengkar ayo urus jenazah itu." Ucap Suster emi. 

Kami pun mengakhiri perdebatan ini, dan memutuskan untuk pergi ke bawah. 

Kami disini ber lima. 

Ada dokter bryan, aku, suster emi, dan suster ana dan ani yang mereka ini kembar dan kebetulan satu tempat kerja. 

Hujan masih sangat deras, dan petir terus menggelegar. Lorong-lorong Rumah Sakit disini serasa menyeramkan. Tak ada penerangan. 

Aku mencoba menyalakan lampu setiap lorong. 

"Kok ga bisa ya? Apa mati listrik?" Ucapku. 

"Mati listrik lah disini mah, tiap hujan petir besar juga." Ucap Dokter Bryan ketus. 

Aku pun tak menjawabnya, dan kami meneruskan perjalanan ini. Tiba-tiba saja ketika hendak menuruni tangga Rumah Sakit ada suara orang yang sedang berjalan. 

Tuk tuk tuk

"Kalian denger ga ada suara orang yang jalan ke arah kita?" Ucap Doktee Bryan dengan rawat wajah ketakutan. 

"Iya yah, denger kita." Ucap Aku. 

"Kok makin dekat ya, jadi merinding." Ucap Suster Ana. 

"Udah yuk, turun biarin. Mungkin orang lewat." Kata suster emi. 

"Tapi makin deket aku takut." Ucap Suster Ana sambil memeluk suster Ani. 

"Udah yuk kita turun tangga buruan serem nih." Ucap Dokter Bryan. 

Kami pun mengangguk dengan tanda setuju. Kami menyusuri tangga satu demi satu. Tiba-tiba saja ada suara yang terdengar melengking di telinga. 

"Kalian semua jahat huhuhu." Suara itu terdengar oleh kami, suara itu terdengar sambil menangis dengan terisak. 

"Kalian denger ga suara itu?" Kataku. 

Mereka mengangguk, tanpa banyak bicara kami terus menuruni tangga dengan cepat. 

"Kalian ga mau nolongin aku, rasakan ini." Kata suara itu lagi terus saja ada di sekitar kami. Kurasa dia marah sama kami. 

Lalu angin tiba-tiba saja datang ke arah kami hingga kami kehilangan keseimbangan. 

"Tolong!" 

"Tolong!

Ucap kami bersamaan sambil memegangi tangga agar kami tak jatuh. 

Aku pun membaca doa dalam hati, yaa Allah selamatkan kami. 

"Kalian semua baca doa dalam hati." Kataku sambil berteriak. 

Kami semua pun berdoa, muka kami sudah pucat pasi. Angin semakin kencang. Pertahanan kami hampir goyah. 

Brugh! 

Suster Ani jatuh, berguling di tangga Rumah Sakit yang lumayan banyak itu. Aku menyaksikannya tak tega hingga aku memalingkan muka. 

"Aniiiii..." Ucap Ana berteriak. Dia menangis sambil bertahan. 

Tak lama menangis, Ana pun menyusul Ani yang ia juga berguling di tangga Rumah Sakit ini.

Aaaaaaaa

Suara ani ketika tubuhnya berguling di Tangga, pasti itu sangat sakit sekali. Aku pun tak tahu mereka bagaimana karena aku juga sedang mempertahankan diri agar tidak jatuh. 

Aku dan Dokter Bryan saling pandang dan menguatkan pegangan yang ada di Tangga Rumah Sakit ini. 

Aku geram dan aku setengah berteriak. 

"Apa yang kami lakukan hah? Kami ga salah? Kamu arwah yang tadi jatuh? Bukankah kami sudah mencegahnya? Kenapa kamu timpakkan pada kami?"Kataku sambil berteriak. 

"Hihihihihi." Suara itu malah tertawa, ia senang melihat kami kesusahan. 

"Kenapa kamu tertawa? Kenapa ga jawab Pertanyaan kami?" Ucap Dokter Bryan setengah berteriak. 

"Diam kamu! Ini juga salahmu. Rasakan ini." Balas suara itu. 

Angin bertambah kencang dan Tubuh Dokter Bryan melayang ke udara. Aku menyaksikan percaya tidak percaya. 

Bagaimana aku meminta tolong di tangga darurat ini, sedangkan disini tak ada apa-apa. 

Aku meraih pintu yang tadi membuka tangga darurat ini. 

Aku meraihnya dengan susah payah, karena angin begitu kencang. 

"Tolong!"

"Tolong saya Tio." Ucap Dokter Bryan. 

Aku pun kebingungan melihat kejadian ini, aku terus berusaha meraih pintu tersebut, namun pintu itu tertutup dengan sendirinya. 

Dan tubuh Dokter Bryan Jatuh ke anak tangga.

Aku pun langsung menghampirinya dengan bersusah payah. 

"Aduh sakit, s*tan si*lan!" Ucap Dokter Bryan sambil marah-marah. 

Aku takut akan memancing Set*n itu marah kembali, apalagi posisi kami ada di Tangga darurat yang pasti tak ada sinyal untuk meminta bantuan. Yaa Allah, tolonglah kami. 

"Udahlah yan, jangan marah-marah lagi nanti dia kesini lagi bahaya." Ucapku sambil menggapai tangannya dan mendudukkan dia ke tembok di tepi tangga darurat. 

"Udahlah ini kan gara-gara kamu!" Jawabnya dengan emosi yang sambil memeriksa bagian tubuhnya takut ada yang luka. 

"Aku terus aja yang di salahkan! Emangnya kenapa sih muslim ngaji? Kamu muslim kan kenapa ga mengaji?" Ucapku Kesal. 

Geram sekali rasanya, dari tadi aku yang selalu dituduhkan oleh Bryan itu. 

Ingin ku pukul saja wajahnya yang sok kegantengan itu, tapi aku sadar posisi situasi seperti ini akan memperkeruh suasana. 

"Nga ngaji lah di rumah, emangnya kaya kamu pamer!" Ucap Bryan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain yang enggan melihatku. 

Aku pun diam saja dan mencari cara bagaimana bisa keluar dari sini. Ku ambil handphoneku dan melihat, ada sinyal tidak. 

Kosong, tak ada sinyal. Hanya ada tanda silang yang ada di layar atas handphoneku. Aku berdecak sebal. Kenapa aku harus tugas disini. 

Sudah bayarannya murah, angker pula. Ini bukan Rumah Sakit tapi ini kuburan! 

"Ayo kita cari Ana sama Ani, Mudah-mudahan mereka masih selamat."Kataku pada Bryan. 

Dia mengangguk dan aku memapahkan dia dan kuletakkan tangannya ke bahuku untuk menuntut dia menuruni anak tangga satu per satu. 

Tiba-tiba saja angin datang kembali, dan membuka pintu tangga darurat. Aku pun dan Bryan memegang kembali penyangga tangga agar kami tak terbawa angin itu. 

Apa aku harus merasakan penderitaan disini kembali? Maunya apa sih hantu itu. Selalu saja mengganggu kami. 

Aku pun jadi geram dibuatnya. 

"Baca doa." Ucapku pada Bryan. Capek manggil dia Dokter. Udah Bryan aja. 

Bryan langsung berdoa, ku lihat mulutnya seperti membaca surah Al Fatihah, biarlah yang penting dia berdoa. Aku pun berdoa dan memberanikan diri. 

"Mau apa lagi kau? Apa belum puas hah?" Kataku dengan berteriak dengan emosi. 

"Hihihihihi." Hanya itu suara yang terdengar di telinga kami. 

Hujan di luar masih sangat lebat dan petir masih juga menggema di bumi. Menambah ketegangan kami disini yang gelap dan hanya ada penerangan dari fentilasi yang ada di pintu jika pintu tertutup. 

"Kalian akan menjadi mainanku mulai saat ini hihihihi." Ucap suara itu terdengar kembali. 

"Lepaskan kami!" Ucap Bryan. 

"Diam kamu! Atau mau kamu seperti tadi?" Balas hantu itu. 

"Ti tidak mau, ma maafkan a aku." Jawab Bryan dengan terbata-bata. 

"Tolong lepaskan kami yah," Kataku sambil melihat ke arah kesana kemari mencari sosok hantu itu. 

"Aku harus bersenang-senang dulu dengan kalian, baru aku akan lepaskan hihihihi." Balasnya. 

Aku heran, kok suaranya sangat jelas sekali. Aku dan Bryan pun saling pandang. Jangan-jangan dia ada di atas kami. 

Ketika aku dan Bryan menatap ke arah atas dan. 

Haaaaaaaaaaa

Aku dan Bryan teriak ketakutan, karena hantu itu tepat di atas muka kami. Mukanya yang seram menakutkan. 

Dar*h hantu itu bahkan menetes di wajah kami, rambutnya yang panjang dan memakai baju putih. Wajahnya yang buruk seperti bekas kecelakaan dan matanya melotot ke arah kami sambil ia tertawa. 

"Hihihihi...." Suara hantu itu. 

Jantungku serasa ingin copot dan ingin mat* saja. Yaa Allah aku takut. 

Tanpa di sengaja, aku dan Bryan pun ikut terguling di tangga ini, dan aku pasrah karena badan ini sudah lemas. 

Sayup-sayup terdengar set*n itu terus tertawa ketika aku dan Bryan sedang menuruni anak tangga satu per satu dengan badanku yang sudah tak berdaya ini. 

Aku pun tak ingat lagi ketika aku sedang terjatuh di anak tangga itu. Dan aku pun tak tahu nasib mereka seperti apa. 

💕💕💕💕💕

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Cinta Pertamanya
8.0
Disandera saat hamil sembilan bulan oleh mantan rekan kerja suamiku yang dendam, nyawaku terancam di atap gedung. Namun, suamiku yang memimpin tim penyelamat malah pergi menyelamatkan cinta pertamanya dari aksi bakar diri. Di kehidupan lalu, aku memohon bantuannya hingga selamat, tetapi hal itu membuat cinta pertamanya tewas dan suamiku membalas dendam dengan menusukku serta bayi kami. Kini, setelah terbangun kembali di hari penyanderaan, aku memilih diam dan membiarkannya pergi menolong wanita itu.
Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
8.8
Bima lahir dalam keluarga sederhana yang terbelenggu kutukan iblis. Di desanya, Gunung Pengantin berdiri angker dengan legenda hantu pengantin yang kerap meneror pendaki. Suatu hari, Bima dan sahabatnya, Alif, melanggar pantangan gunung hingga Alif hilang menjadi abdi gaib. Saat dewasa, Bima harus memutus kutukan leluhur dibantu khodam warisan. Meski berhasil, ia harus kehilangan orang tuanya yang tewas dalam ritual gaib, menyisakan duka dan kesendirian mendalam.
Sampul Novel Istri Tanpa Suami
8.7
Aminarsih, gadis yatim piatu, dinikahi seorang CEO kaya demi menangkal kutukan nasib buruk pria itu, yang mana semua istrinya selalu meninggal dua hari setelah menikah. Alih-alih diperlakukan layak, Aminarsih justru disembunyikan di dalam rumah kosong yang menyeramkan. Di tengah kesendirian dan kengerian tempat itu, ia harus bertahan hidup dengan hanya mengandalkan bantuan dari sebatang pohon apel serta hewan-hewan seperti tikus, kecoak, dan semut yang kini ia anggap sebagai keluarganya.
Sampul Novel Makanan Menjijikkan Dari Mertua
8.0
Kehidupan rumah tangga seorang pria berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam. Ia terjebak dalam lingkaran keluarga penuh rahasia gelap, di mana istri dan mertuanya ternyata penganut ilmu hitam yang keji. Konflik memuncak saat sang tokoh utama tidak lagi memiliki pilihan selain menghadapi tekanan luar biasa. Ia dipaksa oleh orang-orang terdekatnya itu untuk mengabdi dan bersekutu dengan iblis demi memenuhi ambisi mistis mereka yang sangat mengerikan.
Sampul Novel MENYUSUI TUYUL
7.8
Isu pesugihan masih menghantui pedesaan, terutama bagi mereka yang sukses. Pasangan Bintang dan Alisha merasakan tekanan ini setelah pindah ke Jawa Timur demi tugas kepolisian Bintang. Warga sekitar mencurigai mereka memelihara serta menyusui tuyul akibat serentetan peristiwa ganjil yang terjadi. Tuduhan makin memanas saat mereka membeli rumah baru di luar desa. Mampukah pasangan ini membuktikan kebenaran dan lolos dari fitnah mistis yang mengancam?
Sampul Novel Misteri Menu Sarapan Mertua
9.3
Kehidupan baruku setelah menikah seharusnya penuh kebahagiaan saat aku memutuskan tinggal bersama mertua demi merawat mereka. Namun, kehangatan rumah itu perlahan sirna oleh suasana mencekam yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang sangat ganjil pada perilaku kedua orang tua suamiku. Setiap pagi, misteri mulai menyelimuti meja makan, memicu kecurigaan bahwa ada rahasia gelap yang mereka sembunyikan di balik sikap tenang mereka selama ini.