
Rumah Sakit Itu Memakan Korban Jiwa
Bab 2
Rumah Sakit Itu Memakan Korban Jiwa (2)
Aku melihatnya sanggup tak sanggup, kami semua melihat wanita itu terkapar dari lantai 5 Rumah Sakit ini.
"Ini semua gara-gara dokter tio!" Ucap dokter Bryan.
Apa-apaan ini? Kenapa aku yang jadi di salahkan.
"Maksud dokter apa?" Kataku.
"Masih nanya lagi, setiap dokter mau mengaji pasti ada aja yang kesurupan!"
"Loh, bukannya memang aku ga ngaji juga samakan?"
"Iya, tapi semenjak ada kamu makin banyak." Ucap Dokter Bryan emosi.
"Sudah-sudah, kalian malah bertengkar ayo urus jenazah itu." Ucap Suster emi.
Kami pun mengakhiri perdebatan ini, dan memutuskan untuk pergi ke bawah.
Kami disini ber lima.
Ada dokter bryan, aku, suster emi, dan suster ana dan ani yang mereka ini kembar dan kebetulan satu tempat kerja.
Hujan masih sangat deras, dan petir terus menggelegar. Lorong-lorong Rumah Sakit disini serasa menyeramkan. Tak ada penerangan.
Aku mencoba menyalakan lampu setiap lorong.
"Kok ga bisa ya? Apa mati listrik?" Ucapku.
"Mati listrik lah disini mah, tiap hujan petir besar juga." Ucap Dokter Bryan ketus.
Aku pun tak menjawabnya, dan kami meneruskan perjalanan ini. Tiba-tiba saja ketika hendak menuruni tangga Rumah Sakit ada suara orang yang sedang berjalan.
Tuk tuk tuk
"Kalian denger ga ada suara orang yang jalan ke arah kita?" Ucap Doktee Bryan dengan rawat wajah ketakutan.
"Iya yah, denger kita." Ucap Aku.
"Kok makin dekat ya, jadi merinding." Ucap Suster Ana.
"Udah yuk, turun biarin. Mungkin orang lewat." Kata suster emi.
"Tapi makin deket aku takut." Ucap Suster Ana sambil memeluk suster Ani.
"Udah yuk kita turun tangga buruan serem nih." Ucap Dokter Bryan.
Kami pun mengangguk dengan tanda setuju. Kami menyusuri tangga satu demi satu. Tiba-tiba saja ada suara yang terdengar melengking di telinga.
"Kalian semua jahat huhuhu." Suara itu terdengar oleh kami, suara itu terdengar sambil menangis dengan terisak.
"Kalian denger ga suara itu?" Kataku.
Mereka mengangguk, tanpa banyak bicara kami terus menuruni tangga dengan cepat.
"Kalian ga mau nolongin aku, rasakan ini." Kata suara itu lagi terus saja ada di sekitar kami. Kurasa dia marah sama kami.
Lalu angin tiba-tiba saja datang ke arah kami hingga kami kehilangan keseimbangan.
"Tolong!"
"Tolong!
Ucap kami bersamaan sambil memegangi tangga agar kami tak jatuh.
Aku pun membaca doa dalam hati, yaa Allah selamatkan kami.
"Kalian semua baca doa dalam hati." Kataku sambil berteriak.
Kami semua pun berdoa, muka kami sudah pucat pasi. Angin semakin kencang. Pertahanan kami hampir goyah.
Brugh!
Suster Ani jatuh, berguling di tangga Rumah Sakit yang lumayan banyak itu. Aku menyaksikannya tak tega hingga aku memalingkan muka.
"Aniiiii..." Ucap Ana berteriak. Dia menangis sambil bertahan.
Tak lama menangis, Ana pun menyusul Ani yang ia juga berguling di tangga Rumah Sakit ini.
Aaaaaaaa
Suara ani ketika tubuhnya berguling di Tangga, pasti itu sangat sakit sekali. Aku pun tak tahu mereka bagaimana karena aku juga sedang mempertahankan diri agar tidak jatuh.
Aku dan Dokter Bryan saling pandang dan menguatkan pegangan yang ada di Tangga Rumah Sakit ini.
Aku geram dan aku setengah berteriak.
"Apa yang kami lakukan hah? Kami ga salah? Kamu arwah yang tadi jatuh? Bukankah kami sudah mencegahnya? Kenapa kamu timpakkan pada kami?"Kataku sambil berteriak.
"Hihihihihi." Suara itu malah tertawa, ia senang melihat kami kesusahan.
"Kenapa kamu tertawa? Kenapa ga jawab Pertanyaan kami?" Ucap Dokter Bryan setengah berteriak.
"Diam kamu! Ini juga salahmu. Rasakan ini." Balas suara itu.
Angin bertambah kencang dan Tubuh Dokter Bryan melayang ke udara. Aku menyaksikan percaya tidak percaya.
Bagaimana aku meminta tolong di tangga darurat ini, sedangkan disini tak ada apa-apa.
Aku meraih pintu yang tadi membuka tangga darurat ini.
Aku meraihnya dengan susah payah, karena angin begitu kencang.
"Tolong!"
"Tolong saya Tio." Ucap Dokter Bryan.
Aku pun kebingungan melihat kejadian ini, aku terus berusaha meraih pintu tersebut, namun pintu itu tertutup dengan sendirinya.
Dan tubuh Dokter Bryan Jatuh ke anak tangga.
Aku pun langsung menghampirinya dengan bersusah payah.
"Aduh sakit, s*tan si*lan!" Ucap Dokter Bryan sambil marah-marah.
Aku takut akan memancing Set*n itu marah kembali, apalagi posisi kami ada di Tangga darurat yang pasti tak ada sinyal untuk meminta bantuan. Yaa Allah, tolonglah kami.
"Udahlah yan, jangan marah-marah lagi nanti dia kesini lagi bahaya." Ucapku sambil menggapai tangannya dan mendudukkan dia ke tembok di tepi tangga darurat.
"Udahlah ini kan gara-gara kamu!" Jawabnya dengan emosi yang sambil memeriksa bagian tubuhnya takut ada yang luka.
"Aku terus aja yang di salahkan! Emangnya kenapa sih muslim ngaji? Kamu muslim kan kenapa ga mengaji?" Ucapku Kesal.
Geram sekali rasanya, dari tadi aku yang selalu dituduhkan oleh Bryan itu.
Ingin ku pukul saja wajahnya yang sok kegantengan itu, tapi aku sadar posisi situasi seperti ini akan memperkeruh suasana.
"Nga ngaji lah di rumah, emangnya kaya kamu pamer!" Ucap Bryan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain yang enggan melihatku.
Aku pun diam saja dan mencari cara bagaimana bisa keluar dari sini. Ku ambil handphoneku dan melihat, ada sinyal tidak.
Kosong, tak ada sinyal. Hanya ada tanda silang yang ada di layar atas handphoneku. Aku berdecak sebal. Kenapa aku harus tugas disini.
Sudah bayarannya murah, angker pula. Ini bukan Rumah Sakit tapi ini kuburan!
"Ayo kita cari Ana sama Ani, Mudah-mudahan mereka masih selamat."Kataku pada Bryan.
Dia mengangguk dan aku memapahkan dia dan kuletakkan tangannya ke bahuku untuk menuntut dia menuruni anak tangga satu per satu.
Tiba-tiba saja angin datang kembali, dan membuka pintu tangga darurat. Aku pun dan Bryan memegang kembali penyangga tangga agar kami tak terbawa angin itu.
Apa aku harus merasakan penderitaan disini kembali? Maunya apa sih hantu itu. Selalu saja mengganggu kami.
Aku pun jadi geram dibuatnya.
"Baca doa." Ucapku pada Bryan. Capek manggil dia Dokter. Udah Bryan aja.
Bryan langsung berdoa, ku lihat mulutnya seperti membaca surah Al Fatihah, biarlah yang penting dia berdoa. Aku pun berdoa dan memberanikan diri.
"Mau apa lagi kau? Apa belum puas hah?" Kataku dengan berteriak dengan emosi.
"Hihihihihi." Hanya itu suara yang terdengar di telinga kami.
Hujan di luar masih sangat lebat dan petir masih juga menggema di bumi. Menambah ketegangan kami disini yang gelap dan hanya ada penerangan dari fentilasi yang ada di pintu jika pintu tertutup.
"Kalian akan menjadi mainanku mulai saat ini hihihihi." Ucap suara itu terdengar kembali.
"Lepaskan kami!" Ucap Bryan.
"Diam kamu! Atau mau kamu seperti tadi?" Balas hantu itu.
"Ti tidak mau, ma maafkan a aku." Jawab Bryan dengan terbata-bata.
"Tolong lepaskan kami yah," Kataku sambil melihat ke arah kesana kemari mencari sosok hantu itu.
"Aku harus bersenang-senang dulu dengan kalian, baru aku akan lepaskan hihihihi." Balasnya.
Aku heran, kok suaranya sangat jelas sekali. Aku dan Bryan pun saling pandang. Jangan-jangan dia ada di atas kami.
Ketika aku dan Bryan menatap ke arah atas dan.
Haaaaaaaaaaa
Aku dan Bryan teriak ketakutan, karena hantu itu tepat di atas muka kami. Mukanya yang seram menakutkan.
Dar*h hantu itu bahkan menetes di wajah kami, rambutnya yang panjang dan memakai baju putih. Wajahnya yang buruk seperti bekas kecelakaan dan matanya melotot ke arah kami sambil ia tertawa.
"Hihihihi...." Suara hantu itu.
Jantungku serasa ingin copot dan ingin mat* saja. Yaa Allah aku takut.
Tanpa di sengaja, aku dan Bryan pun ikut terguling di tangga ini, dan aku pasrah karena badan ini sudah lemas.
Sayup-sayup terdengar set*n itu terus tertawa ketika aku dan Bryan sedang menuruni anak tangga satu per satu dengan badanku yang sudah tak berdaya ini.
Aku pun tak ingat lagi ketika aku sedang terjatuh di anak tangga itu. Dan aku pun tak tahu nasib mereka seperti apa.
💕💕💕💕💕
Anda Mungkin Juga Suka





