Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumah Sakit Itu Memakan Korban Jiwa

Rumah Sakit Itu Memakan Korban Jiwa

Di sebuah kota terpencil yang jarang dijamah orang, berdiri sebuah rumah sakit misterius yang terus-menerus merenggut nyawa pasiennya secara tidak wajar. Fenomena mengerikan ini menimbulkan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding rumah sakit tersebut. Dokter Tio bersama rekan-rekannya memutuskan untuk menyelidiki kejanggalan ini. Akankah mereka berhasil mengungkap rahasia kelam di sana atau justru menjadi korban berikutnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Rumah Sakit Itu Memakan Korban Jiwa (3)

****

"Yo, Tio bangun!" 

Aku membuka dengan perlahan demi perlahan, rupanya Bryan yang mencoba membanguniku. rasa sakit pada tubuhku sangatlah sakit sekali. Aku mencoba bangun dengan sekuat tenaga. Ada luka di dahiku, mungkin saja tadi ketika jatuh aku terluka. 

Aku mengedarkan pandangan, melihat sekeliling arah, apakah aku sudah berada di tempat yang aman? Namun sayang, aku tidak berada di tempat aman. Aku masih ada di tangga darurat. 

Disini juga ada Bryan yang sedang menyandarkan tubuhnya ke tepi dinding yang ada di ruangan ini. Dia pun sama, ada luka di dahinya. Bahkan memar-memar juga terlihat di kakinya. Beruntung, aku dan Bryan jatuh dari ketinggian yang tak terlalu jauh. Karena aku hampir sampai di lantai paling bawah. Jadi luka kami tak begitu serius. 

Aku mencari Suster Emi, Ana, dan Ani. Suster Ana dan Ani terlihat sudah banyak luka di dalam tubuhnya bahkan berceceran dar*hnya di lantai. Aku takut, karena mereka tak bisa tertolong. 

Namun aku tak melihat suster Emi, dimana dia? Aku tadi melihatnya namun tak ku temukan dia. Saking paniknya, aku sampai tak sadar kalau dia sudah tidak ada. 

Ku cek jam tangan yang melingkar di lenganku, hari sudah mulai senja. Jam menunjukkan pukul 5 sore waktu indonesia barat. Ternyata kami sudah berjam-jam di ruangan tangga darurat ini. 

"Dimana suster Emi yan?" Ucapku pada Bryan. Karena hanya dialah yang masih bisa ku ajak bicara. Sedangkan Ana dan Ani tak sadarkan diri. 

"Lagi nangis tuh di pojokkan, aku juga tahu pas aku bangun dia udah disitu." Ucap Bryan sambil menunjuk suster Emi. 

Tadi di atas, dia sok berani namun sekarang kok seperti orang yang ketakutan. Aku mencoba mendekati dia dengan pelan-pelan berjalan ke arah nya. Meski tubuh ini sangat sakit, ku mencoba untuk terus berjalan perlahan. 

"Suster Emi kamu gapapa? Tadi kemana?" Ucapku mengajak bicara ia yang sedang meringkuk sambil menangis. 

Hmmmmmmm

Ia hanya bergumam, namun gumamannya berbeda, seperti orang yang sedang menangis namun tertahan, ia pun enggan untuk melihat ke arahku. 

Aku pun bingung di buatnya, aku mencoba berbicara kembali. 

"Suster, baik-baik aja kan?" Ucapku kembali dengan melihatnya yang masih sambil bergumam dengan nada lirih. 

Aku pun merinding, aku melihat Bryan yang juga ikut melihatnya. Penasaran, dan Bryan pun menggelengkan kepalanya memberikan tanda ia pun tidak tahu. 

Hujan di depan pun sudah mulai mereda, namun masih banyak petir yang menyambar di segala arah. Suasana ini masih sangat mencengangkan. 

Tiba-tiba saja Suster Emi diam, Aku dan Bryan menatapnya dengan penuh penasaran. Langsung saja dia mengangkat kepalanya dan matanya melotot ke arah kami dengan sangat tajam. 

Aku dan Bryan pun sampai kaget karena ia tiba-tiba saja menatap ke arah kami seperti itu. 

"Su suster, a apa ba baik sa saja?" Ucap Bryan dengan terbata-bata. Aku pun diam karena jantung ini pun masih saja berdegub dengan kencang. 

"Tolong aku kikikikkkikikkk." Ucap Suster Emi, aku pun jadi takut. Sepertinya dia kesurupan. 

Aku dan Bryan mendekat, kini jarak kami tak jauh, karena mungkin kami juga takut di posisi seperti ini. 

"To tolong apa?, si siapa kamu?" Ucapku dengan nada yang bergetar. 

"Tolong aku." Ucapnya lagi. Dengan nada yang mulai sedikit di naikan. Aku pun ingin mendekatinya namun rasa takut itu membuatku urung mendekatinya. 

"Iya nanti kami menolongmu, tapi buka kan pintu ya kami mau keluar, kasian teman-teman kami." Ucapku dengan pelan-pelan dengan nada yang bergetar. 

"Dia jahat!" Balasnya sambil berpaling dari kami dan matanya melotot ke arah lain. 

Aku sudah muak hari ini di buat permainan hantu itu, maunya apa sih. 

"Bryan, pegangin suster Emi." Ucapku. 

Bryan pun menurut dan memegang suster Emi. 

"Lepaskan aku, lepaskan!" Ucapnya dengan nada berteriak dan berontak. Namun Bryan mungkin kali ini sudah mulai lelah makanya dia berusaha sekuat tenaga agar pegangannya tak lepas. 

Aku sebenarnya tak bisa berbuat apa-apa, ku bacakan surah ayat kursi, dan satu ayat surah Al-An'am yang tentang jin. 

Ku bacakan surah ayat kursi sambil memegangi jempol kaki kanannya. 

"Lepaskan aw, lepaskan!" Ucap hantu itu yang berada di tubuh Suster Emi. 

"Aku berdoa dalam hati agar semua ini segera berakhir dan mulai membacakan ayat Al An'am."

لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصٰرَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui."

Aku membaca ayat itu dengan sekuat tenaga, sambil memencet jempol kaki sebelah kanannya. 

"Awww sakitt, lepaskan!" Ucap Hantu itu sambil berontak kesana kemari. 

"Tadi kamu bilang ga sakit di atas, gimana sih." Ucapku. 

"Yang bilang ga sakit siapa, cepat lepaskan!" Jawabnya lagi. 

Aneh, masa iya beda-beda, memang mahkluk halus seperti itu. Tidak bisa di percaya. Pendusta. 

Aku terus membaca ayat itu, dia mengerang kesakitan, Dan. 

Aaaaaaaaaaa

Pesan author, coba kalau ada hal ghaib, bacakan ayat itu. Author pernah bacain itu ketika keluarga author kena. Dengan bacaan ayat kursi. 

Hantu yang berada di tubuh itu berteriak dan sepertinya ia sudah pergi dari tubuh Emi. Kami pun memegang tubuh Emi dan berusaha membangunkannya. 

"Suster, Suster Emi bangun." Ucapku yang sambil memegang pundaknya. 

"Suster, bangun sus." Ucap Bryan juga. 

Suster Emi pun tersadar, ia masih berusaha membuka mata. Cobaan ini terasa berat. 

"Aku kenapa dok?" Ucap Suster Emi. 

"Tadi kamu kesurupan." Ucap Bryan dengan keceplosan.

"Hust." Kataku, takut dia syok dan bahaya juga karena ini hari mulai menjelang malam. 

Syukurnya pintu tangga darurat ini terbuka, jadi kami bisa bernafas dengan lega. 

"Pantesan tadi seperti ada hantu yang mendekatiku, abis itu aku ga inget apa-apa lagi." Ucap suster Emi sambil memegangi kepalanya. 

"Udah, udah keluar dulu sebelum ini di tutup lagi. Kita harus memberikan pertolongan pada Suster Ana dan Ani." Ucapku. 

Aku tak ingin lama-lama disini, disini terlalu menyeramkan bagiku. 

Tanpa menunggu basa-basi lagi, aku pun keluar untuk meminta bantuan, sedangkan Bryan menjaga Emi, Ana, dan Ani selama aku keluar meminta bantuan. 

****

Akhirnya, aku bisa keluar juga. Aku harus mencari bantuan, di lantai 1 ini cukup ramai. Karena disini tempat penerimaan pasien, penebusan obat dan ruangan-ruangan biasa. 

Aku berjalan mencari bantuan.

"Akhirnya Dokter Tio, kami semua mencari kalian. Kalian tak apa-apa?" Ucap Pak Security yang menjaga rumah sakit ini. Bapak ini, sudah mulai menua. Namun Rumah Sakit ini masih memakai jasanya. 

"Tidak apa-apa pak, tolong teman-teman saya di tangga darurat." Ucapku. Aku tak peduli badan penuh luka dan pakaian yang sudah acak-acakan. Kejadian ini begitu terlalu menyeramkan untukku. 

"Baik Dokter." Ucapnya. 

Bapak itu langsung memangil Security yang lain, beberapa Suster dan pegawai disini ikut membantu. Satu per satu mereka membawa Emi dengan bantuan yang lain. 

Sementara itu, Suster Ana dan Ani langsung di larikan ke Unit Gawat Darurat. Aku juga tak tahu apa dia masih hidup atau tidak, ku harap mereka selamat. 

Aku menghampiri Bryan yang sedang duduk di kursi rumah sakit, ia sedang memeriksa luka di tubuhnya. 

"Ini semua gara-gara kamu Tio!" Ucap Bryan. 

Aku pun yang telah habis kesabaran memukul wajahnya dengan sekuat tenaga, geram sekali rasanya aku saja yang selalu di salahkan. Aku tak peduli banyak pasang mata yang melihat kami. 

Bugh

Satu pukulan melayang di wajahnya Bryan, sekali-sekali dia memang harus di beri pelajaran. 

"Kenapa semua masalah ini aku terus yang ditimpahkan? Salahkah aku jika aku mengaji di rumah sakit ini hah? Dulu, sebelum aku ada disini juga ada kan? Kenapa selalu aku yang kau salahkan? Harusnya, kita cari solusi sama-sama. Bukan seperti ini. Dasar Bocah!" Ucapku dengan nada tinggi sambil melotot ke arah Bryan yang sedang memegangi pipi. 

"Sudah, sudah pak. Hentikan." Ucap Bapak Security tadi. Ku lihat nama yang tertera di bajunya adalah pak selamet. 

Aku pun langsung pergi meninggalkan kerumunan itu dan meninggalkan Bryan yang masih memegangi wajahnya karena pukulanku. 

Aku harus menelvon pemilik Rumah Sakit ini agar aku ingin resign saja dari Rumah Sakit ini. Sudah, sudah cukup! Aku tak mau ada disini dengan terus di hantui penampakan angker dan kejadian mengerikan lagi. 

Aku mencari handphone ku. Syukurlah handphone ku tak mati setelah kejadian jatuh dari tangga tadi. Karena aku memang menaruh handphone itu di saku celana yang memiliki resleting. Jadi, jika terjadi apa-apa handphoneku tak jatuh. Kantongku pun cukup tebal jadi tak mudah rusak. Celana ini khusus ibu jahitkan untuk aku pergi setiap bekerja. Ada gunanya juga memang. 

Aku memencet layar handphoneku. Ternyata masih bisa menyala dan sudah ada sinyal. Tak menunggu lama, aku duduk di bangku taman belakang Rumah Sakit sambil menelvon pemilik Rumah Sakit. 

"Halo Pak Dino, ini saya Tio." Ucapku di suara panggilan itu. 

"Oh iya Tio, ada apa?"

"Pak, saya mau resign dari Rumah Sakit ini." Ucapku dengan nada pelan. 

"Apa? Apa kamu ga salah Tio?" 

"Iya pak, saya sudah mantap." Ucapku. 

"Tidak, kamu harus tetap bekerja di Rumah Sakit itu, ingat! Kamu sudah tanda tangan Kontrak selama 3 Tahun! Kamu melanggarnya kamu akan saya jebloskan ke penjara." Ucap Pak Dino sambil menaikkan nada bicaranya. 

Ah si*l, aku dulu sampai lupa membaca kontrak kerja itu. Bagaimana bisa aku bekerja di Rumah Sakit seperti ini selama itu. Aku menggaruk kepala ku yang tak gatal. 

"Tapi pak."

Belum meneruskan aku berbicara, tiba-tiba saja. 

"Haaaaaa....." Terdengar suara yang menyeramkan di hpku yang berasal dari sambungan telepon Pak Dino. 

"Ja jangan, mau apa kamu?" Terdengar lagi, aku yakin itu suara Pak Dino. 

Tak lama sambungan telepon pun terputus. 

Yuk ikuti terus ceritanya💙

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANAK KETIGA
9.7
Sebuah mahakarya seni rupa menyimpan rahasia kelam yang terkubur dalam sapuan kuasnya. Lukisan misterius ini bukan sekadar benda mati, melainkan saksi bisu dari sejarah panjang yang penuh intrik dan lika-liku mengerikan. Seiring berjalannya waktu, asal-usul kanvas tersebut mulai terkuak, membawa kengerian dari masa lalu yang menghantui siapa pun yang melihatnya. Inilah kisah tentang jejak kelam yang tersembunyi di balik keindahan yang tampak semu.
Sampul Novel BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU
8.6
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Mas Yusuf, kecurigaan mulai menghantui benakku. Suamiku itu menyimpan rahasia besar di balik sebuah pintu kamar yang selalu terkunci rapat. Keganjilan semakin terasa saat aku memergokinya mengendap-endap setiap malam, membawa baki makanan serta minuman ke dalam ruangan misterius tersebut. Apa sebenarnya yang sedang disembunyikan Yusuf dariku? Misteri di balik bilik terlarang itu kini mengancam ketenanganku.
Sampul Novel Dark in Antares City
9.3
Dunia mencekam akibat teror Eaters, predator berwujud manusia yang berubah menjadi monster haus darah saat malam tiba. Dengan taring dan cakar tajam, mereka memangsa daging manusia hingga memaksa warga bersembunyi dalam ketakutan. Rio Rosswel menjadi saksi bisu saat ibunya tewas mengenaskan di tangan makhluk tersebut. Sambil bersembunyi di lemari, Rio menahan tangis dan amarahnya. Di tengah duka mendalam, ia bersumpah untuk membasmi seluruh Eaters dari muka bumi.
Sampul Novel Ghost At School
9.0
Yui dan sahabatnya bertekad membebaskan arwah penasaran yang terjebak di sekolah. Namun, kenyataan pahit menghantam saat Yui menyadari melalui mimpi bahwa korban pertama adalah teman dekatnya sendiri. Penyelidikan mereka mengungkap fakta kelam bahwa dalang di balik teror ini merupakan anggota keluarga mereka yang mencari keadilan atas masa lalu. Di tengah tekanan batin dan misteri yang mencekam, mampukah mereka mengakhiri kutukan ini selamanya?
Sampul Novel Istri Tetanggaku Kuntilanak
8.1
Alif kembali ke Kampung Menyan dan langsung terjebak di antara Lisa dan Ning. Namun, desa itu dicekam teror hilangnya bayi serta janin secara misterius. Perhatian Alif teralihkan oleh Kumara, istri tetangga yang cantik namun dituduh sebagai kuntilanak karena tabiat anehnya. Kumara mengaku memiliki masa lalu dengan Alif yang telah ia lupakan. Di tengah misteri dan pesona mistis tersebut, Alif harus mengungkap kebenaran di balik sosok Kumara dan anomali di desanya.
Sampul Novel JARAN GOYANG PENARI JAIPONG
8.3
Terbakar api cemburu melihat Abimanyu memadu kasih dengan sahabatnya sendiri, Kamila nekat menempuh jalan hitam. Ia mengamalkan Ajian Jaran Goyang pemberian Nyai Winarsih, sosok tua yang secara misterius tetap berparas jelita. Kamila tidak menyadari bahwa tindakannya menyeretnya ke dalam pusaran sumpah masa lalu sang nyai. Obsesi buta ini membangkitkan petaka kuno yang telah terkubur puluhan tahun, mengancam nyawa demi sebuah cinta yang dipaksakan.