Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumah Atmaja

Rumah Atmaja

Bagas Surya Atmaja kembali dari perantauan di Kalimantan demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang terpuruk. Namun, kepulangannya bersama sang istri, Nawang, justru memicu badai konflik. Dari penolakan keras keluarga besar, kebencian eyang putri, hingga kemunculan Seruni sang mantan kekasih, hidup Bagas kian terjepit. Di balik ketegangan itu, teror gaib dan ancaman maut mulai mengintai setiap penghuni Rumah Atmaja. Mampukah Bagas mengungkap rahasia kelam ini sebelum nyawanya melayang?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Sepi banget Bang. Pada kemana?" Bagas baru sampai kontrakan.

"Kamu tahu sendiri, Hasan udah pindah ikut Syarifah, Ricky sibuk ngurusi mutasi, Zidan sibuk pedekate, ya cuma kamu sama abang yang free," ucap Mateo.

"Hahaha. Benar juga ya Bang. Bagas masuk dulu ya. Mau mandi."

"Oke. Mandi yang harum. Lumayan siapa tahu dirimu diapelin sama nyamuk betina. Hahaha.

Mateo tertawa sedangkan Bagas hanya geleng-geleng kepala. Bagas lalu masuk ke kamarnya, membersihkan badan dan berbaring. Melepas lelah setelah seharian bekerja.

Bulan-bulan ini Bagas sangat sibuk karena akan ada pengujian produk dari dinas kesehatan dan BPOM. Sebagai tenaga bagian riset dan teknologi, Bagas harus menyiapakan segala hal agar kualitas produk sesuai standar mutu. Pekerjaannya menjadi semakin menumpuk karena kemarin ada beberapa kesalahan dalam pelabelan waktu uji coba jadi Bagas dan timnya harus mulai menguji dari awal lagi.

Rasa lelah yang tak tertahankan akhirnya membawanya ke pulau mimpi. Dalam tidurnya Bagas tersenyum, entah dia sedang bermimpi apa hanya Bagas yang tahu.

***

"Aduh!" pekik Bagas karena terkena pintu mobil yang tiba-tiba terbuka.

"Makanya kalau jalan jangan ngelamun."

"Kamu lagi. Dasar cewek gak punya etika!"

"Dan kamu pria dingin arogan," balas Mawar.

Mereka lagi-lagi adu mulut tak peduli banyak pasang mata yang tengah melihat mereka di sebuah mall terbesar di kota provinsi.

"Gas, udah cukup. Ayok katanya mau cari HP," ajak Ricky. Ricky mengulas senyum tipis pada Mawar. Mawar tersenyum balik.

Mereka pun berpisah. Selama menuju kedalam mall, Bagas terus saja ngomel-ngomel tak jelas. Ricky hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya.

Setelah menemukan apa yang mereka cari. Mereka tengah duduk di bagian foodcourt.

"Gas, aku cari toilet dulu ya?"

"Oke." Ucap Bagas, tapi matanya tak mau lepas dari Hp.

Ricky menuju arah toilet, sampai disana dia mendengar kegaduhan di dalam sana. Ingin berusaha membantu tapi urung ia lakukan, akhirnya dia bersembunyi di balik dinding.

"Ckckck. Kamu tuh ya. Kenapa gak hati-hati sih Cin? Coba kalau kamu diapa-apain ma ni orang." Seorang lelaki berpembawaan kemayu namun saat ini terlihat garang baru saja memukul tengkuk lelaki yang ingin berbuat kurang ajar.

"Maaf Bang, aku kurang hati-hati," jawab wanita cantik penuh penyesalan.

"Udah abang bilang jangan pergi sendirian. Kalau mau pergi minta tolong sama abang atau minta ditemani sama Bara."

Sang wanita hanya menangis terisak. Akhirnya kemarahan Iwan surut dan kembali menjadi pria kemayu dan memeluk Mawar dengan penuh kasih sayang.

"Cup cup cup. Udah Cin ... gak papa. Gak usah nangis."

"Bang, Nawang capek, Nawang pengen pulang ke Tasik,Bang. Nawang pengen jadi orang biasa aja kayak dulu, Nawang kangen sama Bapak dan Ibu. Hiks ... hiks."

"Kamu tahu ini susah. Bos besar bakalan marah, kamu itu sumber uangnya. Lagian lunasi dulu tuh utang kamu! Ingat perjanjian kamu sama tuh lelaki."

"Nawang pengen pulang Bang. Nawang takut gak bisa jaga diri. Kalau ada Abang, Abang bisa jagain Nawang. Tapi kalau ada orang jahat kayak gini lagi gimana Bang? Nawang gak mau kehormatan Nawang diambil sama yang gak berhak Bang. Nawang emang banyak dosa. Tapi Nawang gak mau Zina."

"Udah kita pergi dulu aja dari sini ntar kalau ada orang lihat, kita bisa kena masalah. Kita pasti jadi tersangka utama karena ada di sekitar orang mati 'kan gawat. Yuk, pergi!"

"Tapi itu orang gak mati 'kan Bang?"

"Alah mati pun gak masalah, malah jadi mengurangi penjahat kelamin."

"Hahaha. Abang bisa aja."

"Udah ayok kita cepet pergi dari sini, mumpung  masih sepi. Dan hei kamu yang bersembunyi di pojok situ, kalau mau selamat jangan kasih tahu siapapun apa yang lihat dan dengar sama siapapun. Mengerti?"

Ricky terkejut karena ketahuan mengintip. Dia memilih menganggukkan kepala dan pergi menjauh. Bukan. Bukan karena takut adu fisik dengan Iwan. Dia cuma agak risih dengan penampilan Iwan yang ... hiiii ... bias gender. Raga pria tapi tampilan seperti kaum hawa, bagi Ricky itu lebih menakutkan daripada ketemu malaikat Izrail.

"Lama bener Ky," celetuk Bagas.

"Habis antri banget."

"Owh. Habis ini mau kemana?"

"Temani aku ngecek bengkel dulu ya?"

"Oke. Sekalian aku mau nengok kebun aku juga."

Mereka pun meninggalkan mall dan segera menuju tempat tujuan selanjutnya.

***

Hari ini pembukaan PT. Nusa Bahtera di Pontianak. Bagas akhirnya dipindahkan juga ke cabang ini. Sebenarnya Bagas tidak rela berpisah dengan teman satu kost-nya. Tapi mau bagaimana lagi, hidup terus berputar. Tak terasa satu tahun telah berlalu lagi. Genap 6 tahun 6 bulan dia di bumi Borneo.

Zidan sudah menikah dan membeli rumah Ricky. Bang Mateo sebentar lagi juga menikah. Ricky sudah balik ke Jawa dan sepertinya sedang asik liburan ke Pangandaran. Beberapa kali dia mengirim fotonya selama di Pangandaran. Ckckck. Pantas Ricky gagal move on, orang Lily itu cantik sekali. Bagas tersenyum melihat foto dua gadis dan satu lelaki. Dia yakin Lily itu yang ada di tengah karena tatapan mata sahabatnya begitu penuh cinta ke arahnya.

"Dasar bucin kau Ky." Bagas kemudian terkekeh.

Perhatian Bagas dari ponsel teralihkan ketika mendengar suara sang pembawa acara.

"Mari kita sambut sang biduan kita ... Mawar!" seru sang pembawa acara.

Seorang wanita cantik berpenampilan sexy melangkah menuju panggung. Dia mulai menyanyikan lagu dengan sepenuh penghayatan. Meski Bagas tidak menyukai wanita itu tapi mau tak mau dia memang mengakui pesona sang biduan. Tatapan matanya pun tak pernah bisa lepas dari sang biduan.

Di ujung meja lain. Nana menahan cemburu melihat tatapan Bagas pada sang primadona. Nana benci akan hal itu, karena Nana tak pernah mendapatkan tatapan kekaguman seperti itu dari Bagas.

"Kamu harus jadi milik aku Bagas. Bagaimana pun caranya," ucap Nana dengan senyum jahat.

Tepuk tangan disertai dengung pujian menyertai langkah Mawar yang tengah turun dari panggung.

"Gas."

"Pak Adi."

Kedua lelaki itu berjabat tangan kemudian ngobrol dalam satu meja.

"Gimana Gas di tempat baru? Betah?"

"Betah Pak."

"Syukurlah. Ngomong-ngomong kamu udah punya calon belum?"

Bagas memilih tersenyum dan tak menanggapi omongan Pak Adi.

"Kalau belum, anakku masih berharap sama kamu loh?"

Lagi, Bagas memilih tak menanggapi. Kedatangan para petinggi perusahaan menyelamatkan Bagas dari cecaran Pak Adi.

Bagas memincingkan matanya, karena melihat sosok wanita yang selalu membuatnya emosi jika bertemu sedang berjalan menuju ke mejanya.

"Kita gabung ya Pak Adi, Bagas."

"Iya, Pak."

Para petinggi itu membicarakan banyak hal. Termasuk Bagas pun ikut dalam obrolan. Sesekali pandangan mata Bagas dan Mawar bertemu namun mereka saling melengos. Mereka bahkan mampu berakting baik-baik saja.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HFP" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HFP
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hilang Di Bunian
9.2
Lima sahabat terjebak dalam situasi mengerikan saat terdampar di pulau tak berpenghuni. Niat awal untuk berpetualang seketika berubah menjadi mimpi buruk penuh misteri. Berbagai ancaman mematikan mulai mengintai dari kegelapan, memaksa mereka menghadapi serangkaian teror yang datang silih berganti tanpa henti. Di tengah keputusasaan, mampukah mereka bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk ini sebelum bahaya benar-benar melenyapkan mereka?
Sampul Novel Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
8.3
Dante Adiwangsa menyelamatkanku dari maut, namun sepuluh tahun kemudian, dia mengkhianatiku demi aliansi kriminal. Dia membiarkan tunangannya menghinaku meski tahu nyawaku terancam. Sadar hanya dianggap properti, cintaku musnah seketika. Di hari perayaannya, aku memutuskan kabur dari sangkar emas ini. Sebuah jet pribadi siap membawaku pulang ke pelukan ayah kandungku, sosok pria yang ternyata adalah musuh bebuyutan sang bos mafia tersebut.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Amber Lim, sosialita cantik dengan reputasi buruk sebagai perusak hubungan, memutuskan untuk bertobat. Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, ia nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Namun, Amber dirampok dan terdampar di hutan beku. Satu-satunya harapan hidupnya adalah pria misterius bernama Tuan Dingin. Duda yang membenci wanita ini dicap kanibal oleh warga sekitar. Akankah Amber mampu meluluhkan hatinya atau justru menjadi korban kebencian sang pria?
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati
8.7
Permana Brata adalah pendekar dengan masa lalu kelam yang penuh noda hitam. Demi menebus dosa lamanya, ia berkelana menyebar kebaikan. Berbekal jurus Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dan Pedang Kebenaran Sejati, Permana bertekad mencari orang tuanya. Meski rintangan berat menghadang, ia tak gentar menghancurkan setiap aral. Prinsipnya teguh: membasmi angkara murka dan memusnahkan kejahatan agar kedamaian sejati tercipta di seluruh jagat raya.
Sampul Novel PEMBALASAN DENDAM SANG PUTRI SINDEN
7.8
Tujuh belas tahun usai kematian tragis Jernih Suminar, sang putri yang bernama Lintang Prameswari mencari dalang ruwat sakti demi menuntut balas. Namun, ia terkejut saat mengetahui bahwa Ki Narendra yang awet muda adalah ayah kandungnya sendiri. Narendra telah menumbalkan jiwanya demi kekuasaan hingga menelantarkan Lintang. Kini, Lintang harus menghadapi pembunuh ibunya yang keji sembari dibantu sosok misterius bernama Wage di tengah intrik klenik dan mitos.
Sampul Novel Pengabaian Luna terhadap Alpha
8.5
Alpha Nikolas Morrison menderita keracunan merkuri yang fatal. Sebagai kekasihnya, aku memutuskan hubungan kami dengan menghancurkan cincin pernikahan sakral dan menyerahkan surat pemutusan ikatan. Meski sang pemimpin terhormat itu berlutut memohon di kakiku sambil menawarkan segala hartanya agar aku menetap, aku tetap bergeming. Aku justru menyeretnya ke hadapan patung Dewi Bulan dan mengancam akan mencabut berkah dewi jika dia menolak melepaskan ikatan kami selamanya.