Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Roh Istri yang Terikat Abadi

Roh Istri yang Terikat Abadi

Diculik saat hamil, Dian meregang nyawa setelah Rizal, suaminya, lebih memilih menemani sahabatnya daripada menolongnya. Bom meledak, menghancurkan tubuh Dian dan janinnya. Tragisnya, Rizal yang seorang ahli forensik justru mengautopsi sisa jasad istrinya sendiri sebagai jenazah tanpa identitas sambil melontarkan hinaan. Namun, penemuan sebuah kancing baju lama di meja operasi seketika mengungkap kebenaran pahit yang menghancurkan seluruh dunianya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Dian Sulistia POV:

Pagi itu, hasil autopsi keluar. Suasana di ruang forensik tegang. Rizal berdiri di depan, wajahnya dingin dan profesional. Di sampingnya, Vincent memegang berkas laporan. Aku melayang di sudut ruangan, mengamati setiap ekspresi.

"Berdasarkan hasil autopsi," Vincent memulai, suaranya serius, "korban mengalami banyak luka sebelum ledakan. Ada tanda-tanda penyiksaan, seperti bekas jeratan tali dan memar di pergelangan tangan dan kaki. Sepertinya dia diikat dengan sangat kuat."

Aku bergidik, meskipun kini aku hanya roh. Aku teringat rasa sakit yang kualami di gudang itu, sebelum bom dipasang. Dani Paulus tidak hanya memasang bom. Dia menyiksaku.

"Penyebab kematian utama adalah ledakan," lanjut Vincent. "Bom rakitan, dengan daya ledak tinggi. Tubuh korban hancur tak beraturan."

Rizal hanya mengangguk, tanpa menunjukkan emosi. Dia menuliskan sesuatu di catatannya.

Lalu, Vincent berdeham. "Ada satu temuan lagi, Pak Rizal. Yang cukup mengejutkan." Dia menatap Rizal, lalu ke arah laporan. "Korban... sedang hamil."

Seketika, ruangan itu menjadi sunyi. Suara napas pun nyaris tak terdengar. Semua mata tertuju pada Vincent, lalu pada Rizal.

Jantungku, yang kini tak lagi berdetak, terasa seolah berhenti lagi. Hamil. Aku hamil. Anak kami. Aku ingin menjerit, "Itu anakku! Anak kita, Rizal!" Tapi suaraku hanya gema di alam roh.

Setetes air mata, setetes kesedihan yang tak bisa kurasakan, menetes dari mata rohku. Anakku. Bayi kecil yang belum sempat melihat dunia, yang belum sempat kurasakan tendangannya. Dia pergi bersamaku.

Rizal hanya menghela napas. Dia tidak terkejut, tidak sedih. Hanya sebuah desahan panjang. "Kasihan sekali," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Seorang wanita hamil dan calon bayinya. Penjahat itu memang kejam."

Dia bahkan tidak menghubungkannya denganku, dengan pesan terakhirku. Tidak sedikit pun.

"Jika istriku hamil," Rizal melanjutkan, menatap ke arah jendela, "mungkin dia tidak akan se-kekanak-kanakan ini kabur dari rumah."

Aku merasa ingin menertawakannya. Sungguh seorang pria yang egois. Dia hanya bisa berpikir tentang dirinya sendiri, tentang bagaimana kehamilan bisa mengubah "kekanak-kanakan" ku. Dia tidak pernah memikirkan betapa aku menginginkan anak ini, betapa aku ingin menjadi ibu.

Setelah laporan selesai, Rizal dan Vincent keluar dari ruangan. Aku mengikuti mereka. Mereka berhenti di luar gedung, di area merokok. Rizal menyalakan sebatang rokok, asap mengepul ke udara.

"Pak Rizal," Vincent berkata lembut, "saya rasa Bapak perlu bicara dengan Ibu Dian. Setelah kasus ini, mungkin Bapak bisa meluangkan waktu untuknya."

Rizal mendengus, asap rokok keluar dari hidungnya. "Untuk apa? Dia pasti sedang menikmati dramanya di rumah orang tuanya. Biarkan saja. Semakin aku peduli, semakin dia menjadi-jadi."

"Tapi, Pak..."

"Kau tahu, Vincent," Rizal memotongnya, "Dian itu selalu begitu. Mencari perhatian. Dia bahkan pernah mengancam akan 'mati' jika aku tidak menuruti keinginannya. Aku yakin sekarang dia sedang bersembunyi, lalu akan muncul tiba-tiba dan bilang, 'Aku di sini, aku aman, aku hanya ingin kau mencariku'."

Aku mendengar kata-katanya. Kata-kata yang begitu menusuk. Aku sudah mati, Rizal. Aku tidak akan muncul lagi. Aku tidak akan mencari perhatian lagi. Aku tidak akan pernah kembali.

Saat itu, ponsel Rizal berdering. Dia melihat layarnya. Wajahnya melembut, senyum tipis terukir di bibirnya. Itu Bella.

"Halo, Sayang?" Suaranya berubah 180 derajat. Hangat, lembut, penuh perhatian. Sangat berbeda dengan bagaimana dia berbicara kepadaku. "Ada apa?"

"Rizal! Aku takut!" Suara Bella terdengar manja di seberang telepon. "Tadi aku lihat berita tentang ledakan itu. Seram sekali! Aku tidak mau sendirian di apartemen. Bisakah kau pulang?"

"Tentu, Sayang," Rizal menjawab, tatapannya penuh kasih sayang. "Aku akan segera pulang. Jangan khawatir. Aku janji aku akan menemanimu."

"Aku ingin kita menonton film horor," Bella merengek. "Tapi aku tidak berani sendirian. Aku ingin kau memelukku."

"Baiklah, baiklah," Rizal tertawa kecil. "Kita akan menonton film horor, dan aku akan memelukmu sampai kau tidak takut lagi. Bagaimana kalau kita liburan akhir pekan ini? Kau butuh ketenangan."

"Benarkah?" Bella terdengar senang. "Kau yang terbaik, Rizal!"

"Tentu saja." Rizal melirik Vincent sekilas, seolah meminta pengertian. "Aku akan segera menyelesaikan kasus ini dan kembali padamu."

"Kasus apa?" Bella bertanya. "Apa itu tentang Jane Doe yang diledakkan itu?"

"Tidak perlu tahu, Sayang," Rizal menjawab, suaranya berubah protektif. "Itu bukan urusanmu. Kau tetap aman di rumah. Jangan pikirkan hal-hal menyeramkan. Kau itu terlalu polos untuk tahu hal-hal seperti itu."

Aku hanya bisa melihat dan mendengar. Di satu sisi, aku menyaksikan Rizal yang dingin dan acuh tak acuh terhadap kematianku. Di sisi lain, aku melihatnya menjadi pria yang lembut dan penuh perhatian kepada Bella. Sebuah ironi yang begitu kejam dan menyakitkan. Bahkan di kematian pun, aku masih merasa tidak penting di matanya.

Rizal mengakhiri panggilannya dengan Bella, senyum tipis masih melekat di wajahnya. Vincent hanya diam, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Baiklah, Vincent," kata Rizal, kembali ke mode profesionalnya. "Kita lanjutkan pencarian identitas korban. Periksa daftar orang hilang di seluruh kota. Siapa tahu ada yang cocok."

Mereka kembali ke dalam, menuju ruang arsip. Aku mengikuti mereka, tanpa pilihan lain. Mereka memeriksa daftar demi daftar, wajah demi wajah. Tidak ada yang cocok.

"Aneh," kata Vincent. "Tidak ada laporan orang hilang dengan ciri-ciri yang sesuai. Apa mungkin dia bukan warga sini?"

"Bisa jadi," jawab Rizal. "Tapi terlalu dini untuk menyimpulkan. Kita perlu lebih banyak data."

Seorang petugas lain menyarankan untuk menyebarkan ciri-ciri korban ke media massa. Rizal setuju. Dalam waktu singkat, berita tentang "Wanita Tak Dikenal Korban Ledakan" menyebar luas.

Tidak lama kemudian, ponsel Rizal berdering lagi. Kali ini, nomor yang tidak dikenal. Dia mengangkatnya, dahinya berkerut.

"Halo?"

"Rizal! Ini Ayah!" Suara di seberang telepon bergetar, penuh kepanikan. Itu suara Ayahku. "Di mana Dian? Dia tidak bisa dihubungi semalaman! Apakah dia bersamamu?"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KUC" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KUC
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK
9.7
Pasangan pengantin baru, Nagita Wangi Kuncoro dan Rusdi Pratama Habsy, mendadak dirundung gangguan gaib yang mencekam setelah resmi menikah. Sahabat Rusdi pun turun tangan menyelidiki asal-usul teror tak wajar tersebut. Terungkap bahwa dalangnya adalah Listiowati Dewi, mantan karyawan yang menyimpan dendam akibat cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Kini, Rusdi dan Gita harus berjuang menghadapi kiriman santet mematikan demi menyelamatkan nyawa mereka.
Sampul Novel DOKTER FORENSIK
7.9
Randa adalah dokter forensik yang terjebak di antara realitas dan imajinasi akibat penyakitnya. Kondisi ini membuatnya merasa mampu berkomunikasi dengan jenazah. Dilema muncul saat ia mencintai dua wanita, Evlyn dan Avita. Randa akhirnya memilih Evlyn, namun ia tersadar bahwa Evlyn sebenarnya telah tiada sejak tujuh bulan lalu. Di tengah upaya Avita menyadarkannya, Randa harus memilih antara terus bersembunyi dalam halusinasinya atau kembali menghadapi kenyataan pahit.
Sampul Novel Hilang Di Bunian
9.2
Lima sahabat terjebak dalam situasi mengerikan saat terdampar di pulau tak berpenghuni. Niat awal untuk berpetualang seketika berubah menjadi mimpi buruk penuh misteri. Berbagai ancaman mematikan mulai mengintai dari kegelapan, memaksa mereka menghadapi serangkaian teror yang datang silih berganti tanpa henti. Di tengah keputusasaan, mampukah mereka bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk ini sebelum bahaya benar-benar melenyapkan mereka?
Sampul Novel Jadi Kuyang
9.1
Setiap wanita mendambakan paras cantik dan awet muda, namun jalan pintas yang diambil Mayang justru membawanya ke dalam kegelapan. Tanpa disadari, obsesi tersebut adalah jebakan licik yang dirancang oleh suaminya sendiri, Edi. Di balik janji kecantikan abadi, Edi memiliki rencana tersembunyi untuk mengubah istrinya menjadi sosok Kuyang yang mengerikan. Kini, Mayang terjebak dalam transformasi mistis yang mengancam nyawanya akibat ambisi yang salah.
Sampul Novel Monster Heart
8.9
Alianna Monru, jurnalis ambisius, pulang demi membalas dendam, namun langkahnya dijegal pria misterius. Ia terkejut saat tahu pria itu adalah pembunuh berantai yang memegang kunci masa lalunya. Damian, sang pembunuh, mengenali Alianna sebagai pujaan hatinya sejak sekolah. Ia terpukul melihat gadis ceria itu berubah menjadi penuh kebencian. Damian didera rasa bersalah karena dialah penyebab kehancuran hidup Alianna yang memicu dendam membara tersebut.
Sampul Novel Mr. Reagan
8.2
Reagan Adam dikenal sebagai miliarder rupawan yang dipuja banyak wanita. Namun, di balik pesonanya, ia adalah dalang pembunuhan berantai yang mencekam London. Hidupnya berubah saat bertemu Clara, gadis toko bunga yang ceria. Awalnya Clara adalah target buruan, namun Reagan justru terobsesi memilikinya. Kini, Clara terjebak dalam dekapan monster tampan yang mengklaim seluruh hidupnya. Akankah ia pasrah menjadi milik pria berbahaya yang bisa menghabisinya kapan saja?