Sampul Novel Roh Istri yang Terikat Abadi

Roh Istri yang Terikat Abadi

9.7 / 10.0
Dalam novel Roh Istri yang Terikat Abadi, Dian tewas akibat ledakan bom setelah diabaikan Rizal. Sebagai roh, ia menyaksikan suaminya melakukan autopsi tanpa sadar. Temukan misteri tragis ini dalam romance novel penuh penyesalan di platform web novel kami.
Ringkasan Roh Istri yang Terikat Abadi
Diculik saat hamil, Dian meregang nyawa setelah Rizal, suaminya, lebih memilih menemani sahabatnya daripada menolongnya. Bom meledak, menghancurkan tubuh Dian dan janinnya. Tragisnya, Rizal yang seorang ahli forensik justru mengautopsi sisa jasad istrinya sendiri sebagai jenazah tanpa identitas sambil melontarkan hinaan. Namun, penemuan sebuah kancing baju lama di meja operasi seketika mengungkap kebenaran pahit yang menghancurkan seluruh dunianya.
Baca Selengkapnya

Roh Istri yang Terikat Abadi Bab 1

Aku diculik saat sedang hamil dua bulan, dengan bom waktu terikat erat di perutku.

Dengan gemetar, aku menelepon suamiku, Rizal, untuk meminta pertolongan terakhir.

"Jangan drama, Dian! Bella sedang ketakutan karena mati lampu, aku tidak punya waktu untuk leluconmu!"

Itu kata-kata terakhirnya sebelum ia mematikan telepon demi menemani sahabat wanitanya.

Bom itu meledak. Tubuhku hancur bersama janin kami yang belum sempat melihat dunia.

Sebagai roh, aku menyaksikan Rizal-sang ahli forensik-berdiri dingin di depan meja autopsi.

Ia membedah sisa-sisa tubuhku, menyebutku sebagai "Jane Doe", dan bahkan mencemooh betapa menyedihkannya wanita yang mati ini.

Ia tidak sadar, pisau bedahnya sedang mengiris daging istrinya sendiri.

Hingga asistennya menemukan kancing baju yang dulu ia jahitkan untukku di antara serpihan daging yang hangus.

Detik itu, dunia Rizal runtuh.

Bab 1

Dian Sulistia POV:

Aku terkesiap, napasku tertahan di tenggorokan. Sebuah tangan kasar membekap mulutku, menyeretku mundur ke dalam kegelapan. Aroma klorofom yang menusuk hidung membuat pandanganku berputar. Aku tahu ini bukan mimpi buruk. Ini nyata.

Tubuhku diikat erat ke sebuah kursi tua yang reyot. Mataku yang buram berusaha menembus kegelapan, mencari celah, harapan. Sebuah gudang kosong, berdebu, dengan bau logam berkarat yang menyesakkan. Udara dingin merasuk hingga ke tulang.

Sosok pria bertubuh besar berdiri di hadapanku. Wajahnya keras, matanya menyimpan dendam yang membara. Aku mengenali pria itu. Dani Paulus. Gembong narkoba yang Rizal jebloskan ke penjara. Oh, tidak.

"Rizal Darman," suaranya serak, penuh kebencian, "dia pikir dia bisa bermain-main dengan hidupku." Dia mendekat, seringai mengerikan terpampang di wajahnya. "Sekarang, aku akan menunjukkan padanya apa artinya kehilangan segalanya."

Tangannya yang kotor menempelkan sesuatu yang dingin ke perutku. Mataku terbelalak melihat sebuah alat kecil dengan angka-angka digital yang menyala merah. Ini bom. Sebuah bom waktu.

Dani tertawa melihat ekspresi ketakutanku. "Ini untuk suamimu, Dian Sulistia. Hadiah dariku." Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, "Hubungi dia. Katakan selamat tinggal."

Tanganku gemetar saat menerima ponsel itu. Layarnya menampilkan nama "Rizal Darman". Dadaku sesak. Apakah ini akhir dari segalanya?

Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungku yang berpacu kencang. Jari-jariku yang dingin menekan tombol panggil. Tiap dering terasa seperti palu yang menghantam kepalaku.

"Halo?" Suara Rizal terdengar dingin dan terburu-buru, seperti biasa. "Ada apa lagi, Dian? Aku sedang sibuk."

"Rizal," suaraku bergetar, hampir tak terdengar. Aku bisa merasakan air mata menggenang di pelupuk mataku. "Aku..."

"Aku tahu kau di rumah, kan?" Dia memotong ucapanku, nadanya penuh kesal. "Tidak perlu menelepon hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Aku sudah bilang, aku ada di apartemen Bella. Lampu mati, dia takut sendirian."

Hati ku mencelos. Bella lagi. Selalu Bella.

"Tapi Rizal," aku mencoba lagi, suaraku sedikit lebih kuat, "ini penting. Aku dalam bahaya. Aku diculik."

Terdengar tawa sinis dari ujung telepon. "Oh, ayolah, Dian. Kau ini sudah dewasa. Jangan drama, deh. Aku tahu kau cemburu, tapi tolong, jangan berlebihan."

Dani merebut ponsel dari tanganku. "Dia pikir kau bercanda, ya?" Dia menyeringai, lalu mendekatkan ponsel itu ke telingaku lagi. "Coba lagi. Buat dia percaya."

"Rizal, kumohon," aku memohon, air mataku mulai menetes. "Ada bom di tubuhku. Dani Paulus... dia akan meledakkannya."

Ada keheningan sesaat, lalu Rizal kembali bicara. "Dian, sudah berapa kali kubilang? Jangan membuat cerita aneh-aneh. Bella di sini benar-benar ketakutan. Dia bahkan tidak bisa menyalakan lilin sendiri."

Aku mendengar suara perempuan lain di latar belakang, manja dan merengek. "Rizal, apa yang terjadi? Aku takut." Itu suara Bella.

"Tuh kan," Rizal mendesah frustrasi. "Dian, aku akan meneleponmu nanti. Aku harus menenangkan Bella dulu. Aku tidak punya waktu untuk leluconmu ini."

"Tapi Rizal, ini bukan lelucon! Tolonglah aku!" Aku menjerit.

"Dian, jangan kekanak-kanakan." Nada suaranya semakin tinggi. "Aku tidak tahu apa yang kau inginkan, tapi aku tidak bisa mengurus drama mu sekarang. Bisakah kau bertindak sedikit lebih dewasa?"

Angka di bom berkedip semakin cepat. Waktu terus berjalan.

"Rizal! Aku hamil!" Aku berteriak, berharap pengakuan ini akan menghentikan segalanya. Itu kejutan yang seharusnya kuberikan padanya, hadiah terindah kami.

"Hamil? Kau gila, Dian? Jangan mengada-ada!" Rizal terdengar marah. "Kau pikir dengan mengatakan itu aku akan langsung pulang? Aku tahu kau ingin perhatian, tapi cara ini sungguh tidak masuk akal!"

"Dia hanya mati lampu." Suara Bella kembali terdengar. "Aku benar-benar takut, Rizal."

"Sudah kubilang, Bella. Aku akan segera menemanimu." Rizal terdengar semakin tidak sabar. "Dian, jangan hubungi aku lagi sampai kau bisa berpikir jernih. Aku lelah dengan kecemburuanmu yang tidak beralasan ini."

Klik. Telepon terputus.

Dani Paulus tersenyum lebar. "Lihat kan? Dia tidak peduli." Dia meletakkan ponselnya, lalu melangkah keluar dari gudang. Pintu besi ditutup, mengunci ku dalam kegelapan.

Air mataku tumpah ruah. Mereka mengalir deras membasahi pipiku yang kotor. Aku menatap bom di perutku, angka-angka merah itu terus berkedip, menghitung mundur. Kurang dari lima menit.

Aku tahu Rizal tidak pernah benar-benar mencintaiku. Atau mungkin dia mencintaiku, tapi tidak sebanyak dia mencintai Bella. Bella adalah dunianya, prioritasnya. Aku hanya gangguan, beban, istri yang cemburu dan drama.

Aku teringat saat dia pertama kali mengenalkanku pada Bella. "Dia sahabat masa kecilku," katanya, menepuk kepala Bella dengan penuh kasih sayang. "Aku sudah berjanji padanya, akan selalu menjaganya." Saat itu aku tidak berpikir apa-apa. Sekarang, janji itu bagaikan kutukan.

Aku merogoh saku bajuku yang sudah lusuh. Ada ponselku sendiri di sana. Dengan jari gemetar, aku membuka aplikasi pesan. Aku mengetik pesan terakhir untuk Rizal.

"Rizal, aku tidak tahu apakah kau akan membaca ini, tapi... aku tidak berbohong. Aku diculik. Ada bom di perutku. Dan ya, aku hamil. Dua bulan. Aku ingin memberimu kejutan. Kuharap kau bahagia dengan Bella. Selamat tinggal."

Aku menekan tombol kirim. Pesan itu terkirim. Aku melihat angka di bom itu. Semakin sedikit. Semakin cepat.

Aku menutup mataku. Rasa sakit di hatiku jauh lebih pedih daripada rasa takut akan kematian. Aku mencintainya. Aku mencintai suamiku, meskipun dia mengabaikanku, meskipun dia lebih memilih Bella. Aku mencintainya sampai akhir.

Dia tidak pernah mencintaiku, kan? Dia hanya terbiasa denganku. Bella adalah satu-satunya yang dia pedulikan. Bella yang manja, Bella yang selalu membutuhkan pertolongan. Sedangkan aku, istrinya, selalu aman. Selalu mandiri. Selalu bisa ditinggalkan.

Sinis sekali. Dia menganggap teleponku adalah gangguan, bentuk kecemburuan yang tidak masuk akal. Dia menganggap aku "kabur dari rumah" dan "mencari perhatian". Dia bahkan tidak menyadari, atau tidak mau menyadari, bahwa aku benar-benar dalam masalah.

Aku berpikir tentang ciuman terakhir kami, tentang janji-janji yang dia ucapkan di hari pernikahan. Semua itu terasa seperti kebohongan sekarang. Semua itu terasa seperti ejekan. Aku seharusnya tidak pernah mencintainya. Seharusnya aku mendengarkan orang tuaku.

Ayah dan Ibu selalu bilang, "Rizal tidak layak untukmu, Dian. Dia terlalu dingin. Dia terlalu keras." Tapi aku tidak percaya. Aku yakin aku bisa mengubahnya, meluluhkan hatinya. Aku salah. Aku sangat salah.

Aku merasakan getaran di dadaku. Angka di bom itu kini hanya menunjukkan beberapa detik. Detik terakhir hidupku. Detik terakhir hidup anakku.

Aku tidak bisa menahan erangan yang lolos dari bibirku. Ini tidak adil. Sungguh tidak adil. Dia memilih mati lampu Bella daripada nyawa istrinya dan anaknya.

Aku menutup mataku lagi, erat-erat. Aku membayangkan wajah ayah dan ibuku. Aku membayangkan anakku yang belum sempat melihat dunia. Aku membayangkan Rizal, tertawa bersama Bella.

Sekarang, aku tahu pasti. Aku bukan prioritasnya. Aku tidak pernah menjadi prioritasnya. Dan itu, lebih dari bom ini, menghancurkan duniaku.

Napas terakhirku terembus. Ledakan itu begitu kuat, menghancurkan segalanya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Roh Istri yang Terikat Abadi

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel AKU JATUH CINTA KEPADAMU
9.4
Dunia Cinta Arlina berubah drastis setelah menyadari bahwa Tiano Albastia, pria yang selama ini ia benci, justru merupakan sosok penolong rahasianya. Saat kebenaran terungkap, penyesalan menyelimuti hati Cinta. Namun, Tiano justru memilih berpamitan dan pergi menjauh tepat saat segalanya mulai jelas. Di tengah perpisahan yang mendadak ini, mampukah takdir dan kekuatan perasaan membawa mereka kembali bersatu, ataukah pertemuan tersebut menjadi yang terakhir bagi keduanya?
Sampul Novel Diary Cinta Naelsa: Macaca Lova
8.5
Naelsa tidak sengaja menemukan kembali buku harian lamanya yang penuh kenangan. Saat membuka tiap lembarannya, ia terkejut teringat kembali pada kisah romansa masa sekolah yang manis. Tulisan itu membawanya bernostalgia tentang cinta monyet dengan seorang teman sekelas. Kenangan emosional tersebut sering disebut oleh sahabatnya, Myna, dengan istilah unik Macaca Lova. Sebuah perjalanan masa lalu yang kembali hadir membuka memori yang sempat terlupakan.
Sampul Novel Istri yang Tak Diinginkan
9.2
Pernikahan Feli dengan Archer yang awalnya tampak sempurna berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Keramahan Archer hanyalah topeng untuk menutupi dendam kesumat atas kesalahan Feli tiga tahun silam. Diperlakukan dengan dingin dan kejam setiap hari, Feli berulang kali mencoba melarikan diri dari ikatan pernikahan yang menyiksa tersebut. Namun, Archer menolak keras opsi perceraian. Pria itu bertekad terus mengikat Feli dalam genggamannya demi memastikan sisa hidup wanita itu diwarnai ketidakbahagiaan.
Sampul Novel Madu Jadi Upik Abu
8.2
Wati harus menghadapi kenyataan pahit saat bos di kantor suaminya melamar Dedy. Tergiur janji kehidupan yang lebih layak, Wati pun sepakat untuk dimadu. Namun, setelah Dedy memboyongnya ke rumah istri kedua, sebuah rahasia kelam mulai terungkap. Ternyata, Dedy memiliki agenda tersembunyi yang jauh lebih licik di balik pernikahan tersebut. Di sinilah perjuangan Wati dimulai saat ia menyadari bahwa dirinya hanyalah alat dalam rencana besar sang suami.
Sampul Novel PERNIKAHAN YANG MANIS DAN GILA
8.6
Louisa Alexander, CEO sekaligus arsitek ternama, terjebak dalam muslihat rekan bisnisnya. Saat berusaha kabur, ia justru bertemu Devian Salvatore, sepupu yang sangat ia benci. Meski sempat bersitegang, Louisa terpaksa meminta bantuan hingga situasi berakhir di ranjang hotel. Naas, Louis sang ayah memergoki mereka dan menuntut pernikahan segera. Devian kini dilanda ketakutan luar biasa, membayangkan reaksi mematikan dari kembarannya, Demian, atas skandal gila ini.
Sampul Novel Siapa yang Berani Merebut Hati Ratuku?
7.8
Kumala memilih pergi setelah dikhianati Nando dalam pernikahan tanpa cinta selama tiga tahun. Pasca cerai, ia bangkit menjadi desainer ternama, dokter andal, hingga peretas jenius yang disegani. Saat Nando menyesal dan ingin kembali, Kumala justru menggelar pernikahan megah dengan Farhan. Di depan publik dunia, Farhan menyematkan cincin dan menegaskan bahwa Kumala adalah istri sekaligus harta berharganya yang tak boleh diganggu oleh siapa pun juga.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan