
Rindu Yang Terlarang
Bab 2
Alessandra berusaha menenangkan napasnya begitu ia memasuki ruang kerja barunya. Tangannya masih sedikit gemetar setelah pertemuannya dengan Fabian, dan itu membuatnya kesal. Seharusnya ia sudah tidak peduli. Sudah bertahun-tahun berlalu, luka itu seharusnya sudah sembuh.
Tapi tidak.
Fabian Reva masih memiliki efek yang sama pada dirinya-mengacaukan pikirannya, memancing emosinya, membuatnya kembali teringat pada semua luka yang pernah ia alami.
Ia menghembuskan napas kasar sebelum menatap sekeliling ruangan kecil yang kini menjadi kantornya. Ini adalah awal baru, ia meyakinkan dirinya. Bukan tempat untuk mengungkit masa lalu yang sudah seharusnya ia lupakan.
Namun, pikiran itu hancur begitu pintu ruangan terbuka.
"Aku lupa mengucapkan selamat datang."
Alessandra langsung mendongak, dan di sana, berdiri Fabian dengan sikap santai, bersandar di ambang pintu.
"Kenapa kau di sini?" tanyanya tajam, tak menyembunyikan ketidaksukaannya.
Fabian mengangkat alisnya, seolah menikmati amarah yang terpancar jelas di wajahnya. "Aku hanya ingin tahu, kenapa kau memilih bekerja di sini?"
Alessandra mengerucutkan bibirnya. "Bukan urusanmu."
"Tentu saja itu urusanku," balas Fabian. "Karena sekarang, kita bekerja di tempat yang sama."
Alessandra mendengus. "Dan aku seharusnya peduli?"
"Kau seharusnya," Fabian menyeringai. "Karena aku atasanmu."
Darah Alessandra seketika membeku.
Tidak. Tidak mungkin.
"Apa?" suaranya hampir berbisik, tak percaya.
Fabian melangkah masuk, mendekat perlahan. "Kau akan bekerja langsung di bawah komando timku. Aku akan mengawasi semua tugas yang kau lakukan."
Alessandra mencengkeram ujung meja, berusaha menahan gejolak amarah dan frustasi yang membakar dadanya. Ini pasti mimpi buruk. Bagaimana bisa ia berakhir dalam situasi ini?
Melihat reaksinya, Fabian terkekeh pelan. "Kau terlihat terkejut."
"Ini tidak bisa diterima," Alessandra menggeram, berusaha mengendalikan emosinya. "Aku tidak bisa bekerja di bawah perintahmu."
Fabian mengangkat bahu, ekspresinya penuh kemenangan. "Sayangnya, kau tidak punya pilihan."
Alessandra menatapnya penuh kebencian, tapi Fabian tidak terganggu sedikit pun. Sebaliknya, pria itu tampak semakin menikmatinya.
"Kalau tidak ada yang lain, aku akan pergi." Fabian berbalik, berjalan menuju pintu, tapi sebelum keluar, dia berhenti dan menoleh. "Oh, dan satu lagi, Alessandra. Jangan berpikir untuk menghindariku. Aku akan selalu ada."
Alessandra tidak menjawab. Ia hanya berdiri kaku, menahan gemuruh emosinya.
Saat pintu tertutup, ia menyadari satu hal: takdir tidak pernah bermain adil dengannya.
Dan perang dingin antara dirinya dan Fabian baru saja dimulai.
Anda Mungkin Juga Suka





