
Rinai Hujan di Pagi Hari
Bab 2
"Aduh Mami sakit!" ujar Kania dengan suara keras.
"Kenapa kamu nggak kasih ucapan selamat sama kakak kamu?!"
"Kan udah banyak yang kasih ucapan selamat."
"Beraninya kamu ngomong kayak gitu!" Shelly membentak Kania di depan beberapa orang tamu yang tersisa dan baru akan pulang.
"Tapi memang bener kan?" gumam Kania dengan wajah tertunduk.
Sherly semakin marah mendengar gumaman Kania, dan tiba-tiba saja dia melayangkan tangan ke pipi Kania.
Kania diam saja menerima perlakuan kasar dari Sherly. Dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh mamanya sejak kecil.
"Kamu memang nggak berguna jadi anak. Bisanya cuma nyusahin orang tua!" bentak Sherly lagi.
"Ma! Cukup!" David membentak istrinya.
David sangat berang melihat kelakuan istrinya. Bagaimana mungkin keringatnya mempermalukan Kania di hadapan orang lain.
"Kania, ke sini," ujar David datar.
Kania bergegas berlari ke arah David sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Sherly.
"Sakit?" tanya David lembut.
Kania hanya dapat menganggukkan kepalanya. Karena jika dia berbicara, air mata yang dicoba ditahannya pasti akan keluar. Dan Kania tidak ingin Mama dan Melani melihatnya menangis.
Daniel yang merasa kasihan pada Kania, melingkarkan tangan kanannya di bahu Kania, dan menepuk-nepuk pelan bahu Kania.
David berjalan meninggalkan Kania dan menghampiri istrinya.
"Sekali lagi kamu berani menyentuh Kania, maka saya akan benar-benar memberi pelajaran untuk kamu!" David berbicara dengan nada datar pada Sherly.
Sherly terdiam melihat kemarahan David. Belun pernah dia melihat suaminya semarah ini, dan ini membuat nyalinya menjadi ciut seketika.
"Apa di mata kamu hanya ada Melani seorang?! Apa Kania bukan anak kamu?! Kenapa kamu selalu membeda-bedakan mereka berdua?"
"Maksud Papa apaapaan sih? Bedain gimana?" ujar Sherly tidak terima.
"Kenapa kamu hanya membuatkan pesta untuk Melani? Apa kamu lupa kalau Kania juga baru lulus SMU?!"
"Itu kan beda. Melani lulus dengan predikat terbaik, sedangkan Kania? Lulus cuma dengan nilai pas-pas an! Apanya yang mesti dibanggakan?!" jawab Sherly dengan nada keras.
"Papi." Kania memanggil David dengan suara lirih.
Kania berjalan menghampiri David dan memegang tangan kiri David.
"Udah ya Pi. Nggak usah dibahas lagi. Kania gapapa kok."
Kania tidak ingin melihat David marah lagi. Dia juga tidak ingin mendengar alasan Sherly tentang mengapa tidak memberinya pesta kelulusan seperti pada Melani.
David melihat Kania yang sedikit gemetar, dan saat itu juga emosinya langsung turun. Hatinya sakit melihat perlakuan Sherly pada Kania.
"Ayo ikut Papi."
David membawa Kania yang gemetar keluar dari ruangan dan menuju ke taman. Daniel pun turut pergi mengikuti David.
Setiba di taman David mendudukkan Kania di kursi. Setelah itu dia menarik kursi ke hadapan Kania dan duduk di sana. Daniel duduk di kursinya kembali dan mengamati Kania.
"Sakit?" tanya David sambil mengelus pipi Kania yang memerah.
Kania tidak menjawab. Namun, perlahan tangisnya pecah. David merengkuh Kania dalam pelukannya.
"Sshh," bisik David sambil menepuk-nepuk punggung Kania lembut.
Tangis Kania makin menjadi. Dia menumpahkan semua rasa sesak di dadanya.
Daniel mengambil sebatang rokok dan menyalakan rokoknya. Hatinya terasa sakit mendengar tangisan Kania.
"Jangan nangis lagi. Nggak malu dilihat sama Daniel?" bisik David menggoda Kania.
"Biarin," bisik Kania terbata-bata.
David tersenyum kecil mendengar jawaban Kania. Dia melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air mata di wajah Kania.
"Udah lega?" tanya David. Kania mengangguk.
"Kalo udah lega kenapa masih nunduk?" goda David.
"Malu," bisik Kania.
David tertawa keras mendengar jawaban Kania.
"Ih …. Papi," bisik Kania.
Kania bertambah malu ditertawakan oleh David.
"Nggak perlu malu dilihat oleh saya," olok Daniel sambil tersenyum.
Daniel benar-benar menikmati wajah memerah Kania. Begitu menggemaskan.
"Kania mau ke kamar aja."
Kania berdiri dari duduk nya dan langsung berlari meninggalkan taman dan masuk ke dalam rumah.
Sampai di kamar, Kania melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan menutupi wajahnya dengan bantal.
Ponsel Kania berbunyi. Dengan malas, Kania meletakkan bantal di samping dan mengambil ponselnya di atas meja nakas.
Mengetahui Sammy yang mengirim pesan, Kania bergegas membaca pesan dari kekasihnya.
My Love : kamu lagi apa Ka?
My Love : udah makan?
My Love : tadi kenapa nggak ikut acara di bawah?
Kania membalas pesan dari Sammy
Sweetheart : lagi di kamar, mikirin kamu
Sweetheart : udah dong
Sweetheart : emang kamu dateng?
Sweetheart : kok nggak bilang sama aku?
Sammy tertawa membaca pesan balasan dari Kania.
My Love : masa kamu nggak tau aku dateng?
My Love : kan tadi aku udah bilang
Kania membaca ulang pesan dari Sammy. Dan memang benar, pria itu memberi tahu kalau dia ada di teras belakang.
Sweetheart : maaf, aku nggak liat chat kamu.
My Love : kok bisa?
Sweetheart : tadi aku nggak sengaja tabrakan sama orang pas mau baca chat terakhir kamu.
Sweetheart : maaf ya. Jadi nggak bisa ketemuan deh.
My Love : gapapa
My Love : nanti kita cari waktu lain, oke?
Sweetheart : oke
My Love : sekarang kamu tidur, udah malam
Sweetheart : oke. Good nite
My Love : Good nite too sweetheart
***
"Good morning Papi," ujar Kania sambil memeluk David dari belakang.
David yang sedang minum kopi sambil membaca koran menoleh ke arah putrinya.
"Morning too Ken."
Kania duduk di tangan kursi rotan yang ditempati David.
"Tumben pagi-pagi udah bangun Ken?"
"Emang nggak boleh?" rajuk Kania.
"Amat sangat boleh dong," ujar David.
"Mama mana Pi?" bisik Kania.
"Di kamar Melan. Katanya mau membantu Melan bersiap-siap."
"Oh …," ujar Kania.
"Hari ini kamu mau ngapain?"
"Mm …. Kalo Kania ikut Papi kerja boleh?" pinta Kania.
"Papi nggak salah denger?" David menatap Kania.
Kania menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Oke." David akhirnya menyetujui permintaan Kania.
"Yes! Kalo gitu Kania ganti baju dulu."
Kania berlari meninggalkan David. Setelah selesai berganti pakaian, Kania turun dan mencari David.
"Kania udah siap Pi," ujar Kania.
David yang tengah merapikan berkas di ruang kerja menoleh mendengar suara Kania. David tersenyum melihat penampilan andalan Kania. Kaos putih dilapisi kemeja hitam serta celana jeans hitam dan sepatu kets warna putih, tidak ketinggalan tas selempang bercorak batik yang selalu dibawa Kania.
"Papi juga udah siap. Ayo kita berangkat."
David meninggalkan ruang kerja bersama Kania di sampingnya.
"Papi udah mau berangkat?" tanya Sherly.
"Iya." David menjawab singkat pertanyaan istrinya.
"Dia ikut Papi?" tanya Sherly.
"Dia yang kamu maksud punya nama Sher, dan dia juga anak kamu!" jawab David tegas.
"Terserah kamu aja!" Sherly membalikkan badan dan meninggalkan David.
Sambil menghela napas, David kembali berjalan menuju mobil, diikuti Kania dari belakang.
"Kenapa kamu diam aja?" tanya David dalam perjalanan menuju Kemang.
"Nggak mau ganggu Papi," sahut Kania.
"Memang Papi kenapa?"
"Lagi marah sama Mami kan?"
David terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
"Papi bukannya marah sama Mami kamu. Papi cuma nggak suka sikap kekanakan dan selalu membela Melan."
"Tapi Kania nggak masalah kok Pi. Selama ada Papi, Kania nggak perlu yang lain."
"Kamu nggak marah atau sakit hati sama Mami?"
Kania terdiam dan berpikir sejenak. "Dulu iya, sekarang nggak tuh."
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena sudah terbiasa Pi. Karena Kania tahu mau berusaha kayak gimana juga, di mata Mami hanya ada Kak Mel seorang. Kania bersyukur ada Papi yang selalu sayang dan sangat memperhatikan Kania."
David terharu mendengar penuturan anaknya. Tangan kirinya terulur dan membelai kepala Kania dengan penuh kasih.
"Papi juga bersyukur ada kamu Ken. Perjuangan untuk ada kamu sangat panjang, walaupun kamu terlahir sebagai anak perempuan, tapi Papi selalu bangga sama kamu."
"Tapi Kania tetep bingung kenapa Papi selalu panggil Ken ke Kania. Kan nggak nyambung Pi?"
"Nanti Papi ceritain semua,oke."
"Oke. Papi janji ya."
Setibanya mereka di bangunan yang akan dijadikan mini market, Daniel sudah tiba terlebih dahulu. David dan Kania melihat Daniel yang sedang sibuk memeriksa rak-rak panjang yang baru datang.
"Pagi Daniel," sapa David.
"Hai, selamat pagi juga David," balas Daniel ramah. "Kamu juga ikut Kania?"
"Iya. Bosen di rumah."
Daniel tertawa kecil mendengar jawaban Kania.
"Memang apa yang akan kamu lakukan di sini?" goda Daniel.
"Entah. Belum dipikirin," jawab Kania santai.
"Kamu boleh melakukan apapun di sini. Sesuka kamu, asal jangan mengganggu David," ujar Daniel.
Daniel merasa sangat senang mengetahui Kania datang. Ada rasa hangat di sudut hatinya yang selama ini dingin.
"Ken, Papi tinggal dulu ya. Masih banyak yang harus Papi diskusikan sama Daniel. Kamu nggak masalah kan?"
"Jangan pusingin Kania, Pi. Banyak kok yang bisa Kania lakuin di sini. Kalo bosen, tinggal jalan-jalan sendiri di sekitar sini."
"Jangan jauh-jauh perginya. Oh iya, kasih suara sama ponsel kamu, supaya kamu tahu kalo Papi telepon atau kirim pesan."
"Oke Bos." Kania meletakkan tangan di pelipisnya.
Setelah David dan Daniel masuk ke dalam ruangan yang akan dijadikan kantor, Kania memperhatikan para pekerja yang mulai menata rak-rak membentuk barisan-barisan.
Bosan melihat para pekerja, Kania menghampiri sudut yang akan dijadikan meja kasir. Dia duduk di belakang meja kasir, dan mengeluarkan buku sketsanya. Kania mulai menggambar mini market yang belum jadi.
Karena asik menggambar, Kania tidak menyadari kehadiran David dan Daniel.
"Kania senang menggambar?" bisik Daniel pada David.
"Sejak kecil," jawab David bangga.
"Mengapa tidak kuliah dan mengambil jurusan seni?"
"Sherly tidak mengijinkan."
"Kenapa? Apa alasannya? Bukankah baik jika Kania mengembangkan bakatnya?"
"Entahlah. Sherly hanya bilang tidak ingin melihat Kania menjadi pelukis, karena belum tentu akan terkenal."
"Pendapat yang sangat tidak masuk akal." Daniel mendengkus mendengar penjelasan David.
"Saya berharap kelak Kania mendapatkan pasangan yang mengerti dirinya dan mengijinkan Kania melakukan semua hal yang dia suka, termasuk menggambar. Saya benar-benar berharap Kania dapat hidup bahagia."
"Bagaimana jika orang itu adalah saya?" ujar Daniel.
Anda Mungkin Juga Suka





