Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rinai Hujan di Pagi Hari

Rinai Hujan di Pagi Hari

Kania dan Melani Lim mencintai pria yang sama, Sammy. Meski Sammy awalnya memilih Kania, takdir berubah saat sebuah kecelakaan tragis merenggut tangan kiri Melani. Kania pun terpaksa merelakan kekasihnya menikahi sang kakak. Demi menghapus luka, Kania menerima lamaran Daniel, pria yang jauh lebih tua darinya. Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa rasa cinta. Sanggupkah Daniel memenangkan hati Kania, ataukah bayang Sammy akan tetap menghantui hidup mereka selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kamu?!" tanya David tidak dapat menyembunyikan rasa terkejut mendengar perkataan Daniel barusan.

"Kenapa kaget?" tanya Daniel tanpa merasa bersalah sambil berjalan menjauhi Kania yang sepertinya tidak mendengar pembicaraan mereka karena terlalu asik menggambar.

"Kamu serius dengan ucapan kamu?" tanya David setelah mereka kembali masuk ke dalam ruangan kantor.

"HAHAHA … ."

Daniel terbahak melihat ekspresi wajah David. Namun, di saat bersamaan, Daniel memutuskan untuk menunda pembicaraan mengenai Kania.

"Saya bercanda Dave," ujar Daniel. "Jangan terlalu serius menanggapi hal ini."

"Sangat tidak lucu Daniel!" tegur David sambil mengembuskan napas lega.

"Maaf," ujar Daniel sopan.

Daniel sebenarnya serius dengan perkataannya tentang Kania. Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, dirinya selalu ingin kembali bertemu, dan tidak dapat berhenti memikirkan Kania. Namun, Daniel juga menyadari perbedaan usia yang terpaut jauh dengan gadis itu, apalagi Kania adalah anak dari rekan bisnisnya.

“Kita nggak jadi makan siang?” ujar Daniel mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Perkataan kamu barusan bikin selera makan saya hilang,” sahut David.

“Ayolah Dave, kamu tau saya nggak serius dengan ucapan tadi.”

“Saya tau Dan,” ujar David tenang. “Tapi perkataan kamu membuat saya jadi berpikir, bagaimana jika benar jodoh yang akan didapat Kania memiliki usia yang terpaut jauh dengannya. Bagaimana saya harus bersikap.”

“Jangan terlalu dipikirin. Itu masih lama. Kania masih muda, dan perjalanan dia juga masih panjang. Yang harus kamu pikirin sekarang adalah rencana pembukaan mini market.”

“Iya. Kita masih belum menemukan pekerja yang cocok untuk menempati bagian kasir.”

“Bagaimana kalo Kania yang menjadi kasir untuk sementara waktu? Toh dia tidak kuliah dan hanya diam di rumah.”

David memikirkan perkataan Daniel barusan. Memang benar jika selama ini Kania lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, dan selalu mengurung diri di kamar jika dirinya tidak ada. Tapi membayangkan Kania akan bekerja di sini, lebih membuat David khawatir. Bagaimana jika Kania tidak mampu mengatasi rasa malu saat berhadapan dengan orang lain. Dan bagaimana putrinya akan menghadapi pria yang mungkin mengajak berkenalan atau sekedar menggodanya.

“Akan saya pikirkan dulu Dan. Setelah itu saya akan tanya sama Kania.”

“Bagaimana kalo sekarang kita keluar makan siang?” ujar Daniel yang melihat keresahan di mata David.

“Oke.”

David dan Daniel keluar dari ruangan kantor dan kembali ke ruang depan untuk membawa Kania makan siang bersama mereka. Namun, saat David dan Daniel tiba di meja kasir, mereka berdua tidak melihat Kania di sana. David bergegas keluar untuk mencari Kania, kalau-kalau putrinya berada di sana. Daniel berjalan menghampiri pekerja yang sedang merapikan ruangan.

“Permisi, apa kalian melihat gadis yang tadi duduk di meja kasir?” ujar Daniel.

“Oh, tadi setelah mendapat telepon, dia langsung membereskan barang-barang dan pergi,’ sought salah seorang pekerja.

“Pergi ke mana itu anak,” gumam Daniel sambil menggaruk keningnya.

Daniel berjalan keluar dan mencari David di sekitar mini market. Setelah berjalan sekitar dua ratus meter, dia melihat David sedang menelepon. Daniel bergegas menghampiri David.

“Kamu pergi ke mana Ken?” tanya David.

“....”

“Kenapa nggak bilang sama Papi? Kamu tau nggak Papi khawatir?”

“....”

“Kamu pergi sama siapa?”

“....”

“Papi tunggu kamu di sini. Jam lima kamu udah harus ada lagi di mini market, oke?”

“....”

“Hati-hati.”

“....”

“Kania ke mana?” tanya Daniel setelah David memutuskan sambungan telepon.

“Nggak tau. Dia cuma bilang bosen dan pengen jalan-jalan.”

“Kalo gitu, terpaksa kita makan siang berdua,” ujar Daniel mencoba menutupi rasa kecewanya.

***

“Sammy!” seru Kania sambil melambaikan tangannya.

Sammy yang melihat Kania, langsung berlari dan langsung memeluk kekasihnya dengan erat. Sudah seminggu dirinya tidak dapat menemui Kania, dan membuat rasa rindunya terasa begitu berat. Saat mengetahui Kania sedang berada di luar, Sammy mengajak kekasihnya untuk bertemu. Beruntung Kania menyetujui rencananya, dan sekarang dia dapat melepaskan rasa rindu di hati.

“Kamu nunggu lama?” tanya Sammy sambil merangkum wajah Kania dengan lembut.

“Nggak kok, Kania belum lama sampe. Kamu kenapa telat?”

“Tadi aku dipanggil sama papa, dan ngobrol sebentar, makanya telat. Maaf ya.”

“Sekarang kita mau ngapain? Kania cuma punya waktu sampe jam empat.”

“Kamu udah makan?”

Kania menggelengkan kepala sebagai jawaban. Sammy yang merasa gemas melihat tingkah Kania mendekatkan kepala dan memberikan kecupan di pipi kanan Kania.

“Ihh …, banyak yang liat tau,” gerutu Kania dengan pipi merona.

“Biarin,” sahut Sammy.

“Kalo ada yang ngenalin terus lapor ke mami gimana?”

“Malah bagus dong,” sahut Sammy. “Itu bikin jalan aku buat ngumumin hubungan kita makin terbuka lebar.”

Kania mencubit pinggang Sammy dengan gemas.

“AW! Sakit Nia,” ujar Sammy lembut sambil mengambil tangan Kania dan menggenggamnya dengan lembut.

“Habis kamu sih, kalo ngomong suka ngawur.”

“Aku tuh nggak suka kalo mau ketemu harus kayak gini, harus sembunyi-sembunyi,” protes Sammy. “Aku maunya semua orang tau tentang hubungan kita.”

“Iya, Kania tau, tapi jangan sekarang. Tunggu waktu yang tepat, oke?”

“Gimana kamu aja,” ujar Sammy mengalah. “Sekarang kita makan dulu. Kamu mau makan apa?”

“Mie ayam,” sahut Kania cepat.

“Ayo.”

Sammy menggandeng tangan Kania. Mereka berjalan santai menuju kios yang menjual mie ayam. Selesai makan, Kania menghabiskan waktu yang tersisa bersama Sammy hingga saatnya dia harus kembali ke mini market seperti yang diminta David tadi siang.

“Kamu pulang naik apa?” ujar Sammy.

“Pake taksi. Kenapa?”

“Aku anter aja ya.”

“Jangan!” seru Kania panik. “Nanti kalo papi liat gimana?”

“Tinggal bilang kalo ketemu kamu di jalan,” sahut Sammy.

“Jangan. Kania nggak mau papi curiga, bisa berabe nanti. Kamu kan tau papi tuh susah dibohongin,” tolak Kania.

“Tapi aku nggak suka liat kamu pergi sendirian,” ujar Sammy ngotot.

“Nia gapapa. Udah sekarang mending kamu balik ke kantor. Kania bisa pulang sendiri.”

Selesai berkata, Kania berjalan ke pinggir jalan untuk menunggu taksi yang lewat. Tidak lama kemudian, sebuah taksi berhenti dan Kania langsung masuk ke dalam.

“Kania pulang dulu ya,” ujar Kania setelah membuka jendela taksi.

“Hati-hati di jalan,” pesan Sammy. “Kalo udah sampe tempat Om David, kabarin aku, oke?”

“Iya.”

Sammy memandangi taksi yang membawa Kania sampai menghilang dari pandangan mata. Setelah itu Sammy membalikkan badan dan berjalan ke tempat dia memarkir mobil. Hubungannya dengan Kania memang baru seumur jagung, akan tetapi rasa cintanya untuk gadis itu sudah ada sejak lama. Sammy dan Kania tumbuh besar bersama-sama, karena kedua orang tua mereka berteman. Sejak kecil, Sammy yang adalah anak tunggal, terbiasa bermain bersama dengan Melani dan Kania. Perlahan rasa sayang Sammy sebagai teman, mulai berubah menjadi cinta pada Kania. Gayung pun bersambut, ternyata Kania memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin kasih.

Atas permintaan Kania pula mereka belum memberitahukan tentang hal ini pada keluarga masing-masing. Kania yang sejak kecil selalu diperlakukan beda oleh Sherly, dan juga Melani yang selalu bersikap semena-mena, membuat Kania memilih merahasiakan jalinan kasihnya dengan Sammy. Kania tidak ingin menambah persoalan di rumah jika ibu dan kakaknya tahu tentang hal ini. Sammy yang sangat mencintai Kania pun mengalah dan mengikuti kemauan kekasihnya itu.

“Pak, berhenti di sini aja,” ujar Kania pada supir taksi.

Supir pun menghentikan mobil beberapa meter dari mini market. Setelah membayar, Kania turun dan bergegas menuju mini market. Daniel yang kebetulan berdiri di luar, melihat kedatangan Kania dan menunggu hingga gadis itu tiba di dekatnya.

“Pasti habis bertemu pujaan hati,” goda Daniel dengan suara pelan.

“Kok tau?” sahut Kania yang terkejut mendengar perkataan pria di hadapannya.

“Berarti tebakan saya benar?”

Kania tidak membalas perkataan Daniel. Dia sama sekali tidak menyangka jika pria itu hanya sekedar menebak. Kania menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan rasa panik yang mendadak muncul. Melihat Kania seperti itu, membuat Daniel merasa kasihan, akan tetapi sudut hatinya terasa nyeri mengetahui jika gadis di hadapannya telah memiliki tambatan hati.

“Tenang aja, saya nggak akan memberitahu David tentang hal ini.”

“Beneran?” sahut Kania sambil menengadahkan wajahnya.

Sejenak Daniel terpaku melihat wajah Kania yang terlihat begitu cantik dan juga menggemaskan. Jantungnya berdegup kencang. Ingin sekali tangannya menyentuh wajah Kania, akan tetapi Daniel berusaha menahan keinginan itu.

“Hm,” sahut Daniel.

“Janji?”

“Hm,” sahut Daniel lagi.

“Kalo bohong?” tuntut Kania.

“Saya akan mengajak kamu jalan-jalan ke manapun yang kamu mau,” sahut Daniel sambil tertawa.

“Itu sih namanya mencari keuntungan diri sendiri,” ujar Kania sambil mengerucutkan bibir.

“Kenapa begitu?”

“Saya kan nggak pernah bilang mau diajak pergi,” sahut Kania.

“Memang kamu nggak mau jalan-jalan sama saya? Kenapa? Kamu malu dengan saya?”

“Nggak gitu juga,” sahut Kania cepat. “Saya nggak malu jalan sama kamu, tapi kan masalahnya saya belum kenal kamu, masa mau aja diajak jalan? Nanti kalo kamu tiba-tiba nyulik saya gimana?”

“HAHAHA ….” Daniel tertawa keras mendengar perkataan lugu yang terucap dari bibir Kania. “Kamu takut diculik sama saya?”

“He eh,” sahut Kania.

“Saya nggak akan pernah culik kamu, kecuali ….” Daniel dengan sengaja tidak melanjutkan ucapannya.

“Kecuali apa?” tanya Kania penasaran.

“Kecuali kamu sendiri yang minta saya untuk bawa kamu pergi yang jauh,” sahut Daniel tenang. “Jika kamu merasa bosan di rumah, dan ingin pergi bermain, kapan pun kamu bisa menghubungi saya.”

“Beneran?” tanya Kania. “Kamu mau ajak saya jalan-jalan?”

“Hm.”

“Ke manapun?”

“Hm.”

“Baiklah, saya anggap itu sebagai janji,” ujar Kania. “Awas kalo bohong.”

“Ken?” ujar David saat melihat putrinya sedang mengobrol dengan Daniel.

“Papi!” seru Kania sambil menghambur ke David.

“Kamu habis dari mana?”

“Jalan-jalan.”

“Ke?”

“Tadi Kania laper, dan pengen makan mie ayam, tapi Papi sama Daniel nggak keluar-keluar dari kantor. Jadi Kania pergi sendirian, terus jalan-jalan sebentar.”

“Kenapa nggak bilang sama Papi? Kan kamu tinggal panggil Papi?!” tegur David.

“Sudahlah Dave,” ujar Daniel menengahi. “Yang penting kan sekarang Kania udah di sini, juga baik-baik aja.”

“Baiklah,” sahut David mengalah. “Sekarang kita pulang, oke?”

“Iya Pi,” ujar Kania.

“Kalo gitu saya sama Kania pulang dulu,” ujar David pada Daniel.

“Oke.”

David membalikkan badan dan berjalan menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari Mirae.

“Makasih udah tolongin saya,” ujar Kania pelan sebelum mengikuti David.

“Sama-sama,” sahut Daniel.

Kania membalikkan badan dan berlari mengejar David yang sudah menunggu di dalam mobil dengan mesin menyalal, menunggu Kania masuk. David mengendarai mobil meninggalkan Mirae dan mengarahkan mobil ke rumah.

“Ken,” panggil David.

“Iya Pi?”

“Kalo kamu kerja di Mirae mau?”

“Kerja? Jadi?”

“Kamu cukup ada di kasir, juga bantu Papi ngawasin di sana.”

“Kenapa Kania? Kan ada pegawai lain.”

“Kan kita perlu empat orang, sedangkan Papi sama Daniel baru ketemu yang cocok tuh tiga. Tadi Daniel kasih usul kenapa nggak kamu aja di sana, toh kamu juga selalu ada di rumah. Sekalian kamu belajar mengelola, mau?”

“Emang mami nggak akan marah?”

“Kalo emang kamu mau, Papi yang akan ngomong sama mami. Kamu juga jadi bisa belajar nyari uang sendiri.”

“Emang Daniel nggak akan keberatan?”

“Kan tadi Papi bilang dia yang ngusulin, berarti nggak akan ada masalah.”

“Tapi Kania nggak yakin Pi. Gimana kalo ada kesalahan? Gimana kalo,”

“Dicoba aja dulu, jangan selalu nggak yakin kalo belum nyoba,” sela David.

“Tapi Papi bakal sering dateng ke sana kan?”

“Mungkin Daniel yang akan lebih sering dateng.”

Kania bukan tidak berani untuk menerima tawaran David, akan tetapi jika bekerja di Mirae, tentunya akan makin sulit untuk bertemu dengan Sammy. Belum lagi reaksi dari Melani jika tahu dirinya yang diminta untuk mengawasi di sana. Kania malas untuk berdebat dengan kakaknya, yang sudah pasti akan selalu menang karena Sherly yang selalu memberi pembelaan. Tapi untuk menolak keinginan David, Kania juga tidak mampu.

“Kalo misalnya Kania nggak cocok di sana, boleh berhenti kan?” ujar Kania setelah berpikir sejenak.

“Hm.”

“Kalo gitu Kania mau.”

“Beneran?”

“Iya.”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 10 Miliar Menjadi Pelakor
8.3
Demi membiayai operasi ginjal ayahnya, Calla nekat masuk ke klub malam hingga bertemu Lucian Donovan. Lucian menawarkan 10 miliar rupiah jika Calla mampu menghancurkan rumah tangga Caspian Hawthorne. Calla terkejut karena Caspian adalah pria culun yang dulu ia abaikan saat SMP. Kini, Caspian telah berubah menjadi sosok miliarder yang dingin dan berkuasa. Terjepit kemiskinan, Calla harus memilih antara martabat atau menjadi pelakor demi bertahan hidup.
Sampul Novel AFFAIR WITH IPAR
9.4
Tiga tahun membina rumah tangga tanpa kehadiran buah hati membuat hubungan Alma dan Evan mulai terasa hambar. Di tengah kejenuhan yang melanda, Evan justru mencari pelarian hingga terjebak skandal asmara dengan Laras, adik iparnya sendiri. Pengkhianatan ini menjadi ujian berat bagi pernikahan mereka. Akankah Alma mampu memberikan maaf saat rahasia terlarang antara suami dan adiknya terbongkar? Sebuah kisah emosional tentang kesetiaan yang hancur.
Sampul Novel Affair With Santa
8.4
Di tengah dinginnya New York yang menusuk tulang, seorang gadis nekat menunggu di bawah pohon besar meski suhu berada di bawah nol derajat. Sepatu boots tipisnya tak mampu menahan es, membuatnya nyaris beku saat menanti seseorang yang tak kunjung datang. Ketika tubuhnya mulai oleng akibat hipotermia di sudut taman yang sepi, sebuah pelukan hangat tiba-tiba mendekapnya. Suara berat seorang pria misterius menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya menghilang.
Sampul Novel CEO yang Penyayang Ingin Go Public
9.6
Elia dikenal publik sebagai pria sopan yang tertutup, namun aslinya dia sosok kejam yang menjerat Ashley dalam gairah. Hubungan rahasia mereka membuat Ashley aman dari gangguan siapapun. Keadaan berubah saat Ashley mual di depan umum. Elia yang biasanya dingin justru berlutut dan membelai perutnya dengan lembut. Sang CEO pun meminta Ashley untuk meresmikan hubungan mereka di depan semua orang, serta berjanji akan memberikan segalanya demi dirinya.
Sampul Novel Crazy Playboy - Gairah dan Obsesi Aktor Tampan
9.7
Permainan Truth or Dare mengubah hidup Syila saat ia memilih tantangan berani. Ia diwajibkan mencium pria pertama yang ditemuinya di depan toilet. Takdir mempertemukannya dengan Jaguar Adytama, aktor tampan yang kerap terjerat skandal bersama banyak wanita. Pertemuan tak terduga itu membuat Jake menjadi pria pertama dalam hidup Syila. Kini, Syila harus menghadapi konsekuensi setelah berurusan dengan sang playboy yang penuh gairah dan obsesi.
Sampul Novel Di Balik Topeng Bodyguard
9.1
Alice hamil anak Leo, bodyguard yang dianggap rendah oleh ayahnya. Meski ditentang, mereka menikah hingga Alice menyadari sifat asli Leo yang keji. Di tengah penderitaan, Alice mencurigai ibu tirinya, Deborah, sebagai pembunuh ibunya. Dibantu bodyguard lain bernama Deny, Alice berjuang mengungkap kebenaran kelam ini. Di balik misi tersebut, identitas asli Deny dan rahasia cinta masa lalu mulai terkuak. Akankah Alice berhasil membongkar topeng mereka?