Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel RESTO GM

RESTO GM

Kehadiran sebuah restoran baru yang dikenal dengan nama Resto GM membawa atmosfer penuh tanda tanya. Di balik kemegahannya, tempat makan ini ternyata menyimpan ribuan rahasia kelam yang tidak terduga oleh siapa pun. Faza pun terseret ke dalam situasi pelik yang mengharuskannya untuk bertindak. Mampukah ia mengungkap kebenaran dan menuntaskan segala misteri yang menyelimuti restoran tersebut sebelum semuanya terlambat? Sebuah kisah penuh teka-teki.
Bab
Bagikan

Bab 2

Yuda bernapas lega ketika melihat kedua sahabatnya berjalan ke arah meja mereka. Restu dan Astri melambai ke arah Yuda.

"Lama banget, sih!" seru Yuda pura-pura marah. Astri dan Restu tertawa, tetapi sama sekali tidak menjawab pertanyaan Yuda, kemudian mwreka makan dalm diam, tetapi setelah makan Astri dan Restu kembali seperti semula, bercanda dan tertawa seperti biasa.

Tetapi tetap saja Malina dan Yuda merasa ada sesuatu yang berbeda pada Astri dan Restu. Malina menyikut Yuda.

"Kok, mereka jadi aneh, Yud?" bisik Malina. Yuda menggelengkan kepalanya.

"Aku nggak tahu! Rasanya mereka jadi seperti zombie," bisik Yuda.

Malina mengangguk agak panik, perkataan Yuda barusan tepat sekali. Gerakan tubuh Astri dan Restu hampir seperti robot, kaku dan nampak agak aneh.

"Tu, kamu nggak papa?" tanya Yuda pada Restu, "perut kamu sakit?"

Restu tertawa terbahak.

"Iya, tadi aku mulas. Untunglah Astri membawakan minyak kayu putih dan air hangat. Sekarang sudah sembuh," jawab Restu. Astri juga tertawa keras, bahkan terlalu keras, membuat Yuda dan Malina menjengit mendengarnya. Mereka berdua berpandangan keheranan.

"Adakah yang salah dengan mereka berdua? Rasanya mereka berdua aneh sekali," bisik Yuda, Astri memandang mereka berdua miris, dia merasakan hal yang sama.

"Yuk, kita pulang saja, aku capek," kata Malina secara mendadak. Restu dan Astri berpandangan.

"Pulang? Jangan dulu! Sebentar lagi ada orang yang menyewa tempat ini untuk merayakan pesta ulang tahunnya. Bakal ramai!" seru Restu, Astri mengiyakan. Tetapi mereka berdua mengatakan hal itu seperti sambil lalu saja. Astri dan Restu seperti berbicara kepada orang asing yang lewat di depan mereka, bukan seperti berbicara kepada sahabat.

"Beneran, lo! Ada artisnya juga," kata Astri dengan wajah yang berbinar-binar bahagia.

Malina menelan ludah dan menggelengkan kepalanya.

"Nggak, ah, maaf, ya. Perutku sakit. Aku mau pulang saja!" Malina beranjak pergi begitu saja, meninggalkan Yuda, Astri dan Restu. Yuda segera menyusul Malina.

"Na! Kenapa langsung pergi?" teriak Yuda setelah berhasil menyusul Malina.

"Kurasa ada sesuatu yang salah dengan mereka berdua, aku takut, Yud," kata Malina. Yuda terdiam.

"Iya, aku juga merasa begitu, tetapi kita bisa tanya baik-baik sama mereka, kan bisa? Kenapa harus pergi?" tanya Yuda. Malina menggelengkan kepalanya.

"Sama saja, Yud. Mereka sepertinya berubah. Mereka tidak mau kita berada di sana. Kamu lihat cara mereka berbicara kepada kita? Mereka berbicara kepada kita seperti berbicara kepada orang asing. Lihat, kan? Mereka berdua tidak menyusul kita!" seru Malina dengan wajah sedih.

Yuda terperangah mendengar jawaban Malina. Secara reflek dia menoleh ke belakang dan baru menyadari kalau kedua teman akrabnya --Astri dan Restu-- sama sekali tidak menyusul mereka dan meminta mereka kembali bergabung di dalam lagi. Setelah sekian lama bersama-sama dengan Restu dan Astri, hati Yuda sekarang terasa pilu dan sedih.

Malina sudah berurai air mata.

"Kita pulang saja, ya?" ajak Malina.

Yuda mengangguk dan mereka pun segera berjalan menuju ke parkiran. Malina memandang Yuda lesu dan sedih.

"Kamu tahu nggak, Yud?" tanya Malina lemah, Yuda menggelengkan kepalanya dan memandang Malina dengan beribu tanya di wajahnya. Malina tersenyum tak berdaya.

"Kita belum bayar, lo! Dan lihat saja, mereka berdua tak memedulikannya! Seharusnya kalau normal mereka akan mengejar kita dan menyuruh kita membayar juga, kan?" kata Malina dengan air mata yang mengalir di pipinya. Yuda merasa sangat iba melihat Malina menangis sedemikian rupa, dia ingin memeluk Malina, tetapi tentu saja hal itu akan menodai persahabatan mereka. Yuda mengangguk.

"Iya juga, ya," kata Yuda dengan bingung, dia tidak tahu harus menanggapi seperti apa, "kita pulang dulu saja, ya. Semoga besok mereka berdua sudah kembali normal seperti biasa," lanjut Yuda.

Malina mengangguk. Tetapi di dalam relung hatinya, dia tahu, Astri dan Restu tidak akan mungkin kembali seperti semula.

****

Malam harinya Malina tidak bisa tidur. Dia merasa sedih dan resah memikirkan kedua sahabatnya. Malina melirik HPnya. Grup WA mereka berempat sepi, padahal biasanya mereka berempat akan membahas banyak hal, mulai dari PR sampai tingkah laku teman dan guru mereka di sekolah, padahal setiap hari mereka bertemu.

Sedihnya.

Malina sering juga bertengkar dengan Astri, tetapi biasanya sehari dua hari mereka akan biasa lagi. Tetapi entah kenapa, hari ini Malina merasa Astri dan Restu tidak akan mau lagi berteman dengannya setelah kejadian tadi. Buliran air mata mengalir lagi. Dengan penuh rasa tak menentu, Malina mengambil HPnya dan membuka pesan WAnya dengan Astri. Pesan terakhir mereka adalah tadi pagi ketika Astri mengatakan bahwa dia sudah meminta uang kepada bapaknya untuk pergi ke Resto GM dan Malina menangis lagi ketika membaca pesan dari Astri itu.

Dengan gemetar Malina mengetikkan pesan untuk Astri. Dia membaca pesan yang menanyakan apakah Astri marah padanya, tetapi segera menghapus pesan itu. Malina mengetikkan pesan lagi untuk Astri, dan buru-buru menghapusnya lagi, sampai empat kali dan akhirnya dia menyerah dan meletakkan HPnya.

Malina bangun dan menuju ke kamar mandi, setelah itu dia menyisir rambutnya dan menangis lagi. Dia sedih dan merasa akan kehilangan Astri dan Restu.

"Maaf, ya, Na? Aku udah nggak bisa main sama kamu lagi."

Malina terjatuh dari kursi di meja riasnya. Sekilas tadi dia melihat bayangan Astri di cermin meja riasnya. Kalau tidak salah tadi Astri memakai baju pengantin adat Jawa. Oh, Malina ingin melihat wajah sahabatnya itu lagi, apa benar tadi wajah Astri terlihat sedih?

Malina duduk dengan takut-takut di kursi riasnya lagi dan dia meletakkan sisir di meja riasnya dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Oh, Astri! jerit hati Malina pilu.

****

Yuda mengembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Dia masih mengingat ketika Restu dan Astri muncul dari kamar mandi. Yuda melihat ada sesuatu yang berbeda di mata mereka.

Awalnya Yuda mengira itu hanya halusinasi dan bayangannya saja, tetapi ketika mereka duduk di depannya, mereka diam saja dan makan tanpa berkomentar apapun, baru setelah beberapa saat mereka seperti sadar mereka itu siapa dan mereka itu di mana, sehingga mereka bersikap biasa lagi. Rasanya janggal sekali.

Yuda juga merasa iba pada Malina yang menangis melihat Astri dan Restu seakan tidak menyesal atau tidak sedih ketika mereka pergi tadi.

Ah, rasa jengkel itu, tiba-tiba memenuhi dada Yuda, dan air mata itu perlahan mengalir di pipinya. Dia kenal Restu sudah sejak SD, mereka selalu bersekolah di tempat yang sama sampai sekarang, mereka sama-sama bersekolah di SMA Harapan Nusantara. Dan persahabatan sekian tahun itu seakan akan terhapuskan oleh sebuah kunjungan ke sebuah resto baru. Ngilu hati Yuda membayangkannya.

Yuda mengembuskan napas kesal. Dia mengambil HPnya dan menelpon Restu untuk kesekian kalinya dan tetap tidak diangkat. Yuda tadi sudah ke rumah Restu, ternyata rumahnya kosong, hanya ada pembantunya yang mengatakan bahwa kedua orang tua Restu sedang ada acara di luar kota dan Restu ikut dengan mereka.

Yuda mendengus. Berarti kemungkinan besar Restu ikut dengan bapak ibunya setelah dari Resto GM, tetapi kan tidak ada salahnya sekedar memberi kabar. Yuda melihat grup WA mereka berempat. Pesan terakhir adalah tadi pagi, ketika Astri mengirimkan foto lembaran-lembaran uang ratusan ribu yang baru didapatnya dari bapaknya untuk makan ke Resto GM.

Gara-gara Resto GM, sepertinya hancur persahabatan mereka. Kalau memang benar resto itu membuat persahabatannya hancur, Yuda berniat akan membalas dendam pada Resto sialan itu.

****

"Na! Malina! Ada bapak dan ibunya Astri!" seru ibunya dari balik pintu kamar Malina. Malina yang sedang mematut diri sebelum sekolah di depan kaca riasnya terlonjak karena terkejut. Bapak dan ibunya Astri?

Jantung Malina berdebar kencang.

"Malina?" panggil ibunya lagi.

"Iya, Bu! Sebentar!" seru Malina. Dia berusaha menata diri dan memersiapkan diri. Malina berharap dia tidak menangis nantinya.

Malina membuka pintu, dan sangat terkejut ketika melihat bapak dan ibu Astri tidak sendiri, tetapi bersama dengan dua orang polisi. Ibu Malina menuntun Malina dan mendudukkan Malina di depan tamu mereka.

Malina gemetaran. Dia merasa takut dituduh membuat Astri minggat atau melarikan diri, sekaligus dia juga takut mendengar kabar buruk dari orang tua Astri dan juga dari polisi itu.

"Kapan Mbak Malina terakhir dengan Astri?"

"Kemarin siang."

"Di mana?"

"Di Resto GM, kami kemarin makan bersama di sana."

"Dengan siapa saja?"

"Dengan saya, Restu dan Yuda."

Kedua polisi itu berpandangan.

"Andika Restu Langit Biru?"

Malina mengangguk. Ibu Astri yang wajahnya basah oleh air mata mendekati Malina, dan Malina pun tak dapat menahan air matanya. Mereka berpelukan.

"Apa yang terjadi, Na? Sudah dua puluh empat jam Astri belum pulang dan tidak memberi kabar sama sekali ...." Ibu Astri tergugu, dia memeluk Malina erat, "apa yang terjadi, Na?" teriak wanita separuh baya itu.

Malina menelan ludah dan dengan susah payah, dia menceritakan pengalamannya kemarin di Resto GM.

Polisi itu memejamkan matanya.

"Berarti Resto GM adalah tujuan kita berikutnya. Terima kasih, ya, Mbak Malina. Mohon kalau Astri menghubungi Mbak Malina, Mbak Malina segera menghubungi kami, ya, Mbak?"

Malina menganggukan kepalanya, dia merasa begitu sedih.

****

Kalila terpaksa harus mematuhi perintah dari ketujuh orang bertopeng itu. Dia pasrah ketika harus didandani layaknya pengantin Jawa Paes Ageng dan menurut ketika diminta duduk di sebuah kursi pelaminan yang kosong.

Tak lama kemudian, Kalila bisa mencium bau pekat air laut di sekelilingnya ... dan dia melihat pasangannya. Pengantin pria yang datang dari kegelapan. Pengantin pria itu tersenyum dan mendekati Kalila, kemudian dia mengulurkan tangannya.

"Kamu sudah siap menjadi menantu ibuku?" tanya pria itu.

Kalila menjengit. Menantu ibu pria asing itu?

"Yang mana ibumu?" tanya Kalila keheranan, "aku belum pernah melihat ibumu," jawab Kalila polos.

Pengantin pria itu mendelik marah, dan tujuh pria bertopeng itu mendatangi Kalila dengan cepat dan nampaknya mereka juga murka.

"Sudah kubilang dia bukan calon yang cocok! Dia itu berjilbab! Pasti tidak bisa! Masukkan dia ke dalam keranda lagi! Buang dia ke Pandan Wangi!" teriak pengantin pria itu.

Kalila panik. Dia tidak mau dimasukkan ke dalam keranda lagi, apalagi dibuang di Pandan Wangi, sungai yang membelah Karang Pandan. Kalila menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dia mencoba melarikan diri, tetapi baju yang dipakainya, membuatnya nyaris terjungkal ketika dia hendak berjalan dengan cepat, membuat para pria bertopeng itu tertawa terbahak-bahak.

"Kok, aku mencium bau khas ketakutan, ya?" seru salah seorang dari mereka dengan nada mengejek. Pria-pria yang lain menjawab pertanyaan itu dengan tawa mengejek.

Kalila menelan ludah ketakutan.

Sang pengantin pria yang berwajah tampan tetapi sangat 'kemaki' atau sombong itu tertawa terbahak-bahak sambil melirik Kalila tajam.

"Kita lihat saja bagaimana dia bisa berlari jauh dengan baju seperti itu! Kalaupun dia bisa lari, kita biarkan saja sampai dia menggelinding di jurang yang dalam itu. Bagaimana? Keren, kan?" tanya sang pengantin pria itu dengan menyeringai lebar.

Kalila merasa takut sekaligus marah mendengar ejekan-ejekan tanpa jeda dari mereka. Dia mendengus dan akhirnya membulatkan tekadnya untuk benar-benar melarikan diri. Kalila sedikit menarik ke atas kain jariknya dan melepas sandalnya, dia mencoba berjalan ke arah pintu. Kalila tidak memedulikan teriakan-teriakan para pria. Kalila mulai berdoa dalam hati, dia bertaawudz dan tiba-tiba tembok yang mengelilinganya menghilang dan dia sudah berada di sebuah halaman yang luas dengan berbagai macam mainan anak-anak di halaman itu. Ada banyak ayunan dan perosotan, kolam kecil untuk bermain air dan kotak pasair ajaib.

Seorang anak kecil yang sedang bermain ayunan menunjuk ke suatu arah. Kalila mengangguk dan mengikuti arah telunjuk anak kecil itu. Kalila melihat pintu di kejauhan, dia segera berlari ke arah pintu itu.

Terdengar teriakan panik di belakang Kalila. Kalila menoleh dan melihat para pria itu mulai mengejarnya. Kalila panik, dengan sekuat tenaga dia menyobek kain jariknya, sehingga akhirnya Kalila bisa berlari dengan leluasa.

"Jangan sampai dia keluar!"

"Cepat kejar, dia!"

"Lempar batu dulu, biar dia jatuh dan kita bisa menangkapnya!"

Mereka bersahut-sahutan dan berlari mengejar Kalila. Kalila terus berdoa dalam hati, meminta perlindungan kepada Allah. Beberapa langkah dari pintu yang dilihatnya itu Kalila tersandung batu karena dia menoleh ke belakang. Tubuh Kalila terjatuh, tersungkur dengan keras. Rasa perih dan nyeri menyambut kaki dan tangannya. Kalila merintih. Air mata menyambut rasa nyeri di kakinya.

Terdengar tawa dan teriakan di belakang Kalila. Teriakan dan tawa mengejek tentu saja.

"Kan, sudah kubilang, mana mungkin dia bisa lari dengan baju seperti itu!" Kalila menjengit. Itu suara sang pengantin laki-laki. Kalila menoleh dan melihat delapan pria semakin mendekatinya.

Kalila merinding dan gemetaran. Lututnya sakit sekali, sepertinya dia tidak akan bisa berdiri. Kalila mencoba merambat dengan kakinya untuk mencapai pintu. Tawa di belakangnya semakin kencang

"Dia ngesot!"

"Kita lihat saja seberapa kuat dia menahan sakit."

"Layak dijadikan tontonan!"

"Nanti setelah ini dia harus kita gilir ramai-ramai. Dia adalah gadis terkuat yang pernah kita tangani."

"Mantap sekali idemu! Kalau Gatot Sumendro tidak mau, aku juga mau! Sayang wanita secantik itu dibiarkan pergi begitu saja!"

Perkataan-perkataan tak senonoh semakin menjadi-jadi dari mulut para pria itu, membuat Kalila sebagai objek pelecehan mereka, membuat hati Kalila panas dan marah membara. Dia semakin bertekat bulat untuk menuju ke pintu keluar itu.

Dan dengan menjadikan ejekan dan hinaan itu sebagai bahan bakarnya, semangat Kalila tersulut lagi, dan dengan menahan rasa sakit, Kalila bangkit dan berdiri tegak. Dia tidak memberi kesempatan kepada para pria mesum itu untuk mengejarnya, Kalila berlari terpincang-pincang ke arah pintu.

Sekali lagi dia mendengar teriakan-teriakan panik dari belakangnya. Kalila tersenyum puas dan menjejakkan kakinya ke atas tanah di luar pintu itu.

Seketika gempa melanda. Tanah di bawah Kalila rekah dan terbuka lebar. Kalila panik, dia menjerit, tetapi jeritannya tertelan oleh suara gemuruh di sekelilingnya dan tubuh Kalila seakan terdorong oleh suatu kekuatan aneh yang membuatnya jatuh berguling-guling. Membuat Kalila merasakan pegal dan ngilu, nyeris dan perih di sekujur tubuhnya.

Dan kemudian Kalila bisa mencium bau laut lagi. Oh, apakah dia akan tenggelam? Kalila beristighfar berulang kali. Dia tidak berani membuka matanya dan kemudian tangannya merasakan air. Basah. Dan kemudian perlahan-lahan tubuhnya basah oleh air itu. Apakah itu air laut?

Oh, ya, air apapun itu dia akan segera mati. Kalila tersenyum lemah, dia belum berpamitan pada kedua orang tuanya. Oh, semoga ada orang yang mengabari keluarga mereka bahwa orang tua Kalila sekarang sendiri, hanya dengan adik Kalila saja ... tubuh Kalila semakin tenggelam. Dan Kalila merasakan tangannya ditarik dari dasar air ... sepertinya ada yang tidak sabar menginginkan kematian Kalila.

****

Langkah Kirana terhenti ketika mendengar dengungan ayat ruqyah dari ruang terapi ruqyah itu. Napasnya mulai tersengal, pandangannya mulai kabur dan kakinya terasa berat sekali untuk melangkah. Kirana merasa kepalanya begitu pusing dan suara-suara di sekelilingnya mulai tercampur baur tak menentu, membuat Kirana harus memicingkan mata untuk mendengar dengan jelas dan melihat sekelilingnya dengan jelas.

Kemudian semua menjadi sangat jelas dan suara yang didengar Kirana berubah menjadi suara serangga dan desau angin yang sepoi di telinganya.

"Ben ora ngantuk gawanen iki! Engko yen mulai ngantuk langsung barang iki dipangan! (Kalau tidak mau mengantuk bawalah ini! Nanti kalau sudah mulai mengantuk langsung makan barang ini!)" gumam Mbah Jupri pada Kirana, sambil menjejalkan entah apa di tangan Kirana. Kirana melihat nenda apa yang dijejalkan Mbah Jupri dii tangannya. Cabai?

"Ingat, Ndhuk, kamu tidak boleh tidur!" desis Mbah Jupri, "kalau kamu tidur, pria-pria akan memerkosamu!"

Kalila bergidik. Dia mematuhi perintah Mbah Jupri tanpa banyak protes seprti biasanya. Kemudian Kirana diminta menaiki sebuah kursi yang ada di dalam tandu. Dan ketika Kirana baru saja duduk, tandu itu langsung diangkat dengan mendadak, hampir saja dia jatuh ke bawah.

Tandu itu bergerak cepat, melewati jalan berliku naik turun dengan cepat. Dari balik tandu, Kirana bisa melihat pemandangan indah di sekelilingnya. Di manakah dia? Dan mau dibawa ke manakah dia? Kenapa mereka mendaki gunung, kemudian menuruni gunung itu dengan cepat, melintasi sungai, melewati hutan belantara ... dan ketika melewati sebuah area persawahan yang hijau membentang, kantuk itu datang.

Oh, angin yang bertiup sepoi, pemandangan yang segar dan monoton dan melenakan mata, belum lagi dengungan percakapan para pemikul tandunya, membuat mata Kirana semakin berat. Dan dia terjaga seketika ketika teringat nasihat Mbah Jupri padanya. Kalau dia tidur, pria-pria itu akan memerkosanya. Gatot, Cahyono, Radit, oh ... kenapa nama-nama itu melintas di kepala Kirana, siapa mereka?

Kirana menelan ludah. Dia haus sekali. Perjalanan yang dilaluinya sudah sangat jauh, dan tiba-tiba Kirana merasa sangat kelelahan dan rasa kantuk itu datang kembali. Bayangan tempat tidur di kamarnya yang begitu empuk dan sangat nyaman untuk merebahkan punggungnya yang kelelahan seperti sekarang ini.

Angin sepoi-sepoi seakan berembus di dalam tandu itu, dan membuat Kirana sadar sepenuhnya, mana mungkin angin sepoi hanya akan berembus di dalam tandunya saja. Dia menjengit dan teringat barang yang di jejalkan di tangannya oleh Mbah Jupri tadi. Cabai! Dan Kirana memakan separuh cabai merah itu, seketika mulutnya terbakar dan dia terjaga sepenuhnya.

Tetapi hal itu malah membuat Kirana jadi keheranan. Kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah kemarin malam dia sudah masuk ke kamarnya di pesantren ruqyah?

"Astaghfirullah! Aku pasti kesurupan lagi!" teriak Kirana keras, dan kemudian tandu Kirana jatuh begitu saja, menggelinding, membuat Kirana terjungkal, terjerembab, tersungkur dan akhirnya mendarat dengan keras di atas tanah yang keras dan Kirana berusaha membuka matanya.

Dan senyum menyeringai nan menyeramkan itu yang pertama dilihatnya. Senyum pria berkumis tipis yang wajahnya nampak mengejek itu berjarak sangat dekat dengan wajah Kirana. Membuat Kirana bisa merasakan embusan napas pria itu.

"Ingat aku?" bisik pria itu.

****

Yasna keluar melalui pintu tembus di bagian belakang ruang terapi ruqyah. Pagi ini dia meminta Kirana datang ke rumahnya, dan karena Kirana tidak akan tahu rumahnya, Yasna pun berinisiatif menunggu Kirana di pintu tembus itu

Dari kejauhan Yasna melihat Kirana, dia melambai. Kirana sama sekali tidak memerhatikan Yasna, bahkan Kirana nampak agak sedikit oleng jalannya. Tubuhnya seperti condong ke sebelah kiri dan kemudian tubuh Kirana benar-benar jatuh di tengah para santri yang sedang bertilawah pagi, menghapal ayat ruqyah seperti biasa.

Dan kemudian Kirana merintih dan mengeluh. Hasan dan Faza segera mendekati Kirana yang nampak seperti orang yang hendak meninggal, gerakan tubuhnya tak terkendali.

"Sepertinya kerasukan, ya, Za?" tanya Hasan. Faza mengangguk.

"Bulik diminta ke sini, Ust?" tanya Faza. Hasan mengangguk.

"Panggilkan tim ruqyah akhwat. Hasna pasti akan senang," bisik Hasan. Faza langsung melesat meninggalkan Hasan.

Yasna tidak heran melihat anaknya pergi, pasti Hasan menyuruh Faza memanggil Hasna. Dengan penuh kekhawatiran Yasna mendekati Hasan.

"Kenapa, San? Apa Ustadzah Kirana kerasukan? Atau sakit?" tanya Yasna khawatir dan ragu, dia takut Kirana sakit dan mereka terlambat membawa Kirana ke rumah sakit.

"Iya, Mbak. Kita coba, ya?" bisik Hasan. Yasna ngeri melihat Kirana yang seperti orang kejang, tetapi kadang berhenti, kadang kejang lagi. Hasan memakai sarung tangan yang dibawakan oleh salah satu santri. Dengan perlahan Hasan menyentuh bahu Kirana, dan Kirana melenting ke belakang bagaikan belalang. Wajah Kirana nampak terkejut.

Hasan menoleh ke arah Yasna dan tersenyum.

"Ustadzah baru itu sepertinya mempunyai bekal ilmu kebal dan ilmu kanuragan yang tinggi, Mbak. Dia memiliki refleks yang bagus," kata Hasan. Wajahnya yang terlihat berbinar, membuat Yasna jengkel.

"Dari mana kamu tahu kalau dia punya ilmu kebal?" tanya Yasna sambil mencebik.

Hasan tertawa.

"Biasanya jin untuk ilmu kebal agak berat perawatannya, tidak seperti jin yang biasa. Jin untuk ilmu kebal membutuhkan fisik yang prima karena olah tubuh dari inang atau orang yang dirasukinya, seperti Pak Sapto," jawab Hasan, "dan setelah sekian tahun meruqyah, aku jadi tahu, kalau salah satu ciri orang dengan ilmu kebal biasanya memiliki gerakan refleks yang lincah dan sangat cepat."

Yasna memejamkan matanya. Dia memandang Hasan dan Kirana bergantian, kemudian Yasna beristighfar dan bangkit meninggalkan ruang terapi ruqyah. Belum lagi Yasna sampai di pintu tembus itu, dia mendengar orang-orang yang berlarian ke arah Kirana.

"Kirana, apa yang terjadi?" seru seorang ustadzah yang memakai cadar. Ratu. Dia segera mendekati Kirana dan memeluk Kirana.

"Kamu kenapa, Ndhuk?" tanya Putri. Dia menjaga jarak dari Kirana dan Ratu.

Kirana melepaskan pelukan Ratu padanya. Dia menyeringai pada Ratu dan berbisik lirih.

"Masih ingat padaku, Ratu?"

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 180 Hari Menuju Akad
9.3
Kania Salsabila terjebak dalam dilema besar saat orang tuanya menjodohkannya dengan seorang ustadz secara sepihak. Di usia 27 tahun, hatinya justru terpaku pada Aryaguna Wiratmaja, sahabat setia yang selalu ada untuknya. Meski enggan, Kania terpaksa menuruti keinginan orang tuanya dengan syarat waktu 180 hari bersama Arya. Kedekatan intens itu kian menyulitkan Kania untuk melepas sosok malaikat pelindungnya demi pernikahan yang tak diinginkannya.
Sampul Novel Asa di Ujung Senja
7.9
Nada terpaksa menikahi cucu Ndoro Brata demi melunasi utang orang tuanya. Ia menjadi pengantin pengganti setelah calon istri Abian melarikan diri pasca kecelakaan yang membuat pemuda playboy itu buta. Abian yang dulunya urakan kini berubah menjadi sosok pemarah dan dingin kepada Nada. Di tengah sikap kasar sang suami dan tekanan besar dari keluarga konglomerat tersebut, Nada harus berjuang mempertahankan perannya dalam pernikahan yang penuh luka dan air mata ini.
Sampul Novel Dua Takdir, Satu Malam
9.7
Menjelang hari pernikahan, Damar terbangun di sisi sekretarisnya, Kyra. Murka karena merasa dijebak, Damar memecat Kyra dan menghancurkan reputasinya. Hidup Kyra lantas runtuh; ia kehilangan tempat tinggal serta biaya pengobatan ibunya. Di tengah penderitaan, Kyra menyadari dirinya hamil. Berbulan-bulan kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali saat Kyra tengah berjuang sendirian. Sebuah rahasia besar pun perlahan terungkap mengenai apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
Sampul Novel I Love You Chef
8.9
Renata Deanita akhirnya jatuh hati pada atasannya yang dingin dan angkuh, Arjuna Tunggajaya Nuraga. Meski terlihat galak, Arjuna ternyata menyimpan rasa yang sama namun takut terluka lagi setelah ditinggal sang istri. Sebuah ciuman spontan di Bandung membawa mereka ke dalam malam penuh gairah hingga sepakat untuk menikah. Namun, saat hubungan mereka semakin serius, ancaman tak terduga mulai mengintai. Sanggupkah cinta mereka bertahan dari gangguan orang asing?
Sampul Novel I Love You, Om Bodyguard!
8.6
Demi melunasi utang sang ayah, Mayzura terpaksa menghadapi pernikahan dengan pria tua. Saat mencoba melarikan diri bersama kekasihnya, ia diselamatkan oleh Sadewa dari ancaman penjahat. Sadewa pun ditugaskan menjadi pengawal pribadinya hingga hari pernikahan tiba. Namun, kedekatan mereka justru memicu perasaan cinta yang tak terduga. Mampukah Sadewa melewati segala rintangan demi Mayzura? Lantas, apa rahasia besar di balik identitas asli sang bodyguard?
Sampul Novel Murka Istri, Dinasti Luluh Lantak
8.5
Tepat di hari peringatan kematian putra kami, aku memergoki suamiku bersama selingkuhannya yang hamil di vila kami. Dia mengirim undangan pernikahan dan rekaman suara yang menghinaku karena trauma masa lalu. Terungkap pula bahwa dia sengaja membuatku mandul demi mencari pewaris lain. Dia bermimpi membangun dinasti baru yang megah, namun aku akan datang ke pesta pernikahannya bukan untuk memberi restu, melainkan menghancurkan segalanya hingga menjadi abu.