Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Remember When

Remember When

Dante memohon kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan mereka, namun Olivia tetap bersikeras menolak. Meski Dante mendesak, Olivia memilih bungkam karena merasa penjelasan takkan mengubah keadaan. Dante pun bertekad mengungkap sendiri alasan di balik perpisahan pahit mereka. Di balik ciuman yang masih terasa semanis kenangan tiga tahun lalu, Olivia menyimpan sebuah rahasia besar. Inilah alasan tersembunyi mengapa ia dulu memilih pergi meninggalkan Dante.
Bab
Bagikan

Bab 2

Olivia keluar ruangannya pagi-pagi sekali. Bukan karena ia terbiasa bangun pagi, melainkan karena semalam Olivia memang tidak bisa tidur sama sekali. Tidak tahu kenapa Olivia mendadak susah tidur akibat terkena sindrom terlalu senang akan bertemu dengan Si Kembar. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian Lussi, Olivia bergabung bersama dengan Elok di balkon belakang di mana Lussi telah duduk manis sambil menikmati brownies cokelat dan teh rosella sebagai pelengkapnya.

"Akhirnya bangun juga, Anti Via," sahut Lussi saat melihat Olivia turun dari tangga. "Nggak disangka-sangka baju lamaku masih muat ternyata sama kamu," cetus Lussi lagi saat melihatnya.

"Lumayan. Kenapa? Iri? Sekarang kamu gendutan sih, Lu," kata Olivia yang langsung dijawab pelototan maut oleh Lussi.

Olivia tidak bisa menahan tawanya. Olivia memeluk sahabat yang telah dianggapnya seperti keluarga itu dengan limpahan rasa kangen. "Si Kembar ke mana?" tanya Olivia lagi masih disela-sela pelukannya. "Aku sudah kangen berat. Mereka kamu ajak, kan?”

Lussi mengangguk. "Anak-anak memang nggak mengenal apa itu capek ya. Baru juga sampai langsung minta bapaknya bersepeda keliling area komplek. Dasar bapaknya ya diturutin saja maunya Si Anak. Awas saja nanti malam minta plesteran koyo," jawab Lussi.

Olivia tertawa. "Kukira kamu ke sini sama sopir. Si Bapak ikut juga toh ternyata," kata Olivia sambil mengurai pelukan. "Ada acara apa kalian semua datang kemari? Maksudku sekarang bukan musim liburan juga, kan?”

"Kami berdua khawatir denganmu, Via. Kata Mama kamu jarang mampir ke rumah. Terakhir kali itu adalah enam bulan yang lalu. Ya kan, Ma?”

Elok mengangguk pelan sembari membelai lembut pucuk kepala Olivia. "Via sudah bilang ke Mama kok, Lu. Maklumin saja sekretaris itu pasti banyak sibuknya. Mama sudah omelin dia kemarin seharian. Jadi kamu nggak perlu khawatir.”

Senyuman Elok mengandung sejuta arti untuk Olivia. Elok tengah membantunya mencarikan alibi untuk bebas dari introgasi Lussi dan suaminya yang sedang menuju kemari. Namanya jodoh kita tidak pernah ada yang tahu dan duga. Apa kehendak Tuhan dan dengan siapa kita berjodoh nanti semuanya adalah benar rahasia-Nya. Sama halnya seperti Lussi dan Reihan. Mereka berdua akhirnya memutuskan menikah tanpa tahu kapan tepatnya mereka berdua menjalin kasih. Tahu-tahu saja Olivia menerima undangan dari tangan sahabatnya dengan cengiran kuda khas Lussi.

Reihan, anak semata wayang Elok itu adalah bekas cinta pertama Olivia dulu saat mereka sama-sama masih dibangku SMA. Begitu banyaknya hal yang terjadi sehingga cinta itu kini telah berubah menjadi cinta antar saudara. Olivia dan Reihan tumbuh bersama sejak kecil. Ke mana-mana mereka selalu bersama. Mungkin karena alasan itulah benih bernama cinta mekar dihati Olivia. Ditambah lagi sifat Reihan yang penuh perhatian menambah kesan spesial dimata Olivia. Kedua orangtua mereka adalah teman satu kampus. Tapi sayangnya Olivia tidak pernah tahu bagaimana rupa dan kasih sayang dari Sang Mama. Olivia hanya mengenal pelukan Elok dan Ambar hingga saat ini. Sedangkan Sang Papa, Olivia tidak pernah tahu di mana rimbanya.

"Mamaaaaaaaa ....”

Dua anak laki-laki berparas serupa berlarian menyerbu ke arah Lussi dan langsung membuat gaduh suasana kediaman Elok pagi itu. Lussi menghujani kedua anak laki-lakinya itu dengan ciuman lembut yang membuat mereka tertawa karena geli.

"Habis dari mana sama Papa?" tanya Lussi pada salah satu anaknya.

"Dali keliling-keliling, Ma," jawab anak Lussi serempak dengan riang.

"Sekarang mandi sama Mama dulu yuk. Nggak malu tuh sama Anti Via kalau Aro sama Ara bau acem. Tuh lihat! Anti Olivia sudah cantik.”

"Anti Via?" ulang Si Kembar kemudian menoleh secara bersamaan ke arahnya.

Olivia menahan tawa ketika melihat kelucuan kedua anak kembar Lussi dan teman kecilnya itu. Devandro Lureih dan Deliandra Lureih.

"Anti Viaaaa ....”

Devandro—Sang Kakak menghambur ke pelukan Olivia kemudian bergelayut manja.

"Anti Via kenapa nggak pelnah main ke lumah Alo? Alo kan kangen," protes Devandro.

"Iya, Anti. Anti Via halus seling-seling main ke lumah Ala juga," tambah Deliandra.

"Pekerjaan Anti banyak jadi belum sempat ke rumah Aro sama Ara. Tapi sekarang Anti Via kan ke sini main sama kalian.”

Devandro mengangguk cepat lalu kembali memeluk Olivia erat-erat. "Alo sayaaaaang sama Anti Via.”

"Ala juga sayang ....”

"Dari semalam mereka merengek-rengek minta ke kamarmu. Sampai Bapaknya harus turun tangan baru mereka mau diam.”

Olivia memeluk Devandro dan Deliandra sama eratnya sehingga membuat bocah gembul itu menggeliat. Kemudian selang beberapa saat Reihan muncul dengan kaos penuh lumpur dan keringat. Tentu saja wajahnya juga tidak kalah berlumpur.

"Aro, Ara, mainnya nanti lagi ya. Sekarang mandi dulu. Papa ada perlu sama Anti Via.”

"Tapi Alo masih mau main sama Anti Via, Pa," protes bocah gembul itu.

"Kalau mandinya sama Mama, mau?”

Lussi bangkit dari duduknya lalu berusaha mengambil alih dua anak kembarnya dari pelukan Olivia. Namun sayangnya bocah gembul itu tidak mau melepaskan dekapannya dan malah semakin bergelayutan manja pada Olivia.

"Ala saja yang mandi sama Mama. Alo masih mau di sini.”

Deliandra menggeleng cepat sambil menarik tangan mungilnya yang sempat diraih Lussi dan beralih semakin mendekatkan tubuh gembulnya pada Olivia karena merasa keberatan.

"Ala juga mau di sini sama Alo dan Anti Via. Ala masih mau main sama Alo.”

Devandro Sang Pembangkang dan Deliandra Sang Pengikut. Kombinasi yang kompak. Namanya anak kembar pasti apa-apa maunya berdua.

"Aro, Ara, kalian mau Papa marah?" Reihan tiba-tiba meninggikan suara. "Nggak Papa ajak keliling naik sepeda lagi, mau?”

Seketika kedua bocah kembar itu menatap Reihan dengan mata berkaca-kaca.

"Jangan malah-malah, Papa," kata keduanya bersamaan.

See? Menggemaskan sekali, kan? Terlebih lagi Lussi jadi ikut-ikutan melotot karena tidak terima ketika kedua anak kembarnya dibuat menangis bahkan oleh ayah kandung mereka sekalipun. Olivia hanya menahan senyuman sembari mengusap punggung kecil yang masih dengan setia merangkulnya itu.

"Gimana kalau Aro sama Ara mandinya sama Oma?" tawar Elok—mengambil jalan tengah atas semuanya. "Biar Mama di sini menemani Anti Olivia. Aro sama Ara pastinya nggak mau kalau Anti Olivia di sini sendirian terus dimarahi sama Papa, kan?”

Si Kembar bertukar pandang ke arah Reihan dan Olivia secara bergantian lalu menggeleng bersamaan. Tentu saja tingkah laku mereka berdua membuat Olivia juga Lussi tidak bisa lagi menahan tawa. Elok menggandeng tangan Si Kembar kemudian pergi meninggalkan reunian yang sesuangguhnya.

Reihan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi kebesarannya sambil melipat kedua lengannya di dada. Ia sama sekali tidak peduli baju dan wajahnya yang kotor karena terkena lumpur. Tatapan matanya hanya fokus ke arah Olivia tanpa berniat untuk berpaling barang sedetik pun. Olivia melirik ke arah Lussi dan sahabatnya itu hanya menggeleng pertanda jika ia juga tidak tahu. Reihan berdehem dengan napas beratnya.

"Jadi selama ini kamu ke mana saja, Via" tanya Reihan seraya mengubah posisi duduknya. Interogasi dimulai. "Apa yang membuatmu sengaja menghilang selama enam bulan terakhir ini?”

What? Menghilang? Batin Olivia.

"Menghilang ke mana maksudnya?" Olivia balas bertanya.

Satu sifat Reihan yang sejak dulu paling dibenci Olivia adalah terlalu suka ikut campur dengan melontarkan pertanyaan mengintimidasi seperti ini.

"Aku nggak ke mana-mana, Rei. Ada banyak hal yang kukerjakan kemarin. Biasalah pembukaan cabang baru," papar Olivia menjelaskan.

"Tapi tanpa kabar apa-apa? Kamu harusnya tahu seberapa khawatirnya Mama dan Budemu di Lamongan sana. Kamu bahkan nggak ada kabar sama sekali. Aku tahu kalau aku memang nggak berhak ngomong kayak gini, tapi mau gimana lagi. Kamunya kelewatan.”

Olivia menarik napasnya. "Aku sudah menjelaskan semuanya ke Tante Elok kemarin. Budeku juga sudah. Kalau tadi kamu berpikir kamu nggak punya hak, seharusnya memang nggak ada hak. Ini hidupku, Rei. Aku bukan anak kecil yang apa-apa harus selalu minta izin sama kamu. Aku sudah cukup dewasa menentukan jalan mana yang akan aku pilih. Mulai sekarang berhenti mencampuri kehidupanku."

"Tapi tetap saja pekerjaan nggak bisa kamu jadikan alasan untuk nggak memberi kabar, Via. Kamu egois namanya.”

Kali ini Olivia yang menghela napas beratnya. "Kalau begitu aku pulang," kata Olivia tiba-tiba seraya bangkit dari sofa dan menyambar tas yang kebetulan memang Olivia letakkan di sana sejak semalam.

"Aku sengaja datang ke sini karena ingin berbicara santai dengan kalian. Tapi sepertinya percuma. Waktuku terbuang sia-sia. Tolong titip salamku untuk Tante Elok dan kedua putramu.”

"Aku belum selesai bicara, Via," protes Reihan tidak terima.

"Maaf, Rei. Bagiku pembicaraan ini sudah selesai.”

Olivia mengakhiri pembicaraannya kemudian pergi dan memacu mobilnya menjauhi rumah Elok dengan segera.

***

"Kamu banyak berubah ya, Via," kata Lussi di seberang sana.

Perdebatan sengit Olivia dengan Reihan tadi siang tampaknya mengundang rasa penasaran Lussi. Buktinya istri sahabat kecil Olivia itu sampai rela meneleponnya untuk meluruskan apa yang menurut Lussi bisa diluruskan.

"Selama enam bulan ini apa yang telah menimpamu, Via? Kamu yang lemah lembut nggak pernah sekalipun mengeluarkan kata-kata seperti tadi siang. Olivia yang kukenal selama ini pergi ke mana? Jujur, aku kaget.”

Olivia tidak menjawab—hanya diam dengan posisi yang sama ketika ia menerima telepon.

"Via, sifat bapermu kumat lagi," cetus Lussi tiba-tiba. "Kamu selalu begitu tiap kali sindrom ikut campur Reihan kumat. Kamu seolah-olah seperti nggak membutuhkan saran orang lain. Kalau kamu nggak cerita, kami berdua mana tahu.”

"Aku nggak apa-apa, Lu," sahut Olivia setelah diam beberapa saat.

"Via—”

"Lu, I'm fine.”

Hening. Hanya ada helaan napas yang Olivia yang terdengar dari seberang.

"Listen, Via!" Lussi menjeda perkataannya sebelum kembali melanjutkan. "Hidup itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Kamu bukan Tuhan. Satu-satu, Via.”

Olivia kembali tidak bergeming.

"Baiklah kalau kamu tetap nggak mau bilang. Tapi tolong jawab satu pertanyaanku. Did you miss him? Atau lebih parahnya lagi kamu masih mengharapkannya sampai sekarang.”

"Dia siapa?" timpal Olivia cepat, secepat degup jantungnya saat menerima pertanyaan itu.

"You know what I mean.”

Olivia tahu ke mana arah pertanyaan Lussi. Makanya ia memilih jawaban seperti itu. Bagi Olivia lima tahun adalah waktu yang cukup untuk seseorang belajar melupakan. Dan Olivia cukup yakin kalau sudah tidak ada lagi istilah kangen dalam kamusnya.

***

Makasih sudah membaca karya saya.

Ditunggu krisan yang membangun ya readers.

xoxoxo

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Derita Suami Mandul
8.2
Pernikahan Jaka dan Fatimah terancam hancur karena tak kunjung memiliki keturunan. Tekanan besar dari keluarga Fatimah mengungkap kenyataan pahit bahwa Jaka mandul. Meski sempat bertahan, Fatimah akhirnya goyah dan berselingkuh dengan mantan kekasihnya hingga hamil. Kecewa dengan pengkhianatan tersebut, Jaka memutuskan untuk menceraikan istrinya. Kini, keduanya harus menghadapi babak baru kehidupan yang penuh luka dan penyesalan setelah resmi berpisah.
Sampul Novel Tidak Pernah Melihat Kembali: Hati Menginginkan Apa yang Diinginkannya
8.0
Lorenzo dianggap mencintai Gracie hingga ia tega memberikan donor jantung putri mereka kepada wanita lain. Kecewa berat, Gracie menggugat cerai dan bersekutu dengan Waylon, paman Lorenzo, untuk membalas dendam. Rencana itu sukses menghancurkan hidup Lorenzo hingga ia memohon ampun dalam penyesalan. Namun, saat Gracie mengira urusannya selesai, Waylon justru menolak melepaskannya. Kini ia terjerat dalam dominasi pria yang membantunya bangkit tersebut.
Sampul Novel Hasrat dalam Gelapnya Bioskop
8.1
Niat menggoda sang suami di kegelapan bioskop privat berujung pada kekeliruan fatal. Seorang wanita sengaja membiarkan sepasang tangan besar meraba pinggang dan bokongnya. Namun, saat menoleh, ia terkejut menyadari bahwa sosok tersebut adalah pria asing, bukan suaminya. Pria tak dikenal itu ternyata jauh lebih perkasa dan dominan daripada suaminya sendiri. Sentuhan tak terduga itu pun pada akhirnya berhasil menaklukkan sang wanita sepenuhnya dalam jerat gairah malam itu.
Sampul Novel Mamaku yang Cantik dan Pengagum Misteriusnya
8.0
Pasca dikhianati dan dijebak dalam cinta satu malam, Alisa kembali ke kotanya membawa anak kembar. Ia bekerja di bawah Marvin, CEO brilian yang ternyata menjalani kehidupan ganda sebagai Primus untuk menyembunyikan jati dirinya. Takdir menjadi rumit saat Alisa menyadari Primus adalah pria dari masa lalunya. Kini ia terjepit di antara dua identitas pria yang sama. Akankah rahasia Marvin terbongkar? Bagaimana reaksi sang CEO saat tahu ia sudah memiliki dua anak?
Sampul Novel Pengkhianatan Berujung Luka
8.6
Merayakan pernikahan ke-30 sendirian, seorang istri mendapati suaminya memesan hotel di tengah alasan dinas. Saat ia menuntut penjelasan, sang putra justru membela ayahnya dan menuduhnya berlebihan. Muak dengan kepalsuan keluarga yang dianggap harmonis oleh orang lain, ia membulatkan tekad untuk bercerai. Namun, kecelakaan mobil sang suami justru memicu kemarahan putranya yang menyalahkan dirinya. Menghadapi kepura-puraan sang suami di ranjang rumah sakit, ia merancang pembalasan yang sesungguhnya.
Sampul Novel Persalinan yang Terpaksa Ditunda
8.9
Menjelang persalinan, sang istri justru dikurung oleh suaminya, Arga Baskara, di gudang bawah tanah. Arga memaksa bayi mereka ditahan demi mendahulukan kelahiran anak Indri, janda kakaknya, agar bisa menjadi ahli waris utama. Meski sang istri memohon dalam kesakitan dan bersumpah mencintainya tanpa memedulikan harta, Arga tetap tidak peduli dan menuduhnya serakah. Tragisnya, setelah anak Indri lahir, Arga baru mendapati istri dan bayinya sendiri telah tiada, menyisakan penyesalan mendalam.