
Release the Darkness
Bab 2
Heaven berkali-kali melirik ke arah Kaylein dan sebuah rumah bergaya Victorian yang berdiri dengan megah di depannya. Entah mengapa sebersit perasaan tak enak yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata membuat gadis itu berpikir ribuan kali untuk mengikuti ajakan Kaylein.
"Kau yakin ingin memasuki bangunan ini?" tanya gadis itu entah untuk keberapa kalinya.
"Sangat, sebenarnya ada apa Sayang? Bukankah kita sudah terlalu sering melakukan hal semacam ini?" tanya Kaylein dengan mata menyipit ke arah kekasihnya.
"Entahlah, aku memiliki firasat, yang kali ini kita lakukan akan terasa berbeda." Kaylein langsung merengkuh bahu kekasihnya, bermaksud menenangkan.
"Itu hanya adrenalin sayang, tidak akan terjadi apa-apa. Bukankah kita sudah pernah mengunjungi beberapa kota mati sebelumnya? Hasilnya, kita tidak pernah menemukan apa-apa bukan? Aku hanya ingin memastikan, jika kunjungan kita hari inipun akan memperoleh hasil yang sama."
Heaven menatap Kaylein yang tampak begitu bersemangat. Rasanya begitu egois jika ia membatalkan rencana yang sudah dirancang sejak jauh-jauh hari hanya karena ketakutan yang tak beralasan. Dengan ragu Heaven kembali menatap bangunan tua di depannya. Sambil menelan ludah dengan gugup, gadis itu kemudian menganggukkan kepalanya kepada Kaylein, yang langsung dibalas dengan cengiran lebar dari kekasihnya itu.
"Baiklah, ayo kita berpetualang!" dengan penuh semangat diraihnya tangan Heaven dan menariknya memasuki bangunan tua itu.
Bangunan itu memang sama sekali tak ada penghuninya, entah sejak berapa tahun yang lalu, pintu depannya bahkan tidak tertutup dengan sempurna. Sehingga makin memudahkan baik Heaven ataupun Kaylein untuk menelusuri ruangan-ruangan yang ada di dalamnya.
Bangunan ini ternyata jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Keadaan di dalamnyapun sangat mengejutkan. Memang tidak rapi selayaknya rumah yang dirawat dan dijaga sepenuhnya, namun tetap saja ini tidak seberantakan layaknya rumah yang sudah tak dihuni bertahun-tahun lamanya.
Heaven mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Bahkan properti seperti lukisan, sofa, meja tv dan segala macamnya tetap terpasang dengan rapi di tempatnya. Apakah setelah bertahun-tahun, tak pernah ada seorangpun yang memasuki rumah ini?
Heaven langsung menoleh ke arah tangga penghubung lantai dua ketika merasakan ada seseorang yang memperhatikannya dari arah sana. Namun tak ada siapapun atau lebih tepatnya 'apapun' di tangga itu. Heaven mengetatkan syal dan jaketnya saat merasakan dingin yang tak wajar terasa menusuk tengkuknya.
"Ayolah sayang, singkirkan ekspresi horrormu itu. Tidak ada apapun di sini, oke?" Kaylein lagi-lagi berusaha meyakinkan Heaven yang tampak masih menatap takut-takut situasi di sekitarnya.
"Kita hanya melihat-lihat, setelah itu kita akan keluar secepatnya." Ujar Heaven, raut wajahnya mengatakan jika ia sama sekali tak menerima bantahan.
"Iya, tentu saja, bukankah biasanya juga seperti itu?" Kaylein lagi-lagi tersenyum meyakinkan.
Mereka terus melangkah, menelusuri ruangan demi ruangan. Seperti yang sudah mereka duga, bangunan ini nemiliki banyak kamar, mungkin mencapai puluhan dan semuanya merupakan bangunan luas yang memiliki perabotan kualitas terbaik.
Hal itu membuat bangunan ini terlihat makin aneh saja. Apakah setelah sekian tahun lamanya, benar-benar tak ada seorang pencuripun yang masuk ke tempat ini? Bagaimanapun juga, bangunan megah ini sudah tak berpenghuni begitu lama, kalian ingat?
Heaven menggelengkan kepalanya, apa-apaan dia ini? Kenapa mendadak dia jadi penakut? Bukankah mereka sudah biasa memasuki bangunan yang bahkan lebih menakutkan dari tempat ini sebelumnya?
Menghela nafas, Heaven memantapkan langkahnya, tak ada yang pantas ditakuti dari bangunan ini, bangunan ini terlalu indah dan tampak terawat untuk ukuran rumah kosong. Heaven terus mensugestikan kalimat itu ke dalam pikirannya. Kaylein yang melihat perubahan ekspresi kekasihnya, langsung tersenyum dan menuntun gadis itu agar lebih mempercepat langkahnya.
"Menurutmu apa yang membuat bangunan ini dibiarkan kosong begitu lama? Padahal dari segi tampilan, bangunan ini bahkan jauh lebih mewah dan megah jika dibandingkan dengan apartemen-apartemen mewah di kawasan elite." Tanya Heaven sambil menyingkap sebuah tirai kelabu yang menutupi hampir seluruh kaca jendela yang berada di dalam bangunan megah ini.
"Hem... entahlah, mungkin karena kutukan?" detik itu juga Kaylein langsung menyesali ucapannya ketika melihat tubuh Heaven yang kembali menegang. Ingin rasanya pria itu menampar wajahnya sendiri karena bicara sembarangan.
"A-ah, aku hanya bercanda sayang, aku hanya membayangkan film yang sempat aku tonton dengan Stacy hari minggu kemarin." Lanjut pria itu lagi dengan raut serba salah.
Heaven mengibaskan tangannya, sebagai isyarat jika ia sama sekali tak terpengaruh dengan kata-kata Kaylein tadi. Sebenarnya hanya untuk menenangkan pria itu, karena mau tak mau, Heaven justru memikirkan ucapan kekasihnya itu berkali-kali dalam benaknya.
Bagaimana jika apa yang dikatakan Kaylein tadi adalah kenyataan? Bagaimana jika bangunan ini benar-benar bangunan yang dikutuk? Mengingat aura berbeda yang dirasakan Heaven bahkan pada detik pertama ia menjejakkan kakinya di tempat ini. Heaven kembali menggelengkan kepalanya. Tidak Heaven, jangan berpikiran aneh-aneh! Berkali-kali gadis itu mengingatkan dirinya sendiri.
"Sudahlah, ayo! Masih banyak ruangan yang belum kita masuki." Ucap gadis itu kemudian sambil menarik tangan Kaylein agar mengikuti langkahnya.
Mereka kemudian memasuki sebuah ruangan yang mungkin paling luas jika dibandingkan dengan yang lain, perabotannyapun terlihat paling lengkap dan paling mewah. Heaven lagi-lagi merasakan tusukan dingin pada tengkuknya, lagi-lagi ia merasakan ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka. Namun ke arah manapun ia melihat, hanya ruangan kosong yang ia temukan.
"Ada apa sayang," Heaven langsung tersentak merasakan sentuhan lembut di bahunya.
"Ah, tidak. Hanya sedang mengagumi arsitektur bangunan ini." tak ingin membuat Kaylein kuatir, Heaven langsung merubah ekspresinya.
"Hemm... ya, sangat indah bukan? Aku tak habis pikir kenapa bangunan seindah ini dibiarkan kosong begitu saja." Decak Kaylein.
'Ya, aku juga tak habis pikir, kenapa kau bisa tetap tenang di tengah aura mengerikan tempat ini.' Lirih Heaven dalam hati.
Heaven kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar, hingga tatapannya tertuju pada sebuah cermin besar yang ditutupi dengan sehelai kain tipis berwarna kelabu. Cermin itu bahkan terlihat lebih tinggi dari tubuh Kaylein. Mengikuti rasa penasaran yang menggelitik, Heaven kemudian melangkah ke arah cermin tersebut.
Menarik kain penutupnya hingga terjatuh dengan lembut, Heaven menatap dengan takjup bentuk dan detail ukiran yang menghiasi bingkainya. Lalu tiba-tiba saja pikiran konyol itu muncul begitu saja dalam benak Heaven.
"Hei cermin ajaib, katakan padaku, siapa wanita paling cantik di dunia ini." Lama menanti namun tak ada suara yang menjawabnya. Memangnya apa yang ia harapkan?
"Tentu saja kau, bidadariku." Heaven langsung tersenyum ketika merasakan pelukan Kaylein dan merasakan hangat tubuh pria itu merambati punggungnya.
"Benarkah?"
"Hemmm, tentu saja." Kaylein menjawab sambil menenggelamkan hidung dan bibirnya di relung leher Heaven. Mencium wangi tubuh gadis itu yang begitu lembut dan membuatnya bergairah.
Detik itu juga Kaylein membalikkan tubuh Heaven, memeluknya dengan lebih erat dan mencium bibir gadis itu dengan pagutan lembut. Tangan Kaylein membelai punggung Heaven dari atas ke bawah hingga berakhir di pinggul feminin gadis itu. Desahan nafas Heaven membuat Kaylein semakin semangat untuk memperdalam ciumannya, tangan pria itu bahkan sudah tak lagi berdiam diri di pinggul Heaven, namun sudah melakukan pengembaraan kecil yang terkesan nakal.
"Emh, Kay..." kata-kata Heaven sudah tenggelam dalam pagutan panas bibir Kaylein, pria itu terus mengulum bibirnya dengan ganas, liar dan basah. Lidah pria itu kini bahkan mulai menginvasi ke dalam mulut Heaven, mengabsen satu persatu apapun yang berada di dalamnya.
Tangan kekar pria itu kini bahkan mulai merayap ke dada Heaven, mengelus dengan lembut dan memberi pijatan ringan. Membuat Heaven mengerang penuh damba kepada sentuhan lembut pria itu. Namun Heaven langsung tersentak ketika hembusan angin dingin berhembus menerpa tubuhnya, hembusan angin yang terasa tak wajar, tidak pada tempatnya dan bahkan terasa tak masuk akal.
Anda Mungkin Juga Suka





